Perselisihan Datuk Pardun (Murid Syekh Siti Jenar) dengan Panembahan Ratu

Datuk Pardun bertekad untuk membalaskan dendam kepada Pakungwati karena gurunya telah mati yang disebabkan telah dibunuh oleh orang Cirebon. Oleh karenanya ia hendak menantang secara pribadi tanpa bantuan teman dengan mengandalkan kesaktiannya. Ia benar-benar kebal hingga tak ada benda tajam yang dapat melukainya. Pada saat itu kebetulan Panembahan Pakungwati hendak berziarah ke Astana (Gunung Jati), oleh karena itu acarapun segera dipersiapkan dengan diapit oleh barisan para abdi, berjejer sampai ke tempat upacara. Seseorang telah menunggu diperjalanan, dengan mengawas-awasi di bawah pohon beringin, namun Panembahan yang ditunggunya belum muncul juga. Kemudian Datuk Pardun berdiri berkacak pinggang menghadang di tengah-tengah jalan yang akan dilalui Panembahan. Maka gegerlah kawula bala, karena terdengar ada orang yang berani menghadang Panembahan. Ia disuruh pergi tidak mau bergeming sedikitpun, karena memang sudah bertekad untuk mencoba mengadu kesaktian. Tetap siaga berdiri di tengah-tengah jalan bahkan berkacak pinggang dengan sombongnya. Para Abdi Kapetengan ramai bersahutan, mengkhawatirkan akan Panembahan Pakungwati yang merupakan penerus Raja Wali Sunan Jati. Suasana pun menjadi geger tak karuan. Kawula melaporkan keberadaan kepada panembahan, kemudian diperintahkan untuk diperiksa tentang kejadian yang sebenarnya. Abdi Kajineman kemudian melaporkan bahwa ada seseorang yang menghadang perjalanan raja, walaupun ia sudah disingkirkan namun tetap tidak mau bergeming bahkan sepertinya sudah mempersiapan dan memperhitungkannya. Panembahan kemudian segera memberikan keris pusaka kepada Lurah Kapetengan, kemudian ia segera pamit berlalu dan mau menghujamkannya. Ditusuklah badan Ki Datuk Pardun, lalu iapun terjatuh mati. Jasadnya segera diserahkan kepada Lebe Yusup untuk segera diurus sebagaimana mestinya. Panembahan lalu melanjutkan perjalanan sampai ke Astana (Gunung Jati), makam leluhur. Syahdan jasad Ki Datuk Pardun dikuburkan di sebelah timur jalan. Namun tak lama kemudian ia pun bangun dari kuburnya, lalu berdiri dengan berkacak pinggang mengahadang kembali di tengah jalan seperti sebelumnya. Kemudian Ki Datuk pun dihujami keris lagi, iapun mati namun bisa bangkit kembali. Kejadian itu sampai dua tiga kali, sehingga Ki Lebe Yusup pun merasa kewalahan karena bagaikan mengubur iblis saja. Akhirnya mayat Ki Datuk itupun masih dibiarkan ditengah jalan.

Ki Lebé Yusup segera pergi menyusul ke Astana tempat pemakaman, ia bermaksud akan melaporkan kepada Panembahan Ratu tentang keberadaan si maya Kemudian Panembahan pun memerintahkan agar mayat tersebut supaya dikuburkan di tengah jalan saja. Akhirnya para pelayat itu menuruti perintah Panembahan Ratu dengan menguburkan jasad Datuk Pardun di tengah-tengah jalan besar, sehingga keberadaan makam itu di sebelah kanan-kirinya diapit oleh jalan. Penguburan terakhir ini tidak terjadi masalah lagi, kemudian di atas makam segera didirikan bangunan dengan atapnya yang terbuat dari sirap (genteng kayu) dengan bentuk bangunan yang rendah. Mayat Datuk Pardun telah mati sempurna hingga tidak membuat masalah lagi, oleh karena itu Ratu Cirebon pun terlepas dari ancaman bahaya.

Selanjutnya dan sebelumnya baca di buku SEJARAH CIREBON NASKAH KERATON KACIREBONAN TEKS KCR. 04, harga Rp. 100.000,- (sudah termasuk ongkos kirim)

Pemesanan hubungi:

Muhamad Mukhtar Zaedin di:
HP; 081911312907
WA/LINE: 081322990419
BBM: 538c41dc
email: mukhtarzaedin@gmail.com – mukhtarzaedin@yahoo.com

Kepada Pemesan silahkan transfer ke rekening BRI Gunung Jati Cirebon A/N Muhamad Mukhtar Zaedin
Norek: 0406-01-000-966-533 
Kemudian beritahu kami bukti transfernya lalu kirimi kami nama dan alamat yang dikehendaki untuk pengiriman buku yang Anda pesan. Terimakasih.
sejarah

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s