Pangeran Panjunan

Dikisahkan kemudian anak Sultan Bagdad, yang juga masih keturunan Rasulullah bernama Pangeran Abdul Rochman beserta adik perempuannya bernama Siti Bagdad dan keponakannya Syekh Datuk Khapi mendarat di Carbon. Konon asal mula mereka meninggalkan negaranya adalah karena mendapat murka dari ayahandanya. Mereka diusir beserta semua pengikutnya dalam tiga buah kapal yang berisikan lima ratus orang disetiap kalal sampai akhirnya mereka tiba di Carbon. Setibanya di Carbon anak Sultan Bagdad segera menghadap Arya Lumajang dan mohon izin untuk diperkenankan tinggal di Carbon. Permintaannya disetujui oleh Arya Lumajang dan mereka semua ditempatkan di daerah Panjunan, kemudian Sayid Abdul Rochman ini dikenal dengan nama Pangeran Panjunan. Pangeran ini kemudian dikisahkan mendirikan Mesjid di Panjunan yang pada waktu itu belum ada Mesjid yang lainnya. Para pendatang ini ternyata masih membawa sifat dari negara asalnya di seberang. Pada waktu itu anak buah sang Pangeran berkeliaran di Carbon, dengan tidak mengenal tata tertib, apa yang dikendakinya harus dipenuhi. Mereka tidak peduli kepada orang lain, tingkah laku orang Panjunan ini sekendak hatinya. Kuwu Carbon sangat prihatin mendengar semua ini.semnetara penduduk yang ada kemudian menghadap Sunan Kalijaga dan menanyakan apakah mereka ini yang bakal menjadi Raja,karena semuanya menduga demikian. Dijawab oleh Sunan Kalijaga bahwadugaan itu tidak benar, tidak boleh orang Bagdad menjadi Raja di Carbon, karena bukan warisnya. Dikatakannya bahwa kelak seorang bangsawan akan tiba, seorang bangsawan keturunan Rasulullah, yang akan datang dari Mesir. Dialah yang dipercaya dan yang akan mewarisi pusaka ibunya di Carbon.

Begitulah kemudian penghuni Panjunan menyebar mengikuti keinginannya masing-masing, mereka berumah tangga di kota-kota dan di desa-desa baik di Desa Kejaksan, Junti, Sembung, Japura dan juga di Kalisapu. Tetapi walaupun demikian mereka tetap menerima perintah dari Panjunan. Mereka tak mau diperintah oleh lainnya. Kalau ada yang memerintah maka mereka akan melawannya dengan sekuat tenaga. Begitulah sifat para pendatang dari Bagdad itu, mereka akan mendebat bila diperintah, dan mereka pun pintar dalam bicaranya.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s