Sekilas Tentang Tarekat Tijaniyah

Islamisasi Indonesia terjadi pada saat tasawuf[1] menjadi corak pemikiran dominan di dunia Islam. Umumnya, sejarawan Indonesia mengemukakan bahwa meskipun Islam telah datang ke Indonesia sejak abad ke 8 M., namun sejak abad ke 13 M., mulai berkembang kelompok-kelompok masyarakat Islam. Hal ini bersamaan dengan periode perkembangan organisasi-organisasi thariqat.[2] Agaknya hal ini yang menyebabkan kuat dan berkembangnya ajaran tasawuf  dengan organisasi thariqat-nya di Indonesia. Dapat dikatakan bahwa sukses dari penyebaran Islam di Indonesia berkat aktifitas para pemimpin thariqat. Tidak dapat disangkal bahwa Islam di Indonesia adalah Islam Versi Tasawuf.[3]

Tasawuf dan thariqat pernah menjadi kekuatan politik di Indonesia. Tasawuf dan thariqat mempunyai peranan yang penting memperkuat posisi Islam dalan negara dan masyarakat, serta pengembangan lingkungan masyarakat lebih luas. Beberapa peran itu diantaranya : (1) peranan sebagai faktor pembentuk dan mode fungsi negara. (2) sebagai petunjuk beberapa jalan hidup pembangunan masyarakat dan ekonomi, dan (3) sebagai benteng pertahanan menghadapi kolonialisasi Eropa.[4] Peran tasawuf dan thariqat yang lebih menonjol adalah di bidang politik. Menurut Sartono Kartodirjo, thariqat pada abad ke-19 M., menunjukan peranan penting, berkembang menjadi golongan kebangkitan paling dominan. Walaupun pada mulanya thariqat merupakan gerakan kebangkitan agama, thariqat berangsur menjadi kekuatan politik keagamaan, bahkan menjadi alat paling efektif untuk mengorganisasikan gerakan keagamaan dan doktrinisasi cita-cita kebangkitan kembali.[5]

Hal yang wajar apabila dalam perkembangan dakwah Islam selanjutnya[6] tasawuf  dan thariqat  mempunyai pengaruh besar dalam berbagai kehidupan; sosial, budaya dan pendidikan yang banyak tergambar dalam dinamika dunia Pesantren (pondok)[7]. Pada umumnya tradisi pesantren bernafaskan sufistik, karena banyak ulama berafiliasi dengan thariqat. Mereka mengajarkan kepada pengikutnya amalan sufistik.[8] Kindisi semacam ini mempermudah tumbuh dan berkembangnya organisasi-organisasi thariqat  yang berkembang di Dunia Islam. Di Indonesia banyak sekali thariqat  yang berkembang dan tersebar diberbagai daerah.[9] Abu Bakar Aceh menyebutkan, di Indonesia terdapat sekitar 41 ajaran thariqat .[10] Sedangkan Nahdatul Ulama (NU) melalui Jam’iyah Thariqat  Mu’tabarah al-Nahdiyah-nya[11] mengatakan, jumlah thariqat  di Indonesia yang diakui keabsahannya (mu’tabarah) sampai saat ini ada 46 thariqat.[12] Hal ini menunjukan thariqat  yang berkembang di Indonesia, bahkan di dunia Islam banyak sekali jumlahnya. As-Sya’rani, dalam Mizan al-Kubra, misalnya, menyebutkan bahwa jumlah thariqat  dalam syari’at Nabi Muhammad saw., terdapat 360 jenis thariqat.[13] Hal ini dimungkinkan karena, sebagaimana akan dilihat nanti, thariqat  adalah cara mendekatkan diri kepada Allah swt., sekaligus merupakan amalan keutamaan (fad’il al-‘Amal) dengan tujuan memperoleh rahmat Allah sawt. Diantara thariqat-thariqat  yang berkembang di Indonesia yang merupakan cabang dari gerakan sufi internasional adalah Thariqat  Qadariyah yang didirikan oleh Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (470 – 561 H.), Thariqat  Naqsabandiyah didirikan oleh Baha’ Naqsaband al-Bukhari (717 – 791 H.), Thariqat  Syaziliyah yang didirikan oleh Abu al-Hasan al-Syazili yang berasal dari Syaziliyah, Tunisia, (w. 686 H.), Thariqat  Rif’iyah yang didirikan oleh oleh Syekh Ahmad al-Rifa’I (w. 578 H.), Thariqat  Suhrawardiyah yang didirikan oleh Abu Najib al-Suhrawardi (490 – 565 H.), dan Thariqat  Tijaniyah.

Tijaniyah adalah nama yang dinisbahkan kepada Syekh Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad at-Tijani yang lahir pada tahun 1150 H., di ‘Ain Madi Aljazair, dari pihak ayahnya keturunan Hasan Ibn Ali Ibn Abi Thalib[14], sedangkan kata at-Tijani diambil dari suku yang bernama Tijanah dari pihak Ibu.

Syekh Ahmad at-Tijani dikenal di dunia Islam melalui ajaran thariqat-nya yang sampai sekarang tersebar di 18 negara, di antaranya : Kerajaan Maroko, Pakistan, Tunisia, Mauritania, Sinegal, Perancis, Amerika, Cina dan Indonesia.[15] Thariqat  Tijaniyah masuk ke Indonesia pada awal abad 20 M.,[16] pada masa awal kehadirannya, penyebaran Thariqat Tijaniyah terpusat di Cimahi Bandung yang dikembangkan oleh Syekh Usman Dhamiri[17], di Cirebon dikembangkan dari pesantren Buntet melalui KH. Anas dan KH. Abbas[18], di Probolinggo Jawa Timur dikembangkan melalui KH. Khazin Syamsul Mu’in[19], di Madura oleh KH. Jawhari Khatib[20] dan di Garut di kembangkan oleh KH. Badruzzaman.

Tulisan ini akan menyajikan latar belakang Syekh Ahmad al-Tijani dari segi Nasab, pendidikan, pengidentifikasian diri dan pengembangan dakwah; kemudian akan melihat proses kelahiran, sistem dasar pembentukan dan amalan wirid Thariqat Tijaniyah; selanjutnya akan dilihat dasar-dasar tasawuf dan corak pemikiran Syekh Ahmad al-Tijani; bab selanjutnya akan dibahas thariqat tijaniyah di Indonesia mulai dari proses masuknya, polemik tentang thariqat ini dan perkembangan selanjutnya di Indonesia berikut isi dan pengamalan Thariqat Tijaniyah di Indonesia; dan terakhir membahas tradisi ritual dalam Thariqat Tijaniyah; peranan dan aktifitas Thariqat Tijaniyah dalam kehidupan sosial masyarakat dan struktur kelembagaan.

[1] Tasawuf merupakan ilmu pengetahuan yang mempalajari cara seseorang berada sedekat mungkin dengan Allah swt. Kaum Orientaalis Barat, menyebutnya sufisme dan bagi mereka kata sufisme khusus untuk mistisme dalam Islam. Lihat : Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1973), hlm. 56.

[2] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta : LP3S, 1985), hlm. 140. Thariqat berarti jalan raya (road) atau jalan kecil (gang, path). Kata thariqat secara bahasa dapat juga berarti metode, yaitu cara yang khusus mencapai tujuan. Secara terminilogi istilah kata thariqat berarti jalan yang harus ditempuh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian digunakan untuk menunjuk suatu metode psikologi moral untuk membimbing seseorang mengenal Tuhan. Lihat : Mirce Aliade (ed.), The Encyclopedia of Islam, (New York : Macmilan Publishing Co., 1987), vol. 4, hlm. 342.

[3] Karel A. Stnebink, Beberapa Aspek Islam di Indonesia abad ke-19, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984), hlm. 173.

[4]  Johan H. Meuleman, The Role of Islam in Indonesian and Algerian History: A Comparative Analysis,makalah, (t.t., t.th), hlm. 4-5; bandingkandengan G.W.J. Drewes, New Light On The Coming Of Islam to Indonesia?, BKI, (Brigdra -gen Tot de Taal-, land-en Vol Kenkunde), ‘S-Gravenhage-Martinus Nijhoff, 1968.

[5]  Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, (Jakarta : Pustaka Jaya, 1984), hlm. 211-225

[6] Lihat : Zhamaksyari Dhofier, “Pesantren dan Thoriqot” dalam Jurnal Dialog : Sufisme di Indonesia, (Jakarta : Balitbang Agama Departemen Agama RI, Maret 1978), hlm. 9-22.

[7] Lembaga tersebut adalah nama untuk tempat santri atau siwa belajar mangaji. Lihat : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1989). hlm. 677.

[8] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning : Pesantren dan Thariqat, (Bandung : Mizan, 1955), hlm. 20.

[9] Ada dua bentuk thariqat yang berkembang di Indonesia : Thariqat lokal, yakni ajaran thariqat yang didasarkan pada amalan-amalan guru tertentu seperti Thariqat Wahidiyah di Jawa Timur, dan thariqat yang merupakan cabang dari gerakan sufi internasional seperti gerakan Thariqat Qadiriyah, dan  Naqsabadiyah. Lihat : Martin Van Bruinessen, Thariqat Naqsabandiyah di Indonesia, (Bandung : Mizan, 1992), hlm. 16.

[10] Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Thariqat, (Solo : Ramadani, 1992), hlm. 303. Lihat juga : Fu’ad Su’aidi, Hakikat Thariqat Naqsabandiyah, (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1993), hlm. 12.

[11] Jamiyah tersebut merupakan lembaga otonom di kalangan Nahdatul Ulama yang membidangi masalah thariqat.

[12] Lihat : Idaroh ‘Aliyah Tariqah Mu’tabarah Nahdiyah, (Semarang : Toha Putra, t., th.), hlm. 37.

[13] Lihat : Al-Sya’rani, Mizan al-Kubra, ( Mesir : Dar al-Ma’rifah, 1343 H.), Juz I, hlm. 30.

[14] Sejarah hidup Syekh Ahmad at-Tijani terbagi dalam beberapa periode : (1) periode kanak-kanak (sejak lahir (1150 M) – usia 7 tahun; (2) periode menuntut ilmu (usia 7 – belasan tahun; (3) periode sufi (usia 21-31 tahun); (5) periode al-Fath al-Akbar (tahun 1196 H); dan (6) periode pengangkatan sebagai wali al-khatm (tahun 1214 H): pada bulan muharram 1214 H mencapai al-Quthbaniyat al-Uzma, dan pada tanggal 18 safar 1214 H mencapai  wali al-Khtm wa al-Maktum. Lihat A. Fauzan Fathullah Sayyidul Auliya; Biografi Syekh Ahmad Attijani dan Thariqat Attijaniyah, (Pasuruan : t.pn.), 1985, hlm. 52-64. lihat juga : Ikyan Badruzzaman, Syekh Ahmad AT-Tijani dan Perkembangan Thariqat Tijaniyah di Indonesia, (Garut; Zawiyah Thariqat Tijaniyah, 2007), h.7

[15]Pad tanggal 23 Desember 1985, di Maroko diselenggarakan Muktamar thariqat tijaniyah dan dihadiri utusan dari 18 negara, termasuk utusan dari Indonesia yang diwakili oleh KH. Baidhowi {sesepuh muqaddam = pemuka, thariqat tijaniyah Indonesia} dan KH. Badri Masduqi {muqaddam thariqat tijaniyah Probolinggo}.

[16] GF. Pijper, menyebutkan bahwa thariqat tijaniyah muncul di Pulau Jawa pada tahun 1928 M. Lihat : GF. Pijper, Fragmenta Islamica Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia awal Abad XX, (Jakarta : UI-PRESS, 1980), hlm. 81 – 82.

[17] Ia adalah seorang ulama dari Cimahi – Bandung dan diangkat sebagai Muqaddam oleh Syekh Ali bin Abdulah al-Thayyib.

[18] Ia adalah Muqaddam thariqat tijaniyah Pesantren Buntet Cirebon.

[19] Pendiri Pondok Pesantren Nahdatuthalibin Blado Wetan Probolinggo

[20] Pendiri Pondok Pesantren Al-Amin Madura

Iklan

Martabat Suluk Versi Ibnu Arabi

Kemudian ketahuilah bahwa martabat suluk kepada kedudukan muluk itu ada tiga; Islam, Iman, dan Ihsan. Maka Islam adalah permulaan martabat agama karena untuk seluruh mukmin. Lalu, Iman adalah permulaan tangga hati khusus bagi para mukmin. Kemudian, Ihsan adalah permulaan kenaikan (mi’rāj) ruh khusus bagi para muqarabīn. Dan sungguh Rasulullah saw telah menjelaskan hal itu dalam hadis sahih yang masyhur, salah satunya adalah yang diriwayatkan oleh Umar (bin Khattāb) ra, berkata Umar ra: “Ketika kami duduk dekat Rasulullah saw pada suatu hari, maka sekonyong-konyong nampaklah pada kami seorang lelaki yang memakai pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tak terlihat padanya tanda-tanda perjalanan dan tak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya, maka duduklah dia di hadapan Nabi saw, lalu disandarkanlah lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan tangannya di atas paha Nabi, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, terangkanlah padaku tentang Islam!” Maka Rasulullah saw menjawab: “Islam yaitu hendakalah  engkau bersaksi bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah. Dan hendaklah engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, hendaklah engkau berpuasa pada bulan Ramadhan, hendaklah engkau mengerjakan hajji ke Baitullah jika engkau kuasa menjalaninya.” Dia berkata: “Kamu benar.” Maka kami heran, dia bertanya pada Rasulullah dan dia juga membenarkan jawaban Rasulullah. Dia bertanya lagi: “Jelaskan padaku tentang Iman?” Nabi saw menjawab: “Hendaklah kamu beriman kepada Allah, kepada kitab-kitabNya, kepada utusan-utusanNya, kepada hari kiamat, dan hendaklah kamu beriman kepada Qadar yang baik dan buruk.” Dia berkata: “Kamu benar.” Dia bertanya lagi: “Maka jelaskan kepadaku tentang Ihsan!” Nabi saw menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jikapun engkau tidak dapat melihatNya, maka sesungguhnya Dia meliat engkau”. (Hadis sudah cukup jelas). Rasulullah saw bertanya: “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah yang tadi bertanya?” Jawabku: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Rasulullah saw berkata: “Dia itu adalah Jibril, Dia datang kepadamu untuk mengajarimu tentang agamamu.”[1]

[1] HR. Imam Muslim, Abu Daud, al-Turmudzi, al-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad bin Hanbal. Lihat al-Arba’in Nawawiyah, hadis ke-2 dari 40 kumpulan hadis yang di susun oleh Imam Nawawi. Lihat juga Shahih Muslim, Imam Abul Husain Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi Al-Naisaburi, juz I, hlm. 28, hadis ke-8. Dengan lafaz yang berbeda, hadis ini di kutip oleh Ibnu Arabi dalam al-Futūhāt al-Makiyyah, jilid II, hlm. 203; dan jilid VIII, hlm. 203.  

Kisah Sufi

Sebuah kisah sampai padaku (Ibnu Arabi) bahwa Qadhib al-Ban salah seorang pembesar di Mosul (Irak), dia memperlihatkan pada khalayak ramai tentang kegilaan, kesalahan, dan tinggal shalat. Dia memasuki kandang ternak (sapi dan sejenisnya) dan dia tidak menjaga najis, orang-orang berselisih paham tentang sikapnya; sebagian berpendapat bahwa dia benar, dan sebagian yang lain berpendapat bahwa dia sesat (zindiq).

Tidak berapa lama, Kadi (Hakim) Kota (Mosul), pada suatu hari, dari beberapa hari berlangsung, melewati rumah Qadhib al-Ban, secara kebetulan Qadhib al-Ban sedang berada di kandang ternak dan dia kebetulan juga sedang kencing pada kedua kakinya (kencing sambil berdiri). Maka sang Kadi (Hakim) berbicara dalam hati, “Celaka orang yang menjadikanmu sebagai orang yang benar (shidiq).”

Si Kadi tidak melanjutkan pembicaraan hatinya, sehingga Qadhib al-Ban menegurnya, “Ceritakan padaku, apakah kamu meliputi (menguasai) Ilmu Allah?”

Si Kadi menjawab, “Demi Allah, tidak.”

Qadhibil Ban berkata, “Akulah bagian dari itu (ilmu Allah) yang kamu tidak mengetahuinya.”

Kadi menjawab, “Apa pengaruhmu bagiku, jika kamu orang benar (shiddīq) atau orang sesat (zindīq)?”

Karya Ibnu Arabi

Apakah Ibnu Arabi seorang yang berfaham Wahdatul Wujud, Hulul, dan atau Manunggal? Saya rasa, hampir semua orang berpendapat demikian, tapi perhatikan apa yang dikatakan oleh Ibnu Arabi tentang masalah itu:
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya hati (dengan makna ruh) adalah gaib (samar) dan Tuhan adalah (juga) gaib, maka al-Ghaib (Tuhan) menampakan kepada al-Ghaib (hati dengan makna ruh), maka adanya Tuhan itu nuzūl (turun), bukan hulūl (menitis).
Dan ketahuilah bahwa makna tersamar dan isyaratnya adalah sesungguhnya hati (dengan makna ruh), dengan mensifatinya, memiliki dua sisi; lahir dan batin. Lahir hati adalah debu, tanah, tabiat, gelap, dan jasmani. Batin hati adalah samawi, tinggi, nurani, dan ruhani. Maka ketebalan lahir hati dan kegelapannya itu untuk pengendalian hati terhadap yang kuat dari tabiat kemanusiaan. Dan kehalusan hati itu untuk berhadapan hati dengan alam malakūt yang tinggi, rabani, dan ruhani. Tenggelamnya hati sekira hati berhadapan dengan alam malakūt dan persuaan hati dengan alam malakūt itu memantul pada hati kilau cahaya alam malakūt, dan rahasia (teks naskah: asrar) hati menjadi terang dengan sebab rahasia alam malakūt. Maka hati menyaksikan alam malakūt dengan cahaya-cahaya yang melimpah atasnya, dan menemukan alam malakūt dengan rahasia-rahasia (asrar) yang menunjukinya. Inilah makna pantulan (al-‘aks) itu.
Adapun muqābalah (berhadapan) yaitu sufi menyaksikan penampakan kekasihnya dalam cermin hatinya dengan tanpa kehadiran (hudhūr), tanpa ketempatan (tahayyuz), tanpa penitisan (hulūl), tanpa bertemu (ittishāl), dan tanpa terpisah (infishāl). Yaitu, dalam umpama, seperti cermin yang memiliki dua muka; lahir cermin itu tebal dan gelap, dan batinnya halus dan berkilau. Jika sufi menghadapkan cermin itu pada seluruh alam wujud, maka sufi menerima semuanya dari yang kecil dan besar, maka kamu melihatnya berbagai rupa di dalam cermin itu beserta kecilnya bentuk cermin dan besarnya yang terlihat dalam cermin hati.”

Itu ada di Buku Pustaka Keraton Cirebon: Pembuka Rumus dan Kunci Perbendaharaan, Tema Tasawuf, 714 halaman, HVS, BW, Rp. 150rb (sdh ongkir). Kepada pemesan silahkan transfer sebesar Rp. 150rb ke rekening saya: BANK: BRI Gunungjati Cirebon. NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533. AN: Muhamad Mukhtar Zaedin, Kemudian beritahu saya bukti transfer nya, selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki.
Hubung saya (Muhamad Mukhta Zaedin) di:
Hp: 081911312907
WA/LINE: 081322990419
BBM: 538c41dc