Perjalanan Sang Wali Syekh Syarif Hidayatullah dalam Nasihat Sang Bunda

Kemudian Syarif Hidayat merasakan keajaiban, terasa dirinya masuk kedalam awan dan seperti dituntun kebawah oleh angina dan awan, hingga akhirnya tiba di negara Ajam. Dikisahkan di negara Ajam, sang Raja tengah mengadakan pertemuan dengan pendita-pendita dan para pengikutnya. Pertemuan membahas makna Ilmu yang Mulia. Tiba-tiba semua menjadi gempar, karena siang hari menjadi gelap bagaikan malam, semua bertanya Tanya apakah gerangan penyebabnya. Kemudian mereka melihat kedatangan seorang pemuda. Wajahnya jernih memancarkan cahaya, sebagian dari yang hadir mengira bahwa bangsa Jin-lah yang menampakkan diri itu. Akan tetapi Raja Ajam tahu bahwa patutnya yang datang itu adalah seorang Wali yang luhur, kedatangannyalah yang telah menyebabkan kegemparan tadi. Sang raja segera menyampaikan salam hormatnya dan beserta seluruh pengikutnya semua menyampaikan bakti kepada yang baru tiba. Raja Ajam berkata, “Tuan tinggalah di negara kami, kami mohon syafa’at bagi kami semua”, permintaan itu dijawab oleh Syarif Hidayat, “Insya Allah nanti saja dikemudian hari karena sekarang aku harus meneruskan perjalananku.”

Setelah berkata demikian sang Wali lalu meninggalkan mereka dan meneruskan perjalanannya ke negara Banisrail, untuk segera berjumpa dengan ibundanya. Tidak dikisahkan dalam perjalanannya, Syarif Hidayatullah telah tiba di Banisrail dan segera menghadap kepada ibundanya. Melihat kedatangan anak yang dikasihinya itu Nyi Mudaim menangis dengan harunya, “Ya Allah, Syarif permata hatiku, sepergimu ibu sangat risau dan khawatir, ibumu menjadi seperti orang gila merindukanmu. Dan itu adikmu juga telah mencarimu tanpa hasil, darimana saja engkau sayang. Pamanmu juga mencari menelusuri hutan dan gunung, meskipun demikian mereka tidak berhasil menemukanmu. Pamanmu sangatlah berduka. Setiap kembali ke istana keadaannya masih sepi taka da berita sama sekali. Para Raja-raja di Banisrail selama ini semua merasa prihatin memikirkanmu. Anakku bagaimanakah yang engkau cari, apakah sudah kau peroleh.” Sang Putra menjawab, “Berkah Ibu, aku telah berjumpa dengan Yang Sejati di Masjid Ghoib. Telah disampaikannya uraian kekuatan yang sejati kepada diriku. Kepada ibu harus berbakti dan ananda harus berkunjung ke Ka’bah, dan juga hamba disuruh mencari guru yang utama. Itulah yang dipesankan kepada ananda.”

Sanak saudara serta seluruh rakyat di Banisrail sudah mengetahui bahwa rajanya telah kembali, mereka semua datang menghadap. Juga paman Pati datang menemuinya dan berkata, “Sekarang anakku telah memiliki wilayah Banisrail ini, maka sudah tiba saatnya ananda dinobatkan.”Permintaan itu dijawab oleh Syarif Hidayat, “Paman jangan sekarang dahulu, hamba masih jauh dalam langkah perjalananku. Hamba akan melaksanakan apa yang dinasihatkan oleh Nabi. Hamba disuruh mengunjungi Baitullah dan disuruh mencari guru yang utama.”

Ibunya berkata, “Engkau kuizinkan pergi anakku,”akan tetapi berhati- hatilah. Aku bekali engkau seribu dinar dan tasbih peninggalan ayahmu, lumayan untuk penolak bala. Juga bawalah serta para pengawal.” Kemudian di jawab oleh sang anak,” Baiklah ibu, akan tetapi mengenai pengawal aku tak akan membawa pengawal seorangpun, akan tetapi pemberian ibu uang seribu dinar itu akan kubawa, barangkali menemui halangan atau kekurangan. Ibu, ananda mohon nasihat untuk menjalani hidup yang akan kujalani ini.” Sang ibu berkata dengan lembut :

“He anak isun gusti, sira aja malar kacung ya ingkang ngebat-tebat. Kacung aluku kang bedami, lawan aja turu yen ora arip, lawan sira aja mangan yen ora katekan ngelih, lawan aja nginum sira yen ora katekan garing. Iku kang telu perkawis, ya lakunana kacung lawan aja sumakeyan ingkang iku ora becik. Ingkang becik anardiri ing manusa. Datan bathi wong takabur, yaiku temahe dhoip. Balik pasraha ing Allah, tur kuat temahe dadi. Sira nyawa kang sun puji, anemua giri sarku tasik legi.”

(Anakku terkasih, dalam hidup ini janganlah kamu berlebihan. Anakku utamakanlahberdamai. Janganlah tidur kalau tidak mengantuk, dan janganlah makan kalau tidak lapar, dan janganlah minum kalu tidak haus, itulah tiga perkara yang harus kau ingat. Janganlah angkuh, karena hal itu tidak baik, dan berbuatlah selalu kebaikan kepada sesama manusia. Tak ada untungnya engkau takabur, karena itu mengakibatkan kelemahan. Serahkanlah kepada Allah sehingga kesudahannya engkau akan menjadi kuat. Engkau kekasih yang kupuja, carilah gunung kebahagiaan dan danau kenikmatan.” Selesai menerima nasihat itu sang anak lalu bersimpuh di pangkuan ibundanya.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s