Judul Asli: Hill al-Rumuz wa Mafatih al-Kunuz

Carub Kandha

Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil

Hikayat yang kedua belas dari Caruban kandha, ialah menceritakan tentang kabuyutan, yang mendiami di suatu tempat yang angker. Para kabuyutan tersebut semuanya merupakan keturunan dari Galuh, namun ia berbadan halus sehingga tidak terlihat oleh pandangan manusia biasa. Mereka semua bertugas memberikan perlindungan di Pulau Jawa kepada para trah Galuh yang sudah ditentukan, dan tidak memandang agamanya  yang dianutnya itu kafir ataupun islam.

Para Kabuyutan yang berbadan halus itu, menaungi anak cucu yang berasal sama-sama dari satu negeri, yaitu Galuh. Malahan bagi warga Pulau Jawa, sudah semestinya harus mengetahui nama dari para kabututan tersebut,  (h. 081) dengan demikian semoga saja bisa menjadikan jalan keselamatan dan bisa memberikan sawab kepada perjalanan hidup. Ini semua semata-mata hanya karena Allah SWT.

Yang menjadi penguasa di pulau Jawa, kang jumeneng ratu, gegedhén di Pulau Jawa itu semua sudah semestinya mendapatkan perlindungan. Mereka ikut dijaga kedudukannya oleh para kabuyutan yang berasal dari trah Prabu Siliwangi. Seperti yang jumenengan di Talaga, Kuningan, dan Carbon, apalagi mereka itu masih trah Ratu Sundha.

Ratu Galuh menurunkan bangsa lelembut namanya ialah Ratu Maharaja Sakti, yang membawahi para siluman-siluman. Ratu Maharaja Sakti Kagaluhan mempunyai putra    tujuh;

  1. Sanghyang Pasaréan yang menjadi ratu di rawa Lakbok, kemudian menurunkan Buyut Wisésa yang menjaga Pulau Jawa.
  2. Buyut Gelo Hérang menjadi ratu siluman Tunjung Bang, kemudian menurunkan para kabuyutan diantaranya Buyut Jaya Ening yang berada di Nusa Jawa.
  3. Sang Ratu Romang yang berkedudukan di Alas Roban, kemudian menurunkan putra Buyut Sang Ratu Kalana Jaya yang memayungi praja Mataram.
  4. Sangyang Ratu Romang Hiyang berkedudukan di Gunung Séwu, kemudian menurunkan putra bernama Maring Buyut Sang Kala Brama yang menjaga Praja Carbon (h. 082).
  5. Sang Ratu Celak Ronénék menjadi ratu lelembut di Tegal Luar, kemudian menurunkan Buyut Buyut Ipri yang menjaga di Kaputrén Praja Janggala.
  6. Buyut Dharmalaé berada di Negara Pakuwan, kemudian menurunkan putra bernama Buyut Lénggang Luménggang yang menjaga Negara Jayakarta. Purtanya yang kedua adalah Sanghyang Buyut Genter Sédha Ening yang memayungi negeri Banten.
  7. Sang Ratu Tugur yang menurunkan putra bernama Ki Buyut Cangkas Hérang yang memayungi wilayah Ujung Kulon.

Demikianlah para putra Maharaja Sakti Galuh, yang berbangsa lelembut, kehidupan mereka sejajar dengan bangsa Jin Banujan. Atau siluman yang suka menampakan diri dengan menggunakan jasad wadagnya, maka itulah lelembut trah Pajajaran dan Galuh. Ada sebagian yang berganti rupa terlihat menjadi harimau, ikan, burung, petir, kemangmang, angin puyuh, angin gedhe yang bisa menjadi angin ribut atau angin topan  (h. 083). Ada juga yang berupa banjir, kilat petir.

Adapun Prabu Siliwangi mempunyai tujuh putra bangsa siluman; Sanghyang Buyut Kaluwiyan, kelak menurunkan Buyut Ening Lembu Jaya, Buyut Lembu Agung, Buyut Gajah Siluman Siri, Buyut Sanghyang Buwana, Buyut Ratu Sanghyang Elang-Eling, Buyut Getun, Buyut Mahalarang, Buyut Gajah Barong, Sanghyang Buyut Luhur, Buyut Adi Keling, Buyut Timbul, Sanghyang Buyut Lénggang Agung. Semua itu menyanggah dan menjaga bumi Kuningan. Oleh karena itu orang kuningan mempunyai watak kumaki, sombong tak mau asor kepengennya unggul saja atas sesamanya. Sebenarnya watak tersebut juga berasal dari pengaruh anak keturunan Hyang Kaluwiyan.

Putra Prabu Siliwangi yang kedua dari bangsa silumanan adalah Hyang Adiluwih Wangi yang kemudian mengikuti kepada kabuyutan Ratna Cempa yang berada di Guwa Ki Madu. Hyang Adiluwih Wangi juga mendampingi Syéh Aji Juba (h. 084) yang mendiami Guwa Panawungan.

Putra ketiga Prabu Siliwangi dari bangsa siluman adalah yang bernama Hyang Kayupu yang kemudian menurunkan Buyut Putih yang bertempat tinggal didalam Gunung Ciremai, adapun yang berada di puncanka ialah Hyang Buyut Sukma Adiluwih dan yang ada di Cirebon Girang adalah Ayahndanya yang bernama Buyut Wanawati Purba.

Putra keempat Prabu Siliwang dari dari bangsa siluman adalah Buyut Sangyang Kapalarang yang menurunkan kepada Kabuyutan Telaga Gedhé ialah bernama Hyang Rangga Tetnas, yang berada di dasar Telaga Manggung ialah Prabu Jayawisésa, kemudian yang berada di Pinggiran Telaga adalah Sang Sédha Malum. Rangga Ketel berada di sebelah Utara Timur Telaga Manggung yang terletak di belakang Candi Sakti. Mereka menghuni disana bermaksud untuk menyelamatkan anak cucu.

Putra kelima Prabu Siliwangi dari bangsa siluman adalah Hyang Diri Kalatriyan, kemudian ia menurunkan para kabuyutan yang berdiam di Pangarep Pamuter Bumi, di Tengah-tengah Bumi Carbon ialah Ki Buyut Lindhu Buwana dan Ki Buyut Kebo Kamalé Suci yang menjaga dan mengelilingi bumi Carbon.

Dan juga kepada Para Kabuyutan di empat penjuru kuta ; sebelah Selatan Ki Buyut Rara  Réwa Sakti, sebelah Timur Ki Buyut Antu Laut, sebelah Utara Ki Buyut Dharnéng dan sebelah Barat Ki Buyut Anjréng (h. 085). Dan juga yang berada di Palawangan Kuta Carbon ialah Ki Buyut Kalajaya.

Putra keenam Prabu Siliwangi dari bangsa siluman ialah Buyut Sang Maya Dhéwata, yang menurunkan dedemit yang ada di Perbatesan Carbon ; Perbatasan sebelah Barat Ki Buyut Puter, Perbatasan sebelah Utara Ki Buyut Siput, Perbatasan sebelah Timur Ki Buyut  Geter Puter, Perbatasan sebelah Selatan Ki Buyut Kerutun. Para Kebuyutan tersebut sangat melindungi Desa-desa yang ada di perbatasan wilayahnya masing-masing. Adapun yang berada di Carbon disebut Syéh Sadatullah.

Para Kabuyutan yang menjaga Carbon semuanya pada berkumpul, karena pada waktu itu Carbon berupa Desa masih belum jadi Negara. Adapun sebagai Pemuka Masyarakat adalah seorang Kuwu yang berada di Tegal Pangalang-Ngalang yang merupakan cikal-bakal Carbon dan sebagai tempat Pakasaban, pekerjaan. Adapun pekerjaan Ki Kuwu pada waktu itu ialah mengambil udang rebon dari laut yang digunakan untuk membuat terasi. Terasi itu kemudian dipergunakan untuk membayar Pajak ke Negara Pajajaran. Adapun sebagai tempat pasarnya adalah Pajajaran juga dan sebagai harta/hasil buminya adalah masih kentang, kentang ini juga sebagai kebutuhan belanja hidup untuk sehari-harinya (h. 086).

Putra Prabu Siliwangi ketujuh yang berasal dari bangsa siluman ialah Ki Sang Tulara, kemudian menurunkan para Buyut yang menjaga bermacam-macam bangunannya anak cucu Prabu Siliwangi dari trah manusia yang jumemeng Raja. Buyut Kala Buwana, dan Buyut Anoman Jaya yang menjaga tanah tegalan arah-arah, ataupun rawa-rawa. Buyut Nyi Mas Rarangkungan menjaga pedaleman Negara,  Buyut Nyi Rara Gandik menjada bangunan Siti Hinggil. Buyut Kalawisesa menjaga astana, makam yang wingit, ada juga yang suka menunggu petani gedhe ialah Ki Buyut Sang Tés Buana, atau Ki Buyut Bur Putih. Mereka semua itu bangsa siluman yang menjaga anak cucu manusa Jawa.

Itulah trah dari Galuh Pajajaran yang pada menjaga, jika mereka menampakan diri ada yang berupa harimau ataupun burung (h. 087). Mereka secara bergiliran menjaga menjadi kemit kepada sesama anak cucu Galuh Pajajaran, oleh karena itu petilasan-petilasan wong agung menjadi hangat pribawanya dan suka menolong mengusir pengaruh jahat yang ditimbulkan oleh sesama bangsa dedemit yang bersifat jahat.

Harga buku Rp. 150.000,- (sdh ongkir), 539 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:

BANK: BRI Gunungjati Cirebon

NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533

AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Kemudian beritahu saya bukti transfer nya, selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:

HP: 081911312907

WA/LINE: 081322990419

BBM: 538c41dc

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s