Kelahiran Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah, atau Maulana Insan Kamil

Babad ini mengisahkan sejarah Wali yang tinggal di Pulau Jawa. Sejarahnya dimulai dari Nabi Muhammad saw, yang berputeri Siti Fatimah istri dari Sayidina Ali. Fatimah berputra Husein yang taat beribadah, dan Husein berputra Zainal Abidin. Zainal Abidin berputra Zainal Kabir. Zainal Kabir berputra Jumadil kabir, yang menjadi raja besar di negara Quswa. Jumadil Kabir berputra Raja Odhara, yang bertahta di mesir dan Raja Odhara ini berputra Sultan Hud yang berkuasa di negara Banisrail. Sedangkan yang menjadi patihnya, masih anggota keluarganya bernama Patih Ngungun.

Dikisahkan kemudian bahwa di negara Banisrail, isteri Sultan Hud meninggal dunia. Tidak lama kemudian Sultan pun mengirim utusan ke seluruh pelosok negeri untuk mencari penggantinya, mencari seseorang putri yang setara dengan yang telah tiada. Karena kesungguhannya utusan itu mencari, akhirnya mereka berjumpa dengan kakak beradik yang tengah menunaikan ibadah haji dari negara Pajajaran yaitu Pangeran Cakrabuana dengan adiknya Nyi Rara Santang, yang kecantikannya mirip dengan isteri Sultan yang telah tiada. Utusan raja lalu menyapa kedua pengembara ini, “Wahai saudaraku yang baru berjumpa, dan yang kami hormati”, dan kemudian utusan itu mengutarakan kepada keduanya bahwa Sultan berkeinginan untuk bertemu dengan mereka. Pada hari yang sama keduanya dibawa menghadap Sultan di istana, di negara Banisrail. Setibanya di istana, Sultan segera menyambut keduanya, dan menyapanya, “Tuan berdua, ceritakanlah kepadaku siapakah gerangan orang-tua tuan-tuan sekalian, dimanakah negara tuan, siapa yang menunjukkan tuan kemari, dan siapakah gerangan nama tuan berdua”, demikian tuturnya dengan ramah.

Pertanyaan tersebut segera dijawab oleh Pangeran Cakrabuana. “Kami berdua berasal dari tanah Sundayang berada di Pulau Jawa, orang tua kami adalah raja Sunda. Asal mulanya maka hamba bersama adik hamba beribadah haji adalah, walaupun kami tidak mendapat izin dari ayahanda untuk masuk agama islam, akan tetapi karena sangat besarnya keinginan kami berdua, maka kamipun pergi meninggalkan negara Sunda. Sedangkan ayah kami saat ini masih belum menerima agamanya Rasulullah.

Selanjutnya Sultan menanyakan siapa yang telah meng-Islamkan keduanya dijawab oleh Pangeran Cakrabuana, “Yang meng-Islamkan kami berdua adalah guru kami yang bernama Kyai Sekh Muhammad Idhopi, yang tinggal di Gunung Surandil. Beliaulah yang telah memberikan petunjuk kepada hamba dalam menjalani hidup ini, dan kemudian hamba disuruhnya mengunjungi Ka’bah Allah. Adapun nama hamba ialah Cakrabuana, dan adik hamba yang sederhana ini bernama Dewi Rara Santang .”

Setelah saling berkenalan kemudian Sultan mengutarakan keinginannya kepada Pangeran Cakrabuana, “Bilamana diizinkan aku akan meminta adikmu. Permintaan ini kusampaikan dengan harapan keridhoan dan ketulusanmu, dan juga karena Allah, jika tuan perkenankan adikmu akan ku peristeri” . Permintaan ini dijawab oleh Cakrabuana, “Hamba tidak berkeberatan akan kehendak paduka raja, akan tetapi adikku telah dewasa, silahkan Baginda menanyakan langsung kepadanya, akan baik buruknya kehendak baginda.”

Sultan pun berkata kepada Dewi Rara Santang, “Dewi, dengan kehendak yang tulus dan dengan kehendak Allah, aku ingin memperisterimu.”Sang putri tak bisa menjawab permintaan yang baru pertama kali didengarnya itu, apalagi diajukana oleh seorang laki-laki terkemuka seperti itu. Sultan pun segera mengerti akan perasaan Sang putri yang tengah menahan perasaannya itu. Maka dengan cepat Sultan bersabda, “Aku akan menyepi di Gunung Tursinah, disana ada jurang yang dalam dimana aku akan membuat perjanjian dengan dirimu. Harus dilakukan di gunung itu, ajaklah saudaramu untuk mengikuti dari belakang dan juga bersama penghulu yang bernama Jalaluddin, suruhlah dia juga mengikuti dari kejauhan.”Lalu Sultan pun pergi meninggalkan istananya, tujuannya ke arah timur. Dikisahkan setelah melakukan perjalanan jauh, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ditempat itu lalu Sultan menyampaikan lagi keinginannya untuk mempersunting sang putri. Disampaikannya berulang-ulang sampai tiga kali. Yang ditanya pun akhirnya menjawab, “demikian jawab Rara Santang, “Baiklah baginda hamba bersedia tuan peristeri, kalau permohonan hamba yang satu ini dapat dikabulkan. Permohonan hamba ialah kalau kelak hamba mempunyai anak laki-laki, hendaknya dia diperkenankan untuk kembali ke Pajajaran, untuk menyerbarluaskan iman suci. Bilamana baginda bersedia memegang janji akan memenuhi permintaan hamba ini, hamba tak akan menolak keinginan baginda’’. Mendengar permohonan demikian Sultan Hud bimbang hatinya. Dalam kebimbangan tiba-tiba terdengar suara dalam jurang, “He Raja Hud sanggupilah permintaan putri itu, kelak bila sudah tiba waktunya, dengan janji Allah permintaan itu akan terpenuhi.

Maka Sultan pun menjawab, “Baiklah kusanggupi permintaan itu.”Manakala janji itu diucapkan terdengar suara gemuruh dari lambung gunung, berulang-ulang sampai tiga kali. Demikianlah sifat gunung itu bilamana ada yang membuat perjanjian. Dengan telah dikabulkannya permintaan sang putri, maka urusanpun sudah selesai sudah. Selesai sudah perjanjian dengan sang putri. Maka mereka pun kembali ke istana untuk melangsungkan upacara pernikahan. Semua Raja yang dihormati di Banisrail datang menghjadiri perkawinan Sultan dengan Dewi Rara Santang. Para tamu bersuka cita siang dan malam. Setelah menjadi isteri Raja maka Dewi Rara Santang pun berganti namanya menjadi Nyi Syarifah Mudaim, dan sang Dewi menjadi permaisuri yang dimuliakan di negara Banisrail. Raja sangat mengasihinya melebihi dari yang lainnya, dan kemudian dikisahkan bahwa putri itu pun mengandung. Adapun sang kaka, Pangeran Cakrabuana, yang juga bermukim di negara Banisrail, namanya diganti oleh Sultan Banisrail menjadi Haji Abdul Iman.

Cepatnya kisah, putri yang hamil itu kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Mendengar berita ini sang ayah segera datang menengok bangsawan kecil ini. Tak terlukiskan kebahagiaan hatinya atas kelahiran putranya ini. Sudah menjadi adat di Banisrail, bilamana ada anak bangsawan lahir maka akan dibunyikan tanda-tanda kerajaan, tabuhan Tabbal Ibrahim dan bedil emas yang dibunyikan siang dan malam, para Raja semua bersuka cita. Begitulah anak bangsawan ini kemudian diberi nama, sebuah nama yang sangat indah yaitu Syarif Hidayatullah. Wajahnya sangatlah tampan, semua raja di Banisrail datang mengunjunginya.

Ketika berusia tujuh bulan, Syarif Hidayatullah dibawa ayahandanya mengunjungi makam Nabi Muhammad di Madinah. Bilamana di Jawa, usia itu adalah saat bayi menginjak tanah atau di sebut Tedak Siti. Di Makam Nabi, tengah Sultan berdo’a tiba-tiba terdengar suara di telinganya,”He Sultan Hud, anakmu ini kelak akan menjadi Raja di Tanah Jawa, dia akan mewarisi pusaka ibunya. Anakmu ini tidak akan menjadi Raja di Mesir.”mendengar bisikan tersebut, Sultan pun bersyukur kepada Yang Maha Agung, dan kembali ke istannya di negara Banisrail.

Dikisahkan Puteri Mudaim kemudian hamil lagi, dan setelah tiba waktunya kemudianlahir seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Syarif Nurullah. Setelah berusia tujuh bulan, bangsawan kecil ini pun juga dibawa kemakam Nabi. Sultan berdo’a lagi, dan kemudian terdengar lagi suara yang mengatakan, “Anak ini kelak akan mempunyai nama besar, dia akan menjadi Raja di negara Mesir membawa pusaka sang ayah.” Begitulah sultan bersyukur kepada Yang Maha Esa dan kemudian kembali ke Istananya di Banisrail.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s