Pertalian Cirebon dan Demak

Januari-2012

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Perkenankanlah kami menceritakan Sejarah Ampel Denta; Rasulullah saw berputra Fatimah, Fatimah berputra Husen, kemudian Husen berputra (h. 1) yang bernama Zaenal Abidin, Zaenal Abidin berputra Zaenal Kabir, Zaenal Kabir berputra Jumadil Kabir, Jumadil Kabir kemudian berputra Samsu Tamres atau Wiku Mustakim yang menikah dengan seorang putri dari Cempa yang bernanama Rara Sujinah. Kemudian pasangan Samsu Tamres dengan Rara Sujinah melahirkan dua anak laki-laki yang bernama Raden Rahmat dan Raden Aliman. Tidak lama kemudian Raja Cempa meninggal dunia dan digantikan oleh putranya yang bernama Shoklim menjadi raja Cempa. Adiknya yang bernama Ghalib Hurairah yang selalu dengan Raden Rahmat bersama-sama selamanya di kemudian hari mereka bertiga mendatangi pulau Jawa untuk menemui uwaknya yang menjadi permaisuri Raja Majapahit. Permaisuri Raja Majapahit itu adik dari Rara Sujinah yang bernama Endarwati Kamulyan.

Raden Aliman, Raden Rahmat, dan Ghalib Hurairah ternyata diterima baik oleh (h. 2) Raja Majapahait sehingga mereka bertiga berdiam lama di kerajaan Majapahit. Setelah mereke bertiga berdiam lama di Majapahit akhirnya mengetahi bahwa Raja Majapahit masih memeluk agama Budha. Setelah mengetahui keadaan ini maka mereka bertiga menghadap kepada Raja Majapahit untuk menyampaikan agama Islam dan agar Raja Majapahit mau dengan suka rela untuk memeluk agama Islam. Mendengar ajakan itu Raja Majapahit menolak untuk memeluk agama Islam dan sang raja masih kuat memegang agama Budha, kemudian sang raja berkata: “Janganlah kamu salah dalam bertindak terhadap orang tua yang sangat baik sekali ini. Agar kalian menjadi besar dan berkembang di Majapahit ini, nanti suatu ketika kalian akan saya nikahkan dengan seorang putri yang sangat cantik dan elok dari Bupati Tuban yang bernama Rara Suteja Nirmala. Rara Suteja Nirmala ini sangat pantas jika dinikahkan dengan Raden Rahmat dan karena Raden Rahmat sangat pantas jika menjadi menantu Aria Tuban.

Adapun Raden Aliman sebaiknya dinikahkan dengan putri Aria Madura, dan adapun Raden Ghalib Hurairah tampaknya sangatlah pantas jika menjadi menantu Ki Aria Beringin yang bernama Rara Manila yang masih bersaudra dengan Rara Fatimah Rara Teja. Kalian bertiga saya perkenankan (h. 3) untuk mengajarkan agama Islam. Adapun Raden Rahmat sebaiknya mengajarkan agama Islam di Ampel Gading. Raden Aliman mengajarkan agama Islam di Surabaya. Dan adapun Raden Ghalib Hurairah sebaiknya mengajarkan agama Islam di Gresik. Kalian diperbolehkan mengajarkan agama Islam sesukanya dengan membimbing para santri dengan tuntunan yang kuat. Kalian janganlah mencampurkan antara agama dengan drigama.” Ketiga putra Campa itu menyetujui pendapat dan usulan dari Raja Majapahit. Raden Ghalib Hurairah kemudian berdiam di Gresik dan mendirikan pesantren. Raden Ghalib Hurairah memiliki seorang putri yang bernama Nyi Gedeng Tandawaruh dan seorang putra yang bernama Ki Masyaikh Ghos Ghiyas yang sangat gemar bertapa sehingga sangat disayangi dan dikasihi olehnya, karena Ki Masyaikh Ghos Ghiyas merupakan keturunan dari Samsu Tamres seorang wali yang sangat kuat bertapa hingga sembilan tahun tidak menyentuh wadah garam, menghindari rasa asin. Raden Aliman bermukim di Surabaya membangun pondok pesantren kemudian memiliki dua orang putra. Putra yang pertama bernama Haji (h. 4) Usman yaitu yang bergelar Pangeran Karang Kemuning yang tinggal di wilayah Jepara. Putra yang muda bernama Khalifah Husen yang sangat gemar bertapa. Raden Rahmat bermukim di Ampel Gading hingga mashur namanya disebut dengan julukan Sunan Ampel. Kemudian Sunan Ampel memiliki sembilan putra dan putri, yang perempuan bernama Nyahi Gede Pancuran yang berada di wilayah Tuban. Putra yang kedua bernama Nyi Gedeng Wilis yang menikah dengan Khalifah Nur Raga putra dari Arya Pecat Tanda yang masih kerabat dengan Rara Manila. Putra Sunan Ampel yang ketiga ialah bernama Nyi Gedeng Malaka. Putra keempat laki-laki bernama Makhdum Ibrahim yang kemudian bergelar Sunan Bonang yang menikah (h. 5) dengan seorang putri bangsawan dari Tuban. Putra kelima Suanan Ampel ialah laki-laki yang bernama Masyaikh Mumat yang kelak bergelar Pangeran Drajat. Putra Sunan Ampel yang keenam dari istri yang lain ialah Raden Mamuta. Putra yang ketujuh ialah seorang laki-laki yang bernama Raden Sya’ban. Putra Sunan Ampel yang kedelapan ialah seorang wanita yang bernama Nyahi Mindra. Putra yang kesembilan bernama Nyahi Saili yang memilik putri yang bernama Nyahi Aliyin yang tinggal di dalam Masjid yang bertembok keliling. Adapun Nyi Gedeng Pancuran menikah dengan Haji Usman yang tinggal di Karang Kemuning yang ada di wilayah Jepara. Perkawinan Nyi Gedeng Pancuran dengan Haji Usman mempunyai dua orang putri yang bernama Nyi Pembayun dan Nyi Wuragil. Nyi Pembayun menikah dengan Haji Usman Tayum. Kemudian memilik anak laki-laki yang bernama Sunan Undung. Nyi Wuragi menikah dengan seseorang yang bernama Makhdum Sampang dan memiliki tiga (h. 6) orang anak yang salah satunya bernama Ki Makhdum Langgar. Kemudian putra yang lain bernama Kiyahi Thoyib dan Nyi Kusuma yang berputra Syekh Abiduddin yang nanti menjadi Kadi di Kesultanan Demak. Adapun Nyi Gedeng Malaka yang menikah dengan Khalifah Husen itu memilik empat orang anak. Anak yang laki-laki bernama Raden Bandar yang menikah dengan Nyi Tulis yang masih kerabat dengan Masyaikh Khami putra dari Ki Gedeng Wilis memiliki anak perempuan yang bernama Nyi Sariyah yang menikah dengan Sunan Undung. Sunan Undung dan Nyi Sariyah memiliki putra yang bernama Sunan Kudus yang sangat agung dan mulia. Ada salah satu dari anak Nyi Gedeng Malaka yang perempuan yang bernama Nyi Layang yaitu yang menjadi isteri Sultan Demak Pertama yang bergelar Abdul Fatah. Pernikahan Nyi Layang dan Sultan Demak Raden Fatah mempunyai dua orang putra yaitu (h. 7) Pangeran Sabrang Lor yang menjad Sultan Demak kedua. Anak yang lain dari Raden Fatah dengan Nyi Layang ialah Pangeran Trenggono yang menjadi Sultan Demak ketiga. Begitulah keturunan orang-orang mulia yang bercampuran dengan menikahkan anak-anaknya dengan kerajaan lain terus berkesinambungan hingga zaman ke zaman yang keturunan mencerminkan sebagai keturunan para wali.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s