Isra dan Mikraj Sang Wali Kutub Syekh Syarif Hidayatullah

Kembali dikisahkan di negara Banisrail, Sultan Hud meninggal dunia meninggalkan kedua anaknya yang masih belum dewasa. Oleh karena itu maka pamannya, Patih Onka kemudian diangkat untuk mewakili, sementara kedua anak Sultan itu masih belum dewasa. Begitulah setelah Syarif Hidayat menginjak usia dewasa yaitu berusia dua belas tahun, maka segera dibuat persiapan untuk penobatannya. Akan tetapi pada suatu hari Syarif Hidayatullah menemukan sebuah Kitab di Gedung Agung, sebuah kitab yang ditulis dengan tinta emas sebuah kitab yang bernama Kitab Usul Kalam. Kitab ini memperinci hakekat Nabi Muhammad dan menjelaskan mengenai Allah Yang Maha Suci. Setelah membaca buku ini Syarif Hidayatullah menjadi risau hatinya, timbul keinginannya untuk bertemu dengan Rasulullah. Maka diapun segera menjumpai ibundanya untuk mohon ijin akan pergi mencari Nabi Muhammad SAW.

Alangkah terkejutnya sang ibu mendengar keinginan putranya itu, berkata Nyi Mudaim, “anakku, bukankah Nabi Muhammad itu sudah meninggal dunia, dan telah dimakamkan di Madinah. Anakku, bagaimana mungkin ananda bisa berjumpa dengan beliau. Sudahlah anakku, janganlah engkau pergi.”Akan tetapi sang anak demikian risau hatinya, keinginannya untuk pergi tak dapat ditahan lagi.

Sang ibu sangat khawatir, dia segera memberitahu kepada Ki Patih pamannya, yang dengan tergopoh-gopoh lalu segera menemuinya. Berkata sang paman,“Ananda, janganlah anandamengikuti kata hatimu, lihatlah itu para Raja di Banisrail telah berkumpul semua. Semua berkumpul hendak menobatkan ananda, menjadi Sultan Banisrail.”kemudian di jawab oleh Syarif Hidayatullah, “Pamanda, mengenai hal itu terserah paman saja, akan tetapi sekarang ini keinginan hamba telah teguh yaitu untuk mencari Nabi Muhammad.” Sang paman terus mencoba membujuknya, dengan lemah lembut dia berkata, “Anakku, bukankah Rasulullah itu sudah meninggal di Madinah?” pertanyaan itu dijawab oleh Syarif Hidayatullah, “Paman aku tidak menganggap beliau telah meninggal, karena itu adalah urusan Allah yang bersifat Maha Pengasih. Apakah paman pernah mendengar ada orang mati yang datang menemui orang hidup, memang Allah itu Maha Kuasa. Susah atau mudahnya kita serahkan kepada Yang Widhi”, setelah berkata demikian pemuda Syarif segera pergi meninggalkan istana Banisrail.

Syarif berjalan dengan cepat, semua yang hadir mencoba mengejarnya, dia mengayunkan langkahnya keraha selatan. Para Bangsawan yang hadir bubar semua dan menyusul tuannya yang tak tentu hilangnya itu. Mereka mencari dengan menyusuri gunung dan hutan, akan tetapi tidak seorangpun yang berhasil menemukannya. Seolah-olah penglihatan merekasemua ditutup oleh Yang Maha Suci. Begitulah Syarif Hidayat terus berjalan mencari Rasulullah, gua dan jurang dimasukinya. Sudah tiga hari dia mencari, akan tetapi belum memperoleh apa-apa, hingga kemudian dia berjumpa dengan seekor Naga besar yang rupanya sangat dahsyat. Naga itu melingkar bagaikan gunung dengan badan yang tak hentinya menggeliat. Sisiknya berkilauan bagaikan gemerlapnya kilat, dengan nafas yang mendengus dengus.

Melihat ada yang datang, sang Naga mengangkat kepalanya dan tertawa dengan suara keras bagaikan halilintar dengan bahasa manusia sang Naga berkata, “Hei manusia, darimana asalmu berani datang kemari, tidak biasanya ada orang yang datang kesini, karena disini bukanlah tempatnyamanusia.” Pemuda Syarif menjawab, “Aku ini tengah tersesat, niatku akan mencari Nabi Muhammad yang ternama.” Sang Naga lalu berkata, “Rasulullah itu telah wafat dan dimakamkan di Madinah, ananda tak mungkin bisa menemuinya.” Pemuda itu kemudian menjawab, “Aku tidak menganggap Rasul telah wafat, karena itu adalah urusan Allah Yang Maha Kuasa, bukankah Allah itu bersifat Maha Pengasih dan Penyayang?.” Mendengar jawaban demikian maka sang Naga pun berkata, “Kalau nanti ananda dapat berjumpa dengan Nabi, jangan lupa sampaikan salawatku kepada Rasulullah. Sudah lama ananda mencari, sekarang laluilah terowongan itu. Akan tetapi langkah ananda harus dipercepat karena terowongan itu tempat dimana setan-setan berada.”Kemudian pemuda itupun mohon diri kepada sang Naga untuk melanjutkan perjalanannya. Sudah satu jum’at lamanya dia berjalan mencari Rasulullah.

Melepaskan lelahnya pemuda Syarif berhenti di bawah pohon Cemara putih, dia merasa lelah karena sudah sepuluh malam berjalan tidak makan dan tidur. Tengah dia duduk sambil mengurut-urut di bawah kaki pohon Cemara putih itu, tiba-tiba ada seorang tua datang mendekat. Melihat pemuda Syarif si kakek lalu bertanya dengan suara lantang, “Anak muda, darimana kau datang dan apa yang kau lakukan disini?”

Dijawab oleh pemuda Syarif dengan sopan, “Hamba tengah berusaha untuk bertemu dengan Nabi Muhammad Nurbuat, dan kakek ini hendak pergi kemana, bertemu dengan hamba ditempat yang sunyi ini. Kemakah gerangan yang dituju hingga nafas kakek terengah engah demikian.” Sang Pandita menjawab, “Aku ini bernama Pandita Ngapini, aku bermaksud akan mengunjungi makam Nabi Sulaiman di Pulau Majeti, aku akan mencari berkah.”

Mendengar itu pemuda Syarif pun tertarik untuk pergi bersama sang kakek. Maka berkata pemuda Syarif dengan penuh kesopanan,“Bilamana diperkenankan, izinkanlah hamba pergi bersama kakek.” Kakek Ngapini berkata, “Baiklah, akan tetapi tunggulah dahulu disini, karena kakek akan mencari air susu untuk minumnya Naga Guwing disana. Susu itu sebagai syarat bagi naga yang menjaga makam itu. Diantara naga-naga penjaga yang buas itu, ada satu naga yang baik kepada manusia, bilaman buih keluar dari telinganya maka buih itu dapat dipergunakan untuk menidurkan naga-naga yang lain.” Setelah berkata demikian kakek Ngapini pergi.

Tidak lama kemudian dengan membawa air susu, mereka pergi bersama-sama, dan dikisahkan keduanya telah tiba di Pulau Majeti, dimana makam Nabi Sulaiman berada. Sang naga yang mengasihi pendeta Ngapini sudah ditemui, dan pendeta Ngapini lalu memberikan air susu yang dibawanya. Lalu buih pun keluar dari telinga sang Naga yang cepat-cepat diambilnya dan dipakai sebagai sirep bagi naga-naga yang lainnya. Naga-naga itupun kemudian tertidur lelap semuanya.

Pendita Ngapini bersama pemuda Syarif lalu meamsuki ruang makam. Didalamnya terlihat ada yang terbaring di dalam peti jenazah yang terbuat dari emas. Jasadnya masih utuh dengan cahaya yang berkilauan, sama sekali tidak membuat takut untuk mendekatinya. Ketika pemuda Syarif berada didekat jenazah itu, terdengar suara berbisik, “Menyingkirlah kamu nak, yang jelek jangan kau campuri, Pendita Ngapini itu datang kemari akan mencuri.” Pemuda Syarif mengerti akan pesan yang disampaikan kepadanya, dan diapun segera menyingkir. Sementara itu sang Pendita melanjutkan langkahnya mendekati makam Nabi, maksudnya hendak mengambil cincin indah yang dikenakan Nabi yang bernama Cincin Mamlukat. Akan tetapi belum tercapai maksudnya, halilintar menyambarnya hingga Pendita itu hancur lebur.

Sedangkan pemuda Syarif terbawa oleh cengkeraman halilintar, naik membumbung ke angkasa, memasuki kegelapan awan, terlempar jauh keluar dari batas dunia sampai akhirnya terdampar di Jabal Kahfi. Disini dia berjumpa dengan seorang yang tengah bertapa dengan khusuknya, cahanya memancar bagaikan zamrud.

Pemuda Syarif melihat disampingnya terletak sebuah kendi tanah, maka kemudian dia pun menyapa sang pertapa dengan ramah, “kakek yang tengah bertapa, kendi apakah gerangan yang ada di samping kakek itu?” sang Pertapa menjawab, “Aku sudah tidak tahu lagi, sejak aku datang kendi itu sudah ada di sini, aku tak pernah menyentuhnya.” Kemudian pemuda Syarif berkata lagi, “ kakek pertapa, coba tolong tanyakan darimana asal mulanya, agar supaya jangan sia-sia kakek berada di sampingnya.” Pertapa itu lalu menjawab,”anakku dimana ada kendi bisa diajak bicara.”

Lalu pemuda Syarif mendekati kendi itu dan kendi itu lalu ditanya, “kendi apakah gerangan ini, dan darimana asalmu.” Kendi tanah itu tiba-tiba menjawab, “hamba ini paduka tuan, adalah kendi dari Surga, berada disini disediakan bagi tuan. Bukankah tuan sudah empat puluh hari tidak makan, tidak tidur, dan juga tidak minum. Tuan diizinkan untuk meminum airnya, tersisa sepertiganya. Kemudian Kendi Tanah berkata lagi, “bilamana tuan habiskan minuman isiku, anak cucu tuan akan menjadi raja hingga hari kiamat nanti.” Pemuda Syarif mengikuti apa yang dikatakan Kendi tanah itu, lalu cepat airnya diminum habis. Kendi itu berkata, “kelak anak cucumu akan dinobatkan menjadi Raja, akan tetapi pemerintahannya akan terputus karena tadi Tuan tidak meminum habis air itu.” Setelah selesai berbicara demikian Kendi Tanah itupun hilang lenyap, Sang Pertapa terkejut melihatnya dan berkata, “selama hidupku belum pernah menyaksikan hal seperti itu.”

Pemuda Syarif kemudian mohon diri kepada pertapa itu dan melanjutkan perjalanannya mencari Nabi Muhammad SAW. Sudah serratus hari lamanya dia mencari tanpa makan dan minum, akan tetapi belum juga menemukan yang dicari. Di tengah perjalanan pemuda Syarif melihat keadaan di Alam Nyawa, tempat dimana nyawa dari orang-orang yang mati dalam perang Sabil berada. Tempat yang mulia bagaikan Surga dimana penghuninya bersuka ria, menunggang kuda dan berbusana indah dari Surga Agung. Walaupun badan mereka masih luka-luka dengan darah yang masih mengalir, akan tetapi mereka sangat harum baunya. Dari wajah mereka tidak terlihat rasa pedih ataupun kesakitan, bahkan mereka gembira dan bersuka ria. Pemuda Syarif gundah hatinya melihat mereka yang luka-luka itu.

Tidak lama kemudian ada yang datang, seorang yang tubuhnya bercahaya dan baunya harum semerbak, dia datang menunggang kuda terbang yang bernama Kuda Sembrani, datang menjumpai Syarif Hidayatullah “Barangkali engkau belum tahu, inilah tempatnya nyawa orang-orang yang mati dalam perang Sabil, mereka meninggal dalam membela agama Islam. Itulah karunia dari Yang Maha Esa kepada mereka, diberikan karunia di Surga indah. Kubertitahukan juga kepadamu bahwa keinginanmu untuk berjumpa dengan Rasulullah akan terpenuhi. Sungguh Allah Yang Maha Agung bersifat pemurah dan terimalah buah ini, sebagai tanda cinta dari Surga yang indah. Buah ini dipetik dari Surga yang mulia, sejak jamannya Nabi Nuh sampai sekarang belum busuk. Allah memberikannya kepadamu sebagai tanda anugrah-Nya dan dengan kehendak Allah pangkat derajatmu diangkat menjadi Wali Allah Quthub. Kalau saja belum tertutup ke-Nabian maka pangkat Nabi-lah yang akan kau peroleh. Akan tetapi sekarang sudah tutup ke Nabi-an yang diberikan terakhir kepada Muhammad Nurbuat.”

Syarif Hidayat menerima pemberian buah hijau itu, lalu segera dimakannya. Dia merasakan seribu rasa yang merupakan kenikmatan tiada tarayang telah diberikan oleh Yang Maha Agung. Kemudian pemuda Syarif berkatakepada Nabi, “Siapakah gerangan paduka tuan ini, jin ataukah Malaikat.”Nabi itu menjawab, “Aku adalah Nabi Khidir, dengan belas kasihan Yang Maha Suci, yang telah memanjangkan umurku dan dengan kehendak Hyang Maha Manon aku menyampaikan wahyu kepada manusia yang mulia, yang bersih hatinya. Karena Malaikat Jibril itu diutus menyampaikan wahyu tidak kepada manusia biasa, akan tetapi hanya kepada para Nabi. Karena itu engkau menerimanya dariku dan hukumnya engkau ini adalah Wali Allah yang mulia. Pintu ke-Walian masih terbuka untuk seseorang setelah engkau, yaitu kelak diakhir zaman, akan ditutup oleh seorang Wali yang bernama Imam Mahdi. Kelak jika telah aku sampaikan wahyu kepadanya, setelah itu maka kemudian ajalku akan diambil Laknatullah. Baiklah sekarang engkau akan kutinggal.”

Kemudian Nabi Khidir cepat menaiki kudanya, dan bersiap hendak mencambuk kudanya untuk meninggalkan pemuda Syarif. Akan tetapi tanpa bisa dicegah pemuda Syarif melompat dibelakangnya dan minta untuk diajak pergi. Kuda Sembrani itu lalu terbang cepat bagaikan kilat, tenggelam dalam ketidaktahuan arah, utara-barat-timur ataupun selatan, alam menjadi gelap gulita hingga akhirnya memasuki sebuah tempat yang terang benderang. Mereka tiba di Gunung Mirah Wulung, darimana terlihat Surga Agung.

Setelah pemuda Syarif turun dari Kuda Sembrani itu, Nabi Khidir berkata, “Engkau tunggulah disini dengan sabar, nanti akan ada yang datang kepadamu, nanti akan kau lihat sendiri.” Setelah berkata demikian lalu Nabi Khidir menghilang tak terlihat lagi. begitu pemuda Syarif ditinggal termangu mangu seorang diri menunggu kedatangannya seorang yang agung. Tak terdengar kedatangannya, seekor burung putih keluar dari puncak gunung mendatangi pemuda Syarif dan kemudian membawanya naik ke puncak gunung itu. Pemuda Syarif dibawa ke Mesjid Kumala. Tanpa diketahui kedatangannya kemudian terlihat Rasulullah, cahanya menyilaukan memancar menerangi alam sekitarnya. Syarif Hidayat lalu menghambur untuk bersujud di hadapan Nabi, akan tetapi bahunya segera diangkat oleh Rasul dan sabdanya, “Nanti kamu kafir kalau kamu menyembah sesame manusia, sebab sejak awalnya sujud itu hanya kepada Allah.”

Pemuda Syarif kemudian berkata, “Hamba mohon syafaat, baiyat kepada sejatinya, semoga selamat dunia sampai akhirat.” Rasul berkata :

“He wong anom, iku sira pinangka dadi gegentine raganing wong. Den eling sira mangko, ing sasamining agesang. Urip iku ora beda, ora kena ya ing lampus sukmanira anom iku Allah. Aja sengge dingin kari, anging tunggal tan kalinya, iku sira ing anane. Ciptanen roro ning tunggal. Nanging dhohir kudu nganggoa ing warana iku besuk, ngramehaken ingkang praja. Nuduhaken kaula gusti, poma-poma den sangkriba iku ing wicarane. Nyampurnaken ing amal, syareat ingkang utama, ngabekti ing bapa ibu, ngunjunga ing Ka’batullah. Ulatana guru kang mursyid, aja ngilangaken adat dunya.”

(Hai anak muda, yang akan menjadi pengganti diriku. Ingatlah kamu selalu kepada sesama hidup. Karena hidup itu tidak berbeda, tidak bisa dibunuh karena sukmanya itu Allah. Jangan sampai nanti terlambat, hanya ada satu tak ada duanya, yaitu itulah engkau adanya. Namun lahir harus memakai tirai, untuk meramaikan negara. Berikan petunjuk kepada hamba Allah, berhati-hatilah dalam tutur kata. Sempurnakan amal syareat yang utama, dengan berbakti kepada ayah bunda, dan kunjungilah Ka’bah Allah. Carilah guru yang saleh dan janganlah meninggalkan adat dunia, hanya itulah nasihatku ). Maka selesai sudah baiyatnya Rasulullah. Syarif Hidayat pun bersyukur karena tercapai sudah keinginannya yang satu, yaitu berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s