Sekilas Nusantara dalam Negara Kertabhumi

Penduduk Nusantara pada masa Prasejarah

Diceritakan perihal gelombang bangsa-bangsa yang datang dari daratan Asia. Mereka menuju ke daerah-daerah Nusantara, disebabkan oleh berbagai peristiwa, yang terjadi di tempat asal mereka, karena kekeringan akibat kemarau panjang, gempa bumi atau bencana lainnya. Juga akibat kekejaman disebabkan terjadinya peperangan. Penduduk lama dan para pendatang bercampur gaul, membentuk permulikan-permukiman sejenis desa. Mata pencaharian mereka tergantung kepada lingkungan tempat tinggalnya. Pada dasarnya mereka hiduip dari berburu, menangkap ikan, bercocok tanam atau berternak.

Mereka yang hidup dan berdiam di dekat hutan lebat, di pegunungan, di pinggir sungai atau di dekat pantai. Peralatan mereka terbuat dari kayu, batu dan tulang. Mereka berpakaian yang terbuat dari berjenis-jenis daun, atau serat kulit kayu. Selanjutnya, dituliskan juga pendatang-pendatang baru, yang pandai membuat berbagai peralatan dari besi dan logam lainnya. Dalam pada itu terjadi pula pergolakan-pergolakan, akibat kepentingan benturan anggota-anggota masyarakat yang telah lama dengan para pendatang. Barang siapa yang unggul, pemimpinnya akan menjadi penghulu masyarakat setempat.

Kepercayaan yang di anut oleh masyarakat pada masa itu dilukiskan dengan jelas. Masyarakat melakukan berbagai pemujaan terhadap api, gunung, laut, batu, pohon besar, sungai, matahari, bulan, dan memuja arwah nenek moyang yang berada di mana-mana.

Diceritakan selanjutnya, mengenai kejadian yang berlangsung pada waktu seratus tahun sebelum tahun saka. Bahwa terjadi gelombang-gelombang pendatang baru, terutama ke pulau Jawa yang berasal dari kawasan sebelah selatan negeri Cina. Pada permulaan tahun saka terjadi pula gelombang-gelombang pendatang baru dari Sinhanagasari, Salihwahana nagari bumi Bharatawarsa (India Selatan). Dengan menumpang berbagai jenis perahu, mereka tiba di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Mereka datang ke situ untuk berniaga. Di antara mereka banyak yang kawin dengan anggota masyarakat pendatang yang telah tiba terlebih dahulu. Mereka bernak, bercucu. Mereka beranggapan bahwa Pulau Jawa adalah Suwarga Loka di muka bum. Para pendatang dengan tujuan berniaga banyak yang berasal dari Langkasuka, Saimwang, dan Hujung Mendinidan tiba di Jawa Barat serta Swarnabumi (Sumatera) (NKB. I.1 :20)

Diantara para pendatang yang berasal dari Negara Bharata barak juga para penyebar agama, yang melakukan pemujaan terhadap Sanghyang khususnya kepada Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa yang disebut Trimurtiswara. (NKB. I.1 :22,3) Yang menyebarkan agama baru tidaklah menemui kesulitan. Karena sewjak semula para anggota masyarakat di Nusantara senantiasa memuja arwah nenek moyang (pitrepuja), di samping memuja api, mataheri, bulan dansebagainya. Kebiasaan lama yang demikian tidaklah dilarang oleh para penyebar agama baru. Dikatakan ” kewala ngaran pamujaniraneher inowahi / hetunya pamuja yata agnupuja / sangkeng ika samapuja lawan agni dewapuja / athawa sanghyang maneh // suryapuja samapuja lawan surya dewapuja//.sedangkan mahapitrepuja disamakan dengan pemujaan terhadap Hyang Wisnu, Brahma, dan Siwa. Itulah sebabnya banyak penduduk yang menjadi pemeluk agama baru (NKB. I.1 :23,7)

Sementara itu, makin bertambah banyak golongan pendatang bermukim dan berostrikan puteri para penghulu masyarakat desa. Kemudian anak mereka menggantikan kedudukan ayahnya. Mereka menjadi ahloi waris kakenya sebagai penghulu di desanya.

Sejak tahun 80 Saka (158/9 Masehi) hingga tahun 320 Saka (398/9 Masehi), sangatlah banyak kelompok pendatang yang menumpang berbagai perahu dario negeri Bharata (India Selatan), Cina, Bhanghala (Banglades) yang bermukim di nusantara. Diantara mereka yang berasal dari Negeri Bharata, terdapat pula para resi Waisnawa. Mereka mengajarkan agamnya kepada para penghulu masyarakat, tempat mereka bermukim, khususunya di Jawa Barat. Sedangakn Resi Saiwa banyak yang bermukim di Jawa Timur (NKB. I.1 :24).

Gelombang pendatang yang semakin banyak itu, ternyata berasal dari kerajaan wangsa Salankanaya dan Wangsa Pallawa. Pada waktu itu keduia kerajaan tersebut menderita kekalahan terberat akibat kserbuan angkatan bersenjata wangsa Maurya dari Maghada dibawah maharaja Samudragupta (NKB. I.1 :26).

Pada masa itu Wangsa Kalankanaya, rajanya bernama Hastiwarman, berkuasa di wenggi, yang terletak di lembah sungai Goda Wari dan Sungai Krisna. Sdangkan Wisnughopa ialah raja wangsa Pallawa, yang berkuasa di Kanchi (NKB. I.1 :28).

Setelah menderita kekalahan, sebagian anggota keluarga kerajaan beserta para pengikutnya, banyak yang menyelamatkan diri. Dengan menumpang perahu-perahu besar berlayar, menuju Nusantara dan menetap di berbagai daerah di situ.

Mereka yang menetap di Jawa Barat sebelah barat berasal dari Wangsa Warman. Salah seorang diantara pemimpin mereka mendirikan sebuah kerajaan pesisir, ia menyebut dirinya Dewawarman. Ia menguasai gerbanag lalulintas pelayaran di Selat Sunda. Semua perahu yang lewat, diwajibkanmembayar upeti (wineh matura-tura) kepada raja. Ia berkuasa di ”….” pesisir Jawa Kulwan / apuy-nusa mwang pesisir swarnabhumi kidul” (pantai Jawa Barat, pulau api dan pantai Selatan Sumatera) (NKB. I.1 :29,1-4).

Kerajaan yang dikuasai Dewawarman bernama Salakanegara dengan ibukotanya bernama Rajatapura (kota perak). Kerajaan itu hidup dalam waktu yang sangat lama, diperintah oleh 8 orang raja, yang merupakan keturunan langsung dari pendahulunya atau karena perkawinan.

Mereka yang berasal dari Wangsa Slanakayana, setelah tiba di Jawa Barat, membuar permuliman di tepi sungai. Dengan dukungan para pendahulu masyarakat, yang telah lama bermukim di sekitar tempat itu, berdirilah sebuah kerajaan. Kerajaan itu diberi nama Tarumanagara. Ibukotanya disebut Jaya singapura (NKB. I.1 :33).

Dewawarman yang ke-8 yang laki-laki bergelar Aswawarman. Sejak lama ia berdiam di Bakulapura. Ia berristrikan seorang istri Sang Kudungga. Sang Kudungga adalah penghulu masyarakat bumuputera di sana. Putera Dewa warman yang seorang lagi, menggantikan kedudukan ayahnya, sebagai raja Salakanegara. Namun raja itu ada di bawah kekuasaan Tarumanagara. Karena pada waktu itu kerajaan Taruma semakin berkuasa.

Kehidupan beragama para warga masyarakatnya, ialah memuja dewa-dewa Wisnu, Siwa dan Ganesa, juga terhadap Siwa Wisnu(Hari hara). Tetapi yang paling banyak adalah pemuja ganesa. Sang raja mendirikan candi dan patung Siwa mahadewa-mardhacandrakapala, Ganesa dan juga Wisnu. Sang raja sendiri ialah seorang Waisnawa (NKB. I.1 :37, 17-19).

Sang Rajadhirajaguru berkuasa di kerajaan Tarumanegara selama 27 tahun. Ia wafat pada tahun 307 saka (382/3 masehi), digantikan oleh puteranya SangDharmawarman. Ia bergelar penobatan (abiseka) sang rajasi Dharmawarman. Ia di samping berkedudukan sebagai sang raja, ia juga bertindak sebagai para guru agama (pinaka hulu ning sakwehira dang acaryagama) ng riku (NKB. I.1 :37, 17-19).

Di daerah pedesaan, para warga masyarakatnya sebagian besar masih memuja nenek moyang. Karena itu sang Rajasi selalu menjelajah pedesaan untuk memberikan pelajaran agama. Diusahakan juga mendatangkan Brahmana sebagai guru dari negeri Bharata. Sang Rajasi dharmawarman memerintah kerajaan Tarumanegara hanya 13 tahun lamanya, kemudian ia menyerahkan kekuasaan kepada puteranya. Karena ia bermaksud mengkhusukan diri sebagai penyebar agama. Penggantinya adalah sang Purnawarman. Prnawarman beriusaha dengan keras untuk membangun kerajaannnyamenjadi negara yang besar. Purnawarman bergelar ”Wyagraning Tarumanagara” yang berarti Harimau tarumanagara (NKB. I.1 :39-40). Sang Purnawarman naik tahta pada ”tridasa Suklapaksa” (tanggal 13 paro-terang) cetra masa (Maret-april) 317 Saka (395 Masehi) (NKB. I.1 :39, 18-20).

Dua tahun kemudian, Sang rajasi wafat dan dibuatkan candi di pinggir Chandra bragaserta didirikan lingga batu dan patung yang wajahnya mirip wahjah ayahnya (pratistha rajasi saka rupanira) (NKB. I.1 :459,18-20). Begitu pula di sungai Gomati didirikan candi dengan sebuah lingga bagi sang Mahapurusa ialah Rajadhiradjaguru, kakeknya (NKB. I.1 :46,1).

Setelah memerintah 39 tahun, Maharaja Purnawarman wafat. Ia dicandikan di tepi sungai Taruma (Citarum) pada tahun 356 Saka (434/5 masehi) Purnawarman wafat dalam usia 62 tahun. Selama masa pemerintahannya, Purnawarman berhasil memperluas daerah kekuasaannya. Ia merupakan raja yang paling tenar dari Tarumanagara. Ibukotanya dipindahkan ke sebelah utara. Disitu dituliskan batu bertulis 3 buah, sebagai tugu untuk memperingati jasa-jasa sang Purnawarman. Salah seorang adik Purnawarman, ialah Cakrawarman, menjadi senapati ing yuddhalaga (panglima angkatan darat). Pamannya sang nagarawan, menjadi senapati sarwajala ( panglima angkatan laut ).

Sang Nagarawan senantiasa berkunjung ke negeri-negeri lain sebagai duta Tarumanagara (NKB. I.1 :51). Pada tanggal 12 Suklapaksa, jestamasa (Mei-Juni) 357 Saka (453 Masehi) ia berkunjung ke negeri Cina setahun kemudia ia berkunjung ke Sanghyang Hujung, 5 bulan berikutnya ke Swarnabhumi (NKB. I.1 :51).

Ada 12 orang raja bawahan yang tunduk kepada Purnawarman. Lambang kebesarannya berupa dwaja (dwaja sansekerta, panji-panji) berbentuk padma (bunga teratai) di atas kepala gajah erawata, rajatanda daun bunga dari emas berbentuk lebah (NKB. I.1 :57). Kemmudian disebutkan berbagai dhwaja tanda yang digunakan sebagai lambang kerbesaran para pembesar para kerajaan Taruma. Karya besar Purnawarman adalah memperkokohtepi sungai, memperlebar sungai dan memperdalam beberapa sungai di seluruh Jawa Barat. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat sebagai karyabakti (NKB. I.1 :59). Yang mula-mula diperkokoh ialah di pinggir Sungai Gangga di wilayah Indraprahasta (Cirebon Girang). Sungai gangga tersebut biasanya dipakai mandi untuk acara mensucikan diri menurut Sanghyang Agama. Pekerjaan itu terjadi pada 12 Kresnapaksa, Posyamasa (Desember-Januari) tahun 332 saka (411 Masehi).

Dua tahun kemudian ia memperkuat pinggir sungai cupu, sebuah sungai di Cupunagara, yang airnya mengalir melalui keraton. Dikerjakan sejak tanggal 4 suklapaksa, Srawanamasa (Juli-agustus) hingga 13 Kresnapaksa, swanamasa tahun 334 Saka (412 Masehi). Pada 11 kresnapaksa (paro-gelap), kartikamasa (Oktober-November) hingga 14 suklapaksa (paroteraga), Margasiramasa (November-Desember), 335 Saka (413 Masehi) Sungai sarasah atau manukrawa diperbaiki dan diperkokoh sepanjang pinggirnya (NKB. I.1: 62), dalam upacara selamatan oleh mahamentri.

Selanjutnya diperbaiki dan diperkokoh pinggir aliran sungai Ghomati dan Chandrabhaga untuk kedua kalinya. Yang pertama telah dikerjakan oleh kakeknya. Purnawarman mengerjakan perbaikan kedua sungai itu pada 8 kresnapaksa (paro gelap), Palgunamasa (Febriari-Maret) hingga 13 Suklapaksa (paro-terang), 339 Saka (417 Masehi). Di tepi-tepi sungai yang telah diperbaiki dan diperkokoh, Purnawarman meletakkan batu tulis, kemudian patung perwujudan dirinya dan lukisan telapoak kakinya, telapka kaki kenaikannya yaitu gajah rawata (NKB. I.1: 67).

Pada 3 kresnapaksa (paro-gelap), Yestamasa (Mei-juni) hingga Suklapaksa, Asahdamasa (Juni-Juli) 341 Saka (419 Masehi) Purnawarman memperbaiki, memperkokoh dan memperdalam aliran sungai Tarum (NKB. I.1: 69).

Ganti cerita, yaitu prihal Sang Kudungga. Ia berkuasa di Bakula Pula, wilayah kute. Nenek moyangnya bersala dari Wangsa Sungga di Magadha. Karena terdesak oleh Wangsa Kusana, segagian besar Wangsa Sungga berpencar kemana-mana, diantaranya ada yang sampai ke Bakulapura. Mereka menetap di situ hingga Sang Kudungga (NKB. I.1: 52). Salah seorang puteri sang Kudungga, bersuamikan Sang asmawarman, putera Dewa Warman yang ke-8. dari perkawinannya itu, Aswawarman berputera 3 orang. Salah seorang diantaranya bernama Mulawarman. Sangkudungga tidak dianggap sebagai Wangsa karta, karena tidak berputera laki-laki. Itulah sebabnya Sang Aswawarman lah yang dianggap sebagai Wangsakarta pendiri dinasti (NKB. I.1: 55).

Putera Maharaja Purnawarman yang tertua bernama Wisnuwarman. Ia naik tahta menggantikan ayahnya, pada tanggal 14 Suklapaksa (paro-terang) Posyamasa (Desember-Januari) tahun 356 Saka (435 Masehi). Pada 2 Suklapaksa, Maghamasa (jauari-Februari) 357 Saka (436 Masehi) Wisnu Warman mengirim duta ke negara-negara tetangga untuk memberitahu bahwa telah menjadi penguasa Tarumanagara. Ia berharap agar tali persaudaraan tetap terpelihara (NKB. I.1: 72). Pada masa pemerintahannya Wisnuwarman mendapat ujian yang sangat berat. Pamanny6a sang Cakrawaman panglima angkatan darat mengadakan perebutan kekuasaan. Pemberontakan itu berhasil di tumpas berkat dukungan dari Sang Wiryabanyu, raja bawahannya dari Indraprahasta (NKB. I.1: 90) Maharaja Wisnuwarman dari permaisuri tidak berputera, karena wafat dalam usia muda. Dari istri yang kedua Suklawati dwi, putri sang Wiryabanyu, ia berputra bernama Indrawarman. Ia menggantikan ayahnya sebagai raja, setelah ayahnya wafat. Indrawarman berjkuasa selama 60 tahun ((NKB. I.1: 49).

Putra Indrawarman tertua menggantikan kedudukan ayahnya sebagi raja Tarumanagara. Ia memerintah selama 20 tahuin bergelar maha raja Candrawarman. Suryawarman adalah putera Candrawarman. Ia menggantikan ayahnya sebagau raja Tarumanagara setelah ayahnya wafat, ia berkuasa selama 26 tahun lamanya. Dalam rangka mengadakan persahabatan, Suruawarmanmengirim duta ke laur negeri. Sang Santawarman, pamannya, dikirim ke negeri-negeri sebelah barat. Sang  Mahisawarman ke negeri-negeri di sebelah timur dari Sang Hyang Hujung. Penggantiannya ialah putra tertuanya Maharaja Kertawarman. Ia memerintah selama 57 tahun lamanya. Karena tidak berputera ia digantikan oleh adiknya, sang Resisudawarman, yang bernama Dewi Tirtakencana, bersuamikan Maharsiguru Manikmaya.

Puteri sang Sudawarman diperistri oleh raja Cupunagara, yaitu sang Nagajaya. Sang Nagajaya kemudian kemudian menggantikan kedudukan mertuanya sebagai maharaja Tarumanagara. Ia bergelar Maharaja nagayawarman, dinobatkan pada tahun 562 Saka (640/1 Masehi). Pada masa pemerintahannya, ia mengirim duta ke negeri cina untuk memberitakan, bahea ia menjadi raja Tarumanagara dengan gelakar Maharaja Nagawarman (NKB. I.1: 97).

Salah seorang puteranya ialah Linggawarman menggantikan ayahnya sebagai maharaja Tarumanagara, tetapi hanya 3 tahun lamanya. Karena menantu Mahara Nagawarman, yaitu maharaja tarusbawa, mengambil alih kerajaan dan memindahkan pusat kerajaan. Tarusbawa mennganti nama kerajaan itu menjadi kerajaan Sunda pada tahun 594 Saka (672/3 Masehi). Puteri Nagajayawarman yang menjadi permaisuri maharaja Tarusbawa ialah Dewi Minawati (NKB. I.1: 96). Dalam NKB. I.5: 113, puteri itu bernama dwi Minasin).

Sang rasiguru Manikmaya berasal dari Wangsa Salankanaya. Setelah mengembara ia tiba di Tarumanagara . disitu ia beristrikan Dewi Tirtakencana. Salah seoarang puteri maharaja suryawarman, adik maharaja Kretawarman. Manikmaya bermukim ke Kendan, sebagai ratu bawahan Tarumanagara. Sang manikmaya berputra beberapa orang. Salah seorang diantaranya ialah Rajaputera Suraliman. Ia diangkat menjadi panglima nagkatan bersenjata Tarimanagara. Ia kerap kali dikirim sebagai duta ke negeri Cina (NKB. I.1: 106).

Suraliman beristrikan seorang puteri Bakulapura, keturunan sang Kudungga, ia berputera 2 orang yang laki-laki bernama sang Kandiawan, bergelar sang Rajarsi Dewaraja atau sag Layuwatang. Adiknya seorang wanita bernama sang Kandhiawati bersuamikan seorang saudagar Swarnabhumi (Sumatera). Ia tinggal bersama suaminya di sana.

Sang Suraliman memerintah selama 29 Tahun, dari tahun 490 saka hingga 519 saka (568/9-597/8 Masehi) digantikan oleh sang kandhiawan sebagai ratu di Medangjati atau medanggana. Ia berkuasa 15 tahun lamanya. Sang Kandhiawan, yang juga bergelar Bhatara Wisnu, berputera beberapa orangsalah seorang puteranya bernama Sang Wrettikandayun. Ia menggantikannya sebagai ratu di Galuh. Selanjutnya ia menjadi rajarsi di Mesir. Sang Wrettikandayun donobatkan menjadi ratu Galuh pada tanggal 14 Suklapaksa (paro-terang), Caitramasa (Maret-April)tahun 534 Saka (612 Masehi). Ia berkuasa selama 90 tahun (NKB. I.1: 109).

Peristiwa Maha Raja Tarusbawa mengalihkan dan mengganti nama kerajaab dan mengganti nama menjadi kerajaan Sunda pada tanggal 9 Suklapaksa (paro-terang), Yestamasa (Mei-Juni) tahun 591 Saka (669 Masehi) Maharaja Tarusbawa mengirimkan duta keliling, ke berbagai negeri untuk memberitakan bahwa ia menjadi pengiasa negara Sunda. Setahun kemudian Sang Wrettikandayun mengirim duta baIasan dengan membawa surat. Isinya surat itu menyatakan bahwa ia tidak bersedia menjadi bawahan kerajaan Sunda. Ia mengusulkan batas kedua kerajaan. Tarumanadi (Citarum) ditetapkan sebagai batas wilayah kerajaan. Disebelah barat Citarum menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Sunda dan sebelah timurnya menjadi wilayah kekuasaan Galuh.

Sang Wrettikandayun berputera 3 orang laki-laki yaitu Rahyang sempakwaja , Rahyang Kidul, Rahyang Mandiminyak, Rahynag Sempakwaja menjadi resi guru di Galunggung, Rahyang Kidul menjadi resiguru di Denuh dan Rahyang mandiminyak menggantikan kedudukan ayahnya menjadi ratu galuh.

Rahyang mandiminyak, lama sekali menjadi petugas pembesar kerajaan (rajamatya), dosamping sebagai putera mahkota (sangkumara). Dikatakan bahwa ia seorang yang selalu mengikuti kata hatinya. Ketika kakaknya , Rahyang Sempakwaja, memperoleh istri yang cantik yaitu Rababu, rahyang mandiminyak merasa tidak senang. Ia berusaha merebutnya. Biarpun Rababu telah berputera 2 orang. Sementara Rahyang Sempakwaja sakit, rahyang mandiminyak mengadakan perayaan. Ia mengundangnya untuk hadir, dengan demikian yang hadir hanyalah Rababu. Rahyang mandiminyakj berhasil membujuk Rababu, hingga ia bersedia memenuhi keinginannya. Dari pernikahannya dengan Rahyang mandiminyak. Rababu beranak laki-laki yang bernama Sang Sena (NKB. I.1: 114).

Dalam pada itu, dari perkawinan dengan puteri raja Medang Rahyang mandiminya berputera beberapa orang, diantaranya seorang puteri bernama Dewi Sennaha. Kelak puteri ini diperistri oleh sang Sena. Sang Senna berputera Sang Jamri yaitu Sang Sanjaya (NKB. I.1: 115). Rahyang Mandiminyak menjadi ratu galuh selama 7 tahun. Setelah wafat ia digantikan oleh sang Senna. Sang Senna tidak dapat bertahan lama, karena kekuasaannya direbit olh kakaknya seibu yaitu Sang Purbasora. Ia pun hanya bertahan beberapa tahun saja karena direbit kembali oleh Sang sanjaya. Dalam rangka merebut kembali dari Sang Purbasora, Sanjaya terlebih dahulu mendapat dukungan dari sang Tarusbawa. Sang Sanjaya dikawinkan dengan cucu maharaja Tarusbawa dan menggantikannya sebagai maharaja Sunda dengan gelar Maharaja Harisdharma. Ia memerintah Sunda dan Galuh pada tahun 645 Saka hingga 654 Saka (723-732 Masehi).

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s