Pertalian Silsialh Majapahit dan Pajajaran

Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil

  1. Nabi Adam As, berputra
  2. Nabi Sist AS, berputra
  3. Angwas, berputra
  4. Batara Nurcahya, berputra
  5. Batara Nurasa, berputra
  6. Sanghyang Wenang, berputra
  7. Sanghyang Punggung, berputra
  8. Sanghyang Gurudewa, berputra
  9. Batara Brahma, berputra
  10. Batara Mangsulasu, berputra
  11. Bagawan Manomayasa, berputra
  12. Bagawan Sambarana, berputra
  13. Bagawan Sakutrem. berputra
  14. Bagawan Sakri Dharananingrat, berputra
  15. Palasara, berputra
  16. Abiyasa, berputra
  17. Pandu Dewanata, berputra
  18. Raden Harjuna, berputra
  19. Raden Abimayu, berputra
  20. Prabu Parikesit, berputra
  21. Maharaja Udrayana, berputra
  22. Sri Prabu Gendrayana, berputra
  23. Prabu Jayabaya, berputra
  24. Prabu Jaya Minjaya, berputra
  25. Prabu Jaya Miséna, berputra
  26. Kusuma Wacitra, berputra
  27. Citra Soma, berputra
  28. Panca Driya, berputra
  29. Angling Driya, berputra
  30. Prabu Sélacala, berputa
  31. Prabu Maha Punggung, berputra
  32. Sang Kendhiawan, berputra
  33. Resi Kandhuyun, berputra
  34. Lembu Amijaya Negara Gegelang, berputra
  35. Panji Rawisrengga, berputra
  36. Prabu Galuh Laléyan Negara Kagaluhan, berputra
  37. Babar Buwana, berputra
  38. Gandhul Gantung, berputra
  39. Ratu Galuh Aci Putih, berputra
  40. Gandha Larang, berputra
  41. Anggalarang, berputra
  42. Galuh Komara, berputra
  43. Sunyarasa, berputra
  44. Manjakané, berputra
  45. Pucuk Putih, berputra
  46. Galuh Permana, berputra
  47. Prabu Galuh Rayana, berputra tiga orang;
    1) Maharaja Sakti Dewi Putra Pagedhongan,
    2) Harya Banga yang bergelar Brawijaya Purwajawawut di Negara Majapahit, dan
    3) Ciyung Wanara menjadi Raja Pajajaran. Sementara itu Harya Banga berputra Brawijaya Téjarasa, berputra Brawijaya Tuhu Ayu, berputra Brawijaya Panengah, berputra Brawijaya Lanang Sajati, berputra Brawijaya Nata Datu, berputra Brawijaya Surasaka, berputra Nyi Sakti Jawala, berputra Gus Mada.

‪#‎itu‬ ada di buku Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil

BABAD CIREBON CARUB KANDHA NASKAH TANGKIL
Harga buku Rp. 150.000,- (sdh ongkir), 539 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:
BANK: BRI Gunungjati Cirebon
NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533
AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Setelah transfer, kemudian beritahu saya bukti transfernya, dan selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:
HP: 081911312907
WA/LINE: 081322990419
BBM: 538c41dc

Iklan

SUNAN GUNUNG JATI MENGISLAMKAN SEPULUH ORANG YAHUDI DENGAN CARA YANG BIJAK DAN HIKMAH

Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil
Kemudian Sang Anom (Syarif Hidayatullah) pun berpamitan hendak menunaikan ibadah haji ke Baitullah dan mau ngalap berkah berguru kepada guru ulama di sana. Kanjeng Ibunya menginzinkan malahan memberikan tasbeh mutiara dan bekal berupa uang 1000 dinar untuk diperjalanan. Sang Anom (Syarif Hidayatullah) kemudian pergi menuju Baitullah. Ditengah perjalanan dihadang oleh 10 orang Yahudi yang hendak memint perbekalannya. Sang Anom (Syarif Hidayatullah) pun tidak mau berbohong lalu uang 1000 dinar itu diberikannya semua kepada 10 orang Yahudi yang memintanya.
Akhirnya Yahudi itu tidak mau menerimanya, malah mereka memilih untuk ikut menjadi muslim karena merasa terketuk hatinya oleh sikap Sang Anom (Syarif Hidayatullah) yang tidak berdusta dan pemurah, tidak pelit atas harta bendanya. Kemudian ke-10 Yahudi itu diajarkannya membaca dua kalimah sahadat sebagai pertanda muslim, selanjutnya merekapun ikut mengiring naik haji ke Mekah.

KISAH ITU ADA DI BUKU: BABAD CIREBON CARUB KANDHA NASKAH TANGKIL
Harga buku Rp. 150.000,- (sdh ongkir), 539 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:
BANK: BRI Gunungjati Cirebon
NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533
AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Setelah transfer, kemudian beritahu saya bukti transfernya, dan selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:
HP: 081911312907
WA/LINE: 081322990419
BBM: 538c41dc

SEKILAS TENTANG SULUK PESISIRAN CIREBON NASKAH SULUK BUJANG GENJONG

211_BMB016_0002
Naskah Suluk Bujang Genjong

Rokhmin Dahuri dkk. dalam Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon (BBSAC ), telah menguraikan sebagian dari Naskah Bujang Genjong (NBG). Dalam uraiannya, ajaran manunggal telah disinggung, bahkan Bujang Genjong dan Rara Gonjeng disimbolkan sebagi raga dan jiwa yang selalu saling merindu[1]; merindu akan kebersamaan dan persatuan untuk menjalankan irodah, kehendak[2], untuk selalu bersama dalam kesatuan hakiki. Penggambaran yang manis ini tentunya menjadi awalan bagi inspirasi kami untuk memberi pemahaman yang lebih luas terhadap Naskah Bujang Genjong. Tokoh Bujang Genjong dan Rara Gonjeng dalam kisahnya, memang bisa menjadi lambang kerinduan persatuan yang sangat kuat. Dan apalagi jika kedua tokoh ini hanya semata-mata dipandang sebagai muda-mudi yang sedang menjalin asmara (lihat dalam pupuh Kasmaran, Pupuh ke 10-15).

Penggambaran atau dalam istilah NBG sendiri disebut pewayangan, wayang amot wawayangan, merupakan cara yang paling aman dalam mengurai, menjabarkan, dan menjelaskan kerumitan yang ada, yang tidak mampu diurai dengan kalimat indah. Karena itulah, hal yang sangat tidak logis jika tokoh Bujang Genjong dan Rara Gonjeng dianggap sebagai sebuah nama tanpa maksud, arti, dan tujuan. Dengan melihat arti kata Bujang Genjong, Rara Gonjeng, dan Bujang Lamong, yang secara bahasa yang saling berdekatan maknanya, kita sudah merasakan kesengajaan dari Bujangga[3] NBG untuk memberikan sandi-sandi atau simbol-simbol dari suatu alur pemikiran yang mengarah pada tujuan tertentu. Dan ketika kita mengganggap bahwa nama-nama disusun secara sengaja, maka timbul pertanyaan yang kedua; apa maksudnya? Dengan pijakan seperti inilah kekayaan lokal Cirebon, khususnya NBG, mendapatkan posisi yang layak.

Pemahaman yang diambil BBSAC terhadap NBG tentang manunggal merupakan ide bagi kita untuk melangkah lebih kedalam lagi. Benar sekali, jika BBSAC merasa ada maksud lain dalam alur kisah yang ditulis para pendahulu Cirebon. Dalam konteks terebut, BBSAC merasa perlu mengambil kesimpulan tentang ilmu manunggal; manunggal antara kawula dengan gusti, bisa meloncat naik ke arah manunggaling ilmu antara syari’at, tarekat, hakikat, dan makrifat dalam diri orang Cirebon, dengan kalimat lebih jelas bahkan dikatan sebagai persiapan manusia supaya membekali diri dengan empat ilmu (syari’at, tarekat, hakikat, dan makrifat) dalam bertindak, bergaul, berfikir dan beribadah[4].

Pada masa-masa kemajuan Islam di Cirebon, ajaran Islam yang membumi di hati masyarakat pada umumnya adalah ajaran tasawuf. Islam model inilah yang diterima dan disukai oleh masyarakat Cirebon pada saat itu. Hanya saja, seiring dengan perjalanan waktu, pemikiran-pemikiran baru bermunculan sesuai dengan aliran atau madzhab masing-masing pendatang, dan bahkan benturan pemikiran sering terjadi di Cirebon. Salah satu contoh yang paling populer adalah benturan pemahaman yang terjadi antara Dewan Wali Sanga dengan Syekh Siti Jenar. Benturan antara Syekh Siti Jenar dan Dewan Wali Sanga tidak selesai hingga eksekusi terjadi terhadapnya, dan ketika suatu paham sudah berkembang dalam masyarakat, maka ada penerus yang menggantikannya hingga saat ini. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu  sebab terhadap kalimat tunggal di sebagian naskah Cirebon, NBG termasuk didalamnya, tidak diarahkan kepada manunggal antara gusti dan kawula.

Dari segi sastra, NBG terkategori dalam kelompok karya sastra dengan mengambil bentuk Tembang Macapat[5], dan seperti Tembang Macapat dalam naskah Cirebon yang lain, NBG yang ditemukan di keraton Kacirebonan ini, terbagi menjadi beberapa kelompok tembang, diantaranya: kasmaran, megatruh, pangkur, durma, dan khinanthi; dan diakhir naskah ini ditutup dengan tembang kasmaran.

Kelima jenis tembang yang digunakan dalam NBG memang merupakan tembang yang tergolong dalam jenis tembang tengahan yang lazim disebut Tembang Macapat. Karakter bahasa yang muncul mewarnai NBG tak dapat dikatakan sebagai tembang kawi, karena itulah budayawan Cirebon memastikan NBG sebagai salah satu naskah macapat atau tembang tengahan yang dimiliki oleh Cirebon. Dari penggunaan dan pemilihan bahasa yang semacam inilah NBG terlihat eksclusif sebagai suluk pesisiran Cirebon yang mashur dan berakar pada zamannya.

Secara jujur kami akui, NBG yang ada pada kami memang belum tamat dan masih belum tuntas pembahasannya, entah berapa naskah lagi kelanjutannya. Akan tetapi, dari satu naskah ini, kita sudah dapat menangkap ide, gagasan, gambaran prilaku, dan ajaran luhur yang merupakan potret budaya Cirebon yang berkembang pesat pada saat itu. Penekanan pengajaran suluk (tasawuf dalam bentuk tembang) yang bertitik berat pada penamsilan yang begitu nyata mendomonasi naskah ini. Dengan kata lain, penggunaan bahasa ibarat seperti lir, lirpenda, lirkadiya dan terkadang figurative, sangat menyentuh hati dan membuat kita terhanyut dihempasan ombak sastranya. Oleh karena itulah, dibagian lampiran buku ini kami tampilkan NBG dengan tanpa terjemahan dan tafsiran, agar pembaca dapat menikmati alunan kata demi kata yang tersusun dalam NBG secara puitis, bahkan jika kita mau lebih terbuka, dominasi bahasa ibarat yang dipakai NBG menuntun kita ke dalam kesadaran berbahasa yang halus dan indah.

Tentunya penulis NBG, yang hingga saat ini belum kami ketahui, hendak mengajari kita (masyarakat Cirebon khususnya) tentang suluk Cirebon dari segi kalimat dan makna, sehingga warna makna atau prilaku yang dapat dipahami dari NBG mengungkapkan hal-hal yang bernuansa spiritual dan tasawuf. Hanya saja yang perlu digaris bawahi adalah semua prilaku yang digambarkan oleh NBG tak lepas daripada Cirebon sebagai ruang gerak penulisnya. Didamping itu, keterbatasan referensi yang ada atau kurangnya pengetahuan penulis NBG terhadap al-Quran dan Hadits terasa sekali. Namun demikian, semangat ‘bersuluk’ tampaknya cukup kuat dikalangan Islam Cirebon pada saat itu, sehingga NBG-terlepas dari kekurangan dan kelebihannya-menjadi naskah suluk yang khas ala Cirebon. Gagasan dan pemikiran yang tertuang dalam NBG sudah dianggap cukup kuat dan dapat menjelaskan konsep wahdatul wujud yang tumbuh dalam pemikiran tasawuf Timur Tengah menjadi manunggal ala Cirebon yang bisa dipahami berbeda dengan konsep dengan manunggal versi asalnya atau bahkan versi Siti Jenar. Manunggal versi Siti Jenar memang photo copy dari asalnya dengan kertas (bahasa) Jawa yang pada saat itu masyarakatnya masih kuat oleh pengaruh-pengaruh Hindu dalam peristilahan ajaran prinsip ketuhanan. Sehingga muncul anggapan bahwa Islam dan Hindu-Budha sebenarnya sama dalam memandang Tuhannya. NBG memilih jalan yang tergolong sederhana dan dapat dicerna oleh kalangan umum, sehingga kebingungan orang tentang persamaan Islam dan Hindu dalam memandang Tuhannya, dalam konsep menunggal, tak terjadi dalam pengajaran NBG.

Pengajaran dengan model suluk yang digunakan oleh NBG bukan tanpa awal dan permulaan. Di Timur Tengah sendiri, suluk diajarkan dengan tembang atau nadhom-nadhom yang ternyata mendapat respon yang cukup baik dikalangan masyarakat Islam. Ide-ide yang kadang sulit diungkapkan dengan uraian model nastar atau prosa begitu mudah dan lancar di gubah dalam tembang dan nadhom. Sehingga kesalah pahaman antara kelompok (kaum) yang pro wahdatul wujud dan kontra wahdatul wujud dapat dihindari.

Menurut al-Banjari, kaum wujudiyyah (orang-orang yang memahami tentang wahdatul wujud) itu ada dua golongan: wujudiyyah mulhid dan wujudiyyah muwahhid. wujudiyyah mulhid termasuk golongan yang sesat lagi zindiq. Wujudiyyah muwahhid, menurut dia, “yaitu segala ahli sufi yang sebenarnya”, mereka dinamakan kaum wujudiyyah ”karena bicaranya dan perkataannya dan itikadnya itu pada wujud Allah”. Ia tidak menjelaskan isi ajaran mereka, tetapi sebagai lawan dari wujudiyyah mulhid tadi, wujudiyyah muwahhid tentu tidak menganggap bahwa Allah tidak “tiada maujud melainkan di dalam kandungan wujud segala makhluk”, atau “bahwa Allah itu ketahuan zat (esensi)-Nya nyata kaifiat-Nya daipada pihak ada. Ia waujud pada kharij dan pada zaman dan makan”, dan tidak pula membenarkan pernyataan-pernyataan seumpama “tiada wujudku, hanya wujud Allah”, dan sebagainya, yang mencerminkan pandagan wujudiyyah mulhid itu. Keterangan al-Banjari mengenai ajaran kaum wujudiyyah mulhid itu kelihatan sangat mirip dengan keterangan ar-Raniri, yang dalam abad sebelumnya menyanggah penganut-penganut di Aceh.

Berdasarkan penjelasan ini, pada dasarnya sama dengan ajaran wahdah al-wujud Ibnu Arabi. Ajaran ini juga memandang alam semesta ini sebagai penampakan lahir Allah dalam arti bahwa wujud yang hakiki hanya Allah saja-alam semesta ini hanya bayangan-bayang-Nya. Dari satu segi, ajaran ini kelihatan sama dengan ajaran tauhid tngkat tertinggi. Kedua ajaran itu memandang bahwa wujud yang hakiki hanya satu-Allah, tetapi dari lain segi wujudiyyah muwahhid dan wihdah al-wujud ini tidak sama dengan pandangan “bahwa yang ada hanya Allah” dalam ajaran yang terakhir ini hanya tercapai dalam keadaan yang disebut fana, yakni terhapunya kesadaran akan wujud yang lain, sedang dalam ajaran wihdah al-wujud, pandangan tersebut kelihatan sebagai hasil penafsiran atas fenomena alam yang serba majemuk ini. Di samping itu, pandangan tauhid tingkat tertinggi itu, nampaknya didasarkan atas asumsi bahwa esensi Allah yang mutlak itu dapat dikenali secara langsung, tanpa melalui penampakan lahir-Nya, asumsi ini dibantah oleh Ibnu ‘Arabi, karena menurut dia Allah hanya bisa dikenal melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. (Naskah Klasik Keagamaan Nusantara I Cerminan Budaya Bangsa, Departemen Agama RI, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005: 49-50).

Jika kita hendak membanding NBG dengan syair-syair suluk  yang telah ditulis oleh Hamzah Fanshuri, maka tek pelak keduanya mempunyai semangat yang sama dalam hal mengusung wahdatul wujud atau manunggal. Paham teraebut menjadi sangat trend dan dianggap sebagai paham yang tinggi dalam ajaran suluk pada masanya. Walaupun kita juga tahu, pada saat yang sama, ada sekelompok yang menentang paham itu, bahkan dengan menggunakan kekuasaan sebagai alatnya. Sehingga kedua aliran (pro dan kontra wahdatul wujud) saling berebut kesempatan untuk mendapatkan tempat dihati para penguasa. Namun demikian, keduanya (NBG dan Syair Hamzah Fanshuri) mempunyai perbedaan yang cukup mendasar dari segi metode pengajarannya. NBG dengan basis bahasa dan ruang Cirebon yang menjadi latarbelakangnya, menjadi tampak lebih samar dengan paham yang dibawanya. NBG menamsilkan pahamnya dengan menekankan kesamaan antara Jawa dan Sunda, atau dengan kata lain, NBG menegaskan bahwa Jawa (bahasa Jawa Cirebon) dan Sunda sebenarnya satu dalam hidup, tujuan, dan mati. NBG ingin mengatakan bahwa perbedaan Jawa dan Sunda terletak hanya sebatas bahasanya saja, tetapi makna yang dikehendaki dari ucapan yang berbeda itu sebenarnya sama. Untuk itulah, perbedaan bahasa sebenarnya bukan sesuatu yang dapat menjadi hilangnya makna yang sama, yang dikehendaki oleh bahasa yang lain. Jadi, masing-masing bahasa punya kata tersendiri yang dapat menjelaskan makna yang dimaksud oleh bahasa yang lain. Dengan cara beginilah NBG menjelaskan pahamnya tentang tunggal dan siji atau wahdatul wujud. Atau dengan kata lain, kedua bahasa yang berbeda itu sebenarnya punya maksud yang sama, dan tentunya secara lumrah masing-masing bahasa, apabila digunakan, menuju kepada ‘satu makna’ yang dikehendakinya, walaupun didalam kamusnya, kata itu memiliki beberapa dan bahkan puluhan arti.

Dari kuatnya kalimat tamsil yang digunakan NBG, sepertinya NBG bukan ditulis oleh orang yang biasa, tetapi benar-benar Bujangga yang profesional, terampil dan mampu membawa imajinasi pembaca kepada alur pemikiran yang dikehendakinya. Menurut kaidah ilmu sastra, kebesaran seseorang dapat dilihat dari bahasa yang digunakannya. Dengan kata lain, kebijakan bahasa yang dipakai dalam penulisan suatu karya, dapat menjadi tolok ukur bagi penulisnya. Kalimat tamsil yang semacam inilah yang mewarnai isi kitab-kitab Ibnu Arabi, al-Ghazali, Ibnu Athoilah, dan lain-lain sewaktu mereka menjelaskan tentang ilmu mukasyafah, ilmu makrifat, dan hulul yang dianutnya. Hanya saja perbedaan selalu ada diantara sesamanya dalam sebagian masalah yang diutarakan. Namun secara garis besar, metode yang digunakan dalam hal menghadapi kesulitan saat menjelaskan tunggal, kasyaf, atau nyata kepada pembaca, mereka menempuh jalan yang sama. Mereka beranggapan, bahwa ma’rifatul haq sesuatu yang pelik, sehingga sulit untuk dijelaskan dan ditulis dengan kalimat lepas diatas lembaran kertas. Karena didorong oleh rasa ingin berbagi ilmu yang mulia kepada pembaca atau tepatnya murid, penamsilan itu dilakukan oleh mereka, agar pembaca menangkap setetes maksud dari ma’rifatul haq yang diurai dengan tamsil. Untuk bisa merasakan atau menyaksikan secara langsung, maka pembaca atau atau yang disebut dengan istilah murid harus dapat melakukan apa yang telah dikerjakan oleh orang yang mencapai maqom ma’rifat atau maqom kasyaf secara penuh dan konsisten. Maqom ini adalah maqom yang tertinggi dalam ilmu suluk yang berkembang di dunia Islam dibelahan dunia manapun. Akan tetapi, Kartani (2004), menambahkan satu tingkat lagi di atas ma’rifat dengan tingkatan ma’lum atau maklum. Artinya: tingkatan maklum adalah kondisi pemikiran dan kesadaran seseorang tidak lagi fana fil kull (sirna dalam keseluruhan) tertuju hanya kepada Allah swt. semata, tetapi sudah bisa membagi kesadarannya kepada Allah swt. dan makhlukNya. Jadi fana yang dipakai oleh orang yang mencapai maklum adalah fana fil ab’adl (sirna dalam kesebagianan), yaitu seseorang disamping tenggelam dalam musyahadah fillah, dia juga mampu berkomunikasi dengan orang lain secara benar dan lancar.

Suluk- suluk yang mirip dengan NBG banyak terdapat dalam kasuasteraan Cirebon dan Nusantara, khususnya yang berasal dari Aceh, dan kita, khusus Cirebon, dapat mendengarkannya dalam pagelaran Macapat yang sering dilaksanakan oleh kalangan tua Cirebon. Hanya sayangnya adalah kurangnya minat kalangan muda terhadap jenis pagelaran kesenian yang satu ini. Mungkinkah karena pagelaran macapat di Cirebon tergolong sakral, atau bahasa yang dipakai dalam tembang ini tak dapat dimengerti kebanyakan kalangan mudanya. Menurut hemat kami, kesakralan yang ada dalam pagelaran macapat tak perlu menjadi alasan untuk lari dari kesenian yang unik dan menarik ini. Mereka harus coba berusaha mengerti dan masuk di dalamnya agar dapat memberikan perubahan metode pagelaran yang semula sakral menjadi meriah. Anggaplah tembang macapat adalah suatu puisi klasik yang dapat dibaca secara moderen, sebagaimana puisi-puisi yang lain. Memang harus diakui, antara tembang dan puisi sangat berbeda dalam segalanya. Dari segi pembacaan khususnya tembang macapat memang mempunyai aturan yang sangat ketat. Memang idealnya, tembang macapat harus dilantunkan sebagaimana mestinya, karena tembang adalah alunan lagu yang memerlukan kemerduan suara disamping mengerti teknik-teknik pelafalannya. Sementara puisi penekanannya pada inotasi suara yang tidak memerlukan teknik lagu secara khusus. Namun memang ke duanya mempunyai kesamaan dalam kemerduan dan ketegasan suara. Karena itulah, harus dicapai jalan keluar yang dapat menjawab problem yang berkaitan dengan pakem tembang agar bisa – dengan segala kepantasannya – diperlakukan sebagaimana puisi modern.

Menurut hemat kami, pagelaran macapat di Cirebon yang cenderung ke arah ritual yang sakral itu karena memang, secara keseluruhan, macapat Cirebon berisi babad, cerita rakyat, dongeng, dan sedikit sejarah dan ajaran sufi (suluk). Di dalam kisah yang disebutkan dalam tembang macapat ada sederetan nama tokoh Cirebon zaman dahulu seperti; Ki Gede, Ki Buyut, Ki Ageng, Ki Wira, dan Tokoh Panutan sentral seperti; Sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu Sangkan dan para wali yang lain yang telah berjasa terhadap masyarakat Cirebon dalam banyak hal, terutama kesejateraan batin dan jiwa. Berangkat dari tradisi tahlilan dan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal, tak dapat diekspresikan secara pantas selain mengadakan doa dan kirim surat al-Fatihah untuk mereka, maka para Bujangga Cirebon yang hendak mengadakan tembang macapat, merasa sungkan menyebut-nyebut nama Sunan Gunung Jati atau para Ki Gede dengan tanpa mengirim surat al Fatihah dan doa-doa kepada mereka terlebih dahulu. Dari sinilah berawalnya tradisi pembacaan doa arwah kepada sesepuh dalam pagelaran tembang macapat Cirebon. Sehingga pagelaran tembang macapat Cirebon seperti dikhususkan untuk kalangan orang tua, sebagaimana tahlilan yang hanya dipimpin dan dilakukan oleh masyarakat yang memang kebanyakan orang tua. Jadi di mata anak Cirebon yang kurang peduli dengan pagelaran macapat, menyaksikan pagelaran ini, dalam pemahaman mereka, sama dengan menyaksikan tahlilan. Pembacaan doa arwah diawal prosesi macapat yang merupakan tiruan ritual tahlil yang digunakan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dianggap oleh mereka seperti tak ada perbedaan antara pagelaran macapat dan tahlilan. Jadi kesakralan macapat dengan kemenyan dan doa arwah sebenarnya adalah tradisi yang dapat digantikan dengan model lain yang lebih digandrungi oleh kalangan muda masa kini. Dan bagi kami, tegaknya suatu seni adi luhung tentunya lebih penting daripada mempertahankan modenya dengan sedikit orang yang tertarik dan mengambil manfaat dari padanya. Meniadakan acara kirim arwah dan doanya beserta bakar kemenyan saat pembukaan prosesi pagelaran tembang macapat, dan digantikan dengan yang lain atau tanpa penggantinya, tetap masih memelihara kelestarian macapat, dan mungkin juga menjadi salah satu cara untuk membawa macapat kelingkaran anak muda.

Seperti halnya naskah lain yang berbentuk macapat  yang berisi babad, dongeng, atau yang lain, di awal tembangnya NBG pun bercerita tentang perilaku dan tradisi kehidupan masyarakat Cirebon yang gemar membicarakan orang lain di saat malam mulai turun. Cerita atau informasi tentang potret kehidupan di Cirebon pada masa lampau ini agak detail dan tak ditutup-tutupi. Idealisasi yang dipegang teguh oleh Bujang Genjong saat hendak menikah adalah dia tidak akan menikah sebelum mempunyai pekerjaan yang mencukupi. Padahal disisi lain dia menjadi idola para gadis dan janda kembang di seantero desa, dan Rara Gonjeng merupakan kenalannya yang peling dekat dibanding yang lain. Tetapi sebenarnya bukan masalah idealisme masyarakat secara umum, hanya dia hendak, juga karena menjadi persyaratan dari Rara Gonjeng sendiri, mencari ilmu dan ngelmu yang dapat menerangi hatinya sepanjang masa. Hal ini tersurat dan tersirat dalam bait pangaweruhe kinaweruhan. Sangat mengejutkan! Di satu sisi, pelajaran yang ada dalam NBG mengutamakan pendidikan yang dapat menjadi penuntun kehidupannya dari dunia hingga akhirat, yang tentunya dapat menghabiskan usia remaja. Di sisi lain, kita tahu bahwa zaman dahulu (zaman kakek dan nenek kita) banyak yang menikah di usia remaja. Atau mungkin mereka menggunakan sistem kawin gantung [6] yang terkenal dan dapat menjadi solusi dalam kerumitan ini. Dan tampaknya kemungkinan yang ketiga menjadi jalan tengah yang ditempuh oleh sebagian orang kaya di berbagai daerah Cirebon saat itu. Kita sering mendengar cerita masa lalu, saat kakek dan nenek kita masih muda, yang menyebutkan bahwa seringkali setelah usai pernikahan, dalam jangka satu minggu atau empat puluh hari, pengantin lelaki berangkat kembali ke pesantren, karena pada saat itu belum ada sekolah, untuk meneruskan pelajarannya yang belum tamat. Hal itu berjalan hingga dua, tiga tahun atau bahkan lebih lama, tergantung dari kecepatan dan kecerdasan yang dimiliki olehnya sehubungan dengan kesulitan dan tingkatan pelajaran yang sedang ditempuhnya.

Sepanjang penerjemahan dan pengomentaran, kami selalu mengingat dan berusaha untuk menghindari anggapan pribadi dari emosi yang mengintervensi keabsahan naskah ini, yang selalu beranggapan, bahwa naskah ini adalah suluk secara bahasa dan isinya, suluk luar dan dalam. Akan tetapi, fakta yang ada, mendorong kita untuk mengatakan hal yang sama dengan anggapan awal. Idealisasi kehidupan masyarakat Cirebon tampaknya begitu jelas tertuang dalam NBG, dan idealisasi itu bisa berupa pernikahan yang cukup ilmu atau cukup harta. Walapun yang kemudian dilaksanakan oleh Bujang Genjong adalah cukup ilmu yang terefleksi kedalam kerinduan untuk mencapai ma’rifatullah dengan cara manunggal diutamakan dengan menunda perkawinan yang dpat membahagiakannya dalam kehidupan dunia ini. Lebih mementingkan kebahagiaan yang kekal dan hakiki yang tak dapat direnggut oleh usia dan kematian. Usia dan kematian justru menjadi jembatan yang dapat mengantar kerinduan kepada Yang Abadi menjadi terbukti nyata dan terlaksana, tanpa tirai dan dinding, begitu lepas dan bebas, dan begitu nikmat dan lezat, bahkan tak terkira. Karena yang hakiki adalah sesuatu yang tak dapat digambarkan dan dilukiskan dengan kalimat dan tulisan. Segala kehendaknya terturuti tanpa ada larangan dan pantangan yang dapat menghancurkan atau membahayakannya. Kehidupan yang abadi tak punya batasan apapun untuk siapa pun. Mereka punya hak yang sama untuk merasakan sesuatu sesuai dengan amal perbuatannya, taqorrub, saat di alam fana. Di sana, semua menuai pahala dan tambahan, ziyadah, secara penuh dan adil tanpa kurang sedikitpun. Keadilan yang dijalankan adalah sebenarnya, bukan retorika belaka.

Secara kebetulan, dalam menghadapi naskah yang pelik seperti NBG ini, belum ada satu rujukan lokal yang dapat memecahkan model penafsiran dan penerjemahannya. Karena yang mendominasi NBG adalah dialog antar sesama (lelaki dengan perempuan, lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan) yang bebas, sementara isi dialognya mengarah kepada nilai yang luhung dan agung. Tentang kesopanan bertutur kata, berprilaku, dan berilmu, sare’at, tarekat, hakekat, dan ma’rifat. Dan, dari pertengahan hingga akhir, dipenuhi dengan dialog tentang manunggal dalam versi mereka sendiri, atau manunggal versi Cirebon. Sementara kita belum punya rujukan yang dapat menjelaskan secara detail apa sebenarnya manunggal versi Cirebon dan terpengaruh dari mana, atau memang berdiri sendiri dengan filsafat yang mandiri pula.

Di Cirebon, bila melihat banyaknya naskah yang bertebaran, bisa dikatakan belum ada usaha penerjemahan dan penafsiran ajaran suluk yang langsung mengacu pada naskah aslinya. Atau pendek kata, naskah-naskah suluk Cirebon belum ada yang diberi tafsiran secara penuh, dengan metode tekstual dan kontekstual, dengan metode tersirat dan tersurat, atau metode penulisan yang lain, sehingga menyulitkan bagi kami dalam memulainya. Sungguhpun demikian, memang sudah ada suluk Cirebon yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi belum sempat diberi tafsiran. Dan sayangnya penerjemahan itu sendiri tidak menyebutkan judul naskah aslinya, apalagi menyertakan transliterasi aksara atau hasil alih aksara dari bunyi naskah aslinya. Jika memang naskah aslinya tanpa judul dan pengarang, sebaiknya melampirkan hasil alih aksara di akhir buku sebagai bahan koreksi untuk suatu kesalahan yang mungkin timbul dari suatu penerjemahan.

Untuk itulah, kami mencoba berusaha dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki tentang aturan dan tehnik penerjemahan dan penafsiran dari segala macam tembang seperi; kidung,  tembang, puisi, sloka, wangsalan, sajak, dan bahkan kami pelajari juga tembang-tembang Arab dalam bentuk kosidah, nasyid, si’ir, dan nadham. Kami melakukan perbandingan karakter bahasa, atau tepatnya bersastra yang digunakan oleh NBG dengan yangb lain. Dari sana, kami coba merenungkan tujuan yang mungkin dimaksud oleh penulisnya. Berangkat dari situlah, NBG kami terjemahkan dan kami tasfsirkan dengan melihat dan mempertimbangkan teks dan konteksnya.

Saat kami membandingkan tembang ini dengan tembang-tembang tradisional yang lain, yang tersebar di berbagai pustaka dengan macam-macam bahasa dan bentuknya, kami merasa ada kesamaan dalam hal pembukaanya dari segi pengggunaan bahasa simbol, figur, dan tamsil antara NBG dengan tembang al Busyairi yang terkenal dengan nama Kosidah al Burdah (KB). Secara umum, NBG dan KB mempunyai perbedaan yang mendasar dan fundamental. Bagi KB, bahasa Arab dan dengan kosidah sebagai bentuk tembangnya, menjadikan KB sepontanitas diklaim sebagai karya sastera Arab yang langsung membukitikan ke islaman orang yang menulisnya. Karena KB, di samping berisis pujian dan sanjungan kepada Rosulullah saw, juga Tuhan yang wajib disembah disebut sebagai Allah swt., dan KB membawa kita ke kedalaman cinta kepada Allah swt dengan perantaraan Rosul-Nya. Sementara NBG dengan bahasa Cirebon sebagai media komunikasinya dan tembang macapat  sebagai pengantarnya, menjadikan NBG tak langsung dianggap sebagai karya Islami dan apalagi sebagai naskah yang berisi ajaran suluk (tasawwuf) yang penuh dengan ajaran cinta kasih, kerinduan, dan harapan kepada Allah swt. NBG menyebut Allah swt sebagai Dzat yang wajib disembah dan dicintai dengan sebutan  Yang Agung, Yang Misesa, atau sebutan yang berbau Hindu yang lain. Dan diawal tembangnya sendiri, NBG tidak menyebut bismillah sebagaimana naskah-naskah keagamaan yang lain, atau bahkan naskah macapat yang lain. Namun demikian, perbedaan keduannya terletak pada kulit dan wadahnya saja. Ibarat wadah, NBG bisa diumpamakan dengan gelas, dan KB diumpamakan dengan dengan kendi, keduannya sama-sama berisi air cinta yang dapat memabukkan orang yang meminumnya dengan penuh rasa dahaga. Ibarat pakaian, NBG adalah kaos, dan KB adalah kemeja, keduanya sama-sama membungkus satu raga abadi yang hidup sepanjang zaman. Karena cinta tak akan pernah sirna dari dunia hingga manusia melebur dirinya dalam kehancuran lama semesta. Akan tetapi, hakikatnya, cinta akan bangkit lagi di alam keabadian akhirat seiring dengan pulihnya kesadaran ruh. Jika ruh telah mendapatkan kesadarannya kembali, setelah dibangkitkan, ruh akan kembali berenang dalam lautan kerinduan cinta yang pernah menenggelamkannya sewaktu di dunia fana. Kerinduan ruh pada Allah swt bisa kita pahami dari kisah mahsyar yang diriwayatkan dalam hadis-hadis. Keduanya, baik KB maupun NBG, membawa kita ke kesadaran yang sama; bahwa Allah swt adalah satu-satunya tujuan harapan bagi seluruh makhlukNya, dan akhir semua perjalanan (baca: suluk) yang dilakukan oleh para hambanya yang bertebaran di seluruh dunia dan menggunakan jalan dan metode yang berbeda. Allah swt sebagai pencipta yang mampu memaksa seluruh hambaNya datang dan tunduk di hadirat-Nya, sekarang juga atau esok kelak.

Bagaimana, kapan, dan mengapa NBG ini disusun adalah diluar jangkauan kami, dan pemahaman kami tentang NBG secara tekstual maupun kontekstual tak sanggup menguraikannya. Akan tetapi, yang kami yakini adalah bahwa NBG memang benar sebagai naskah asli suluk pesisiran Cirebon yang memuat berbagai adat, tradisi, nilai, ajaran, dan gagasan yang dapat menjadi pedoman semua orang dan dapat dipertanggung jawabkan. Siapa yang menulis, hingga saat ini kami belum menemukan nama penulisnya. Selama penelusuran yang kami lakukan bersama tim, dengan cara perbandingan naskah, bertanya ke pemilik saat ini, dan dengan mencarai berita dari luar, kami belum menemukan nama penulis yang telah menyusun NBG ini. Memang dari banyaknya karya seni yang ada di Cirebon, khususnya seni sastra yang berhubungan dengan penulisan naskah, kita sering berhadapan dengan penulis yang misterius. Kebanyakan naskah-naskah Cirebon yang sempat ditemukan dan dapat dibaca adalah tanpa penulis (atau paling tidak penyalin) dan tanpa pengarang atau penyusun. Suasana anonymous seakan menghantui hampir semua (kebanyakan) naskah Cirebon yang ada sekarang, terutama yang ada ditangan kami (Pusat Koservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon). Tapi kami yakin, haqul yaqin, bahwa keadaan ini bukan merupakan suatu unsur rekayasa dari orang-orang tertentu terhadap suatu naskah tertentu. Kami memahami, tradisi penulisan, bahasa yang digunakan, dan keadaan fisik naskah, dan digabungkan dengan kebiasaan penulisan orang zaman sekarang, naskah ini bukanlah hasil dari rekayasa yang disusun secara sistematis sehingga sulit di cari jejak kebohongannya.

Ada anggapan dan mungkin juga keyakinan yang mengatakan bahwa kesusasteraan Cirebon terpengaruh oleh sastera Jawa, Sunda, Arab, dan Melayu. Setelah kami meneliti satu demi satu kata yang tertulis dalam NBG, ternyata anggapan itu memang benar kenyataannya. NBG membaur berbagai bahasa dengan kondisi yang mendukung isinya, sehingga tampak sahut-menyahut dan sambung-menyambung yang menjalin hubungan bahasa Jawa dan Sunda menuju ke pelaminan makna. Sehingga titik fokus pembicaraan makna, tujuan, dan ajaran dilebur kedalam dua kekayaan bahasa yang semakin enak untuk didengar dan ditembangkan. Tampaknya, penyusun NBG ingin menggayung setetes air makna di lautan sastera dengan berbagai gayung bahasa yang berbeda model dan bentuknya.

Secara jujur dan dengan kerendahan hati, terjemahan dan penjelasan (penafsiran) yang kami laukan bukan merupakan sesuatu yang harus diterima tanpa syarat oleh pembaca yang budiman. Kami mempersilahkan para pembaca untuk menerjemahkan dan menggali sendiri makna dan tafsirannya tanpa mempedulikan dan menengok yang telah kami kerjakan. Untuk itulah, kami melampirkan (lihat lampiran) transliterasinya agar dapat diketahui oleh pembaca. Karena NBG memang harus mendapat perhatian dari banyak kalangan yang tidak terbatas hanya sasterawan, budayawan, seniman, dan agamawan saja. Mungkin juga perlu melibatkan sejarahwan berkaitan dengan gambaran kejadian dan sebagian nama tempat yang sebelumnya belum pernah disebut selain dalam naskah ini.

Begitu juga bila ada seseorang yang mempunyai naskah NBG dengan versi lain atau lanjutan dari naskah ini dan ingin melakukan penerjemahan dan penafsiran secara mandiri, kami persilahkan untuk mengerjakannya. Dengan besar hati penuh kegembiraan, kami sambut usaha tersebut sebagai pelengkap dan penyempurna bagi usaha ini. Jika ada perbedaan isi naskah dari apa yang telah kami kerjakan, sebagian atau seluruhnya, maka kami anggap itu sebagai hal yang wajar dan biasa. Naskah versi Keraton Kacirebonan yang kami pegang pun tidak harus sama dengan apa yang mungkin ada ditangan pembaca, begitupun sebaliknya. Karena ini bukan kitab suci yang ditanggung pemeliharaan dan keabsahaanya oleh Allah swt dan agama. NBG adalah hasil karya orang tua kita yang mungkin sudah mengalami penyalinan beberapa kali dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Penyalinan yang berarti penggandaan (reproduksi naskah secara manual) kadang terjadi penambahan atau pengurangan didalamnya.

Cirebon penuh dengan keindahan alam dan pemandangan yang menyejukkan. Disebelah utara Cirebon adalah Laut Jawa yang ombaknya cenderung tenang. Disebelah selatan, tampak Gunung Ciremai yang menawarkan panorama bebukitan yang kuat, teguh, diam, dan kokoh. Laut Jawa yang luas (menurut pandangan mata) memberi inspirasi kepada orang Cirebon agar lapang dada dan menerima segala bentuk budaya, aliran, dan paham. Dari Gunung Ciremai, orang Cirebon mengambil pelajaran tentang kekuatan tekad dengan penuh ketenangan jiwa. Dari sanalah muncul pribahasa Cirebon yang sering disampaikan oleh orang tua kita dahulu yang berbunyi; amba segara masih amba atiningsun, gede gunung masih gede atiningsun ( luasnya lautan masih luas hati saya, besarnya gunung masih besar hati saya). Pribahasa ini, menjadi suatu ungkapan yang telah membesarkan dan melapangkan hati orang Cirebon berabad-abad.

Dari contoh diatas, pribahasa dan ungkapan yang bermakna yang telah diajarkan oleh orang tua. Orang Cirebon dahulu telah memberikan warna pemikiran dan pangaruh tersendiri dalam tindakan sehari-hari masyarakat Cirebon sekarang. Pola pikir orang Cirebon dahulu yang cenderung menggambarkan dan menjelaskan pemahaman ajaran dengan metode tasybih dan tamsil, penyerupaan dan  perumpamaan[7], menjadi tradisi turun-temurun dan terpelihara hingga tertuang dalam naskah-naskahnya, bahkan hingga sekarang. Naskah Bujang Genjong adalah salah satu contoh model pengajaran orang tua dahulu dengan menggunakan metode perumpamaan dan simbol-simbol.

Dari  banyaknya nara sumber yang memberikan pendapat tentang kisah percintaan Bujang Genjong dengan Rara Gonjeng yang mendekati pernikahan ini, semakin memudahkan kami untuk melakukan penerjemahan, dan memberi penjelasan tentang maksud dan tujuan cerita yang di guritkan dalam naskah ini. Dari perbandingan isi naskah dan penjelasan nara sumber, secara umum dan singkat dapat dikatakan bahwa pengajuan syarat seorang wanita, Rara Gonjeng, sebelum dinikahi oleh calon suaminya, Bujang Genjong, menjadi budaya yang klasik dan menjadi tantangan bagi calon mempelai pria.  Budaya ini, dari sisi calon isteri, dapat mengambil kesimpulan tentang kapasitas dan kesungguhan calon suaminya. Dan dari sisi calon suami, membentuk kesanggupan dan ketabahan terhadap cara dan tahapan yang harus dijalani dan diperjuangkan.

Dengan melihat bentuk isinya, sepontanitas kita dapat dengan mudah mengatakan bahwa NBG bukan merupakan suatu naskah yang secara khusus menjelaskan tentang suatu ajaran dan tuntunan tertentu. Tetapi bila kita cermati secara seksama dan hati-hati, NBG hendak mengajarkan kepada pembaca tentang sesuatu yang penting. Intinya, banyak orang sukses yang bertolak dari cerita-cerita yang dia dengar dan dia idolakan dalam hidup dan sikap kerjanya. Hal inilah yang memberikan semangat kepada orang tua kita zaman dahulu yang selalu bercerita dan mendongeng untuk menghantar tidur anak-anaknya. Hal yang sama pula yang menyebabkan penulis NBG mengambil kisah cinta yang pasti romantis dalam petuah dan hikmah yang hendak disampaikan.

Dalam petualangan Bujang Genjong yang sedang memenuhi permintaan Rara Gonjeng, terungkap tentang kehidupan masa remaja yang penuh semangat. Semangat untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi kesenangan dan kebanggaannya. Dan pertarungan Bujang Genjong dalam pencarian ilmu manunggal lebih kepada gambaran atas resiko dan tanggungjawab yang harus di pikul oleh setiap orang untuk mendapatkan kebahagiaannya. Tanpa tantangan dan cobaan, hidup menjadi datar dan tidak berkembang ke arah yang lebih baik dan mulia. Seperti sekolah yang belum pernah menyelenggarakan ujian terhadap muridnya, dipastikan belum ada seorang murid pun yang pantas mendapat gelar kelulusan yang baik dan mulia. Inilah hidup, sealu beriringan dengan ujian dan cobaan. Hal itu pula yang di lakukan oleh Bujang Genjong demi mendapatkan cinta sejati dari Sang Rara Gonjeng.

Memberi ajaran dengan berkisah sebenarnya sudah menjadi tradisi semenjak dahulu kala, bahkan al Qura’an sendiri penuh dengan cerita-cerita yang bahkan tidak disebutkan oleh sejarah sekalipun. Secara kronologi kehidupan, cerita dalam al Qur’an bisa dimulai dengan penciptaan Adam as dalam surga dan berakhir dengan kiamat yang menyaring dan memisahkan antara orang yang baik dan jahat; yang baik masuk sorga dan yang jahat masuk neraka.

Adapun kisah terbaik dalam al Qur’an adalah seputar kisah tentang Nabi Yusuf as [8] yang secara tersurat dan tersirat, menggambarkan tentang pertarungan antara nafsu ammarah, lawwamah, dan muthmainnah. Dari segi perjuangan, Yusuf as dimulai dengan seorang anak kecil yang bermimpi melihat 12 bintang bersujud padanya dan berakhir dengan menjadi seorang menteri. Isyarat untuk mengejar apa yang menjadi impian seseorang sebenarnya dapat diwujudkan dengan kesabaran, ampunan, dan kasih sayang. Betapa pedihnya Nabi Yusuf as dibuang dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah sebagai “penggoda” isteri pembesar, dan dimasukan kedalam penjara? Sekumpulan kepedihan yang dilalui dengan kesabaran yang penuh dan tepat.

Lalu apa yang melatar belakangi Bujang Genjong menjadi lambang bagi nafsu yang mencari kesempurnaannya? Jika hidup ini adalah bergerak kearah kesempurnaan dan hidup itu didorong oleh nafsu, maka yang dituju oleh nafsu adalah ketenangan dan ketentraman, nafsu muthmainnah. Hal ini berdasarkan tiga tokoh, Rara Gonjeng, Bujang Genjong, dan Bujang Lamong, yang bersesuaian dalam makna dan berurutan dalam lakon. Wanita, lambang nafsu amarah, cenderung kearah duniyawi, diwujudkan dengan Rara Gonjeng. Pemuda, lambang nafsu lawammah, banyak bergolak dalam baik dan buruk, dilambangkan dengan Bujang Genjong. Cendikia, lambang nafsu muthmainnah, kehidupan damai, tenang, dan sentosa, dilambangkan dengan Bujang Lamong.

Jika pentafsiran dengan cara tasybih dan tamsil ini dianggap salah dan tidak tepat, maka kami memohon maaf atasa kesalahan yang telah kami perbuat ini. Tapi kita perlu melihat hal ini lebih jernih dari sisi penulis naskah dan ruang lingkupnya. Jika kita selalu melihat kalimat dan kisah  dari permukaannya saja, maka hampir seluruh kalimat dan kisah didunia ini adalah kebohongan. Jika kita menilai kebohongan, maka kita harus segera menjahuinya. Coba kita perhatikan kalimat dibawah ini: Ada orang datang ke kita dari keraton dan berkata, “Saya melihat keraton dan sultan”. Apakah dia berbohong, jika yang dia lihat sebenarnya hanya bagian dari kertaon yaitu pungkuran, karena disana dia diterima oleh sultan. Dan apakah di berbohong, jika yang dilaihat sebenarnya hanya bagian dari sultan yaitu wajahnya, karena dia hanya melihat raut mukanya saja. Ini sebenarnya bukan persoalan yang rumit, jika kita mau mempelajari ilmunya, termasuk juga kita memuji Rosulullah saw dengan berkata; engkau matahari, engkau rembulan, engkau cahaya diatas cahaya. Apakah ini bukan kebohongan? Karena kita sudah menyamakan, mentasybihkan Rosulullah saw dengan bulan, matahari, dan cahaya. Padahal, dalam keimanan, kita harus meyakini Rosulullah saw itu lebih mulia dari bulan, surya, dan cahya. Lalu apa arahnya? Arahnya adalah taraqi dan tadalli. Inilah fungsi kaidah tasybih dan tamsil dalam ilmu balaghoh[9].

Penerjemahan yang kami lakukan ini sebenarnya belum sempurna. Kendala yang paling umum dalam masalah ini ketika menghadpai ungkapan yang kental sarat makna. Beberapa kali coba kami lakukan perbaikan terhadap terjemahan-terjemahan yang sudah dikerjakan, akan tetapi hasilnya tetap masih kurang. Tidak sempurnanya penerjemahan ini disebabkan terpisahnya pemahaman yang timbul dari terjemahan yang ada. Seringkali terjemahan dari ungkapan-ungkapan, terkadang bahasa, tak dapat mengenai maksud yang dituju oleh naskah dengan bahasa aslinya. Perasaan kurang menyeluruhnya pemahamaman yang diperoleh oleh terjemahan sangat mendominasi.

Dalam penerjemahan ini, untuk mempermudah dalam transliterasi, kami menambahkan nomor urut bait, dan huruf baris. Hal ini dilakukan agar pembaca dengan cepat melakukan pencocokan antara tejemahan dengan transliterasi atau bunyi naskahnya. Dengan begitu kesalahan-kesalahan yang ada dalam penerjemahan ini dapat segera diketahui untuk segera dilakukan perbaikan-perbaikan.

Proses yang paling melelahkan dalam menerjemahkan naskah ini sebenarnya karena kurangnya alat bantu beberapa referensi sejenis yang sudah ada di Cirebon. Kekurangan tersebut membuat proses kurang cepat dan tidak menyeluruh menjangkau makna bahasa dan ungkapan aslinya. Perbedaan makna dalam terjemahan ini seringkali menjadi kendala bagi para penerjemah lain diberbagai tempat. Seringkali makna aslinya menjadi hilang, dan pemahaman menjadi hambar ketika satu kalimat atau satu ungkapan dipaksakan penerjemahannya. Hal yang mungkin menjadi kendala juga adalah penguasaan bahasa yang tidak berimbang antara bahasa naskah dengan bahasa Indonesia.

[1] Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon hlm. 225,226. Perum Percetakan Negara RI 2004.

[2] Al Ghazali dalam Ihya III hlm. 17 berkata, Hati manusia itu terkhusus dengan pengetahuan dan kehendak yang menyebabkannya berbeda dari seluruh hewan.

[3] Kalimat Bujangga di pinjam untuk menjadi istilah bagi penulis tembang macapat agar pembahasan dan kalimat menjadi simpel

[4] Budaya Bahari, hlm. 26.

[5] Tembang Macapat merupakan bagian dari bentuk kesusasteraan Cirebon. Seorang budayawan Cirebon, Kartani, memberi penjelasan bahwa macapat berarti membaca empat-empat, maca papat-papat. Membaca secara empat wanda empat wanda dalam tembang ini sebenarnya sangat sulit dipahami oleh generasi muda sekarang, karena mereka tidak mendapatkan gambaran dalam pemikiran mereka bentuk tehnis membaca empat-empat. Bagi kami, mereka tidak salah sama sekali, karena tidak ada orang yang memberinya pelajaran tentang itu. Tentang Macapat, lihat Rokhmin Dahuri, Budaya Bahari sebuah Apresiasi di Cirebon,  terbitan Perum Percetakan Negara 2004, halm. 116 ,117. lihat juga Yatna Supriatna, Sastra Klasik Cerbon, terbitan Disbudpar Kota Cirebon 2008, hlm. 6,7.

[6] Di Cirebon, Kawin Gantung biasa di sebuta juga dengan istilah Peganten Cilik. Untuk  kalangan orang-orang kaya, Peganten Cilik ini dilaksanakan dengan cukup meriah dengan arak-arakan yang menggunakan Grudaan. Selengkapnya lihat Rokmin Dahuri dkk., Budaya Bahari, 2004: 211-217.

  

[7] Dalam surat al Ankabut ayat 43 dan 44 yang artinya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesumgguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin. Proses pelajaran, terutama belajar tentang kebesaran Allah swt, sangat tepat dilakukan dengan mengambil perumpamaan, kejadian, cerita, dan ibarat.. Karena dengan cara seperti ini sesuatu yang harus dijelaskan secara panjang lebar dengan tulisan atau kalimat dapat diringkas dengan satu bentuk gambar atau perumpamaan yang lebih singkat dan mudah dimengerti.

[8] Lihat QS. Yusuf, ayat 3.(Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami wahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui).

[9] Lihat al Mursyidi. Syirkah Nur Asia Semarang. tt.

SEJARAH CIREBON NASKAH KERATON KACIREBONAN TEKS KCR. 04 || Sunan Kalijaga, Panembahan Ratu, dan Ki Palidada dalam Perdagangan yang Dilakukan oleh Anak Cucu Sunan Gunung Jati

sejarah

Diceritakan, setelah berdirinya Pakungwati, maka telah menjadi warna-warni cerita kehidupan di dunia. Adalah seorang bernama Kiyai Pali datang ke Cirebon untuk mencari untung. Sebab ia berasal dari keturunan tanah seberang, dan selalu berpikir untuk mencari untung dengan cara berdagang, kemudian iapun pergi menghadap kepada Kangjeng Panembahan dan mengutarakan maksudanya bahwa ia ingin pergi menjadi pedagang besar dengan maksud ikut menolong menopang kehidupan ratu. Ia pun akan meninggalkan tetangga sanak keluarga dengan pergi ke seberang antar Negara. Ingin merubah hidup dengan berdagang, dagang beras dengan menggunakan angbentengn kapal tentulah akan besar untung dan rezkinya. Panembahan Ratu kemudian berkata Mengijinkan akan keinginan Ki Palidada, Panembahan sendiri kurang memahami tata cara dagang.

Setelah mendapatkan izin Ki Palidada kemudian segera beras yang berasal dari orang-orang Cirebon dimuat dalam karung hingga mencapai ribuan kandek. Kemudian diangkut ke tepi pantai untuk segera diangkut dengan kapal. Telah terkenal bahwa Ki Palidada adalah seorang pedagangnya ratu. Ki Palidada telah menjadi juragan, kapalpun telah disiapkan. Tidak seperti anak seorang miskin, kerjanya hanya meminta-minta beras dengan menggunakan batok hanya sekedar untuk seseuap nasi.

Ki Palidada berkata bengis, “Hei  Sidi Lolocok, beras ini sudah dimuat di karung mau dijual. Kamu yang miskin jangan meminta-minta.”

Ki Palidada menjadi marah kemudian ia hendak menempeleng orang tersebut, namun mendadak tangannya menjadi kejang. Kakinya hendak menendang namun mendadak juga tidak bisa digerakan, melangkahpun tidak bisa. Akhirnya Ki Palidada pun terjatuh kemduian diberikan pertolongan digotong dibawa ke hadapan Panembahan, lalu diperiksa orang seperti apa yang menjadi penyebabnya. Kemudian orang yang menggotong Ki Palidada itu melaporkan kejadiannya, ia lah penyebabnya seorang pengemis miskin yang kaki tanganya belang semua.

Panembahan lalu berkata, “Ki Palidada segeralah di gotong dan hadapkanlah kepada Ki Kalijaga, Ki Pali supaya tobat dan bawalah 10 karung beras sebagai bakti pemberianku.”

Lalu para Abdi pun segera menjalankan perintah. Ki Palidada segera digotong, begitu juga dengan 10 karung beras dibawa menuju hadapan Ki Kalijaga. Dialah seorang mahayakti wali agung.

Ki Palidada memohon tobat sambil menangis, “Biarkanlah hamba hidup.”

Kemudian Sunan Kalijaga berkata, “ia aku memaafkanmu.”

Maka atas sabda waliyullah itu, Ki Palidada mendadak sembuh seperti sedia kala. Ki Palidada sangat bersyukur dan penuh sukacita kemudian iapun menyembah bakti kepada Sunan Kalijaga serta memberikan beras 10 karung sebagai wujud syukur baktinya.

Kemudian sang waliyullah berkata, “Begitu banyak beras yang kau bawa ke hadapanku. Ini untuk apa?”

Ki Palidada segera menjawab bahwa itu semua adalah sebaga wujud baktinya Gusti Prabu, Kangjeng Panembahan Pakungwati yang telah memberikannya kepada Paduka Pandhita Gedhe, sebab Sang Panembahan sangat mengharap berkah dari Sunan Kalijaga agar sekiranya dapat memberikan syafaat lahir dan batin.

Sang Mahawiku kemudian menjawab, “Itu kelak akan terjadi, aku terima kebaikan dari Gustimu tetapi sekarang bawalah kembali semua karung-karung beras itu. Aku di sini tidak mengharap pamrih, kamu semua tidak seperti Gusti Bendaramu yang bermurah hati.”

Kemudian mereka hendak bermurah hati, namun Ki Kalijaga tidak mau meneriamanya, “Hanya saja dulu itu aku meminta beras hanya sebatok kecil untuk mengganjal lapar, tidak usah diberi banyak-banyak. Maka bawalah pulang kembali.”

Setelah itu kemudian merekapun pulang. Telah disampaikan kepada Panembahan Aji, lalu Sang Katong termangu beberapa saat kemudian berkata, “Baiklah bab dagang itu batal, jangan sampai jadi, segera batalkan saja sebab anak cucu Cirebon tidak boleh laku dagang, itulah yang menjadi wangsit Eyang Sunan Kalijaga, maka janganlah salah sangka. Tidak akan ada wali yang salah memberikan petunjuk, ataupun berbohong serta tidak akan memfitnah.”

Maka Ki Palidada kemudian membatalkan niatnya, beraspun kemudian dipanggul. Karung-karung kampil yang ada pinggir pantai itupun dipanggulinya, kemudian dibobol berasnya dibagi-bagikan kepada para wadyabala dan mantri hingga merata. Merka pun menerima pemberian dari sang prabu itu dengan penuh suka cita. Para kabuyutan juga menyaksikan bahwa putra Cirebon tidak diperbolehkan dagang sesuai wangsit leluhurnya ialah Hyang Raja Wali, hidup harus menempuh sejati ialah sikap menerima dan syukur.

Itu ada di buku SEJARAH CIREBON NASKAH KERATON KACIREBONAN TEKS KCR. 04

Harga buku Rp. 100.000,- (sdh ongkir), 267 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:
BANK: BRI Gunungjati Cirebon
NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533
AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Kemudian beritahu saya bukti transfer nya, selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:
HP: 081911312907
WA/LINE: 081322990419
BBM: 538c41dc

PUSTAKA KERATON CIREBON: PEMBUKA RUMUS DAN KUNCI PERBENDAHARAAN || Kesatuan Wujud (‪Wahdatul Wujud‬) dan Kerajaan Hati

Judul Asli: Hill al-Rumuz wa Mafatih al-Kunuz
Judul Asli: Hill al-Rumuz wa Mafatih al-Kunuz

Tentang Kesatuan Wujud (‪#‎Wahdatul_Wujud‬) dan Kerajaan Hati, Ibnu Arabi berkata:

Barangsiapa yang telah Allah swt bukakan mata kesadarannya dan Allah swt perlihatkan kesamaran rahasia hatinya, maka dia mengerti bahwa tidak ada di dua keberadaan dan dua alam, dari keseluruhan irādah-Nya dari setiap sesuatu, kecuali tergabung menjadi satu (tersukmakan) di dalam lipatan dzat-Nya, dan tersusun dalam kesamaran sifat-Nya. Inilah rahasia sabda Raulullah saw, “Barangsiapa yang mengerti dirinya, sungguh dia telah mengerti Tuhannya.” Dan telah jelas dari rahasia hadis ini sesuatu yang harus dibukakan dan baik untuk disifatkan. Yaitu bahwa Allah swt telah meletakkan ruh yang ruhani di dalam jasad ini yang jasmani, sebagai yang terhalus, ilahiyyah, dan dititipkan di dalam kekasaran dan duniawi, sebagai petunjuk atas keesaan dan ketuhanan.
Kesimpulan dari kesatuan wujud (Wahdatul Wujud) sebagai petunjuk atas keesaan dan ketuhanan itu adalah dari sepuluh sisi.
1. Pertama, bahwa bentuk manusia ini tatkala membutuhkan pengatur dan penggerak, dan ruh ini menggerakkan dan mengaturnya, maka kita menyadari bahwa alam haruslah memiliki penggerak dan pengatur.
2. Kedua, tatkala adanya penggerak jasad itu satu, yakni ruh, maka kita menyadari bahwa pengatur alam ini adalah satu, tidak ada sekutu baginya dalam pengaturan dan penetapan alam. Dan hal yang tidak mungkin Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Allah swt berfirman, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah Pemilik ‘Arsy dari yang mereka sifatkan.” Dan Allah swt berfirman, “Katakanlah: “Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arsy. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.” Dan Allah swt berfirman, “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan itu.”
3. Ketiga, ketika adanya jasad tidak mampu bergerak kecuali dengan kehendak ruh dan dorongan terhadap jasad, maka kami mengerti bahwa sesungguhnya Allah swt penggerak terhadap segala keberadaan di semesta alam. Tidak ada gerakan baik atau buruk selain dengan kepastian, kehendak, dan ketetapan-Nya.
4. Keempat, ketika sesuatu di dalam jasad tidak dapat bergerak kecuali dengan pengetahuan ruh dan perasaan ruh terhadp jasad, dan sesuatu tidak samar bagi ruh dari gerakan dan diamnya jasad, maka kami mengerti bahwa tidak samar bagi Allah swt sesuatu seberat biji sawi pun di bumi dan di langit.
5. Kelima, ketika adanya jasad ini, tidak ada sesuatu pun di dalam jasad yang terdekat dengan ruh dari sesuatu apa saja, bahkan ruh sangat dekat di dalam jasad pada tiap sesuatu, maka kami mengerti bahwa Allah swt sangat dekat pada seluruh sesuatu, karena tidak ada sesuatu pun yang terdekat dengan sesuatu apa saja, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih jauh dari Allah swt dari sesuatu apa saja, bukan dalam arti kedekatan jarak, karena Allah swt Maha Suci dari semua itu.
6. Keenam, ketika adanya ruh wujud terlebih dahulu sebelum wujudnya jasad, dan masih tetap ada setelah setelah kemusnahan jasad, maka kami mengerti bahwa Allah swt ada sebelum adanya seluruh makhluk-Nya, dan selalu ada setelah kehancuran makhluk-Nya, selalu ada dan tidak bergeser, Maha Suci Allah dari ketergeseran.
7. Ketujuh, ketika adanya ruh di dalam jasad tidak dapat dikenali seperti apa adanya, maka kami mengerti bahwa Allah swt Maha Suci dari segala keadaan.
8. Kedelapan, ketika adanya ruh didalam jasad tidak dapat diketahui keadaan dan keberadaannya, maka kami mengerti bahwa Allah swt Maha Suci dari keadaan dan keberadaan. Maka Allah swt tidak dapat disifati dengan ‘di mana’dan ‘seperti apa’, bahkan ruh berada dalam seluruh jasad, tak ada sedikitpun badan yang tanpa ruh. Maka seperti itulah al-Haq, Allah swt, berada pada tiap tempat, tak ada sesuatu pun yang tanpa Allah swt, dan Maha Suci Allah swt dari tempat dan waktu.
9. Kesembilan, ketika adanya ruh bersifatan dengan sifat ketuhanan, dari sifat salbiyah, sifat yang terpisah dari dzat, seperti ‘Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan’, tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak mati, maka seperti Allah swt disifati dengan sifat-sifat tersebut.
10. Kesepuluh, ketika adanya ruh di dalam jasad tidak dapat tersentuh dan teraba, maka kami mengerti bahwa Allah swt Maha Suci dari sentuhan dan rabaan. Kesebelas, ketika adanya ruh di dalam jasad tidak dapat ditemukan oleh pandangan mata dan tidak bisa dibentuk dengan gambar, maka kami mengerti bahwa Allah swt tidap dapat ditemukan oleh pandangan mata dan tidak dapat dirupakan dengan gambar dan pikiran, dan tidak boleh diserupakan dengan matahari dan bulan. Dan bahwa sesungguhnya “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” Inilah makna sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia mengenal Tuhannya.”
Maka berbahagialah orang yang mengenal dirinya dan mengakui dosanya, dan di dalam hadis ini ada tafsir lain, yaitu kamu mengenali bahwa sifat-sifat nafsumu sangatlah berlawanan dengan sifat-sifat Tuhanmu, maka barangsiapa yang mengenali dirinya dengan sifat penghambaan, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya dengan sifat ketuhanan. Dan barangsiapa yang mengenal dirinya dengan kemusnahan, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya dengan kekekalan. Dan barangsiapa yang mengenal dirinya dengan kedurhakaan dan kesalahan, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya dengan ketepatan janji dan kedermawanan. Dan barangsiapa yang mengenal dirinya sebagaimana adanya, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya sebagimana diri-Nya.

Itu ada di buku PUSTAKA KERATON CIREBON: PEMBUKA RUMUS DAN KUNCI PERBENDAHARAAN, karya Ibu ARabi

Harga buku Rp. 150.000,- (sdh ongkir), 714 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:
BANK: BRI Gunungjati Cirebon
NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533
AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Kemudian beritahu saya bukti transfer nya, selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:
HP: 081911312907
WA/LINE: 081322990419
BBM: 538c41dc

Carub Kandha

Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil

Hikayat yang kedua belas dari Caruban kandha, ialah menceritakan tentang kabuyutan, yang mendiami di suatu tempat yang angker. Para kabuyutan tersebut semuanya merupakan keturunan dari Galuh, namun ia berbadan halus sehingga tidak terlihat oleh pandangan manusia biasa. Mereka semua bertugas memberikan perlindungan di Pulau Jawa kepada para trah Galuh yang sudah ditentukan, dan tidak memandang agamanya  yang dianutnya itu kafir ataupun islam.

Para Kabuyutan yang berbadan halus itu, menaungi anak cucu yang berasal sama-sama dari satu negeri, yaitu Galuh. Malahan bagi warga Pulau Jawa, sudah semestinya harus mengetahui nama dari para kabututan tersebut,  (h. 081) dengan demikian semoga saja bisa menjadikan jalan keselamatan dan bisa memberikan sawab kepada perjalanan hidup. Ini semua semata-mata hanya karena Allah SWT.

Yang menjadi penguasa di pulau Jawa, kang jumeneng ratu, gegedhén di Pulau Jawa itu semua sudah semestinya mendapatkan perlindungan. Mereka ikut dijaga kedudukannya oleh para kabuyutan yang berasal dari trah Prabu Siliwangi. Seperti yang jumenengan di Talaga, Kuningan, dan Carbon, apalagi mereka itu masih trah Ratu Sundha.

Ratu Galuh menurunkan bangsa lelembut namanya ialah Ratu Maharaja Sakti, yang membawahi para siluman-siluman. Ratu Maharaja Sakti Kagaluhan mempunyai putra    tujuh;

  1. Sanghyang Pasaréan yang menjadi ratu di rawa Lakbok, kemudian menurunkan Buyut Wisésa yang menjaga Pulau Jawa.
  2. Buyut Gelo Hérang menjadi ratu siluman Tunjung Bang, kemudian menurunkan para kabuyutan diantaranya Buyut Jaya Ening yang berada di Nusa Jawa.
  3. Sang Ratu Romang yang berkedudukan di Alas Roban, kemudian menurunkan putra Buyut Sang Ratu Kalana Jaya yang memayungi praja Mataram.
  4. Sangyang Ratu Romang Hiyang berkedudukan di Gunung Séwu, kemudian menurunkan putra bernama Maring Buyut Sang Kala Brama yang menjaga Praja Carbon (h. 082).
  5. Sang Ratu Celak Ronénék menjadi ratu lelembut di Tegal Luar, kemudian menurunkan Buyut Buyut Ipri yang menjaga di Kaputrén Praja Janggala.
  6. Buyut Dharmalaé berada di Negara Pakuwan, kemudian menurunkan putra bernama Buyut Lénggang Luménggang yang menjaga Negara Jayakarta. Purtanya yang kedua adalah Sanghyang Buyut Genter Sédha Ening yang memayungi negeri Banten.
  7. Sang Ratu Tugur yang menurunkan putra bernama Ki Buyut Cangkas Hérang yang memayungi wilayah Ujung Kulon.

Demikianlah para putra Maharaja Sakti Galuh, yang berbangsa lelembut, kehidupan mereka sejajar dengan bangsa Jin Banujan. Atau siluman yang suka menampakan diri dengan menggunakan jasad wadagnya, maka itulah lelembut trah Pajajaran dan Galuh. Ada sebagian yang berganti rupa terlihat menjadi harimau, ikan, burung, petir, kemangmang, angin puyuh, angin gedhe yang bisa menjadi angin ribut atau angin topan  (h. 083). Ada juga yang berupa banjir, kilat petir.

Adapun Prabu Siliwangi mempunyai tujuh putra bangsa siluman; Sanghyang Buyut Kaluwiyan, kelak menurunkan Buyut Ening Lembu Jaya, Buyut Lembu Agung, Buyut Gajah Siluman Siri, Buyut Sanghyang Buwana, Buyut Ratu Sanghyang Elang-Eling, Buyut Getun, Buyut Mahalarang, Buyut Gajah Barong, Sanghyang Buyut Luhur, Buyut Adi Keling, Buyut Timbul, Sanghyang Buyut Lénggang Agung. Semua itu menyanggah dan menjaga bumi Kuningan. Oleh karena itu orang kuningan mempunyai watak kumaki, sombong tak mau asor kepengennya unggul saja atas sesamanya. Sebenarnya watak tersebut juga berasal dari pengaruh anak keturunan Hyang Kaluwiyan.

Putra Prabu Siliwangi yang kedua dari bangsa silumanan adalah Hyang Adiluwih Wangi yang kemudian mengikuti kepada kabuyutan Ratna Cempa yang berada di Guwa Ki Madu. Hyang Adiluwih Wangi juga mendampingi Syéh Aji Juba (h. 084) yang mendiami Guwa Panawungan.

Putra ketiga Prabu Siliwangi dari bangsa siluman adalah yang bernama Hyang Kayupu yang kemudian menurunkan Buyut Putih yang bertempat tinggal didalam Gunung Ciremai, adapun yang berada di puncanka ialah Hyang Buyut Sukma Adiluwih dan yang ada di Cirebon Girang adalah Ayahndanya yang bernama Buyut Wanawati Purba.

Putra keempat Prabu Siliwang dari dari bangsa siluman adalah Buyut Sangyang Kapalarang yang menurunkan kepada Kabuyutan Telaga Gedhé ialah bernama Hyang Rangga Tetnas, yang berada di dasar Telaga Manggung ialah Prabu Jayawisésa, kemudian yang berada di Pinggiran Telaga adalah Sang Sédha Malum. Rangga Ketel berada di sebelah Utara Timur Telaga Manggung yang terletak di belakang Candi Sakti. Mereka menghuni disana bermaksud untuk menyelamatkan anak cucu.

Putra kelima Prabu Siliwangi dari bangsa siluman adalah Hyang Diri Kalatriyan, kemudian ia menurunkan para kabuyutan yang berdiam di Pangarep Pamuter Bumi, di Tengah-tengah Bumi Carbon ialah Ki Buyut Lindhu Buwana dan Ki Buyut Kebo Kamalé Suci yang menjaga dan mengelilingi bumi Carbon.

Dan juga kepada Para Kabuyutan di empat penjuru kuta ; sebelah Selatan Ki Buyut Rara  Réwa Sakti, sebelah Timur Ki Buyut Antu Laut, sebelah Utara Ki Buyut Dharnéng dan sebelah Barat Ki Buyut Anjréng (h. 085). Dan juga yang berada di Palawangan Kuta Carbon ialah Ki Buyut Kalajaya.

Putra keenam Prabu Siliwangi dari bangsa siluman ialah Buyut Sang Maya Dhéwata, yang menurunkan dedemit yang ada di Perbatesan Carbon ; Perbatasan sebelah Barat Ki Buyut Puter, Perbatasan sebelah Utara Ki Buyut Siput, Perbatasan sebelah Timur Ki Buyut  Geter Puter, Perbatasan sebelah Selatan Ki Buyut Kerutun. Para Kebuyutan tersebut sangat melindungi Desa-desa yang ada di perbatasan wilayahnya masing-masing. Adapun yang berada di Carbon disebut Syéh Sadatullah.

Para Kabuyutan yang menjaga Carbon semuanya pada berkumpul, karena pada waktu itu Carbon berupa Desa masih belum jadi Negara. Adapun sebagai Pemuka Masyarakat adalah seorang Kuwu yang berada di Tegal Pangalang-Ngalang yang merupakan cikal-bakal Carbon dan sebagai tempat Pakasaban, pekerjaan. Adapun pekerjaan Ki Kuwu pada waktu itu ialah mengambil udang rebon dari laut yang digunakan untuk membuat terasi. Terasi itu kemudian dipergunakan untuk membayar Pajak ke Negara Pajajaran. Adapun sebagai tempat pasarnya adalah Pajajaran juga dan sebagai harta/hasil buminya adalah masih kentang, kentang ini juga sebagai kebutuhan belanja hidup untuk sehari-harinya (h. 086).

Putra Prabu Siliwangi ketujuh yang berasal dari bangsa siluman ialah Ki Sang Tulara, kemudian menurunkan para Buyut yang menjaga bermacam-macam bangunannya anak cucu Prabu Siliwangi dari trah manusia yang jumemeng Raja. Buyut Kala Buwana, dan Buyut Anoman Jaya yang menjaga tanah tegalan arah-arah, ataupun rawa-rawa. Buyut Nyi Mas Rarangkungan menjaga pedaleman Negara,  Buyut Nyi Rara Gandik menjada bangunan Siti Hinggil. Buyut Kalawisesa menjaga astana, makam yang wingit, ada juga yang suka menunggu petani gedhe ialah Ki Buyut Sang Tés Buana, atau Ki Buyut Bur Putih. Mereka semua itu bangsa siluman yang menjaga anak cucu manusa Jawa.

Itulah trah dari Galuh Pajajaran yang pada menjaga, jika mereka menampakan diri ada yang berupa harimau ataupun burung (h. 087). Mereka secara bergiliran menjaga menjadi kemit kepada sesama anak cucu Galuh Pajajaran, oleh karena itu petilasan-petilasan wong agung menjadi hangat pribawanya dan suka menolong mengusir pengaruh jahat yang ditimbulkan oleh sesama bangsa dedemit yang bersifat jahat.

Harga buku Rp. 150.000,- (sdh ongkir), 539 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:

BANK: BRI Gunungjati Cirebon

NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533

AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Kemudian beritahu saya bukti transfer nya, selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:

HP: 081911312907

WA/LINE: 081322990419

BBM: 538c41dc

Buku BABAD CIREBON CARUB KANDHA NASKAH TANGKIL: Para Buyut Galuh yang Mendiami Beberapa Bagian Pulau Jawa

Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil

Hikayat yang kedua belas dari Caruban kandha, ialah menceritakan tentang kabuyutan, yang mendiami di suatu tempat yang angker. Para kabuyutan tersebut semuanya merupakan keturunan dari Galuh, namun ia berbadan halus sehingga tidak terlihat oleh pandangan manusia biasa. Mereka semua bertugas memberikan perlindungan di Pulau Jawa kepada para trah Galuh yang sudah ditentukan, dan tidak memandang agamanya  yang dianutnya itu kafir ataupun islam.

Para Kabuyutan yang berbadan halus itu, menaungi anak cucu yang berasal sama-sama dari satu negeri, yaitu Galuh. Malahan bagi warga Pulau Jawa, sudah semestinya harus mengetahui nama dari para kabututan tersebut, dengan demikian semoga saja bisa menjadikan jalan keselamatan dan bisa memberikan sawab kepada perjalanan hidup. Ini semua semata-mata hanya karena Allah SWT.

Yang menjadi penguasa di pulau Jawa, kang jumeneng ratu, gegedhén di Pulau Jawa itu semua sudah semestinya mendapatkan perlindungan. Mereka ikut dijaga kedudukannya oleh para kabuyutan yang berasal dari trah Prabu Siliwangi. Seperti yang jumenengan di Talaga, Kuningan, dan Carbon, apalagi mereka itu masih trah Ratu Sundha.

Ratu Galuh menurunkan bangsa lelembut namanya ialah Ratu Maharaja Sakti, yang membawahi para siluman-siluman. Ratu Maharaja Sakti Kagaluhan mempunyai putra    tujuh;

  1. Sanghyang Pasaréan yang menjadi ratu di rawa Lakbok, kemudian menurunkan Buyut Wisésa yang menjaga Pulau Jawa.
  2. Buyut Gelo Hérang menjadi ratu siluman Tunjung Bang, kemudian menurunkan para kabuyutan diantaranya Buyut Jaya Ening yang berada di Nusa Jawa.
  3. Sang Ratu Romang yang berkedudukan di Alas Roban, kemudian menurunkan putra Buyut Sang Ratu Kalana Jaya yang memayungi praja Mataram.
  4. Sangyang Ratu Romang Hiyang berkedudukan di Gunung Séwu, kemudian menurunkan putra bernama Maring Buyut Sang Kala Brama yang menjaga Praja Carbon.
  5. Sang Ratu Celak Ronénék menjadi ratu lelembut di Tegal Luar, kemudian menurunkan Buyut Buyut Ipri yang menjaga di Kaputrén Praja Janggala.
  6. Buyut Dharmalaé berada di Negara Pakuwan, kemudian menurunkan putra bernama Buyut Lénggang Luménggang yang menjaga Negara Jayakarta. Purtanya yang kedua adalah Sanghyang Buyut Genter Sédha Ening yang memayungi negeri Banten.
  7. Sang Ratu Tugur yang menurunkan putra bernama Ki Buyut Cangkas Hérang yang memayungi wilayah Ujung Kulon.

Demikianlah para putra Maharaja Sakti Galuh, yang berbangsa lelembut, kehidupan mereka sejajar dengan bangsa Jin Banujan. Atau siluman yang suka menampakan diri dengan menggunakan jasad wadagnya, maka itulah lelembut trah Pajajaran dan Galuh. Ada sebagian yang berganti rupa terlihat menjadi harimau, ikan, burung, petir, kemangmang, angin puyuh, angin gedhe yang bisa menjadi angin ribut atau angin topan. Ada juga yang berupa banjir, kilat petir.

Adapun Prabu Siliwangi mempunyai tujuh putra bangsa siluman; Sanghyang Buyut Kaluwiyan, kelak menurunkan Buyut Ening Lembu Jaya, Buyut Lembu Agung, Buyut Gajah Siluman Siri, Buyut Sanghyang Buwana, Buyut Ratu Sanghyang Elang-Eling, Buyut Getun, Buyut Mahalarang, Buyut Gajah Barong, Sanghyang Buyut Luhur, Buyut Adi Keling, Buyut Timbul, Sanghyang Buyut Lénggang Agung. Semua itu menyanggah dan menjaga bumi Kuningan. Oleh karena itu orang kuningan mempunyai watak kumaki, sombong tak mau asor kepengennya unggul saja atas sesamanya. Sebenarnya watak tersebut juga berasal dari pengaruh anak keturunan Hyang Kaluwiyan.

Putra Prabu Siliwangi yang kedua dari bangsa silumanan adalah Hyang Adiluwih Wangi yang kemudian mengikuti kepada kabuyutan Ratna Cempa yang berada di Guwa Ki Madu. Hyang Adiluwih Wangi juga mendampingi Syéh Aji Juba yang mendiami Guwa Panawungan.

Putra ketiga Prabu Siliwangi dari bangsa siluman adalah yang bernama Hyang Kayupu yang kemudian menurunkan Buyut Putih yang bertempat tinggal didalam Gunung Ciremai, adapun yang berada di puncanka ialah Hyang Buyut Sukma Adiluwih dan yang ada di Cirebon Girang adalah Ayahndanya yang bernama Buyut Wanawati Purba.

Putra keempat Prabu Siliwang dari dari bangsa siluman adalah Buyut Sangyang Kapalarang yang menurunkan kepada Kabuyutan Telaga Gedhé ialah bernama Hyang Rangga Tetnas, yang berada di dasar Telaga Manggung ialah Prabu Jayawisésa, kemudian yang berada di Pinggiran Telaga adalah Sang Sédha Malum. Rangga Ketel berada di sebelah Utara Timur Telaga Manggung yang terletak di belakang Candi Sakti. Mereka menghuni disana bermaksud untuk menyelamatkan anak cucu.

Putra kelima Prabu Siliwangi dari bangsa siluman adalah Hyang Diri Kalatriyan, kemudian ia menurunkan para kabuyutan yang berdiam di Pangarep Pamuter Bumi, di Tengah-tengah Bumi Carbon ialah Ki Buyut Lindhu Buwana dan Ki Buyut Kebo Kamalé Suci yang menjaga dan mengelilingi bumi Carbon.

Dan juga kepada Para Kabuyutan di empat penjuru kuta ; sebelah Selatan Ki Buyut Rara  Réwa Sakti, sebelah Timur Ki Buyut Antu Laut, sebelah Utara Ki Buyut Dharnéng dan sebelah Barat Ki Buyut Anjréng. Dan juga yang berada di Palawangan Kuta Carbon ialah Ki Buyut Kalajaya.

Putra keenam Prabu Siliwangi dari bangsa siluman ialah Buyut Sang Maya Dhéwata, yang menurunkan dedemit yang ada di Perbatesan Carbon ; Perbatasan sebelah Barat Ki Buyut Puter, Perbatasan sebelah Utara Ki Buyut Siput, Perbatasan sebelah Timur Ki Buyut  Geter Puter, Perbatasan sebelah Selatan Ki Buyut Kerutun. Para Kebuyutan tersebut sangat melindungi Desa-desa yang ada di perbatasan wilayahnya masing-masing. Adapun yang berada di Carbon disebut Syéh Sadatullah.

Para Kabuyutan yang menjaga Carbon semuanya pada berkumpul, karena pada waktu itu Carbon berupa Desa masih belum jadi Negara. Adapun sebagai Pemuka Masyarakat adalah seorang Kuwu yang berada di Tegal Pangalang-Ngalang yang merupakan cikal-bakal Carbon dan sebagai tempat Pakasaban, pekerjaan. Adapun pekerjaan Ki Kuwu pada waktu itu ialah mengambil udang rebon dari laut yang digunakan untuk membuat terasi. Terasi itu kemudian dipergunakan untuk membayar Pajak ke Negara Pajajaran. Adapun sebagai tempat pasarnya adalah Pajajaran juga dan sebagai harta/hasil buminya adalah masih kentang, kentang ini juga sebagai kebutuhan belanja hidup untuk sehari-harinya.

Putra Prabu Siliwangi ketujuh yang berasal dari bangsa siluman ialah Ki Sang Tulara, kemudian menurunkan para Buyut yang menjaga bermacam-macam bangunannya anak cucu Prabu Siliwangi dari trah manusia yang jumemeng Raja. Buyut Kala Buwana, dan Buyut Anoman Jaya yang menjaga tanah tegalan arah-arah, ataupun rawa-rawa. Buyut Nyi Mas Rarangkungan menjaga pedaleman Negara,  Buyut Nyi Rara Gandik menjada bangunan Siti Hinggil. Buyut Kalawisesa menjaga astana, makam yang wingit, ada juga yang suka menunggu petani gedhe ialah Ki Buyut Sang Tés Buana, atau Ki Buyut Bur Putih. Mereka semua itu bangsa siluman yang menjaga anak cucu manusa Jawa.

Itulah trah dari Galuh Pajajaran yang pada menjaga, jika mereka menampakan diri ada yang berupa harimau ataupun burung. Mereka secara bergiliran menjaga menjadi kemit kepada sesama anak cucu Galuh Pajajaran, oleh karena itu petilasan-petilasan wong agung menjadi hangat pribawanya dan suka menolong mengusir pengaruh jahat yang ditimbulkan oleh sesama bangsa dedemit yang bersifat jahat.

Harga buku Rp. 150.000,- (sdh ongkir), 539 halaman, HVS, BW, DILENGKAPI DENGAN TRANSLITERASI TEKS ASLI DAN PHOTO NASKAH ASLINYA.

Pembayaran:

BANK: BRI Gunungjati Cirebon

NOREK: 0406 – 01 – 000 – 966 – 533

AN: Muhamad Mukhtar Zaedin

Kemudian beritahu saya bukti transfer nya, selanjutnya beri tahu saya alamat kirim yg dikehendaki

Kontak Person Muhamad Mukhtar Zaedin:

HP: 081911312907

WA/LINE: 081322990419

BBM: 538c41dc