Judul Asli: Hill al-Rumuz wa Mafatih al-Kunuz

SEJARAH CIREBON NASKAH KERATON KACIREBONAN TEKS KCR. 04 || Sunan Kalijaga, Panembahan Ratu, dan Ki Palidada dalam Perdagangan yang Dilakukan oleh Anak Cucu Sunan Gunung Jati

sejarah

Diceritakan, setelah berdirinya Pakungwati, maka telah menjadi warna-warni cerita kehidupan di dunia. Adalah seorang bernama Kiyai Pali datang ke Cirebon untuk mencari untung. Sebab ia berasal dari keturunan tanah seberang, dan selalu berpikir untuk mencari untung dengan cara berdagang, kemudian iapun pergi menghadap kepada Kangjeng Panembahan dan mengutarakan maksudanya bahwa ia ingin pergi menjadi pedagang besar dengan maksud ikut menolong menopang kehidupan ratu. Ia pun akan meninggalkan tetangga sanak keluarga dengan pergi ke seberang antar Negara. Ingin merubah hidup dengan berdagang, dagang beras dengan menggunakan angbentengn kapal tentulah akan besar untung dan rezkinya. Panembahan Ratu kemudian berkata Mengijinkan akan keinginan Ki Palidada, Panembahan sendiri kurang memahami tata cara dagang.

Setelah mendapatkan izin Ki Palidada kemudian segera beras yang berasal dari orang-orang Cirebon dimuat dalam karung hingga mencapai ribuan kandek. Kemudian diangkut ke tepi pantai untuk segera diangkut dengan kapal. Telah terkenal bahwa Ki Palidada adalah seorang pedagangnya ratu. Ki Palidada telah menjadi juragan, kapalpun telah disiapkan. Tidak seperti anak seorang miskin, kerjanya hanya meminta-minta beras dengan menggunakan batok hanya sekedar untuk seseuap nasi.

Ki Palidada berkata bengis, “Hei  Sidi Lolocok, beras ini sudah dimuat di karung mau dijual. Kamu yang miskin jangan meminta-minta.”

Ki Palidada menjadi marah kemudian ia hendak menempeleng orang tersebut, namun mendadak tangannya menjadi kejang. Kakinya hendak menendang namun mendadak juga tidak bisa digerakan, melangkahpun tidak bisa. Akhirnya Ki Palidada pun terjatuh kemduian diberikan pertolongan digotong dibawa ke hadapan Panembahan, lalu diperiksa orang seperti apa yang menjadi penyebabnya. Kemudian orang yang menggotong Ki Palidada itu melaporkan kejadiannya, ia lah penyebabnya seorang pengemis miskin yang kaki tanganya belang semua.

Panembahan lalu berkata, “Ki Palidada segeralah di gotong dan hadapkanlah kepada Ki Kalijaga, Ki Pali supaya tobat dan bawalah 10 karung beras sebagai bakti pemberianku.”

Lalu para Abdi pun segera menjalankan perintah. Ki Palidada segera digotong, begitu juga dengan 10 karung beras dibawa menuju hadapan Ki Kalijaga. Dialah seorang mahayakti wali agung.

Ki Palidada memohon tobat sambil menangis, “Biarkanlah hamba hidup.”

Kemudian Sunan Kalijaga berkata, “ia aku memaafkanmu.”

Maka atas sabda waliyullah itu, Ki Palidada mendadak sembuh seperti sedia kala. Ki Palidada sangat bersyukur dan penuh sukacita kemudian iapun menyembah bakti kepada Sunan Kalijaga serta memberikan beras 10 karung sebagai wujud syukur baktinya.

Kemudian sang waliyullah berkata, “Begitu banyak beras yang kau bawa ke hadapanku. Ini untuk apa?”

Ki Palidada segera menjawab bahwa itu semua adalah sebaga wujud baktinya Gusti Prabu, Kangjeng Panembahan Pakungwati yang telah memberikannya kepada Paduka Pandhita Gedhe, sebab Sang Panembahan sangat mengharap berkah dari Sunan Kalijaga agar sekiranya dapat memberikan syafaat lahir dan batin.

Sang Mahawiku kemudian menjawab, “Itu kelak akan terjadi, aku terima kebaikan dari Gustimu tetapi sekarang bawalah kembali semua karung-karung beras itu. Aku di sini tidak mengharap pamrih, kamu semua tidak seperti Gusti Bendaramu yang bermurah hati.”

Kemudian mereka hendak bermurah hati, namun Ki Kalijaga tidak mau meneriamanya, “Hanya saja dulu itu aku meminta beras hanya sebatok kecil untuk mengganjal lapar, tidak usah diberi banyak-banyak. Maka bawalah pulang kembali.”

Setelah itu kemudian merekapun pulang. Telah disampaikan kepada Panembahan Aji, lalu Sang Katong termangu beberapa saat kemudian berkata, “Baiklah bab dagang itu batal, jangan sampai jadi, segera batalkan saja sebab anak cucu Cirebon tidak boleh laku dagang, itulah yang menjadi wangsit Eyang Sunan Kalijaga, maka janganlah salah sangka. Tidak akan ada wali yang salah memberikan petunjuk, ataupun berbohong serta tidak akan memfitnah.”

Maka Ki Palidada kemudian membatalkan niatnya, beraspun kemudian dipanggul. Karung-karung kampil yang ada pinggir pantai itupun dipanggulinya, kemudian dibobol berasnya dibagi-bagikan kepada para wadyabala dan mantri hingga merata. Merka pun menerima pemberian dari sang prabu itu dengan penuh suka cita. Para kabuyutan juga menyaksikan bahwa putra Cirebon tidak diperbolehkan dagang sesuai wangsit leluhurnya ialah Hyang Raja Wali, hidup harus menempuh sejati ialah sikap menerima dan syukur.

Itu ada di buku SEJARAH CIREBON NASKAH KERATON KACIREBONAN TEKS KCR. 04

Harga buku Rp. 100.000,- (sdh ongkir), 267 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:
BANK: BRI Gunungjati Cirebon
NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533
AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Kemudian beritahu saya bukti transfer nya, selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:
HP: 081911312907
WA/LINE: 081322990419
BBM: 538c41dc

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s