Muludan dan Tradisi Upacara Panjang Jimat

Muludan di Keraton Kacirebonan

Muludan di Keraton Kacirebonan yang jatuh pada tanggal 12 Mulud (Rabiulawal) pada setiap tahunnya menjadi ajang ngalap berkah bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Begitu juga masyarakat yang mengikuti muludan di keraton lain seperti Kasepuhan dan Kanoman. Mereka berbondong-bondong dari berbagai penjuru mendatangi keraton-keraton di Cirebon sesuai dengan tradisi leluhur mereka masing-masing. Artinya, jika leluhur mereka pada masa dahulu datang ke Keraton Kasepuhan, maka mereka datang ke Keraton Kasepuhan. Jika leluhur mereka dahulu datang ke Keraton Kanoman, maka datang ke Keraton Kanoman. Dan jika leluhur mereka datang ke Kertaon Kacirebonan, maka mereka datang ke Keraton Kacirebonan.

Tradisi yang berkembang sejak zaman dahulu ini menandakan kepatuhan mereka terhadap leluhur mereka, yang tentunya leluhur mereka itu menjalankan kepatuhan terhadap masing-masing sultan yang menjadi pemimpin mereka. Kepatuhan tradisi ini sebagai cerminan kepatuhan masa lalu yang pernah terjadi beberapa abad yang lampau.

Fenomena ini tentunya bukan lahir tanpa alasan dan sebab yang menjadikan mereka ‘patuh’ terhadap tradisi dan adat istiadat muludan, bahkan sebaliknya kepatuhan ini berangkat dari sebuah alasan yang mungkin bagi orang lain tidak masuk masuk akal. Berangkat dari tradisi yang leluhur mereka yang patuh kepada sultan di sebuah keraton, mereka pun patuh pada sultan yang ada di keraton yang sama. Arti patuh dan taat kepada sultan di sini tidak bisa dipahami sebagai pembangkangan terhadap sultan yang lain, tapi lebih disebabkan karena mereka tidak memiliki jalur hubungan dengan sultan yang berada di keraton lain.

Salah satu sebab – dan ini adalah alasan terkuat yang menyebabkan mereka secara turun-temurun melakukan sembah bakti dengan membawa glondong pengareng-areng, sebuah persembahan kepada sultan yang berasal dari mayarakat yang mendiami tanah kekuasaan sultan – yang melatarbelakangi mereka menjalankan kepatuhan tradisi muludan sesuai dengan kebiasaan leluhur mereka di satu keraton tertentu adalah karena awalnya leluhur mereka adalah orang-orang yang hidupnya dijamin oleh sultan dengan menggarap dan mengolah tanah milik keraton, sehingga kepatuhan ini bagi mereka merupakan sebuah upaya balas budi yang dapat dipersembahkan kepada sultan.

Sikap dan prilaku kepatuhan tersebut bisa menjadi penguat atas pertanda keberhasilan sultan Cirebon – semua kertaon – dalam menjaga dan melindungi rakyatnya dari cengkeraman kemiskinan dan kefakiran yang berupa kelaparan dan kekurangan pangan. Karena dengan menggarap tanah dan ladang milik keraton, maka secara otomatis kehidupan ekonomi mereka pada saat itu terangkat dan martabat mereka juga menjadi naik sebagai abdi sultan dalam urusan penggarapan lahan kebun, tanah, dan sawah milik sultan Cirebon.

Berangkat dari keberhasilan sistem penaungan sultan kepada rakyat Cirebon pada masa itu, kita akan coba mengurai falsafah dan ajaran yang terkadung dalam beberapa piring keramik yang digunakan oleh Keraton Kacirebonan dalam ritual upacara Panjang Jimat yang setiap tahun diadakan pada bulan Mulud (Rabiulawal) tanggal 12 pada setiap tahunnya.

Pada tanggal 12 Mulud (Rabulawal) semua keraton Cirebon mengadakan upaara Panjang Jimat yang lazim disebut dengan Malam Pelal atau malam puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammmad saw yang menjadi suri tauladan dan cermin terbaik dalam segala urusan umat Islam.

Umat Islam di Cirebon secara umum menyambut peringatan Malam Pelal ini dengan pebuh rasa khusuk dan khidmat. Mereka meyakini ritual ini adalah ritual yang membawa berkah dan dapat merubah perjalanan hidupnya menuju kehidupan yang lebih baik.

Pada prosesi ritual upacara Panjang Jimat di malam Pelal ini sebagian pusaka keraton Cirebon dikeluarkan, bahkan sebagian yang lain digunakan sebagai syarat pelengkap terhadap ritual upacara Panjang Jimat ini.

Pada malam uapacar Panjang Jimat ini Keraton Kacirebonan mengeluarkan tujuh piring pusaka yang terbuat dari keramik yang indah. Pangeran Yusuf Dendabrata memberikan penjelasan bahwa Panjang Jimat itu berati Piring Jimat yang maknanya adalah cita-cita yang panjang dan luhur yang diusahakan secara terus-menerus tanpa mengenal lelah melampaui waktu demi waktu. Arti yang senada juga dikatakan oleh H. Mahmud Rais Mertapada dalam kitabnya yang berjudul Babad Cirebon Babad Tanah Sunda. Jumlah tujuh piring ini bermakna bahwa manusia hidup di atas tujuh lapisan bumi, di bawah tujuh lapisan langit, dan dalam putaran waktu tujuh hari. Angka tujuh juga sebagai jumlah ayat surat al-Fatihah yang menjadi pegangan hidup dan tuntunan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tujuh ayat dari surat al-Fatiha ini selalu dibaca berulang kali dalam setiap rakaat shalat yang menjadi kewajiban rutin dan tidak boleh ditinggalkan. Bilangan tujuh juga dianggap sebagai bilangan yang memiliki makna simbolik yang berarti banyak.

Simbol adalah sesuatu yang memiliki dan menyimpan makna. Makna-makna yang tersimpan dalam simbol itu tidak akan terbaca oleh kebanyakan orang kecuali oleh orang-orang yang mau memikirkannya (Bambang Irianto, 2004), dan makna-makna yang ada dalam perangakat upacara Panjang Jimat yang berupa tujuh piring keramik itu tidak akan sampai kepada masyarakat umum tanpa ada orang yang mau menjelaskannya. Tulisan buku kecil ini berusaha mengungkap makna-makna simbolik yang ada pada tujuh piring keramik yang menjadi perangkat upacara Panjang Jimat di Keraton Kacirebonan.

Ajaran dalam Piring Panjang Jimat

Untuk mempermudah pemahaman terhadap pembahasan makna-makna simbolik yang tersimpan dalam piring-piring jimat yang menjadi perangkat pokok dalam upacara Panjang Jimat di Kertaon Kacirebonan ini, kami gunakan istilah yang telah berlaku di Keraton Kacirebonan dengan nama Aji Jaya Sempurna. ‘Aji’ berarti tata nilai, atau nilai yang berharga; ‘jaya’ berarti menang atau kemenangan; ‘sempurna’ berarti lengkap, sejahtera, atau terpuji. Jadi ‘Aji Jaya Sempurna’ merupakan ajaran untuk mencapai kemenangan yang sempurna di dunia hingga akhirat. Sebuah kemenangan yang abadi yang mengiringi hidup seseorang hingga kematiannya di surga. Kemenangan abadi ini selaras dengan doa yang diajarkan oleh Allah swt kepad umat Islam dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 201 yang artinya “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksaan api neraka.” (QS. 2: 201).

Aji Jaya Sempurna adalah ilmu yang menegaskan tentang kepemimpinan yang adil, bersih, dan bijaksana yang dapat membawa pemiliknya sampai kepada kebaikan dan kesejahteraan dunia dan akhirat seperti yang disurat dalam QS. 2:201 yang telah kami sebutkan di atas. Aji Jaya Sempurna bukan hanya merumuskan maslah lahiriyah belaka, namun maslah batiniyah pun menjadi pembahasan dalam uraian ilmu Aji jaya Sempurna ini. Hal ini tentu sangat penting dalam keselamatan masyarakat sebagai hamba negara dana masyarakat sebagai peribadi yang bertanggungjawab atas tindakanya sendiri dihadapana Allah swt di akhirat.

Ilmu Aji Jaya Sempurna ini adalah ilmu luar biasa, karena membahas makna yang tersimpan dalam tulisan-tulisan atau tanda-tanda yang ada dalam tujuh piring keramik yang digunakan dalam upacara Panjang Jimat pada malam Pelal, atau malam puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw yang ketujuh piring tersebut merupakan benda-benda pusaka peningalan para leluhur Cirebon yang sangat berharga dari segi fisik maupun nilai sejarahnya. Kalimat dan tulisan yang ada dalam tujuh piring tersebut tebntunya juga bukan sembarang tulisan yang hanya berfungsi sebagai hiasan untuk memperindah tampilan piring, namun memiliki maksud dan makna yang dapat dijadikan pegangan dan tuntunan bagi generasi penerus yang menjadi pewaris Cirebon.

Makna-makan yang terkandung dalam tujuh piring tersebut secara singkat dan dirangkum dalam sebutan Aji Jaya Sempurna yang menjadi ilmu terapan pelajaran lanjutan setelah mendapatkan pelajaran ilmu Aji Sumur Kejayan. Yang perbedaanya adalah kalau Aji Sumur Kejayan menegaskan agar berbakti kepada kedua orang tua,  sedangkan ilmu Aji Jaya Sempurna menegaskan tentang orang yang menjalankan bakti kepada Allah swt yang menjadi kahlifah Allah di muka bumi sebagai pemegang ketertiban dan hukum yang dijalankan untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia di muka bumi. Maka kelanjutan dari sukes mengamalkan ilmu Aji Jaya Sempurna ini akan menjadi seorang pemimpin yang amanah yang segala sikap dan perbuatannya, hukum dan peraturan yang dibuatnya sesuai dengan hukum-hukum Allah swt sunnah Rasulullah saw yang termatub dalam kitab-kitab hadis. Aji Jaya Sempurna merupakan seperangkat ajaran yang berbasis tauhid untuk menata dan mengatur seseorang dalam memimpin dirinya, keluarga, organisasi, perusahaan, bangsa, dan negara.

Aji Jaya Sempurna merupakan petunjuk Allah swt yang sangat bermakna yang dapat menganatarkan seseorang, terutama para pemimpin, untuk mencapai dan mendapatkan ucapan selamat dari Allah swt yang Allah swt hadiahkan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh dengan ucapan selamat yang berupa doa kesejahteraan yang langsung diucapkan oleh Allah swt sendiri di surga (QS Yasīn [36] : 58).

Dengan mengamalkan Aji Jaya Sempurna seseorang, terutama para pemimpin, segala sikap dan tindakannya akan dilindungi dan ditanggung segala kebutuhan hidupnya oleh Allah swt. Dijamin dan disejahterakan segala penghidupanya, serta dimuliakan dan dihomati tindakan-tindakanya, karena tindakan seseorang yang memegang teguh Aji jaya Sempurna selalu sesuai dengan hukum syariat dan kelak tercatat sebagai hamba yang saleh sebagai ahli surga (QS Yasīn [36] : 58).

Dipandang dari sudut logika atau sudut syariat ilmu Aji Jaya Sempurna ini mempunyai energi power, kekuatan, yang luar biasa karena di dalamnya terdapat dua surat al-Quran yang sangat luar biasa; pertama, surat al-Ikhlas sebagai nur al-Quran yang menempati sepertiga isi kandungan al-Quran; kedua, salah satu ayat dari surat Yasin sebagai hati al-Qur’an yang berisi tentang ucapan selamat dari Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang telah berhasil dan sukses memenuhi panggilan Allah swt.

Keduanya, baik surat al-Ikhlas maupun ayat 58 dari surat Yasin ini merupakan wahyu Allah swt yang sangat luar biasa. Al-Ikhlas menjadi payung pelindung bagi kesesatan orang dari prilaku kemusyrikan dan kekafiran, dan ayat 58 dari surat Yasin merupakan semangat yang dapat dijadikan sebagai petunjuk arah menuju kemenangan dan keselamatan hingga ke akhirat. Surat al-Ikhlas merupakan bukti kecintaan Allah terhadap hamba-Nya, sedangkan ayat 58 dari surat Yasin adalah bentuk penghomatan dan penghargaan Allah swt kepada hamba-Nya yang shaleh kelak di surga, sih nugrahaning Allah.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s