Maulana Maghribi dan Orang-orang yang Mencapai Makom Kamil Mukamil dalam Perjalanan P. Walangsungsang

Sementara itu Ki Cakra Buwana dan Nyi Rara Santang telah mendengar akan keaaliman dan kewaskitaan ilmu kaweruh Syéh Maulana Dhatuk Magribi, sehingga keduanya kemudian datang kehadapan Sang Dhatuk ingin ikut berguru menjadi murid kepadanya. Namun Sang Dhatuk menolaknya secara halus, “janganlah tuwan dan nini putri berguru kepada ku, sebaiknya segera pergilah menyebrang ke Surandhil disana ada seorang waliyullah utama bernama Syéh Ilafi. Bergurulah dan ikuti petunjuknya dengan sepenuh hati, karena ia termasuk waliyullah sepuh yang keberkahannya telah bertebaran dimana-mana.” Demikian petunjuk Syéh Maulana Dahtuk Magribi.

Lebih lanjut diterangkan, agar keduanya tidak kepalang tanggung supaya mengabdi kepada Syéh Ilafi saja, guna untuk menghabiskan pelajaran di sana. Kelak jika sudah dianggap selesai mengaji di sana, kemudian supaya melanjutkan untuk menunaikan ibadah haji bersama Nyi Rara Santang. Karena kelak adiknya itu akan mendapatkan jodoh Sultan Banisrail Pura, demikian menurut keterangan yang tertulis pada Lohmahfud. Setelah itu Nyi Rara Santar menurunkan putra seorang kesatria yang berwatak sabar dan rendah hati, namun kelak akan menjadi waliyullah utama dengan pangkat penghulu retuning wali Jawa.

Sementara itu Ki Cakra Buana dan Nyi Rara Santang, telah mendengarkan penuturan Syéh Maulana Dhatuk Magribi dengan seksama, mereka teringat akan wejangan Syéh Qora Kerwang dahulu yang menerangkan perihal yang sama.  Setelah itu keduanya pun berpamitan pulang ke Negara Pajajaran, untuk memohon doa restu dan keikhlasan Rama Prabu Siliwangi atas maksud dan tujuan mereka berdua. Sang Prabu kemudian merestui kehendak putranya itu.

Singkatnya cerita keduanya telah berguru kepada Syéh Maulana Ilafi dan merampungkan dengan sempurna atas pelajaran ilmu agama rasul, lalu mereka berdua berpamitan untuk menunaikan ibadah haji di Ka’bahtullah. Setelah selesai melakukan ibadah haji, Ki Cakra Buana memperoleh gelar Haji Abdul Iman dan adiknya Nyi Rara Santang bergelar Sarifah Mudhaim. Kemudian dilanjutkan berkunjung ke astana, makam Madinah. Demikianlah mereka kemudian berkunjung ke situs-situs yang menjadi kantong awal agama dahulu, petilasan para nabi, sahid suhada yang telah berada pada makom kamil mukamil yang sesungguhnya, ialah manusia yang telah memperoleh derjat kesempurnaan kesejatian hidup hakiki.

Disunting dari: Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil

 

Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Hadiri. Salah satu versi menyebutkan bahwa ia adalah putera Sultan Ibrahim dari Aceh, yang bergelar Sultan Muhayat Syah.  Waktu kecilnya bernama Pangeran Toyib. Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, ia diberi gelar Pangeran Hadiri, yang berarti yang hadir (dari Aceh ke Jepara)

Pertemuan dengan Ratu Kalinyamat terjadi karena pada waktu itu Pangeran Toyib diutus oleh Sultan Aceh  untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di Kesultanan Demak. Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan, arif bijaksana, berwawasan Islam luas, dan ketaatan iman, serta berani menentang penjajah Portugis.         Setelah mengetahui asal-usul Raden Toyib, hati Ratu Kalinyamat menjadi berdebar-debar. Ia teringat akan ramalan  ayahnya bahwa pria yang akan menjadi pendampingnya kelak bukan berasal dari kalangan orang Jawa, melainkan berasal dari negeri seberang. Kemudian Ratu Kalinyamat bersedia diperistri oleh Raden Toyib.

Pada masa mudanya Pangeran Toyib mengembara ke negri Cina. Di sana ia bertemu dengan Tjie Hwie Gwan, seorang Cina muslim yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Konon, ayah angkatnya tersebut menyertainya ke Jepara. Setelah menikah dengan Ratu kalinyamat dan menjadi adipati di Jepara, Tjie Hrie Gwan diangkat menjadi patih dan namanya berganti menjadi Pangeran Sungging Badar Duwung (sungging ‘memahat’, badar ‘batu atau akik’, duwung ‘tajam’). Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang ahli pahat dan seni ukuir. Diceritakan bahwa dialah yang membuat hiasan ukiran di dinding masjid Mantingan. Ialah yang  mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara. Di tengah kesibukannya sebagi mangkubumi Kadipaten Jepara, Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yang khusus didatangkan dari negeri Cina. Karena batu-batu dari Cina kurang mencukupi kebutuhan, maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih.

Pernikahan Ratu Kalinyamat dengan Pangeran Hadiri tidak berlangsung lama. Hati  Ratu Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kematian Pangeran Hadiri pada tahun 1549 yang dibunuh oleh utusan Arya Penangsang. Pembunuhan terjadi seusai menghadiri upacara pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawoto yang juga tewas di tangan Arya Penangsang. Untuk menghadapi amukan Arya Penangsang,  Ratu Kalinyamat bertapa di Gelang Mantingan, kemudian pindah ke Desa Danarasa, lalu berakhir di tempat Donorojo, Tulakan, Keling Jepara.

Setelah kematian Ario Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini terjadi dengan ditandai adanya sengkalan Trus Karya Tataning Bumi, yang diperhitungkan sama dengan tanggal 12 Rabiul Awal atu 10 April 1549. Selama masa kekuasaannya, Jepara semakin berkembang menjadi Bandar terbesar di pantai utara Jawa, dan memiliki armada laut yang besar serta kuat.

Dalam perkawinanannya, Ratu Kalinyamat tidak dikaruniai putra. Ia merawat beberapa anak asuh. Salah satu anak asuhnya ialah adiknya sendiri, Pangeran Timur, yang berusia masih sangat muda ketika Sultan Trenggana meninggal. Setelah dewasa, Pangeran Timur menjadi adipati di Madiun yang dikenal dengan nama Panembahan Madiun.