Pangeran Walangsungsang menjadi Sang Gagak Lumayung

Gagak Lumajar adalah sebutan lain untuk Gagak Lumayung, Sang Pangeran Walangsungsang

Tidak dikisahkan lamanya, pada suatu hari Haji Abdul Iman datang menghadap Raja, dan menyampaikan keinginannya untuk pulang kembali ke tanah Jawa. Permintaan itu dikabulkan oleh Sultan Hud dan Pangeran Cakrabuana pun kemudian berlayar meninggalkan Mesir, pulang ke Tanah Jawa. Dalam perjalanan ini sang Pangeran singgah di negara Pasai.

Disini dia berguru kepada seorang guru agama yang berilmu tinggi yaitu. Syekh Maulana Datuk Sidiq, guru yang mengajarnya ma’rifat yaitu pandangan mengenai sifat-sifat Ketuhanan. Disini Haji Abdul Iman kemudian diganti namanya oleh Sang guru menjadi Pangeran Gagak Lumajar. Setelah selesai menuntut ilmu, Pangeran kemudian mohon diri untuk meneruskan perjalanannya pulang ke negara Sunda. Begitulah Pangeran Gagak Lumajar berlayar melanjutkan perjalanan pulang. Tidak dikisahkan pelayarannya maka akhirnya kapalnya tiba di Gunung Kentaki, sebuah bukit yang berada di tepi laut, yang disebut juga Gunung Sembung. Babad Sinungpuri menyebutnya dengan nama Gunung Amparan. Setibanya di Pulau Jawa sang Pangeran teringat akan adiknya Rara Santang dan keponakannya Syarif Hidayatullah, keinginannya tak lain bahwa kelak di kemudian hari mereka dari Mesir Banisrail itu akan datang mengunjunginya di tanah Jawa.

Dikisahkan kemudian, Pangeran Gagak Lumajar lalu memperoleh seorang isteri, yaitu putri dari Kyai Kuwu Carbon, yang berkuasa di Siti Wungkuk (Lemah Wungkuk). Siti Wungkuk terletak di daerah yang sekarang dikenal sebagai daerah Kraton Kanoman. Pada waktu itu, kuwunya bernama Kyai Kuwu Srimaana, mempunyai anak perempuan bernama Kancana Larang yang kemudian diperisteri oleh Pangeran Gagak Lumajar. Begitulah setelah lama bersuami isteri mereka kemudian dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik rupawan, yang diberi nama Nyi Mas Pakungwati. Nyi Mas Pakungwati ini kelak menjadi penguasa di Jalagrahan dan kelak menjadi penguasa di Kasepuhan, yang pada waktu itu belum dikenal dan masih menjadi asal muasal. Lalu Nyi Mas Pakungwati memperoleh seorang adik laki-laki, yang diberi nama Pangeran Carbon. Cicit laki-laki yang menjadi idaman sang kakek (buyut) Kuwu Carbon Srimangana.

Penguasa Siti Wungkuk ini adalah orang pertama yang menerima agama Islam yang diajarkan oleh mantunya. Begitulah Pangeran Gagak Lumajar kemudian menjadi Guru agama di Gunung Kentaki. Dikisahkan banyak yang datang berguru kepadanya dan masuk agam Islam, baik yang datang dari sebrang maupun dari tanah Jawa.

Raja Pajajaran kemudian mendengar bahwa anaknya sekarang telah menjadi guru agama Islam dan sudah menyebarkan pengaruhnya di Tanah Sunda . Sang Ayah lalu memutuskan untuk mengirimkan payung, lante lan kandaga kang adi-adi (payung kebesaran, tikar dan peti yang indah-indah) kepada putranya dan kemudian sang anak diangkat menjadi Arya Santang Lumajang. Kekuasaannya meliputi daerah pesisir mulai dari gunung Kromong ke timur hingga batas kali Cipamali di selatan berbatas Ratujunti dan di utara Carbon Girang batasnya. Itulah batas awal kekuasaan Carbon yang diberikan oleh Raja Pajajaran kepada anaknya. Dengan demikian Arya Lumajang, diberi kekuasaan untuk memimpin daerah pantai. Setiap tahun Carbon diharuskan mengirim pajak berupa terasi ke negara Pajajaran. Selama pemerintahannya di Carbon, Arya Lumajang memenuhi kewajiban ini secara teratur.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s