Pertalian Cirebon dan Demak

Januari-2012

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Perkenankanlah kami menceritakan Sejarah Ampel Denta; Rasulullah saw berputra Fatimah, Fatimah berputra Husen, kemudian Husen berputra (h. 1) yang bernama Zaenal Abidin, Zaenal Abidin berputra Zaenal Kabir, Zaenal Kabir berputra Jumadil Kabir, Jumadil Kabir kemudian berputra Samsu Tamres atau Wiku Mustakim yang menikah dengan seorang putri dari Cempa yang bernanama Rara Sujinah. Kemudian pasangan Samsu Tamres dengan Rara Sujinah melahirkan dua anak laki-laki yang bernama Raden Rahmat dan Raden Aliman. Tidak lama kemudian Raja Cempa meninggal dunia dan digantikan oleh putranya yang bernama Shoklim menjadi raja Cempa. Adiknya yang bernama Ghalib Hurairah yang selalu dengan Raden Rahmat bersama-sama selamanya di kemudian hari mereka bertiga mendatangi pulau Jawa untuk menemui uwaknya yang menjadi permaisuri Raja Majapahit. Permaisuri Raja Majapahit itu adik dari Rara Sujinah yang bernama Endarwati Kamulyan.

Raden Aliman, Raden Rahmat, dan Ghalib Hurairah ternyata diterima baik oleh (h. 2) Raja Majapahait sehingga mereka bertiga berdiam lama di kerajaan Majapahit. Setelah mereke bertiga berdiam lama di Majapahit akhirnya mengetahi bahwa Raja Majapahit masih memeluk agama Budha. Setelah mengetahui keadaan ini maka mereka bertiga menghadap kepada Raja Majapahit untuk menyampaikan agama Islam dan agar Raja Majapahit mau dengan suka rela untuk memeluk agama Islam. Mendengar ajakan itu Raja Majapahit menolak untuk memeluk agama Islam dan sang raja masih kuat memegang agama Budha, kemudian sang raja berkata: “Janganlah kamu salah dalam bertindak terhadap orang tua yang sangat baik sekali ini. Agar kalian menjadi besar dan berkembang di Majapahit ini, nanti suatu ketika kalian akan saya nikahkan dengan seorang putri yang sangat cantik dan elok dari Bupati Tuban yang bernama Rara Suteja Nirmala. Rara Suteja Nirmala ini sangat pantas jika dinikahkan dengan Raden Rahmat dan karena Raden Rahmat sangat pantas jika menjadi menantu Aria Tuban.

Adapun Raden Aliman sebaiknya dinikahkan dengan putri Aria Madura, dan adapun Raden Ghalib Hurairah tampaknya sangatlah pantas jika menjadi menantu Ki Aria Beringin yang bernama Rara Manila yang masih bersaudra dengan Rara Fatimah Rara Teja. Kalian bertiga saya perkenankan (h. 3) untuk mengajarkan agama Islam. Adapun Raden Rahmat sebaiknya mengajarkan agama Islam di Ampel Gading. Raden Aliman mengajarkan agama Islam di Surabaya. Dan adapun Raden Ghalib Hurairah sebaiknya mengajarkan agama Islam di Gresik. Kalian diperbolehkan mengajarkan agama Islam sesukanya dengan membimbing para santri dengan tuntunan yang kuat. Kalian janganlah mencampurkan antara agama dengan drigama.” Ketiga putra Campa itu menyetujui pendapat dan usulan dari Raja Majapahit. Raden Ghalib Hurairah kemudian berdiam di Gresik dan mendirikan pesantren. Raden Ghalib Hurairah memiliki seorang putri yang bernama Nyi Gedeng Tandawaruh dan seorang putra yang bernama Ki Masyaikh Ghos Ghiyas yang sangat gemar bertapa sehingga sangat disayangi dan dikasihi olehnya, karena Ki Masyaikh Ghos Ghiyas merupakan keturunan dari Samsu Tamres seorang wali yang sangat kuat bertapa hingga sembilan tahun tidak menyentuh wadah garam, menghindari rasa asin. Raden Aliman bermukim di Surabaya membangun pondok pesantren kemudian memiliki dua orang putra. Putra yang pertama bernama Haji (h. 4) Usman yaitu yang bergelar Pangeran Karang Kemuning yang tinggal di wilayah Jepara. Putra yang muda bernama Khalifah Husen yang sangat gemar bertapa. Raden Rahmat bermukim di Ampel Gading hingga mashur namanya disebut dengan julukan Sunan Ampel. Kemudian Sunan Ampel memiliki sembilan putra dan putri, yang perempuan bernama Nyahi Gede Pancuran yang berada di wilayah Tuban. Putra yang kedua bernama Nyi Gedeng Wilis yang menikah dengan Khalifah Nur Raga putra dari Arya Pecat Tanda yang masih kerabat dengan Rara Manila. Putra Sunan Ampel yang ketiga ialah bernama Nyi Gedeng Malaka. Putra keempat laki-laki bernama Makhdum Ibrahim yang kemudian bergelar Sunan Bonang yang menikah (h. 5) dengan seorang putri bangsawan dari Tuban. Putra kelima Suanan Ampel ialah laki-laki yang bernama Masyaikh Mumat yang kelak bergelar Pangeran Drajat. Putra Sunan Ampel yang keenam dari istri yang lain ialah Raden Mamuta. Putra yang ketujuh ialah seorang laki-laki yang bernama Raden Sya’ban. Putra Sunan Ampel yang kedelapan ialah seorang wanita yang bernama Nyahi Mindra. Putra yang kesembilan bernama Nyahi Saili yang memilik putri yang bernama Nyahi Aliyin yang tinggal di dalam Masjid yang bertembok keliling. Adapun Nyi Gedeng Pancuran menikah dengan Haji Usman yang tinggal di Karang Kemuning yang ada di wilayah Jepara. Perkawinan Nyi Gedeng Pancuran dengan Haji Usman mempunyai dua orang putri yang bernama Nyi Pembayun dan Nyi Wuragil. Nyi Pembayun menikah dengan Haji Usman Tayum. Kemudian memilik anak laki-laki yang bernama Sunan Undung. Nyi Wuragi menikah dengan seseorang yang bernama Makhdum Sampang dan memiliki tiga (h. 6) orang anak yang salah satunya bernama Ki Makhdum Langgar. Kemudian putra yang lain bernama Kiyahi Thoyib dan Nyi Kusuma yang berputra Syekh Abiduddin yang nanti menjadi Kadi di Kesultanan Demak. Adapun Nyi Gedeng Malaka yang menikah dengan Khalifah Husen itu memilik empat orang anak. Anak yang laki-laki bernama Raden Bandar yang menikah dengan Nyi Tulis yang masih kerabat dengan Masyaikh Khami putra dari Ki Gedeng Wilis memiliki anak perempuan yang bernama Nyi Sariyah yang menikah dengan Sunan Undung. Sunan Undung dan Nyi Sariyah memiliki putra yang bernama Sunan Kudus yang sangat agung dan mulia. Ada salah satu dari anak Nyi Gedeng Malaka yang perempuan yang bernama Nyi Layang yaitu yang menjadi isteri Sultan Demak Pertama yang bergelar Abdul Fatah. Pernikahan Nyi Layang dan Sultan Demak Raden Fatah mempunyai dua orang putra yaitu (h. 7) Pangeran Sabrang Lor yang menjad Sultan Demak kedua. Anak yang lain dari Raden Fatah dengan Nyi Layang ialah Pangeran Trenggono yang menjadi Sultan Demak ketiga. Begitulah keturunan orang-orang mulia yang bercampuran dengan menikahkan anak-anaknya dengan kerajaan lain terus berkesinambungan hingga zaman ke zaman yang keturunan mencerminkan sebagai keturunan para wali.

Perjalanan Sang Wali Syekh Syarif Hidayatullah dalam Nasihat Sang Bunda

Kemudian Syarif Hidayat merasakan keajaiban, terasa dirinya masuk kedalam awan dan seperti dituntun kebawah oleh angina dan awan, hingga akhirnya tiba di negara Ajam. Dikisahkan di negara Ajam, sang Raja tengah mengadakan pertemuan dengan pendita-pendita dan para pengikutnya. Pertemuan membahas makna Ilmu yang Mulia. Tiba-tiba semua menjadi gempar, karena siang hari menjadi gelap bagaikan malam, semua bertanya Tanya apakah gerangan penyebabnya. Kemudian mereka melihat kedatangan seorang pemuda. Wajahnya jernih memancarkan cahaya, sebagian dari yang hadir mengira bahwa bangsa Jin-lah yang menampakkan diri itu. Akan tetapi Raja Ajam tahu bahwa patutnya yang datang itu adalah seorang Wali yang luhur, kedatangannyalah yang telah menyebabkan kegemparan tadi. Sang raja segera menyampaikan salam hormatnya dan beserta seluruh pengikutnya semua menyampaikan bakti kepada yang baru tiba. Raja Ajam berkata, “Tuan tinggalah di negara kami, kami mohon syafa’at bagi kami semua”, permintaan itu dijawab oleh Syarif Hidayat, “Insya Allah nanti saja dikemudian hari karena sekarang aku harus meneruskan perjalananku.”

Setelah berkata demikian sang Wali lalu meninggalkan mereka dan meneruskan perjalanannya ke negara Banisrail, untuk segera berjumpa dengan ibundanya. Tidak dikisahkan dalam perjalanannya, Syarif Hidayatullah telah tiba di Banisrail dan segera menghadap kepada ibundanya. Melihat kedatangan anak yang dikasihinya itu Nyi Mudaim menangis dengan harunya, “Ya Allah, Syarif permata hatiku, sepergimu ibu sangat risau dan khawatir, ibumu menjadi seperti orang gila merindukanmu. Dan itu adikmu juga telah mencarimu tanpa hasil, darimana saja engkau sayang. Pamanmu juga mencari menelusuri hutan dan gunung, meskipun demikian mereka tidak berhasil menemukanmu. Pamanmu sangatlah berduka. Setiap kembali ke istana keadaannya masih sepi taka da berita sama sekali. Para Raja-raja di Banisrail selama ini semua merasa prihatin memikirkanmu. Anakku bagaimanakah yang engkau cari, apakah sudah kau peroleh.” Sang Putra menjawab, “Berkah Ibu, aku telah berjumpa dengan Yang Sejati di Masjid Ghoib. Telah disampaikannya uraian kekuatan yang sejati kepada diriku. Kepada ibu harus berbakti dan ananda harus berkunjung ke Ka’bah, dan juga hamba disuruh mencari guru yang utama. Itulah yang dipesankan kepada ananda.”

Sanak saudara serta seluruh rakyat di Banisrail sudah mengetahui bahwa rajanya telah kembali, mereka semua datang menghadap. Juga paman Pati datang menemuinya dan berkata, “Sekarang anakku telah memiliki wilayah Banisrail ini, maka sudah tiba saatnya ananda dinobatkan.”Permintaan itu dijawab oleh Syarif Hidayat, “Paman jangan sekarang dahulu, hamba masih jauh dalam langkah perjalananku. Hamba akan melaksanakan apa yang dinasihatkan oleh Nabi. Hamba disuruh mengunjungi Baitullah dan disuruh mencari guru yang utama.”

Ibunya berkata, “Engkau kuizinkan pergi anakku,”akan tetapi berhati- hatilah. Aku bekali engkau seribu dinar dan tasbih peninggalan ayahmu, lumayan untuk penolak bala. Juga bawalah serta para pengawal.” Kemudian di jawab oleh sang anak,” Baiklah ibu, akan tetapi mengenai pengawal aku tak akan membawa pengawal seorangpun, akan tetapi pemberian ibu uang seribu dinar itu akan kubawa, barangkali menemui halangan atau kekurangan. Ibu, ananda mohon nasihat untuk menjalani hidup yang akan kujalani ini.” Sang ibu berkata dengan lembut :

“He anak isun gusti, sira aja malar kacung ya ingkang ngebat-tebat. Kacung aluku kang bedami, lawan aja turu yen ora arip, lawan sira aja mangan yen ora katekan ngelih, lawan aja nginum sira yen ora katekan garing. Iku kang telu perkawis, ya lakunana kacung lawan aja sumakeyan ingkang iku ora becik. Ingkang becik anardiri ing manusa. Datan bathi wong takabur, yaiku temahe dhoip. Balik pasraha ing Allah, tur kuat temahe dadi. Sira nyawa kang sun puji, anemua giri sarku tasik legi.”

(Anakku terkasih, dalam hidup ini janganlah kamu berlebihan. Anakku utamakanlahberdamai. Janganlah tidur kalau tidak mengantuk, dan janganlah makan kalau tidak lapar, dan janganlah minum kalu tidak haus, itulah tiga perkara yang harus kau ingat. Janganlah angkuh, karena hal itu tidak baik, dan berbuatlah selalu kebaikan kepada sesama manusia. Tak ada untungnya engkau takabur, karena itu mengakibatkan kelemahan. Serahkanlah kepada Allah sehingga kesudahannya engkau akan menjadi kuat. Engkau kekasih yang kupuja, carilah gunung kebahagiaan dan danau kenikmatan.” Selesai menerima nasihat itu sang anak lalu bersimpuh di pangkuan ibundanya.

Isra dan Mikraj Sang Wali Kutub Syekh Syarif Hidayatullah

Kembali dikisahkan di negara Banisrail, Sultan Hud meninggal dunia meninggalkan kedua anaknya yang masih belum dewasa. Oleh karena itu maka pamannya, Patih Onka kemudian diangkat untuk mewakili, sementara kedua anak Sultan itu masih belum dewasa. Begitulah setelah Syarif Hidayat menginjak usia dewasa yaitu berusia dua belas tahun, maka segera dibuat persiapan untuk penobatannya. Akan tetapi pada suatu hari Syarif Hidayatullah menemukan sebuah Kitab di Gedung Agung, sebuah kitab yang ditulis dengan tinta emas sebuah kitab yang bernama Kitab Usul Kalam. Kitab ini memperinci hakekat Nabi Muhammad dan menjelaskan mengenai Allah Yang Maha Suci. Setelah membaca buku ini Syarif Hidayatullah menjadi risau hatinya, timbul keinginannya untuk bertemu dengan Rasulullah. Maka diapun segera menjumpai ibundanya untuk mohon ijin akan pergi mencari Nabi Muhammad SAW.

Alangkah terkejutnya sang ibu mendengar keinginan putranya itu, berkata Nyi Mudaim, “anakku, bukankah Nabi Muhammad itu sudah meninggal dunia, dan telah dimakamkan di Madinah. Anakku, bagaimana mungkin ananda bisa berjumpa dengan beliau. Sudahlah anakku, janganlah engkau pergi.”Akan tetapi sang anak demikian risau hatinya, keinginannya untuk pergi tak dapat ditahan lagi.

Sang ibu sangat khawatir, dia segera memberitahu kepada Ki Patih pamannya, yang dengan tergopoh-gopoh lalu segera menemuinya. Berkata sang paman,“Ananda, janganlah anandamengikuti kata hatimu, lihatlah itu para Raja di Banisrail telah berkumpul semua. Semua berkumpul hendak menobatkan ananda, menjadi Sultan Banisrail.”kemudian di jawab oleh Syarif Hidayatullah, “Pamanda, mengenai hal itu terserah paman saja, akan tetapi sekarang ini keinginan hamba telah teguh yaitu untuk mencari Nabi Muhammad.” Sang paman terus mencoba membujuknya, dengan lemah lembut dia berkata, “Anakku, bukankah Rasulullah itu sudah meninggal di Madinah?” pertanyaan itu dijawab oleh Syarif Hidayatullah, “Paman aku tidak menganggap beliau telah meninggal, karena itu adalah urusan Allah yang bersifat Maha Pengasih. Apakah paman pernah mendengar ada orang mati yang datang menemui orang hidup, memang Allah itu Maha Kuasa. Susah atau mudahnya kita serahkan kepada Yang Widhi”, setelah berkata demikian pemuda Syarif segera pergi meninggalkan istana Banisrail.

Syarif berjalan dengan cepat, semua yang hadir mencoba mengejarnya, dia mengayunkan langkahnya keraha selatan. Para Bangsawan yang hadir bubar semua dan menyusul tuannya yang tak tentu hilangnya itu. Mereka mencari dengan menyusuri gunung dan hutan, akan tetapi tidak seorangpun yang berhasil menemukannya. Seolah-olah penglihatan merekasemua ditutup oleh Yang Maha Suci. Begitulah Syarif Hidayat terus berjalan mencari Rasulullah, gua dan jurang dimasukinya. Sudah tiga hari dia mencari, akan tetapi belum memperoleh apa-apa, hingga kemudian dia berjumpa dengan seekor Naga besar yang rupanya sangat dahsyat. Naga itu melingkar bagaikan gunung dengan badan yang tak hentinya menggeliat. Sisiknya berkilauan bagaikan gemerlapnya kilat, dengan nafas yang mendengus dengus.

Melihat ada yang datang, sang Naga mengangkat kepalanya dan tertawa dengan suara keras bagaikan halilintar dengan bahasa manusia sang Naga berkata, “Hei manusia, darimana asalmu berani datang kemari, tidak biasanya ada orang yang datang kesini, karena disini bukanlah tempatnyamanusia.” Pemuda Syarif menjawab, “Aku ini tengah tersesat, niatku akan mencari Nabi Muhammad yang ternama.” Sang Naga lalu berkata, “Rasulullah itu telah wafat dan dimakamkan di Madinah, ananda tak mungkin bisa menemuinya.” Pemuda itu kemudian menjawab, “Aku tidak menganggap Rasul telah wafat, karena itu adalah urusan Allah Yang Maha Kuasa, bukankah Allah itu bersifat Maha Pengasih dan Penyayang?.” Mendengar jawaban demikian maka sang Naga pun berkata, “Kalau nanti ananda dapat berjumpa dengan Nabi, jangan lupa sampaikan salawatku kepada Rasulullah. Sudah lama ananda mencari, sekarang laluilah terowongan itu. Akan tetapi langkah ananda harus dipercepat karena terowongan itu tempat dimana setan-setan berada.”Kemudian pemuda itupun mohon diri kepada sang Naga untuk melanjutkan perjalanannya. Sudah satu jum’at lamanya dia berjalan mencari Rasulullah.

Melepaskan lelahnya pemuda Syarif berhenti di bawah pohon Cemara putih, dia merasa lelah karena sudah sepuluh malam berjalan tidak makan dan tidur. Tengah dia duduk sambil mengurut-urut di bawah kaki pohon Cemara putih itu, tiba-tiba ada seorang tua datang mendekat. Melihat pemuda Syarif si kakek lalu bertanya dengan suara lantang, “Anak muda, darimana kau datang dan apa yang kau lakukan disini?”

Dijawab oleh pemuda Syarif dengan sopan, “Hamba tengah berusaha untuk bertemu dengan Nabi Muhammad Nurbuat, dan kakek ini hendak pergi kemana, bertemu dengan hamba ditempat yang sunyi ini. Kemakah gerangan yang dituju hingga nafas kakek terengah engah demikian.” Sang Pandita menjawab, “Aku ini bernama Pandita Ngapini, aku bermaksud akan mengunjungi makam Nabi Sulaiman di Pulau Majeti, aku akan mencari berkah.”

Mendengar itu pemuda Syarif pun tertarik untuk pergi bersama sang kakek. Maka berkata pemuda Syarif dengan penuh kesopanan,“Bilamana diperkenankan, izinkanlah hamba pergi bersama kakek.” Kakek Ngapini berkata, “Baiklah, akan tetapi tunggulah dahulu disini, karena kakek akan mencari air susu untuk minumnya Naga Guwing disana. Susu itu sebagai syarat bagi naga yang menjaga makam itu. Diantara naga-naga penjaga yang buas itu, ada satu naga yang baik kepada manusia, bilaman buih keluar dari telinganya maka buih itu dapat dipergunakan untuk menidurkan naga-naga yang lain.” Setelah berkata demikian kakek Ngapini pergi.

Tidak lama kemudian dengan membawa air susu, mereka pergi bersama-sama, dan dikisahkan keduanya telah tiba di Pulau Majeti, dimana makam Nabi Sulaiman berada. Sang naga yang mengasihi pendeta Ngapini sudah ditemui, dan pendeta Ngapini lalu memberikan air susu yang dibawanya. Lalu buih pun keluar dari telinga sang Naga yang cepat-cepat diambilnya dan dipakai sebagai sirep bagi naga-naga yang lainnya. Naga-naga itupun kemudian tertidur lelap semuanya.

Pendita Ngapini bersama pemuda Syarif lalu meamsuki ruang makam. Didalamnya terlihat ada yang terbaring di dalam peti jenazah yang terbuat dari emas. Jasadnya masih utuh dengan cahaya yang berkilauan, sama sekali tidak membuat takut untuk mendekatinya. Ketika pemuda Syarif berada didekat jenazah itu, terdengar suara berbisik, “Menyingkirlah kamu nak, yang jelek jangan kau campuri, Pendita Ngapini itu datang kemari akan mencuri.” Pemuda Syarif mengerti akan pesan yang disampaikan kepadanya, dan diapun segera menyingkir. Sementara itu sang Pendita melanjutkan langkahnya mendekati makam Nabi, maksudnya hendak mengambil cincin indah yang dikenakan Nabi yang bernama Cincin Mamlukat. Akan tetapi belum tercapai maksudnya, halilintar menyambarnya hingga Pendita itu hancur lebur.

Sedangkan pemuda Syarif terbawa oleh cengkeraman halilintar, naik membumbung ke angkasa, memasuki kegelapan awan, terlempar jauh keluar dari batas dunia sampai akhirnya terdampar di Jabal Kahfi. Disini dia berjumpa dengan seorang yang tengah bertapa dengan khusuknya, cahanya memancar bagaikan zamrud.

Pemuda Syarif melihat disampingnya terletak sebuah kendi tanah, maka kemudian dia pun menyapa sang pertapa dengan ramah, “kakek yang tengah bertapa, kendi apakah gerangan yang ada di samping kakek itu?” sang Pertapa menjawab, “Aku sudah tidak tahu lagi, sejak aku datang kendi itu sudah ada di sini, aku tak pernah menyentuhnya.” Kemudian pemuda Syarif berkata lagi, “ kakek pertapa, coba tolong tanyakan darimana asal mulanya, agar supaya jangan sia-sia kakek berada di sampingnya.” Pertapa itu lalu menjawab,”anakku dimana ada kendi bisa diajak bicara.”

Lalu pemuda Syarif mendekati kendi itu dan kendi itu lalu ditanya, “kendi apakah gerangan ini, dan darimana asalmu.” Kendi tanah itu tiba-tiba menjawab, “hamba ini paduka tuan, adalah kendi dari Surga, berada disini disediakan bagi tuan. Bukankah tuan sudah empat puluh hari tidak makan, tidak tidur, dan juga tidak minum. Tuan diizinkan untuk meminum airnya, tersisa sepertiganya. Kemudian Kendi Tanah berkata lagi, “bilamana tuan habiskan minuman isiku, anak cucu tuan akan menjadi raja hingga hari kiamat nanti.” Pemuda Syarif mengikuti apa yang dikatakan Kendi tanah itu, lalu cepat airnya diminum habis. Kendi itu berkata, “kelak anak cucumu akan dinobatkan menjadi Raja, akan tetapi pemerintahannya akan terputus karena tadi Tuan tidak meminum habis air itu.” Setelah selesai berbicara demikian Kendi Tanah itupun hilang lenyap, Sang Pertapa terkejut melihatnya dan berkata, “selama hidupku belum pernah menyaksikan hal seperti itu.”

Pemuda Syarif kemudian mohon diri kepada pertapa itu dan melanjutkan perjalanannya mencari Nabi Muhammad SAW. Sudah serratus hari lamanya dia mencari tanpa makan dan minum, akan tetapi belum juga menemukan yang dicari. Di tengah perjalanan pemuda Syarif melihat keadaan di Alam Nyawa, tempat dimana nyawa dari orang-orang yang mati dalam perang Sabil berada. Tempat yang mulia bagaikan Surga dimana penghuninya bersuka ria, menunggang kuda dan berbusana indah dari Surga Agung. Walaupun badan mereka masih luka-luka dengan darah yang masih mengalir, akan tetapi mereka sangat harum baunya. Dari wajah mereka tidak terlihat rasa pedih ataupun kesakitan, bahkan mereka gembira dan bersuka ria. Pemuda Syarif gundah hatinya melihat mereka yang luka-luka itu.

Tidak lama kemudian ada yang datang, seorang yang tubuhnya bercahaya dan baunya harum semerbak, dia datang menunggang kuda terbang yang bernama Kuda Sembrani, datang menjumpai Syarif Hidayatullah “Barangkali engkau belum tahu, inilah tempatnya nyawa orang-orang yang mati dalam perang Sabil, mereka meninggal dalam membela agama Islam. Itulah karunia dari Yang Maha Esa kepada mereka, diberikan karunia di Surga indah. Kubertitahukan juga kepadamu bahwa keinginanmu untuk berjumpa dengan Rasulullah akan terpenuhi. Sungguh Allah Yang Maha Agung bersifat pemurah dan terimalah buah ini, sebagai tanda cinta dari Surga yang indah. Buah ini dipetik dari Surga yang mulia, sejak jamannya Nabi Nuh sampai sekarang belum busuk. Allah memberikannya kepadamu sebagai tanda anugrah-Nya dan dengan kehendak Allah pangkat derajatmu diangkat menjadi Wali Allah Quthub. Kalau saja belum tertutup ke-Nabian maka pangkat Nabi-lah yang akan kau peroleh. Akan tetapi sekarang sudah tutup ke Nabi-an yang diberikan terakhir kepada Muhammad Nurbuat.”

Syarif Hidayat menerima pemberian buah hijau itu, lalu segera dimakannya. Dia merasakan seribu rasa yang merupakan kenikmatan tiada tarayang telah diberikan oleh Yang Maha Agung. Kemudian pemuda Syarif berkatakepada Nabi, “Siapakah gerangan paduka tuan ini, jin ataukah Malaikat.”Nabi itu menjawab, “Aku adalah Nabi Khidir, dengan belas kasihan Yang Maha Suci, yang telah memanjangkan umurku dan dengan kehendak Hyang Maha Manon aku menyampaikan wahyu kepada manusia yang mulia, yang bersih hatinya. Karena Malaikat Jibril itu diutus menyampaikan wahyu tidak kepada manusia biasa, akan tetapi hanya kepada para Nabi. Karena itu engkau menerimanya dariku dan hukumnya engkau ini adalah Wali Allah yang mulia. Pintu ke-Walian masih terbuka untuk seseorang setelah engkau, yaitu kelak diakhir zaman, akan ditutup oleh seorang Wali yang bernama Imam Mahdi. Kelak jika telah aku sampaikan wahyu kepadanya, setelah itu maka kemudian ajalku akan diambil Laknatullah. Baiklah sekarang engkau akan kutinggal.”

Kemudian Nabi Khidir cepat menaiki kudanya, dan bersiap hendak mencambuk kudanya untuk meninggalkan pemuda Syarif. Akan tetapi tanpa bisa dicegah pemuda Syarif melompat dibelakangnya dan minta untuk diajak pergi. Kuda Sembrani itu lalu terbang cepat bagaikan kilat, tenggelam dalam ketidaktahuan arah, utara-barat-timur ataupun selatan, alam menjadi gelap gulita hingga akhirnya memasuki sebuah tempat yang terang benderang. Mereka tiba di Gunung Mirah Wulung, darimana terlihat Surga Agung.

Setelah pemuda Syarif turun dari Kuda Sembrani itu, Nabi Khidir berkata, “Engkau tunggulah disini dengan sabar, nanti akan ada yang datang kepadamu, nanti akan kau lihat sendiri.” Setelah berkata demikian lalu Nabi Khidir menghilang tak terlihat lagi. begitu pemuda Syarif ditinggal termangu mangu seorang diri menunggu kedatangannya seorang yang agung. Tak terdengar kedatangannya, seekor burung putih keluar dari puncak gunung mendatangi pemuda Syarif dan kemudian membawanya naik ke puncak gunung itu. Pemuda Syarif dibawa ke Mesjid Kumala. Tanpa diketahui kedatangannya kemudian terlihat Rasulullah, cahanya menyilaukan memancar menerangi alam sekitarnya. Syarif Hidayat lalu menghambur untuk bersujud di hadapan Nabi, akan tetapi bahunya segera diangkat oleh Rasul dan sabdanya, “Nanti kamu kafir kalau kamu menyembah sesame manusia, sebab sejak awalnya sujud itu hanya kepada Allah.”

Pemuda Syarif kemudian berkata, “Hamba mohon syafaat, baiyat kepada sejatinya, semoga selamat dunia sampai akhirat.” Rasul berkata :

“He wong anom, iku sira pinangka dadi gegentine raganing wong. Den eling sira mangko, ing sasamining agesang. Urip iku ora beda, ora kena ya ing lampus sukmanira anom iku Allah. Aja sengge dingin kari, anging tunggal tan kalinya, iku sira ing anane. Ciptanen roro ning tunggal. Nanging dhohir kudu nganggoa ing warana iku besuk, ngramehaken ingkang praja. Nuduhaken kaula gusti, poma-poma den sangkriba iku ing wicarane. Nyampurnaken ing amal, syareat ingkang utama, ngabekti ing bapa ibu, ngunjunga ing Ka’batullah. Ulatana guru kang mursyid, aja ngilangaken adat dunya.”

(Hai anak muda, yang akan menjadi pengganti diriku. Ingatlah kamu selalu kepada sesama hidup. Karena hidup itu tidak berbeda, tidak bisa dibunuh karena sukmanya itu Allah. Jangan sampai nanti terlambat, hanya ada satu tak ada duanya, yaitu itulah engkau adanya. Namun lahir harus memakai tirai, untuk meramaikan negara. Berikan petunjuk kepada hamba Allah, berhati-hatilah dalam tutur kata. Sempurnakan amal syareat yang utama, dengan berbakti kepada ayah bunda, dan kunjungilah Ka’bah Allah. Carilah guru yang saleh dan janganlah meninggalkan adat dunia, hanya itulah nasihatku ). Maka selesai sudah baiyatnya Rasulullah. Syarif Hidayat pun bersyukur karena tercapai sudah keinginannya yang satu, yaitu berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW.

Pangeran Panjunan

Dikisahkan kemudian anak Sultan Bagdad, yang juga masih keturunan Rasulullah bernama Pangeran Abdul Rochman beserta adik perempuannya bernama Siti Bagdad dan keponakannya Syekh Datuk Khapi mendarat di Carbon. Konon asal mula mereka meninggalkan negaranya adalah karena mendapat murka dari ayahandanya. Mereka diusir beserta semua pengikutnya dalam tiga buah kapal yang berisikan lima ratus orang disetiap kalal sampai akhirnya mereka tiba di Carbon. Setibanya di Carbon anak Sultan Bagdad segera menghadap Arya Lumajang dan mohon izin untuk diperkenankan tinggal di Carbon. Permintaannya disetujui oleh Arya Lumajang dan mereka semua ditempatkan di daerah Panjunan, kemudian Sayid Abdul Rochman ini dikenal dengan nama Pangeran Panjunan. Pangeran ini kemudian dikisahkan mendirikan Mesjid di Panjunan yang pada waktu itu belum ada Mesjid yang lainnya. Para pendatang ini ternyata masih membawa sifat dari negara asalnya di seberang. Pada waktu itu anak buah sang Pangeran berkeliaran di Carbon, dengan tidak mengenal tata tertib, apa yang dikendakinya harus dipenuhi. Mereka tidak peduli kepada orang lain, tingkah laku orang Panjunan ini sekendak hatinya. Kuwu Carbon sangat prihatin mendengar semua ini.semnetara penduduk yang ada kemudian menghadap Sunan Kalijaga dan menanyakan apakah mereka ini yang bakal menjadi Raja,karena semuanya menduga demikian. Dijawab oleh Sunan Kalijaga bahwadugaan itu tidak benar, tidak boleh orang Bagdad menjadi Raja di Carbon, karena bukan warisnya. Dikatakannya bahwa kelak seorang bangsawan akan tiba, seorang bangsawan keturunan Rasulullah, yang akan datang dari Mesir. Dialah yang dipercaya dan yang akan mewarisi pusaka ibunya di Carbon.

Begitulah kemudian penghuni Panjunan menyebar mengikuti keinginannya masing-masing, mereka berumah tangga di kota-kota dan di desa-desa baik di Desa Kejaksan, Junti, Sembung, Japura dan juga di Kalisapu. Tetapi walaupun demikian mereka tetap menerima perintah dari Panjunan. Mereka tak mau diperintah oleh lainnya. Kalau ada yang memerintah maka mereka akan melawannya dengan sekuat tenaga. Begitulah sifat para pendatang dari Bagdad itu, mereka akan mendebat bila diperintah, dan mereka pun pintar dalam bicaranya.

Pangeran Walangsungsang menjadi Sang Gagak Lumayung

Gagak Lumajar adalah sebutan lain untuk Gagak Lumayung, Sang Pangeran Walangsungsang

Tidak dikisahkan lamanya, pada suatu hari Haji Abdul Iman datang menghadap Raja, dan menyampaikan keinginannya untuk pulang kembali ke tanah Jawa. Permintaan itu dikabulkan oleh Sultan Hud dan Pangeran Cakrabuana pun kemudian berlayar meninggalkan Mesir, pulang ke Tanah Jawa. Dalam perjalanan ini sang Pangeran singgah di negara Pasai.

Disini dia berguru kepada seorang guru agama yang berilmu tinggi yaitu. Syekh Maulana Datuk Sidiq, guru yang mengajarnya ma’rifat yaitu pandangan mengenai sifat-sifat Ketuhanan. Disini Haji Abdul Iman kemudian diganti namanya oleh Sang guru menjadi Pangeran Gagak Lumajar. Setelah selesai menuntut ilmu, Pangeran kemudian mohon diri untuk meneruskan perjalanannya pulang ke negara Sunda. Begitulah Pangeran Gagak Lumajar berlayar melanjutkan perjalanan pulang. Tidak dikisahkan pelayarannya maka akhirnya kapalnya tiba di Gunung Kentaki, sebuah bukit yang berada di tepi laut, yang disebut juga Gunung Sembung. Babad Sinungpuri menyebutnya dengan nama Gunung Amparan. Setibanya di Pulau Jawa sang Pangeran teringat akan adiknya Rara Santang dan keponakannya Syarif Hidayatullah, keinginannya tak lain bahwa kelak di kemudian hari mereka dari Mesir Banisrail itu akan datang mengunjunginya di tanah Jawa.

Dikisahkan kemudian, Pangeran Gagak Lumajar lalu memperoleh seorang isteri, yaitu putri dari Kyai Kuwu Carbon, yang berkuasa di Siti Wungkuk (Lemah Wungkuk). Siti Wungkuk terletak di daerah yang sekarang dikenal sebagai daerah Kraton Kanoman. Pada waktu itu, kuwunya bernama Kyai Kuwu Srimaana, mempunyai anak perempuan bernama Kancana Larang yang kemudian diperisteri oleh Pangeran Gagak Lumajar. Begitulah setelah lama bersuami isteri mereka kemudian dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik rupawan, yang diberi nama Nyi Mas Pakungwati. Nyi Mas Pakungwati ini kelak menjadi penguasa di Jalagrahan dan kelak menjadi penguasa di Kasepuhan, yang pada waktu itu belum dikenal dan masih menjadi asal muasal. Lalu Nyi Mas Pakungwati memperoleh seorang adik laki-laki, yang diberi nama Pangeran Carbon. Cicit laki-laki yang menjadi idaman sang kakek (buyut) Kuwu Carbon Srimangana.

Penguasa Siti Wungkuk ini adalah orang pertama yang menerima agama Islam yang diajarkan oleh mantunya. Begitulah Pangeran Gagak Lumajar kemudian menjadi Guru agama di Gunung Kentaki. Dikisahkan banyak yang datang berguru kepadanya dan masuk agam Islam, baik yang datang dari sebrang maupun dari tanah Jawa.

Raja Pajajaran kemudian mendengar bahwa anaknya sekarang telah menjadi guru agama Islam dan sudah menyebarkan pengaruhnya di Tanah Sunda . Sang Ayah lalu memutuskan untuk mengirimkan payung, lante lan kandaga kang adi-adi (payung kebesaran, tikar dan peti yang indah-indah) kepada putranya dan kemudian sang anak diangkat menjadi Arya Santang Lumajang. Kekuasaannya meliputi daerah pesisir mulai dari gunung Kromong ke timur hingga batas kali Cipamali di selatan berbatas Ratujunti dan di utara Carbon Girang batasnya. Itulah batas awal kekuasaan Carbon yang diberikan oleh Raja Pajajaran kepada anaknya. Dengan demikian Arya Lumajang, diberi kekuasaan untuk memimpin daerah pantai. Setiap tahun Carbon diharuskan mengirim pajak berupa terasi ke negara Pajajaran. Selama pemerintahannya di Carbon, Arya Lumajang memenuhi kewajiban ini secara teratur.

Kelahiran Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah, atau Maulana Insan Kamil

Babad ini mengisahkan sejarah Wali yang tinggal di Pulau Jawa. Sejarahnya dimulai dari Nabi Muhammad saw, yang berputeri Siti Fatimah istri dari Sayidina Ali. Fatimah berputra Husein yang taat beribadah, dan Husein berputra Zainal Abidin. Zainal Abidin berputra Zainal Kabir. Zainal Kabir berputra Jumadil kabir, yang menjadi raja besar di negara Quswa. Jumadil Kabir berputra Raja Odhara, yang bertahta di mesir dan Raja Odhara ini berputra Sultan Hud yang berkuasa di negara Banisrail. Sedangkan yang menjadi patihnya, masih anggota keluarganya bernama Patih Ngungun.

Dikisahkan kemudian bahwa di negara Banisrail, isteri Sultan Hud meninggal dunia. Tidak lama kemudian Sultan pun mengirim utusan ke seluruh pelosok negeri untuk mencari penggantinya, mencari seseorang putri yang setara dengan yang telah tiada. Karena kesungguhannya utusan itu mencari, akhirnya mereka berjumpa dengan kakak beradik yang tengah menunaikan ibadah haji dari negara Pajajaran yaitu Pangeran Cakrabuana dengan adiknya Nyi Rara Santang, yang kecantikannya mirip dengan isteri Sultan yang telah tiada. Utusan raja lalu menyapa kedua pengembara ini, “Wahai saudaraku yang baru berjumpa, dan yang kami hormati”, dan kemudian utusan itu mengutarakan kepada keduanya bahwa Sultan berkeinginan untuk bertemu dengan mereka. Pada hari yang sama keduanya dibawa menghadap Sultan di istana, di negara Banisrail. Setibanya di istana, Sultan segera menyambut keduanya, dan menyapanya, “Tuan berdua, ceritakanlah kepadaku siapakah gerangan orang-tua tuan-tuan sekalian, dimanakah negara tuan, siapa yang menunjukkan tuan kemari, dan siapakah gerangan nama tuan berdua”, demikian tuturnya dengan ramah.

Pertanyaan tersebut segera dijawab oleh Pangeran Cakrabuana. “Kami berdua berasal dari tanah Sundayang berada di Pulau Jawa, orang tua kami adalah raja Sunda. Asal mulanya maka hamba bersama adik hamba beribadah haji adalah, walaupun kami tidak mendapat izin dari ayahanda untuk masuk agama islam, akan tetapi karena sangat besarnya keinginan kami berdua, maka kamipun pergi meninggalkan negara Sunda. Sedangkan ayah kami saat ini masih belum menerima agamanya Rasulullah.

Selanjutnya Sultan menanyakan siapa yang telah meng-Islamkan keduanya dijawab oleh Pangeran Cakrabuana, “Yang meng-Islamkan kami berdua adalah guru kami yang bernama Kyai Sekh Muhammad Idhopi, yang tinggal di Gunung Surandil. Beliaulah yang telah memberikan petunjuk kepada hamba dalam menjalani hidup ini, dan kemudian hamba disuruhnya mengunjungi Ka’bah Allah. Adapun nama hamba ialah Cakrabuana, dan adik hamba yang sederhana ini bernama Dewi Rara Santang .”

Setelah saling berkenalan kemudian Sultan mengutarakan keinginannya kepada Pangeran Cakrabuana, “Bilamana diizinkan aku akan meminta adikmu. Permintaan ini kusampaikan dengan harapan keridhoan dan ketulusanmu, dan juga karena Allah, jika tuan perkenankan adikmu akan ku peristeri” . Permintaan ini dijawab oleh Cakrabuana, “Hamba tidak berkeberatan akan kehendak paduka raja, akan tetapi adikku telah dewasa, silahkan Baginda menanyakan langsung kepadanya, akan baik buruknya kehendak baginda.”

Sultan pun berkata kepada Dewi Rara Santang, “Dewi, dengan kehendak yang tulus dan dengan kehendak Allah, aku ingin memperisterimu.”Sang putri tak bisa menjawab permintaan yang baru pertama kali didengarnya itu, apalagi diajukana oleh seorang laki-laki terkemuka seperti itu. Sultan pun segera mengerti akan perasaan Sang putri yang tengah menahan perasaannya itu. Maka dengan cepat Sultan bersabda, “Aku akan menyepi di Gunung Tursinah, disana ada jurang yang dalam dimana aku akan membuat perjanjian dengan dirimu. Harus dilakukan di gunung itu, ajaklah saudaramu untuk mengikuti dari belakang dan juga bersama penghulu yang bernama Jalaluddin, suruhlah dia juga mengikuti dari kejauhan.”Lalu Sultan pun pergi meninggalkan istananya, tujuannya ke arah timur. Dikisahkan setelah melakukan perjalanan jauh, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ditempat itu lalu Sultan menyampaikan lagi keinginannya untuk mempersunting sang putri. Disampaikannya berulang-ulang sampai tiga kali. Yang ditanya pun akhirnya menjawab, “demikian jawab Rara Santang, “Baiklah baginda hamba bersedia tuan peristeri, kalau permohonan hamba yang satu ini dapat dikabulkan. Permohonan hamba ialah kalau kelak hamba mempunyai anak laki-laki, hendaknya dia diperkenankan untuk kembali ke Pajajaran, untuk menyerbarluaskan iman suci. Bilamana baginda bersedia memegang janji akan memenuhi permintaan hamba ini, hamba tak akan menolak keinginan baginda’’. Mendengar permohonan demikian Sultan Hud bimbang hatinya. Dalam kebimbangan tiba-tiba terdengar suara dalam jurang, “He Raja Hud sanggupilah permintaan putri itu, kelak bila sudah tiba waktunya, dengan janji Allah permintaan itu akan terpenuhi.

Maka Sultan pun menjawab, “Baiklah kusanggupi permintaan itu.”Manakala janji itu diucapkan terdengar suara gemuruh dari lambung gunung, berulang-ulang sampai tiga kali. Demikianlah sifat gunung itu bilamana ada yang membuat perjanjian. Dengan telah dikabulkannya permintaan sang putri, maka urusanpun sudah selesai sudah. Selesai sudah perjanjian dengan sang putri. Maka mereka pun kembali ke istana untuk melangsungkan upacara pernikahan. Semua Raja yang dihormati di Banisrail datang menghjadiri perkawinan Sultan dengan Dewi Rara Santang. Para tamu bersuka cita siang dan malam. Setelah menjadi isteri Raja maka Dewi Rara Santang pun berganti namanya menjadi Nyi Syarifah Mudaim, dan sang Dewi menjadi permaisuri yang dimuliakan di negara Banisrail. Raja sangat mengasihinya melebihi dari yang lainnya, dan kemudian dikisahkan bahwa putri itu pun mengandung. Adapun sang kaka, Pangeran Cakrabuana, yang juga bermukim di negara Banisrail, namanya diganti oleh Sultan Banisrail menjadi Haji Abdul Iman.

Cepatnya kisah, putri yang hamil itu kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Mendengar berita ini sang ayah segera datang menengok bangsawan kecil ini. Tak terlukiskan kebahagiaan hatinya atas kelahiran putranya ini. Sudah menjadi adat di Banisrail, bilamana ada anak bangsawan lahir maka akan dibunyikan tanda-tanda kerajaan, tabuhan Tabbal Ibrahim dan bedil emas yang dibunyikan siang dan malam, para Raja semua bersuka cita. Begitulah anak bangsawan ini kemudian diberi nama, sebuah nama yang sangat indah yaitu Syarif Hidayatullah. Wajahnya sangatlah tampan, semua raja di Banisrail datang mengunjunginya.

Ketika berusia tujuh bulan, Syarif Hidayatullah dibawa ayahandanya mengunjungi makam Nabi Muhammad di Madinah. Bilamana di Jawa, usia itu adalah saat bayi menginjak tanah atau di sebut Tedak Siti. Di Makam Nabi, tengah Sultan berdo’a tiba-tiba terdengar suara di telinganya,”He Sultan Hud, anakmu ini kelak akan menjadi Raja di Tanah Jawa, dia akan mewarisi pusaka ibunya. Anakmu ini tidak akan menjadi Raja di Mesir.”mendengar bisikan tersebut, Sultan pun bersyukur kepada Yang Maha Agung, dan kembali ke istannya di negara Banisrail.

Dikisahkan Puteri Mudaim kemudian hamil lagi, dan setelah tiba waktunya kemudianlahir seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Syarif Nurullah. Setelah berusia tujuh bulan, bangsawan kecil ini pun juga dibawa kemakam Nabi. Sultan berdo’a lagi, dan kemudian terdengar lagi suara yang mengatakan, “Anak ini kelak akan mempunyai nama besar, dia akan menjadi Raja di negara Mesir membawa pusaka sang ayah.” Begitulah sultan bersyukur kepada Yang Maha Esa dan kemudian kembali ke Istananya di Banisrail.