Judul Asli: Hill al-Rumuz wa Mafatih al-Kunuz

SEKILAS TENTANG SULUK PESISIRAN CIREBON NASKAH SULUK BUJANG GENJONG

211_BMB016_0002
Naskah Suluk Bujang Genjong

Rokhmin Dahuri dkk. dalam Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon (BBSAC ), telah menguraikan sebagian dari Naskah Bujang Genjong (NBG). Dalam uraiannya, ajaran manunggal telah disinggung, bahkan Bujang Genjong dan Rara Gonjeng disimbolkan sebagi raga dan jiwa yang selalu saling merindu[1]; merindu akan kebersamaan dan persatuan untuk menjalankan irodah, kehendak[2], untuk selalu bersama dalam kesatuan hakiki. Penggambaran yang manis ini tentunya menjadi awalan bagi inspirasi kami untuk memberi pemahaman yang lebih luas terhadap Naskah Bujang Genjong. Tokoh Bujang Genjong dan Rara Gonjeng dalam kisahnya, memang bisa menjadi lambang kerinduan persatuan yang sangat kuat. Dan apalagi jika kedua tokoh ini hanya semata-mata dipandang sebagai muda-mudi yang sedang menjalin asmara (lihat dalam pupuh Kasmaran, Pupuh ke 10-15).

Penggambaran atau dalam istilah NBG sendiri disebut pewayangan, wayang amot wawayangan, merupakan cara yang paling aman dalam mengurai, menjabarkan, dan menjelaskan kerumitan yang ada, yang tidak mampu diurai dengan kalimat indah. Karena itulah, hal yang sangat tidak logis jika tokoh Bujang Genjong dan Rara Gonjeng dianggap sebagai sebuah nama tanpa maksud, arti, dan tujuan. Dengan melihat arti kata Bujang Genjong, Rara Gonjeng, dan Bujang Lamong, yang secara bahasa yang saling berdekatan maknanya, kita sudah merasakan kesengajaan dari Bujangga[3] NBG untuk memberikan sandi-sandi atau simbol-simbol dari suatu alur pemikiran yang mengarah pada tujuan tertentu. Dan ketika kita mengganggap bahwa nama-nama disusun secara sengaja, maka timbul pertanyaan yang kedua; apa maksudnya? Dengan pijakan seperti inilah kekayaan lokal Cirebon, khususnya NBG, mendapatkan posisi yang layak.

Pemahaman yang diambil BBSAC terhadap NBG tentang manunggal merupakan ide bagi kita untuk melangkah lebih kedalam lagi. Benar sekali, jika BBSAC merasa ada maksud lain dalam alur kisah yang ditulis para pendahulu Cirebon. Dalam konteks terebut, BBSAC merasa perlu mengambil kesimpulan tentang ilmu manunggal; manunggal antara kawula dengan gusti, bisa meloncat naik ke arah manunggaling ilmu antara syari’at, tarekat, hakikat, dan makrifat dalam diri orang Cirebon, dengan kalimat lebih jelas bahkan dikatan sebagai persiapan manusia supaya membekali diri dengan empat ilmu (syari’at, tarekat, hakikat, dan makrifat) dalam bertindak, bergaul, berfikir dan beribadah[4].

Pada masa-masa kemajuan Islam di Cirebon, ajaran Islam yang membumi di hati masyarakat pada umumnya adalah ajaran tasawuf. Islam model inilah yang diterima dan disukai oleh masyarakat Cirebon pada saat itu. Hanya saja, seiring dengan perjalanan waktu, pemikiran-pemikiran baru bermunculan sesuai dengan aliran atau madzhab masing-masing pendatang, dan bahkan benturan pemikiran sering terjadi di Cirebon. Salah satu contoh yang paling populer adalah benturan pemahaman yang terjadi antara Dewan Wali Sanga dengan Syekh Siti Jenar. Benturan antara Syekh Siti Jenar dan Dewan Wali Sanga tidak selesai hingga eksekusi terjadi terhadapnya, dan ketika suatu paham sudah berkembang dalam masyarakat, maka ada penerus yang menggantikannya hingga saat ini. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu  sebab terhadap kalimat tunggal di sebagian naskah Cirebon, NBG termasuk didalamnya, tidak diarahkan kepada manunggal antara gusti dan kawula.

Dari segi sastra, NBG terkategori dalam kelompok karya sastra dengan mengambil bentuk Tembang Macapat[5], dan seperti Tembang Macapat dalam naskah Cirebon yang lain, NBG yang ditemukan di keraton Kacirebonan ini, terbagi menjadi beberapa kelompok tembang, diantaranya: kasmaran, megatruh, pangkur, durma, dan khinanthi; dan diakhir naskah ini ditutup dengan tembang kasmaran.

Kelima jenis tembang yang digunakan dalam NBG memang merupakan tembang yang tergolong dalam jenis tembang tengahan yang lazim disebut Tembang Macapat. Karakter bahasa yang muncul mewarnai NBG tak dapat dikatakan sebagai tembang kawi, karena itulah budayawan Cirebon memastikan NBG sebagai salah satu naskah macapat atau tembang tengahan yang dimiliki oleh Cirebon. Dari penggunaan dan pemilihan bahasa yang semacam inilah NBG terlihat eksclusif sebagai suluk pesisiran Cirebon yang mashur dan berakar pada zamannya.

Secara jujur kami akui, NBG yang ada pada kami memang belum tamat dan masih belum tuntas pembahasannya, entah berapa naskah lagi kelanjutannya. Akan tetapi, dari satu naskah ini, kita sudah dapat menangkap ide, gagasan, gambaran prilaku, dan ajaran luhur yang merupakan potret budaya Cirebon yang berkembang pesat pada saat itu. Penekanan pengajaran suluk (tasawuf dalam bentuk tembang) yang bertitik berat pada penamsilan yang begitu nyata mendomonasi naskah ini. Dengan kata lain, penggunaan bahasa ibarat seperti lir, lirpenda, lirkadiya dan terkadang figurative, sangat menyentuh hati dan membuat kita terhanyut dihempasan ombak sastranya. Oleh karena itulah, dibagian lampiran buku ini kami tampilkan NBG dengan tanpa terjemahan dan tafsiran, agar pembaca dapat menikmati alunan kata demi kata yang tersusun dalam NBG secara puitis, bahkan jika kita mau lebih terbuka, dominasi bahasa ibarat yang dipakai NBG menuntun kita ke dalam kesadaran berbahasa yang halus dan indah.

Tentunya penulis NBG, yang hingga saat ini belum kami ketahui, hendak mengajari kita (masyarakat Cirebon khususnya) tentang suluk Cirebon dari segi kalimat dan makna, sehingga warna makna atau prilaku yang dapat dipahami dari NBG mengungkapkan hal-hal yang bernuansa spiritual dan tasawuf. Hanya saja yang perlu digaris bawahi adalah semua prilaku yang digambarkan oleh NBG tak lepas daripada Cirebon sebagai ruang gerak penulisnya. Didamping itu, keterbatasan referensi yang ada atau kurangnya pengetahuan penulis NBG terhadap al-Quran dan Hadits terasa sekali. Namun demikian, semangat ‘bersuluk’ tampaknya cukup kuat dikalangan Islam Cirebon pada saat itu, sehingga NBG-terlepas dari kekurangan dan kelebihannya-menjadi naskah suluk yang khas ala Cirebon. Gagasan dan pemikiran yang tertuang dalam NBG sudah dianggap cukup kuat dan dapat menjelaskan konsep wahdatul wujud yang tumbuh dalam pemikiran tasawuf Timur Tengah menjadi manunggal ala Cirebon yang bisa dipahami berbeda dengan konsep dengan manunggal versi asalnya atau bahkan versi Siti Jenar. Manunggal versi Siti Jenar memang photo copy dari asalnya dengan kertas (bahasa) Jawa yang pada saat itu masyarakatnya masih kuat oleh pengaruh-pengaruh Hindu dalam peristilahan ajaran prinsip ketuhanan. Sehingga muncul anggapan bahwa Islam dan Hindu-Budha sebenarnya sama dalam memandang Tuhannya. NBG memilih jalan yang tergolong sederhana dan dapat dicerna oleh kalangan umum, sehingga kebingungan orang tentang persamaan Islam dan Hindu dalam memandang Tuhannya, dalam konsep menunggal, tak terjadi dalam pengajaran NBG.

Pengajaran dengan model suluk yang digunakan oleh NBG bukan tanpa awal dan permulaan. Di Timur Tengah sendiri, suluk diajarkan dengan tembang atau nadhom-nadhom yang ternyata mendapat respon yang cukup baik dikalangan masyarakat Islam. Ide-ide yang kadang sulit diungkapkan dengan uraian model nastar atau prosa begitu mudah dan lancar di gubah dalam tembang dan nadhom. Sehingga kesalah pahaman antara kelompok (kaum) yang pro wahdatul wujud dan kontra wahdatul wujud dapat dihindari.

Menurut al-Banjari, kaum wujudiyyah (orang-orang yang memahami tentang wahdatul wujud) itu ada dua golongan: wujudiyyah mulhid dan wujudiyyah muwahhid. wujudiyyah mulhid termasuk golongan yang sesat lagi zindiq. Wujudiyyah muwahhid, menurut dia, “yaitu segala ahli sufi yang sebenarnya”, mereka dinamakan kaum wujudiyyah ”karena bicaranya dan perkataannya dan itikadnya itu pada wujud Allah”. Ia tidak menjelaskan isi ajaran mereka, tetapi sebagai lawan dari wujudiyyah mulhid tadi, wujudiyyah muwahhid tentu tidak menganggap bahwa Allah tidak “tiada maujud melainkan di dalam kandungan wujud segala makhluk”, atau “bahwa Allah itu ketahuan zat (esensi)-Nya nyata kaifiat-Nya daipada pihak ada. Ia waujud pada kharij dan pada zaman dan makan”, dan tidak pula membenarkan pernyataan-pernyataan seumpama “tiada wujudku, hanya wujud Allah”, dan sebagainya, yang mencerminkan pandagan wujudiyyah mulhid itu. Keterangan al-Banjari mengenai ajaran kaum wujudiyyah mulhid itu kelihatan sangat mirip dengan keterangan ar-Raniri, yang dalam abad sebelumnya menyanggah penganut-penganut di Aceh.

Berdasarkan penjelasan ini, pada dasarnya sama dengan ajaran wahdah al-wujud Ibnu Arabi. Ajaran ini juga memandang alam semesta ini sebagai penampakan lahir Allah dalam arti bahwa wujud yang hakiki hanya Allah saja-alam semesta ini hanya bayangan-bayang-Nya. Dari satu segi, ajaran ini kelihatan sama dengan ajaran tauhid tngkat tertinggi. Kedua ajaran itu memandang bahwa wujud yang hakiki hanya satu-Allah, tetapi dari lain segi wujudiyyah muwahhid dan wihdah al-wujud ini tidak sama dengan pandangan “bahwa yang ada hanya Allah” dalam ajaran yang terakhir ini hanya tercapai dalam keadaan yang disebut fana, yakni terhapunya kesadaran akan wujud yang lain, sedang dalam ajaran wihdah al-wujud, pandangan tersebut kelihatan sebagai hasil penafsiran atas fenomena alam yang serba majemuk ini. Di samping itu, pandangan tauhid tingkat tertinggi itu, nampaknya didasarkan atas asumsi bahwa esensi Allah yang mutlak itu dapat dikenali secara langsung, tanpa melalui penampakan lahir-Nya, asumsi ini dibantah oleh Ibnu ‘Arabi, karena menurut dia Allah hanya bisa dikenal melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. (Naskah Klasik Keagamaan Nusantara I Cerminan Budaya Bangsa, Departemen Agama RI, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005: 49-50).

Jika kita hendak membanding NBG dengan syair-syair suluk  yang telah ditulis oleh Hamzah Fanshuri, maka tek pelak keduanya mempunyai semangat yang sama dalam hal mengusung wahdatul wujud atau manunggal. Paham teraebut menjadi sangat trend dan dianggap sebagai paham yang tinggi dalam ajaran suluk pada masanya. Walaupun kita juga tahu, pada saat yang sama, ada sekelompok yang menentang paham itu, bahkan dengan menggunakan kekuasaan sebagai alatnya. Sehingga kedua aliran (pro dan kontra wahdatul wujud) saling berebut kesempatan untuk mendapatkan tempat dihati para penguasa. Namun demikian, keduanya (NBG dan Syair Hamzah Fanshuri) mempunyai perbedaan yang cukup mendasar dari segi metode pengajarannya. NBG dengan basis bahasa dan ruang Cirebon yang menjadi latarbelakangnya, menjadi tampak lebih samar dengan paham yang dibawanya. NBG menamsilkan pahamnya dengan menekankan kesamaan antara Jawa dan Sunda, atau dengan kata lain, NBG menegaskan bahwa Jawa (bahasa Jawa Cirebon) dan Sunda sebenarnya satu dalam hidup, tujuan, dan mati. NBG ingin mengatakan bahwa perbedaan Jawa dan Sunda terletak hanya sebatas bahasanya saja, tetapi makna yang dikehendaki dari ucapan yang berbeda itu sebenarnya sama. Untuk itulah, perbedaan bahasa sebenarnya bukan sesuatu yang dapat menjadi hilangnya makna yang sama, yang dikehendaki oleh bahasa yang lain. Jadi, masing-masing bahasa punya kata tersendiri yang dapat menjelaskan makna yang dimaksud oleh bahasa yang lain. Dengan cara beginilah NBG menjelaskan pahamnya tentang tunggal dan siji atau wahdatul wujud. Atau dengan kata lain, kedua bahasa yang berbeda itu sebenarnya punya maksud yang sama, dan tentunya secara lumrah masing-masing bahasa, apabila digunakan, menuju kepada ‘satu makna’ yang dikehendakinya, walaupun didalam kamusnya, kata itu memiliki beberapa dan bahkan puluhan arti.

Dari kuatnya kalimat tamsil yang digunakan NBG, sepertinya NBG bukan ditulis oleh orang yang biasa, tetapi benar-benar Bujangga yang profesional, terampil dan mampu membawa imajinasi pembaca kepada alur pemikiran yang dikehendakinya. Menurut kaidah ilmu sastra, kebesaran seseorang dapat dilihat dari bahasa yang digunakannya. Dengan kata lain, kebijakan bahasa yang dipakai dalam penulisan suatu karya, dapat menjadi tolok ukur bagi penulisnya. Kalimat tamsil yang semacam inilah yang mewarnai isi kitab-kitab Ibnu Arabi, al-Ghazali, Ibnu Athoilah, dan lain-lain sewaktu mereka menjelaskan tentang ilmu mukasyafah, ilmu makrifat, dan hulul yang dianutnya. Hanya saja perbedaan selalu ada diantara sesamanya dalam sebagian masalah yang diutarakan. Namun secara garis besar, metode yang digunakan dalam hal menghadapi kesulitan saat menjelaskan tunggal, kasyaf, atau nyata kepada pembaca, mereka menempuh jalan yang sama. Mereka beranggapan, bahwa ma’rifatul haq sesuatu yang pelik, sehingga sulit untuk dijelaskan dan ditulis dengan kalimat lepas diatas lembaran kertas. Karena didorong oleh rasa ingin berbagi ilmu yang mulia kepada pembaca atau tepatnya murid, penamsilan itu dilakukan oleh mereka, agar pembaca menangkap setetes maksud dari ma’rifatul haq yang diurai dengan tamsil. Untuk bisa merasakan atau menyaksikan secara langsung, maka pembaca atau atau yang disebut dengan istilah murid harus dapat melakukan apa yang telah dikerjakan oleh orang yang mencapai maqom ma’rifat atau maqom kasyaf secara penuh dan konsisten. Maqom ini adalah maqom yang tertinggi dalam ilmu suluk yang berkembang di dunia Islam dibelahan dunia manapun. Akan tetapi, Kartani (2004), menambahkan satu tingkat lagi di atas ma’rifat dengan tingkatan ma’lum atau maklum. Artinya: tingkatan maklum adalah kondisi pemikiran dan kesadaran seseorang tidak lagi fana fil kull (sirna dalam keseluruhan) tertuju hanya kepada Allah swt. semata, tetapi sudah bisa membagi kesadarannya kepada Allah swt. dan makhlukNya. Jadi fana yang dipakai oleh orang yang mencapai maklum adalah fana fil ab’adl (sirna dalam kesebagianan), yaitu seseorang disamping tenggelam dalam musyahadah fillah, dia juga mampu berkomunikasi dengan orang lain secara benar dan lancar.

Suluk- suluk yang mirip dengan NBG banyak terdapat dalam kasuasteraan Cirebon dan Nusantara, khususnya yang berasal dari Aceh, dan kita, khusus Cirebon, dapat mendengarkannya dalam pagelaran Macapat yang sering dilaksanakan oleh kalangan tua Cirebon. Hanya sayangnya adalah kurangnya minat kalangan muda terhadap jenis pagelaran kesenian yang satu ini. Mungkinkah karena pagelaran macapat di Cirebon tergolong sakral, atau bahasa yang dipakai dalam tembang ini tak dapat dimengerti kebanyakan kalangan mudanya. Menurut hemat kami, kesakralan yang ada dalam pagelaran macapat tak perlu menjadi alasan untuk lari dari kesenian yang unik dan menarik ini. Mereka harus coba berusaha mengerti dan masuk di dalamnya agar dapat memberikan perubahan metode pagelaran yang semula sakral menjadi meriah. Anggaplah tembang macapat adalah suatu puisi klasik yang dapat dibaca secara moderen, sebagaimana puisi-puisi yang lain. Memang harus diakui, antara tembang dan puisi sangat berbeda dalam segalanya. Dari segi pembacaan khususnya tembang macapat memang mempunyai aturan yang sangat ketat. Memang idealnya, tembang macapat harus dilantunkan sebagaimana mestinya, karena tembang adalah alunan lagu yang memerlukan kemerduan suara disamping mengerti teknik-teknik pelafalannya. Sementara puisi penekanannya pada inotasi suara yang tidak memerlukan teknik lagu secara khusus. Namun memang ke duanya mempunyai kesamaan dalam kemerduan dan ketegasan suara. Karena itulah, harus dicapai jalan keluar yang dapat menjawab problem yang berkaitan dengan pakem tembang agar bisa – dengan segala kepantasannya – diperlakukan sebagaimana puisi modern.

Menurut hemat kami, pagelaran macapat di Cirebon yang cenderung ke arah ritual yang sakral itu karena memang, secara keseluruhan, macapat Cirebon berisi babad, cerita rakyat, dongeng, dan sedikit sejarah dan ajaran sufi (suluk). Di dalam kisah yang disebutkan dalam tembang macapat ada sederetan nama tokoh Cirebon zaman dahulu seperti; Ki Gede, Ki Buyut, Ki Ageng, Ki Wira, dan Tokoh Panutan sentral seperti; Sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu Sangkan dan para wali yang lain yang telah berjasa terhadap masyarakat Cirebon dalam banyak hal, terutama kesejateraan batin dan jiwa. Berangkat dari tradisi tahlilan dan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal, tak dapat diekspresikan secara pantas selain mengadakan doa dan kirim surat al-Fatihah untuk mereka, maka para Bujangga Cirebon yang hendak mengadakan tembang macapat, merasa sungkan menyebut-nyebut nama Sunan Gunung Jati atau para Ki Gede dengan tanpa mengirim surat al Fatihah dan doa-doa kepada mereka terlebih dahulu. Dari sinilah berawalnya tradisi pembacaan doa arwah kepada sesepuh dalam pagelaran tembang macapat Cirebon. Sehingga pagelaran tembang macapat Cirebon seperti dikhususkan untuk kalangan orang tua, sebagaimana tahlilan yang hanya dipimpin dan dilakukan oleh masyarakat yang memang kebanyakan orang tua. Jadi di mata anak Cirebon yang kurang peduli dengan pagelaran macapat, menyaksikan pagelaran ini, dalam pemahaman mereka, sama dengan menyaksikan tahlilan. Pembacaan doa arwah diawal prosesi macapat yang merupakan tiruan ritual tahlil yang digunakan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dianggap oleh mereka seperti tak ada perbedaan antara pagelaran macapat dan tahlilan. Jadi kesakralan macapat dengan kemenyan dan doa arwah sebenarnya adalah tradisi yang dapat digantikan dengan model lain yang lebih digandrungi oleh kalangan muda masa kini. Dan bagi kami, tegaknya suatu seni adi luhung tentunya lebih penting daripada mempertahankan modenya dengan sedikit orang yang tertarik dan mengambil manfaat dari padanya. Meniadakan acara kirim arwah dan doanya beserta bakar kemenyan saat pembukaan prosesi pagelaran tembang macapat, dan digantikan dengan yang lain atau tanpa penggantinya, tetap masih memelihara kelestarian macapat, dan mungkin juga menjadi salah satu cara untuk membawa macapat kelingkaran anak muda.

Seperti halnya naskah lain yang berbentuk macapat  yang berisi babad, dongeng, atau yang lain, di awal tembangnya NBG pun bercerita tentang perilaku dan tradisi kehidupan masyarakat Cirebon yang gemar membicarakan orang lain di saat malam mulai turun. Cerita atau informasi tentang potret kehidupan di Cirebon pada masa lampau ini agak detail dan tak ditutup-tutupi. Idealisasi yang dipegang teguh oleh Bujang Genjong saat hendak menikah adalah dia tidak akan menikah sebelum mempunyai pekerjaan yang mencukupi. Padahal disisi lain dia menjadi idola para gadis dan janda kembang di seantero desa, dan Rara Gonjeng merupakan kenalannya yang peling dekat dibanding yang lain. Tetapi sebenarnya bukan masalah idealisme masyarakat secara umum, hanya dia hendak, juga karena menjadi persyaratan dari Rara Gonjeng sendiri, mencari ilmu dan ngelmu yang dapat menerangi hatinya sepanjang masa. Hal ini tersurat dan tersirat dalam bait pangaweruhe kinaweruhan. Sangat mengejutkan! Di satu sisi, pelajaran yang ada dalam NBG mengutamakan pendidikan yang dapat menjadi penuntun kehidupannya dari dunia hingga akhirat, yang tentunya dapat menghabiskan usia remaja. Di sisi lain, kita tahu bahwa zaman dahulu (zaman kakek dan nenek kita) banyak yang menikah di usia remaja. Atau mungkin mereka menggunakan sistem kawin gantung [6] yang terkenal dan dapat menjadi solusi dalam kerumitan ini. Dan tampaknya kemungkinan yang ketiga menjadi jalan tengah yang ditempuh oleh sebagian orang kaya di berbagai daerah Cirebon saat itu. Kita sering mendengar cerita masa lalu, saat kakek dan nenek kita masih muda, yang menyebutkan bahwa seringkali setelah usai pernikahan, dalam jangka satu minggu atau empat puluh hari, pengantin lelaki berangkat kembali ke pesantren, karena pada saat itu belum ada sekolah, untuk meneruskan pelajarannya yang belum tamat. Hal itu berjalan hingga dua, tiga tahun atau bahkan lebih lama, tergantung dari kecepatan dan kecerdasan yang dimiliki olehnya sehubungan dengan kesulitan dan tingkatan pelajaran yang sedang ditempuhnya.

Sepanjang penerjemahan dan pengomentaran, kami selalu mengingat dan berusaha untuk menghindari anggapan pribadi dari emosi yang mengintervensi keabsahan naskah ini, yang selalu beranggapan, bahwa naskah ini adalah suluk secara bahasa dan isinya, suluk luar dan dalam. Akan tetapi, fakta yang ada, mendorong kita untuk mengatakan hal yang sama dengan anggapan awal. Idealisasi kehidupan masyarakat Cirebon tampaknya begitu jelas tertuang dalam NBG, dan idealisasi itu bisa berupa pernikahan yang cukup ilmu atau cukup harta. Walapun yang kemudian dilaksanakan oleh Bujang Genjong adalah cukup ilmu yang terefleksi kedalam kerinduan untuk mencapai ma’rifatullah dengan cara manunggal diutamakan dengan menunda perkawinan yang dpat membahagiakannya dalam kehidupan dunia ini. Lebih mementingkan kebahagiaan yang kekal dan hakiki yang tak dapat direnggut oleh usia dan kematian. Usia dan kematian justru menjadi jembatan yang dapat mengantar kerinduan kepada Yang Abadi menjadi terbukti nyata dan terlaksana, tanpa tirai dan dinding, begitu lepas dan bebas, dan begitu nikmat dan lezat, bahkan tak terkira. Karena yang hakiki adalah sesuatu yang tak dapat digambarkan dan dilukiskan dengan kalimat dan tulisan. Segala kehendaknya terturuti tanpa ada larangan dan pantangan yang dapat menghancurkan atau membahayakannya. Kehidupan yang abadi tak punya batasan apapun untuk siapa pun. Mereka punya hak yang sama untuk merasakan sesuatu sesuai dengan amal perbuatannya, taqorrub, saat di alam fana. Di sana, semua menuai pahala dan tambahan, ziyadah, secara penuh dan adil tanpa kurang sedikitpun. Keadilan yang dijalankan adalah sebenarnya, bukan retorika belaka.

Secara kebetulan, dalam menghadapi naskah yang pelik seperti NBG ini, belum ada satu rujukan lokal yang dapat memecahkan model penafsiran dan penerjemahannya. Karena yang mendominasi NBG adalah dialog antar sesama (lelaki dengan perempuan, lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan) yang bebas, sementara isi dialognya mengarah kepada nilai yang luhung dan agung. Tentang kesopanan bertutur kata, berprilaku, dan berilmu, sare’at, tarekat, hakekat, dan ma’rifat. Dan, dari pertengahan hingga akhir, dipenuhi dengan dialog tentang manunggal dalam versi mereka sendiri, atau manunggal versi Cirebon. Sementara kita belum punya rujukan yang dapat menjelaskan secara detail apa sebenarnya manunggal versi Cirebon dan terpengaruh dari mana, atau memang berdiri sendiri dengan filsafat yang mandiri pula.

Di Cirebon, bila melihat banyaknya naskah yang bertebaran, bisa dikatakan belum ada usaha penerjemahan dan penafsiran ajaran suluk yang langsung mengacu pada naskah aslinya. Atau pendek kata, naskah-naskah suluk Cirebon belum ada yang diberi tafsiran secara penuh, dengan metode tekstual dan kontekstual, dengan metode tersirat dan tersurat, atau metode penulisan yang lain, sehingga menyulitkan bagi kami dalam memulainya. Sungguhpun demikian, memang sudah ada suluk Cirebon yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi belum sempat diberi tafsiran. Dan sayangnya penerjemahan itu sendiri tidak menyebutkan judul naskah aslinya, apalagi menyertakan transliterasi aksara atau hasil alih aksara dari bunyi naskah aslinya. Jika memang naskah aslinya tanpa judul dan pengarang, sebaiknya melampirkan hasil alih aksara di akhir buku sebagai bahan koreksi untuk suatu kesalahan yang mungkin timbul dari suatu penerjemahan.

Untuk itulah, kami mencoba berusaha dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki tentang aturan dan tehnik penerjemahan dan penafsiran dari segala macam tembang seperi; kidung,  tembang, puisi, sloka, wangsalan, sajak, dan bahkan kami pelajari juga tembang-tembang Arab dalam bentuk kosidah, nasyid, si’ir, dan nadham. Kami melakukan perbandingan karakter bahasa, atau tepatnya bersastra yang digunakan oleh NBG dengan yangb lain. Dari sana, kami coba merenungkan tujuan yang mungkin dimaksud oleh penulisnya. Berangkat dari situlah, NBG kami terjemahkan dan kami tasfsirkan dengan melihat dan mempertimbangkan teks dan konteksnya.

Saat kami membandingkan tembang ini dengan tembang-tembang tradisional yang lain, yang tersebar di berbagai pustaka dengan macam-macam bahasa dan bentuknya, kami merasa ada kesamaan dalam hal pembukaanya dari segi pengggunaan bahasa simbol, figur, dan tamsil antara NBG dengan tembang al Busyairi yang terkenal dengan nama Kosidah al Burdah (KB). Secara umum, NBG dan KB mempunyai perbedaan yang mendasar dan fundamental. Bagi KB, bahasa Arab dan dengan kosidah sebagai bentuk tembangnya, menjadikan KB sepontanitas diklaim sebagai karya sastera Arab yang langsung membukitikan ke islaman orang yang menulisnya. Karena KB, di samping berisis pujian dan sanjungan kepada Rosulullah saw, juga Tuhan yang wajib disembah disebut sebagai Allah swt., dan KB membawa kita ke kedalaman cinta kepada Allah swt dengan perantaraan Rosul-Nya. Sementara NBG dengan bahasa Cirebon sebagai media komunikasinya dan tembang macapat  sebagai pengantarnya, menjadikan NBG tak langsung dianggap sebagai karya Islami dan apalagi sebagai naskah yang berisi ajaran suluk (tasawwuf) yang penuh dengan ajaran cinta kasih, kerinduan, dan harapan kepada Allah swt. NBG menyebut Allah swt sebagai Dzat yang wajib disembah dan dicintai dengan sebutan  Yang Agung, Yang Misesa, atau sebutan yang berbau Hindu yang lain. Dan diawal tembangnya sendiri, NBG tidak menyebut bismillah sebagaimana naskah-naskah keagamaan yang lain, atau bahkan naskah macapat yang lain. Namun demikian, perbedaan keduannya terletak pada kulit dan wadahnya saja. Ibarat wadah, NBG bisa diumpamakan dengan gelas, dan KB diumpamakan dengan dengan kendi, keduannya sama-sama berisi air cinta yang dapat memabukkan orang yang meminumnya dengan penuh rasa dahaga. Ibarat pakaian, NBG adalah kaos, dan KB adalah kemeja, keduanya sama-sama membungkus satu raga abadi yang hidup sepanjang zaman. Karena cinta tak akan pernah sirna dari dunia hingga manusia melebur dirinya dalam kehancuran lama semesta. Akan tetapi, hakikatnya, cinta akan bangkit lagi di alam keabadian akhirat seiring dengan pulihnya kesadaran ruh. Jika ruh telah mendapatkan kesadarannya kembali, setelah dibangkitkan, ruh akan kembali berenang dalam lautan kerinduan cinta yang pernah menenggelamkannya sewaktu di dunia fana. Kerinduan ruh pada Allah swt bisa kita pahami dari kisah mahsyar yang diriwayatkan dalam hadis-hadis. Keduanya, baik KB maupun NBG, membawa kita ke kesadaran yang sama; bahwa Allah swt adalah satu-satunya tujuan harapan bagi seluruh makhlukNya, dan akhir semua perjalanan (baca: suluk) yang dilakukan oleh para hambanya yang bertebaran di seluruh dunia dan menggunakan jalan dan metode yang berbeda. Allah swt sebagai pencipta yang mampu memaksa seluruh hambaNya datang dan tunduk di hadirat-Nya, sekarang juga atau esok kelak.

Bagaimana, kapan, dan mengapa NBG ini disusun adalah diluar jangkauan kami, dan pemahaman kami tentang NBG secara tekstual maupun kontekstual tak sanggup menguraikannya. Akan tetapi, yang kami yakini adalah bahwa NBG memang benar sebagai naskah asli suluk pesisiran Cirebon yang memuat berbagai adat, tradisi, nilai, ajaran, dan gagasan yang dapat menjadi pedoman semua orang dan dapat dipertanggung jawabkan. Siapa yang menulis, hingga saat ini kami belum menemukan nama penulisnya. Selama penelusuran yang kami lakukan bersama tim, dengan cara perbandingan naskah, bertanya ke pemilik saat ini, dan dengan mencarai berita dari luar, kami belum menemukan nama penulis yang telah menyusun NBG ini. Memang dari banyaknya karya seni yang ada di Cirebon, khususnya seni sastra yang berhubungan dengan penulisan naskah, kita sering berhadapan dengan penulis yang misterius. Kebanyakan naskah-naskah Cirebon yang sempat ditemukan dan dapat dibaca adalah tanpa penulis (atau paling tidak penyalin) dan tanpa pengarang atau penyusun. Suasana anonymous seakan menghantui hampir semua (kebanyakan) naskah Cirebon yang ada sekarang, terutama yang ada ditangan kami (Pusat Koservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon). Tapi kami yakin, haqul yaqin, bahwa keadaan ini bukan merupakan suatu unsur rekayasa dari orang-orang tertentu terhadap suatu naskah tertentu. Kami memahami, tradisi penulisan, bahasa yang digunakan, dan keadaan fisik naskah, dan digabungkan dengan kebiasaan penulisan orang zaman sekarang, naskah ini bukanlah hasil dari rekayasa yang disusun secara sistematis sehingga sulit di cari jejak kebohongannya.

Ada anggapan dan mungkin juga keyakinan yang mengatakan bahwa kesusasteraan Cirebon terpengaruh oleh sastera Jawa, Sunda, Arab, dan Melayu. Setelah kami meneliti satu demi satu kata yang tertulis dalam NBG, ternyata anggapan itu memang benar kenyataannya. NBG membaur berbagai bahasa dengan kondisi yang mendukung isinya, sehingga tampak sahut-menyahut dan sambung-menyambung yang menjalin hubungan bahasa Jawa dan Sunda menuju ke pelaminan makna. Sehingga titik fokus pembicaraan makna, tujuan, dan ajaran dilebur kedalam dua kekayaan bahasa yang semakin enak untuk didengar dan ditembangkan. Tampaknya, penyusun NBG ingin menggayung setetes air makna di lautan sastera dengan berbagai gayung bahasa yang berbeda model dan bentuknya.

Secara jujur dan dengan kerendahan hati, terjemahan dan penjelasan (penafsiran) yang kami laukan bukan merupakan sesuatu yang harus diterima tanpa syarat oleh pembaca yang budiman. Kami mempersilahkan para pembaca untuk menerjemahkan dan menggali sendiri makna dan tafsirannya tanpa mempedulikan dan menengok yang telah kami kerjakan. Untuk itulah, kami melampirkan (lihat lampiran) transliterasinya agar dapat diketahui oleh pembaca. Karena NBG memang harus mendapat perhatian dari banyak kalangan yang tidak terbatas hanya sasterawan, budayawan, seniman, dan agamawan saja. Mungkin juga perlu melibatkan sejarahwan berkaitan dengan gambaran kejadian dan sebagian nama tempat yang sebelumnya belum pernah disebut selain dalam naskah ini.

Begitu juga bila ada seseorang yang mempunyai naskah NBG dengan versi lain atau lanjutan dari naskah ini dan ingin melakukan penerjemahan dan penafsiran secara mandiri, kami persilahkan untuk mengerjakannya. Dengan besar hati penuh kegembiraan, kami sambut usaha tersebut sebagai pelengkap dan penyempurna bagi usaha ini. Jika ada perbedaan isi naskah dari apa yang telah kami kerjakan, sebagian atau seluruhnya, maka kami anggap itu sebagai hal yang wajar dan biasa. Naskah versi Keraton Kacirebonan yang kami pegang pun tidak harus sama dengan apa yang mungkin ada ditangan pembaca, begitupun sebaliknya. Karena ini bukan kitab suci yang ditanggung pemeliharaan dan keabsahaanya oleh Allah swt dan agama. NBG adalah hasil karya orang tua kita yang mungkin sudah mengalami penyalinan beberapa kali dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Penyalinan yang berarti penggandaan (reproduksi naskah secara manual) kadang terjadi penambahan atau pengurangan didalamnya.

Cirebon penuh dengan keindahan alam dan pemandangan yang menyejukkan. Disebelah utara Cirebon adalah Laut Jawa yang ombaknya cenderung tenang. Disebelah selatan, tampak Gunung Ciremai yang menawarkan panorama bebukitan yang kuat, teguh, diam, dan kokoh. Laut Jawa yang luas (menurut pandangan mata) memberi inspirasi kepada orang Cirebon agar lapang dada dan menerima segala bentuk budaya, aliran, dan paham. Dari Gunung Ciremai, orang Cirebon mengambil pelajaran tentang kekuatan tekad dengan penuh ketenangan jiwa. Dari sanalah muncul pribahasa Cirebon yang sering disampaikan oleh orang tua kita dahulu yang berbunyi; amba segara masih amba atiningsun, gede gunung masih gede atiningsun ( luasnya lautan masih luas hati saya, besarnya gunung masih besar hati saya). Pribahasa ini, menjadi suatu ungkapan yang telah membesarkan dan melapangkan hati orang Cirebon berabad-abad.

Dari contoh diatas, pribahasa dan ungkapan yang bermakna yang telah diajarkan oleh orang tua. Orang Cirebon dahulu telah memberikan warna pemikiran dan pangaruh tersendiri dalam tindakan sehari-hari masyarakat Cirebon sekarang. Pola pikir orang Cirebon dahulu yang cenderung menggambarkan dan menjelaskan pemahaman ajaran dengan metode tasybih dan tamsil, penyerupaan dan  perumpamaan[7], menjadi tradisi turun-temurun dan terpelihara hingga tertuang dalam naskah-naskahnya, bahkan hingga sekarang. Naskah Bujang Genjong adalah salah satu contoh model pengajaran orang tua dahulu dengan menggunakan metode perumpamaan dan simbol-simbol.

Dari  banyaknya nara sumber yang memberikan pendapat tentang kisah percintaan Bujang Genjong dengan Rara Gonjeng yang mendekati pernikahan ini, semakin memudahkan kami untuk melakukan penerjemahan, dan memberi penjelasan tentang maksud dan tujuan cerita yang di guritkan dalam naskah ini. Dari perbandingan isi naskah dan penjelasan nara sumber, secara umum dan singkat dapat dikatakan bahwa pengajuan syarat seorang wanita, Rara Gonjeng, sebelum dinikahi oleh calon suaminya, Bujang Genjong, menjadi budaya yang klasik dan menjadi tantangan bagi calon mempelai pria.  Budaya ini, dari sisi calon isteri, dapat mengambil kesimpulan tentang kapasitas dan kesungguhan calon suaminya. Dan dari sisi calon suami, membentuk kesanggupan dan ketabahan terhadap cara dan tahapan yang harus dijalani dan diperjuangkan.

Dengan melihat bentuk isinya, sepontanitas kita dapat dengan mudah mengatakan bahwa NBG bukan merupakan suatu naskah yang secara khusus menjelaskan tentang suatu ajaran dan tuntunan tertentu. Tetapi bila kita cermati secara seksama dan hati-hati, NBG hendak mengajarkan kepada pembaca tentang sesuatu yang penting. Intinya, banyak orang sukses yang bertolak dari cerita-cerita yang dia dengar dan dia idolakan dalam hidup dan sikap kerjanya. Hal inilah yang memberikan semangat kepada orang tua kita zaman dahulu yang selalu bercerita dan mendongeng untuk menghantar tidur anak-anaknya. Hal yang sama pula yang menyebabkan penulis NBG mengambil kisah cinta yang pasti romantis dalam petuah dan hikmah yang hendak disampaikan.

Dalam petualangan Bujang Genjong yang sedang memenuhi permintaan Rara Gonjeng, terungkap tentang kehidupan masa remaja yang penuh semangat. Semangat untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi kesenangan dan kebanggaannya. Dan pertarungan Bujang Genjong dalam pencarian ilmu manunggal lebih kepada gambaran atas resiko dan tanggungjawab yang harus di pikul oleh setiap orang untuk mendapatkan kebahagiaannya. Tanpa tantangan dan cobaan, hidup menjadi datar dan tidak berkembang ke arah yang lebih baik dan mulia. Seperti sekolah yang belum pernah menyelenggarakan ujian terhadap muridnya, dipastikan belum ada seorang murid pun yang pantas mendapat gelar kelulusan yang baik dan mulia. Inilah hidup, sealu beriringan dengan ujian dan cobaan. Hal itu pula yang di lakukan oleh Bujang Genjong demi mendapatkan cinta sejati dari Sang Rara Gonjeng.

Memberi ajaran dengan berkisah sebenarnya sudah menjadi tradisi semenjak dahulu kala, bahkan al Qura’an sendiri penuh dengan cerita-cerita yang bahkan tidak disebutkan oleh sejarah sekalipun. Secara kronologi kehidupan, cerita dalam al Qur’an bisa dimulai dengan penciptaan Adam as dalam surga dan berakhir dengan kiamat yang menyaring dan memisahkan antara orang yang baik dan jahat; yang baik masuk sorga dan yang jahat masuk neraka.

Adapun kisah terbaik dalam al Qur’an adalah seputar kisah tentang Nabi Yusuf as [8] yang secara tersurat dan tersirat, menggambarkan tentang pertarungan antara nafsu ammarah, lawwamah, dan muthmainnah. Dari segi perjuangan, Yusuf as dimulai dengan seorang anak kecil yang bermimpi melihat 12 bintang bersujud padanya dan berakhir dengan menjadi seorang menteri. Isyarat untuk mengejar apa yang menjadi impian seseorang sebenarnya dapat diwujudkan dengan kesabaran, ampunan, dan kasih sayang. Betapa pedihnya Nabi Yusuf as dibuang dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah sebagai “penggoda” isteri pembesar, dan dimasukan kedalam penjara? Sekumpulan kepedihan yang dilalui dengan kesabaran yang penuh dan tepat.

Lalu apa yang melatar belakangi Bujang Genjong menjadi lambang bagi nafsu yang mencari kesempurnaannya? Jika hidup ini adalah bergerak kearah kesempurnaan dan hidup itu didorong oleh nafsu, maka yang dituju oleh nafsu adalah ketenangan dan ketentraman, nafsu muthmainnah. Hal ini berdasarkan tiga tokoh, Rara Gonjeng, Bujang Genjong, dan Bujang Lamong, yang bersesuaian dalam makna dan berurutan dalam lakon. Wanita, lambang nafsu amarah, cenderung kearah duniyawi, diwujudkan dengan Rara Gonjeng. Pemuda, lambang nafsu lawammah, banyak bergolak dalam baik dan buruk, dilambangkan dengan Bujang Genjong. Cendikia, lambang nafsu muthmainnah, kehidupan damai, tenang, dan sentosa, dilambangkan dengan Bujang Lamong.

Jika pentafsiran dengan cara tasybih dan tamsil ini dianggap salah dan tidak tepat, maka kami memohon maaf atasa kesalahan yang telah kami perbuat ini. Tapi kita perlu melihat hal ini lebih jernih dari sisi penulis naskah dan ruang lingkupnya. Jika kita selalu melihat kalimat dan kisah  dari permukaannya saja, maka hampir seluruh kalimat dan kisah didunia ini adalah kebohongan. Jika kita menilai kebohongan, maka kita harus segera menjahuinya. Coba kita perhatikan kalimat dibawah ini: Ada orang datang ke kita dari keraton dan berkata, “Saya melihat keraton dan sultan”. Apakah dia berbohong, jika yang dia lihat sebenarnya hanya bagian dari kertaon yaitu pungkuran, karena disana dia diterima oleh sultan. Dan apakah di berbohong, jika yang dilaihat sebenarnya hanya bagian dari sultan yaitu wajahnya, karena dia hanya melihat raut mukanya saja. Ini sebenarnya bukan persoalan yang rumit, jika kita mau mempelajari ilmunya, termasuk juga kita memuji Rosulullah saw dengan berkata; engkau matahari, engkau rembulan, engkau cahaya diatas cahaya. Apakah ini bukan kebohongan? Karena kita sudah menyamakan, mentasybihkan Rosulullah saw dengan bulan, matahari, dan cahaya. Padahal, dalam keimanan, kita harus meyakini Rosulullah saw itu lebih mulia dari bulan, surya, dan cahya. Lalu apa arahnya? Arahnya adalah taraqi dan tadalli. Inilah fungsi kaidah tasybih dan tamsil dalam ilmu balaghoh[9].

Penerjemahan yang kami lakukan ini sebenarnya belum sempurna. Kendala yang paling umum dalam masalah ini ketika menghadpai ungkapan yang kental sarat makna. Beberapa kali coba kami lakukan perbaikan terhadap terjemahan-terjemahan yang sudah dikerjakan, akan tetapi hasilnya tetap masih kurang. Tidak sempurnanya penerjemahan ini disebabkan terpisahnya pemahaman yang timbul dari terjemahan yang ada. Seringkali terjemahan dari ungkapan-ungkapan, terkadang bahasa, tak dapat mengenai maksud yang dituju oleh naskah dengan bahasa aslinya. Perasaan kurang menyeluruhnya pemahamaman yang diperoleh oleh terjemahan sangat mendominasi.

Dalam penerjemahan ini, untuk mempermudah dalam transliterasi, kami menambahkan nomor urut bait, dan huruf baris. Hal ini dilakukan agar pembaca dengan cepat melakukan pencocokan antara tejemahan dengan transliterasi atau bunyi naskahnya. Dengan begitu kesalahan-kesalahan yang ada dalam penerjemahan ini dapat segera diketahui untuk segera dilakukan perbaikan-perbaikan.

Proses yang paling melelahkan dalam menerjemahkan naskah ini sebenarnya karena kurangnya alat bantu beberapa referensi sejenis yang sudah ada di Cirebon. Kekurangan tersebut membuat proses kurang cepat dan tidak menyeluruh menjangkau makna bahasa dan ungkapan aslinya. Perbedaan makna dalam terjemahan ini seringkali menjadi kendala bagi para penerjemah lain diberbagai tempat. Seringkali makna aslinya menjadi hilang, dan pemahaman menjadi hambar ketika satu kalimat atau satu ungkapan dipaksakan penerjemahannya. Hal yang mungkin menjadi kendala juga adalah penguasaan bahasa yang tidak berimbang antara bahasa naskah dengan bahasa Indonesia.

[1] Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon hlm. 225,226. Perum Percetakan Negara RI 2004.

[2] Al Ghazali dalam Ihya III hlm. 17 berkata, Hati manusia itu terkhusus dengan pengetahuan dan kehendak yang menyebabkannya berbeda dari seluruh hewan.

[3] Kalimat Bujangga di pinjam untuk menjadi istilah bagi penulis tembang macapat agar pembahasan dan kalimat menjadi simpel

[4] Budaya Bahari, hlm. 26.

[5] Tembang Macapat merupakan bagian dari bentuk kesusasteraan Cirebon. Seorang budayawan Cirebon, Kartani, memberi penjelasan bahwa macapat berarti membaca empat-empat, maca papat-papat. Membaca secara empat wanda empat wanda dalam tembang ini sebenarnya sangat sulit dipahami oleh generasi muda sekarang, karena mereka tidak mendapatkan gambaran dalam pemikiran mereka bentuk tehnis membaca empat-empat. Bagi kami, mereka tidak salah sama sekali, karena tidak ada orang yang memberinya pelajaran tentang itu. Tentang Macapat, lihat Rokhmin Dahuri, Budaya Bahari sebuah Apresiasi di Cirebon,  terbitan Perum Percetakan Negara 2004, halm. 116 ,117. lihat juga Yatna Supriatna, Sastra Klasik Cerbon, terbitan Disbudpar Kota Cirebon 2008, hlm. 6,7.

[6] Di Cirebon, Kawin Gantung biasa di sebuta juga dengan istilah Peganten Cilik. Untuk  kalangan orang-orang kaya, Peganten Cilik ini dilaksanakan dengan cukup meriah dengan arak-arakan yang menggunakan Grudaan. Selengkapnya lihat Rokmin Dahuri dkk., Budaya Bahari, 2004: 211-217.

  

[7] Dalam surat al Ankabut ayat 43 dan 44 yang artinya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesumgguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin. Proses pelajaran, terutama belajar tentang kebesaran Allah swt, sangat tepat dilakukan dengan mengambil perumpamaan, kejadian, cerita, dan ibarat.. Karena dengan cara seperti ini sesuatu yang harus dijelaskan secara panjang lebar dengan tulisan atau kalimat dapat diringkas dengan satu bentuk gambar atau perumpamaan yang lebih singkat dan mudah dimengerti.

[8] Lihat QS. Yusuf, ayat 3.(Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami wahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui).

[9] Lihat al Mursyidi. Syirkah Nur Asia Semarang. tt.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s