Maulana Maghribi dan Orang-orang yang Mencapai Makom Kamil Mukamil dalam Perjalanan P. Walangsungsang

Sementara itu Ki Cakra Buwana dan Nyi Rara Santang telah mendengar akan keaaliman dan kewaskitaan ilmu kaweruh Syéh Maulana Dhatuk Magribi, sehingga keduanya kemudian datang kehadapan Sang Dhatuk ingin ikut berguru menjadi murid kepadanya. Namun Sang Dhatuk menolaknya secara halus, “janganlah tuwan dan nini putri berguru kepada ku, sebaiknya segera pergilah menyebrang ke Surandhil disana ada seorang waliyullah utama bernama Syéh Ilafi. Bergurulah dan ikuti petunjuknya dengan sepenuh hati, karena ia termasuk waliyullah sepuh yang keberkahannya telah bertebaran dimana-mana.” Demikian petunjuk Syéh Maulana Dahtuk Magribi.

Lebih lanjut diterangkan, agar keduanya tidak kepalang tanggung supaya mengabdi kepada Syéh Ilafi saja, guna untuk menghabiskan pelajaran di sana. Kelak jika sudah dianggap selesai mengaji di sana, kemudian supaya melanjutkan untuk menunaikan ibadah haji bersama Nyi Rara Santang. Karena kelak adiknya itu akan mendapatkan jodoh Sultan Banisrail Pura, demikian menurut keterangan yang tertulis pada Lohmahfud. Setelah itu Nyi Rara Santar menurunkan putra seorang kesatria yang berwatak sabar dan rendah hati, namun kelak akan menjadi waliyullah utama dengan pangkat penghulu retuning wali Jawa.

Sementara itu Ki Cakra Buana dan Nyi Rara Santang, telah mendengarkan penuturan Syéh Maulana Dhatuk Magribi dengan seksama, mereka teringat akan wejangan Syéh Qora Kerwang dahulu yang menerangkan perihal yang sama.  Setelah itu keduanya pun berpamitan pulang ke Negara Pajajaran, untuk memohon doa restu dan keikhlasan Rama Prabu Siliwangi atas maksud dan tujuan mereka berdua. Sang Prabu kemudian merestui kehendak putranya itu.

Singkatnya cerita keduanya telah berguru kepada Syéh Maulana Ilafi dan merampungkan dengan sempurna atas pelajaran ilmu agama rasul, lalu mereka berdua berpamitan untuk menunaikan ibadah haji di Ka’bahtullah. Setelah selesai melakukan ibadah haji, Ki Cakra Buana memperoleh gelar Haji Abdul Iman dan adiknya Nyi Rara Santang bergelar Sarifah Mudhaim. Kemudian dilanjutkan berkunjung ke astana, makam Madinah. Demikianlah mereka kemudian berkunjung ke situs-situs yang menjadi kantong awal agama dahulu, petilasan para nabi, sahid suhada yang telah berada pada makom kamil mukamil yang sesungguhnya, ialah manusia yang telah memperoleh derjat kesempurnaan kesejatian hidup hakiki.

Disunting dari: Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil

 

Pertalian Cirebon dan Demak versi Babad Tanah Jawi

Menurut Babad Tanah Jawi, Sultan Trenggana  mempunyai enam orang putra:

  1. Putra sulung adalah seorang putri yang dinikahi oleh Pangeran Langgar, putra Ki Ageng Sampang dari Madura.
  2. Putra ke dua seorang laki-laki yang bernama Pangeran Prawata yang kelak menggantikan ayahnya menjadi Sultan Demak ke tiga.
  3. Putra ke tiga seorang putri yang menikah dengan Pangeran Kalinyamat.
  4. Putra ke empat juga seorang putri yang menikah dengan seorang pangeran dari Kasultanan Cirebon.  
  5. Putra ke lima juga putri menikah dengan Raden Jaka Tingkir yang kelak menjadi Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya.
  6. Putra bungsu Pangeran Timur, yang masih sangat muda ketika ayahnya wafat.

Sejarah Cirebon (Sebuah Ikhtisar)

Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Danusela, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda: air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.
Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Ki Danusela (atau juga dikenal dengan nama Ki Alang-alang) adalah seorang yang memulai membuka hutan ilalang pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak saat itu, mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.
Kemudian Ki Danusela menjadi kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.
 
Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati)
Pangeran Cakrabuana (1479)
Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara.
Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang – ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang.
Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.
 
Sunan Gunung Jati (1479-1568)
Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.
Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.
Fatahillah (1568-1570)
Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.
Panembahan Ratu I (1570-1649)
Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.
Panembahan Girilaya (1649-1677)
Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.
Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.
Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram (Islam). Makamnya di Jogjakarta, di bukit Giriloyo, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Giriloyo, tinggi makam Panembahan Giriloyo adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.
Terpecahnya Kesultanan Cirebon
Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram. Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.
Perpecahan I (1677)
Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
• Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
• Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
• Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.
Perpecahan II (1807)
Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom
Abusoleh Imamuddin (1803-1811).
Masa kolonial dan kemerdekaan
Sesudah kejadian tersebut, pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon), yang mencakup luas 1.100 Hektar, dengan penduduk sekitar 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.
Sumber: dari berbagai sumber

Sekilas Nusantara dalam Negara Kertabhumi

Penduduk Nusantara pada masa Prasejarah

Diceritakan perihal gelombang bangsa-bangsa yang datang dari daratan Asia. Mereka menuju ke daerah-daerah Nusantara, disebabkan oleh berbagai peristiwa, yang terjadi di tempat asal mereka, karena kekeringan akibat kemarau panjang, gempa bumi atau bencana lainnya. Juga akibat kekejaman disebabkan terjadinya peperangan. Penduduk lama dan para pendatang bercampur gaul, membentuk permulikan-permukiman sejenis desa. Mata pencaharian mereka tergantung kepada lingkungan tempat tinggalnya. Pada dasarnya mereka hiduip dari berburu, menangkap ikan, bercocok tanam atau berternak.

Mereka yang hidup dan berdiam di dekat hutan lebat, di pegunungan, di pinggir sungai atau di dekat pantai. Peralatan mereka terbuat dari kayu, batu dan tulang. Mereka berpakaian yang terbuat dari berjenis-jenis daun, atau serat kulit kayu. Selanjutnya, dituliskan juga pendatang-pendatang baru, yang pandai membuat berbagai peralatan dari besi dan logam lainnya. Dalam pada itu terjadi pula pergolakan-pergolakan, akibat kepentingan benturan anggota-anggota masyarakat yang telah lama dengan para pendatang. Barang siapa yang unggul, pemimpinnya akan menjadi penghulu masyarakat setempat.

Kepercayaan yang di anut oleh masyarakat pada masa itu dilukiskan dengan jelas. Masyarakat melakukan berbagai pemujaan terhadap api, gunung, laut, batu, pohon besar, sungai, matahari, bulan, dan memuja arwah nenek moyang yang berada di mana-mana.

Diceritakan selanjutnya, mengenai kejadian yang berlangsung pada waktu seratus tahun sebelum tahun saka. Bahwa terjadi gelombang-gelombang pendatang baru, terutama ke pulau Jawa yang berasal dari kawasan sebelah selatan negeri Cina. Pada permulaan tahun saka terjadi pula gelombang-gelombang pendatang baru dari Sinhanagasari, Salihwahana nagari bumi Bharatawarsa (India Selatan). Dengan menumpang berbagai jenis perahu, mereka tiba di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Mereka datang ke situ untuk berniaga. Di antara mereka banyak yang kawin dengan anggota masyarakat pendatang yang telah tiba terlebih dahulu. Mereka bernak, bercucu. Mereka beranggapan bahwa Pulau Jawa adalah Suwarga Loka di muka bum. Para pendatang dengan tujuan berniaga banyak yang berasal dari Langkasuka, Saimwang, dan Hujung Mendinidan tiba di Jawa Barat serta Swarnabumi (Sumatera) (NKB. I.1 :20)

Diantara para pendatang yang berasal dari Negara Bharata barak juga para penyebar agama, yang melakukan pemujaan terhadap Sanghyang khususnya kepada Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa yang disebut Trimurtiswara. (NKB. I.1 :22,3) Yang menyebarkan agama baru tidaklah menemui kesulitan. Karena sewjak semula para anggota masyarakat di Nusantara senantiasa memuja arwah nenek moyang (pitrepuja), di samping memuja api, mataheri, bulan dansebagainya. Kebiasaan lama yang demikian tidaklah dilarang oleh para penyebar agama baru. Dikatakan ” kewala ngaran pamujaniraneher inowahi / hetunya pamuja yata agnupuja / sangkeng ika samapuja lawan agni dewapuja / athawa sanghyang maneh // suryapuja samapuja lawan surya dewapuja//.sedangkan mahapitrepuja disamakan dengan pemujaan terhadap Hyang Wisnu, Brahma, dan Siwa. Itulah sebabnya banyak penduduk yang menjadi pemeluk agama baru (NKB. I.1 :23,7)

Sementara itu, makin bertambah banyak golongan pendatang bermukim dan berostrikan puteri para penghulu masyarakat desa. Kemudian anak mereka menggantikan kedudukan ayahnya. Mereka menjadi ahloi waris kakenya sebagai penghulu di desanya.

Sejak tahun 80 Saka (158/9 Masehi) hingga tahun 320 Saka (398/9 Masehi), sangatlah banyak kelompok pendatang yang menumpang berbagai perahu dario negeri Bharata (India Selatan), Cina, Bhanghala (Banglades) yang bermukim di nusantara. Diantara mereka yang berasal dari Negeri Bharata, terdapat pula para resi Waisnawa. Mereka mengajarkan agamnya kepada para penghulu masyarakat, tempat mereka bermukim, khususunya di Jawa Barat. Sedangakn Resi Saiwa banyak yang bermukim di Jawa Timur (NKB. I.1 :24).

Gelombang pendatang yang semakin banyak itu, ternyata berasal dari kerajaan wangsa Salankanaya dan Wangsa Pallawa. Pada waktu itu keduia kerajaan tersebut menderita kekalahan terberat akibat kserbuan angkatan bersenjata wangsa Maurya dari Maghada dibawah maharaja Samudragupta (NKB. I.1 :26).

Pada masa itu Wangsa Kalankanaya, rajanya bernama Hastiwarman, berkuasa di wenggi, yang terletak di lembah sungai Goda Wari dan Sungai Krisna. Sdangkan Wisnughopa ialah raja wangsa Pallawa, yang berkuasa di Kanchi (NKB. I.1 :28).

Setelah menderita kekalahan, sebagian anggota keluarga kerajaan beserta para pengikutnya, banyak yang menyelamatkan diri. Dengan menumpang perahu-perahu besar berlayar, menuju Nusantara dan menetap di berbagai daerah di situ.

Mereka yang menetap di Jawa Barat sebelah barat berasal dari Wangsa Warman. Salah seorang diantara pemimpin mereka mendirikan sebuah kerajaan pesisir, ia menyebut dirinya Dewawarman. Ia menguasai gerbanag lalulintas pelayaran di Selat Sunda. Semua perahu yang lewat, diwajibkanmembayar upeti (wineh matura-tura) kepada raja. Ia berkuasa di ”….” pesisir Jawa Kulwan / apuy-nusa mwang pesisir swarnabhumi kidul” (pantai Jawa Barat, pulau api dan pantai Selatan Sumatera) (NKB. I.1 :29,1-4).

Kerajaan yang dikuasai Dewawarman bernama Salakanegara dengan ibukotanya bernama Rajatapura (kota perak). Kerajaan itu hidup dalam waktu yang sangat lama, diperintah oleh 8 orang raja, yang merupakan keturunan langsung dari pendahulunya atau karena perkawinan.

Mereka yang berasal dari Wangsa Slanakayana, setelah tiba di Jawa Barat, membuar permuliman di tepi sungai. Dengan dukungan para pendahulu masyarakat, yang telah lama bermukim di sekitar tempat itu, berdirilah sebuah kerajaan. Kerajaan itu diberi nama Tarumanagara. Ibukotanya disebut Jaya singapura (NKB. I.1 :33).

Dewawarman yang ke-8 yang laki-laki bergelar Aswawarman. Sejak lama ia berdiam di Bakulapura. Ia berristrikan seorang istri Sang Kudungga. Sang Kudungga adalah penghulu masyarakat bumuputera di sana. Putera Dewa warman yang seorang lagi, menggantikan kedudukan ayahnya, sebagai raja Salakanegara. Namun raja itu ada di bawah kekuasaan Tarumanagara. Karena pada waktu itu kerajaan Taruma semakin berkuasa.

Kehidupan beragama para warga masyarakatnya, ialah memuja dewa-dewa Wisnu, Siwa dan Ganesa, juga terhadap Siwa Wisnu(Hari hara). Tetapi yang paling banyak adalah pemuja ganesa. Sang raja mendirikan candi dan patung Siwa mahadewa-mardhacandrakapala, Ganesa dan juga Wisnu. Sang raja sendiri ialah seorang Waisnawa (NKB. I.1 :37, 17-19).

Sang Rajadhirajaguru berkuasa di kerajaan Tarumanegara selama 27 tahun. Ia wafat pada tahun 307 saka (382/3 masehi), digantikan oleh puteranya SangDharmawarman. Ia bergelar penobatan (abiseka) sang rajasi Dharmawarman. Ia di samping berkedudukan sebagai sang raja, ia juga bertindak sebagai para guru agama (pinaka hulu ning sakwehira dang acaryagama) ng riku (NKB. I.1 :37, 17-19).

Di daerah pedesaan, para warga masyarakatnya sebagian besar masih memuja nenek moyang. Karena itu sang Rajasi selalu menjelajah pedesaan untuk memberikan pelajaran agama. Diusahakan juga mendatangkan Brahmana sebagai guru dari negeri Bharata. Sang Rajasi dharmawarman memerintah kerajaan Tarumanegara hanya 13 tahun lamanya, kemudian ia menyerahkan kekuasaan kepada puteranya. Karena ia bermaksud mengkhusukan diri sebagai penyebar agama. Penggantinya adalah sang Purnawarman. Prnawarman beriusaha dengan keras untuk membangun kerajaannnyamenjadi negara yang besar. Purnawarman bergelar ”Wyagraning Tarumanagara” yang berarti Harimau tarumanagara (NKB. I.1 :39-40). Sang Purnawarman naik tahta pada ”tridasa Suklapaksa” (tanggal 13 paro-terang) cetra masa (Maret-april) 317 Saka (395 Masehi) (NKB. I.1 :39, 18-20).

Dua tahun kemudian, Sang rajasi wafat dan dibuatkan candi di pinggir Chandra bragaserta didirikan lingga batu dan patung yang wajahnya mirip wahjah ayahnya (pratistha rajasi saka rupanira) (NKB. I.1 :459,18-20). Begitu pula di sungai Gomati didirikan candi dengan sebuah lingga bagi sang Mahapurusa ialah Rajadhiradjaguru, kakeknya (NKB. I.1 :46,1).

Setelah memerintah 39 tahun, Maharaja Purnawarman wafat. Ia dicandikan di tepi sungai Taruma (Citarum) pada tahun 356 Saka (434/5 masehi) Purnawarman wafat dalam usia 62 tahun. Selama masa pemerintahannya, Purnawarman berhasil memperluas daerah kekuasaannya. Ia merupakan raja yang paling tenar dari Tarumanagara. Ibukotanya dipindahkan ke sebelah utara. Disitu dituliskan batu bertulis 3 buah, sebagai tugu untuk memperingati jasa-jasa sang Purnawarman. Salah seorang adik Purnawarman, ialah Cakrawarman, menjadi senapati ing yuddhalaga (panglima angkatan darat). Pamannya sang nagarawan, menjadi senapati sarwajala ( panglima angkatan laut ).

Sang Nagarawan senantiasa berkunjung ke negeri-negeri lain sebagai duta Tarumanagara (NKB. I.1 :51). Pada tanggal 12 Suklapaksa, jestamasa (Mei-Juni) 357 Saka (453 Masehi) ia berkunjung ke negeri Cina setahun kemudia ia berkunjung ke Sanghyang Hujung, 5 bulan berikutnya ke Swarnabhumi (NKB. I.1 :51).

Ada 12 orang raja bawahan yang tunduk kepada Purnawarman. Lambang kebesarannya berupa dwaja (dwaja sansekerta, panji-panji) berbentuk padma (bunga teratai) di atas kepala gajah erawata, rajatanda daun bunga dari emas berbentuk lebah (NKB. I.1 :57). Kemmudian disebutkan berbagai dhwaja tanda yang digunakan sebagai lambang kerbesaran para pembesar para kerajaan Taruma. Karya besar Purnawarman adalah memperkokohtepi sungai, memperlebar sungai dan memperdalam beberapa sungai di seluruh Jawa Barat. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat sebagai karyabakti (NKB. I.1 :59). Yang mula-mula diperkokoh ialah di pinggir Sungai Gangga di wilayah Indraprahasta (Cirebon Girang). Sungai gangga tersebut biasanya dipakai mandi untuk acara mensucikan diri menurut Sanghyang Agama. Pekerjaan itu terjadi pada 12 Kresnapaksa, Posyamasa (Desember-Januari) tahun 332 saka (411 Masehi).

Dua tahun kemudian ia memperkuat pinggir sungai cupu, sebuah sungai di Cupunagara, yang airnya mengalir melalui keraton. Dikerjakan sejak tanggal 4 suklapaksa, Srawanamasa (Juli-agustus) hingga 13 Kresnapaksa, swanamasa tahun 334 Saka (412 Masehi). Pada 11 kresnapaksa (paro-gelap), kartikamasa (Oktober-November) hingga 14 suklapaksa (paroteraga), Margasiramasa (November-Desember), 335 Saka (413 Masehi) Sungai sarasah atau manukrawa diperbaiki dan diperkokoh sepanjang pinggirnya (NKB. I.1: 62), dalam upacara selamatan oleh mahamentri.

Selanjutnya diperbaiki dan diperkokoh pinggir aliran sungai Ghomati dan Chandrabhaga untuk kedua kalinya. Yang pertama telah dikerjakan oleh kakeknya. Purnawarman mengerjakan perbaikan kedua sungai itu pada 8 kresnapaksa (paro gelap), Palgunamasa (Febriari-Maret) hingga 13 Suklapaksa (paro-terang), 339 Saka (417 Masehi). Di tepi-tepi sungai yang telah diperbaiki dan diperkokoh, Purnawarman meletakkan batu tulis, kemudian patung perwujudan dirinya dan lukisan telapoak kakinya, telapka kaki kenaikannya yaitu gajah rawata (NKB. I.1: 67).

Pada 3 kresnapaksa (paro-gelap), Yestamasa (Mei-juni) hingga Suklapaksa, Asahdamasa (Juni-Juli) 341 Saka (419 Masehi) Purnawarman memperbaiki, memperkokoh dan memperdalam aliran sungai Tarum (NKB. I.1: 69).

Ganti cerita, yaitu prihal Sang Kudungga. Ia berkuasa di Bakula Pula, wilayah kute. Nenek moyangnya bersala dari Wangsa Sungga di Magadha. Karena terdesak oleh Wangsa Kusana, segagian besar Wangsa Sungga berpencar kemana-mana, diantaranya ada yang sampai ke Bakulapura. Mereka menetap di situ hingga Sang Kudungga (NKB. I.1: 52). Salah seorang puteri sang Kudungga, bersuamikan Sang asmawarman, putera Dewa Warman yang ke-8. dari perkawinannya itu, Aswawarman berputera 3 orang. Salah seorang diantaranya bernama Mulawarman. Sangkudungga tidak dianggap sebagai Wangsa karta, karena tidak berputera laki-laki. Itulah sebabnya Sang Aswawarman lah yang dianggap sebagai Wangsakarta pendiri dinasti (NKB. I.1: 55).

Putera Maharaja Purnawarman yang tertua bernama Wisnuwarman. Ia naik tahta menggantikan ayahnya, pada tanggal 14 Suklapaksa (paro-terang) Posyamasa (Desember-Januari) tahun 356 Saka (435 Masehi). Pada 2 Suklapaksa, Maghamasa (jauari-Februari) 357 Saka (436 Masehi) Wisnu Warman mengirim duta ke negara-negara tetangga untuk memberitahu bahwa telah menjadi penguasa Tarumanagara. Ia berharap agar tali persaudaraan tetap terpelihara (NKB. I.1: 72). Pada masa pemerintahannya Wisnuwarman mendapat ujian yang sangat berat. Pamanny6a sang Cakrawaman panglima angkatan darat mengadakan perebutan kekuasaan. Pemberontakan itu berhasil di tumpas berkat dukungan dari Sang Wiryabanyu, raja bawahannya dari Indraprahasta (NKB. I.1: 90) Maharaja Wisnuwarman dari permaisuri tidak berputera, karena wafat dalam usia muda. Dari istri yang kedua Suklawati dwi, putri sang Wiryabanyu, ia berputra bernama Indrawarman. Ia menggantikan ayahnya sebagai raja, setelah ayahnya wafat. Indrawarman berjkuasa selama 60 tahun ((NKB. I.1: 49).

Putra Indrawarman tertua menggantikan kedudukan ayahnya sebagi raja Tarumanagara. Ia memerintah selama 20 tahuin bergelar maha raja Candrawarman. Suryawarman adalah putera Candrawarman. Ia menggantikan ayahnya sebagau raja Tarumanagara setelah ayahnya wafat, ia berkuasa selama 26 tahun lamanya. Dalam rangka mengadakan persahabatan, Suruawarmanmengirim duta ke laur negeri. Sang Santawarman, pamannya, dikirim ke negeri-negeri sebelah barat. Sang  Mahisawarman ke negeri-negeri di sebelah timur dari Sang Hyang Hujung. Penggantiannya ialah putra tertuanya Maharaja Kertawarman. Ia memerintah selama 57 tahun lamanya. Karena tidak berputera ia digantikan oleh adiknya, sang Resisudawarman, yang bernama Dewi Tirtakencana, bersuamikan Maharsiguru Manikmaya.

Puteri sang Sudawarman diperistri oleh raja Cupunagara, yaitu sang Nagajaya. Sang Nagajaya kemudian kemudian menggantikan kedudukan mertuanya sebagai maharaja Tarumanagara. Ia bergelar Maharaja nagayawarman, dinobatkan pada tahun 562 Saka (640/1 Masehi). Pada masa pemerintahannya, ia mengirim duta ke negeri cina untuk memberitakan, bahea ia menjadi raja Tarumanagara dengan gelakar Maharaja Nagawarman (NKB. I.1: 97).

Salah seorang puteranya ialah Linggawarman menggantikan ayahnya sebagai maharaja Tarumanagara, tetapi hanya 3 tahun lamanya. Karena menantu Mahara Nagawarman, yaitu maharaja tarusbawa, mengambil alih kerajaan dan memindahkan pusat kerajaan. Tarusbawa mennganti nama kerajaan itu menjadi kerajaan Sunda pada tahun 594 Saka (672/3 Masehi). Puteri Nagajayawarman yang menjadi permaisuri maharaja Tarusbawa ialah Dewi Minawati (NKB. I.1: 96). Dalam NKB. I.5: 113, puteri itu bernama dwi Minasin).

Sang rasiguru Manikmaya berasal dari Wangsa Salankanaya. Setelah mengembara ia tiba di Tarumanagara . disitu ia beristrikan Dewi Tirtakencana. Salah seoarang puteri maharaja suryawarman, adik maharaja Kretawarman. Manikmaya bermukim ke Kendan, sebagai ratu bawahan Tarumanagara. Sang manikmaya berputra beberapa orang. Salah seorang diantaranya ialah Rajaputera Suraliman. Ia diangkat menjadi panglima nagkatan bersenjata Tarimanagara. Ia kerap kali dikirim sebagai duta ke negeri Cina (NKB. I.1: 106).

Suraliman beristrikan seorang puteri Bakulapura, keturunan sang Kudungga, ia berputera 2 orang yang laki-laki bernama sang Kandiawan, bergelar sang Rajarsi Dewaraja atau sag Layuwatang. Adiknya seorang wanita bernama sang Kandhiawati bersuamikan seorang saudagar Swarnabhumi (Sumatera). Ia tinggal bersama suaminya di sana.

Sang Suraliman memerintah selama 29 Tahun, dari tahun 490 saka hingga 519 saka (568/9-597/8 Masehi) digantikan oleh sang kandhiawan sebagai ratu di Medangjati atau medanggana. Ia berkuasa 15 tahun lamanya. Sang Kandhiawan, yang juga bergelar Bhatara Wisnu, berputera beberapa orangsalah seorang puteranya bernama Sang Wrettikandayun. Ia menggantikannya sebagai ratu di Galuh. Selanjutnya ia menjadi rajarsi di Mesir. Sang Wrettikandayun donobatkan menjadi ratu Galuh pada tanggal 14 Suklapaksa (paro-terang), Caitramasa (Maret-April)tahun 534 Saka (612 Masehi). Ia berkuasa selama 90 tahun (NKB. I.1: 109).

Peristiwa Maha Raja Tarusbawa mengalihkan dan mengganti nama kerajaab dan mengganti nama menjadi kerajaan Sunda pada tanggal 9 Suklapaksa (paro-terang), Yestamasa (Mei-Juni) tahun 591 Saka (669 Masehi) Maharaja Tarusbawa mengirimkan duta keliling, ke berbagai negeri untuk memberitakan bahwa ia menjadi pengiasa negara Sunda. Setahun kemudian Sang Wrettikandayun mengirim duta baIasan dengan membawa surat. Isinya surat itu menyatakan bahwa ia tidak bersedia menjadi bawahan kerajaan Sunda. Ia mengusulkan batas kedua kerajaan. Tarumanadi (Citarum) ditetapkan sebagai batas wilayah kerajaan. Disebelah barat Citarum menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Sunda dan sebelah timurnya menjadi wilayah kekuasaan Galuh.

Sang Wrettikandayun berputera 3 orang laki-laki yaitu Rahyang sempakwaja , Rahyang Kidul, Rahyang Mandiminyak, Rahynag Sempakwaja menjadi resi guru di Galunggung, Rahyang Kidul menjadi resiguru di Denuh dan Rahyang mandiminyak menggantikan kedudukan ayahnya menjadi ratu galuh.

Rahyang mandiminyak, lama sekali menjadi petugas pembesar kerajaan (rajamatya), dosamping sebagai putera mahkota (sangkumara). Dikatakan bahwa ia seorang yang selalu mengikuti kata hatinya. Ketika kakaknya , Rahyang Sempakwaja, memperoleh istri yang cantik yaitu Rababu, rahyang mandiminyak merasa tidak senang. Ia berusaha merebutnya. Biarpun Rababu telah berputera 2 orang. Sementara Rahyang Sempakwaja sakit, rahyang mandiminyak mengadakan perayaan. Ia mengundangnya untuk hadir, dengan demikian yang hadir hanyalah Rababu. Rahyang mandiminyakj berhasil membujuk Rababu, hingga ia bersedia memenuhi keinginannya. Dari pernikahannya dengan Rahyang mandiminyak. Rababu beranak laki-laki yang bernama Sang Sena (NKB. I.1: 114).

Dalam pada itu, dari perkawinan dengan puteri raja Medang Rahyang mandiminya berputera beberapa orang, diantaranya seorang puteri bernama Dewi Sennaha. Kelak puteri ini diperistri oleh sang Sena. Sang Senna berputera Sang Jamri yaitu Sang Sanjaya (NKB. I.1: 115). Rahyang Mandiminyak menjadi ratu galuh selama 7 tahun. Setelah wafat ia digantikan oleh sang Senna. Sang Senna tidak dapat bertahan lama, karena kekuasaannya direbit olh kakaknya seibu yaitu Sang Purbasora. Ia pun hanya bertahan beberapa tahun saja karena direbit kembali oleh Sang sanjaya. Dalam rangka merebut kembali dari Sang Purbasora, Sanjaya terlebih dahulu mendapat dukungan dari sang Tarusbawa. Sang Sanjaya dikawinkan dengan cucu maharaja Tarusbawa dan menggantikannya sebagai maharaja Sunda dengan gelar Maharaja Harisdharma. Ia memerintah Sunda dan Galuh pada tahun 645 Saka hingga 654 Saka (723-732 Masehi).

SUNAN GUNUNG JATI MENGISLAMKAN SEPULUH ORANG YAHUDI DENGAN CARA YANG BIJAK DAN HIKMAH

Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil
Kemudian Sang Anom (Syarif Hidayatullah) pun berpamitan hendak menunaikan ibadah haji ke Baitullah dan mau ngalap berkah berguru kepada guru ulama di sana. Kanjeng Ibunya menginzinkan malahan memberikan tasbeh mutiara dan bekal berupa uang 1000 dinar untuk diperjalanan. Sang Anom (Syarif Hidayatullah) kemudian pergi menuju Baitullah. Ditengah perjalanan dihadang oleh 10 orang Yahudi yang hendak memint perbekalannya. Sang Anom (Syarif Hidayatullah) pun tidak mau berbohong lalu uang 1000 dinar itu diberikannya semua kepada 10 orang Yahudi yang memintanya.
Akhirnya Yahudi itu tidak mau menerimanya, malah mereka memilih untuk ikut menjadi muslim karena merasa terketuk hatinya oleh sikap Sang Anom (Syarif Hidayatullah) yang tidak berdusta dan pemurah, tidak pelit atas harta bendanya. Kemudian ke-10 Yahudi itu diajarkannya membaca dua kalimah sahadat sebagai pertanda muslim, selanjutnya merekapun ikut mengiring naik haji ke Mekah.

KISAH ITU ADA DI BUKU: BABAD CIREBON CARUB KANDHA NASKAH TANGKIL
Harga buku Rp. 150.000,- (sdh ongkir), 539 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:
BANK: BRI Gunungjati Cirebon
NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533
AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Setelah transfer, kemudian beritahu saya bukti transfernya, dan selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:
HP: 081911312907
WA/LINE: 081322990419
BBM: 538c41dc