Syekh Abdul Kadir Jaelani

Adapun permulaan disebutnya cerita yaitu ketika  Syekh Abdul Qadir Jaelani baru dilahirkan oleh seorang perempuan, sehingga lahir sempurna. Menurut pendapat sebagian penulis, Abul Faḍal (Syekh Abdul Qadir Jaelani) puteranya Ṣalih. Salih anak yang  Syafi’i. Sebagian pendapat menceritakan saya yang berilmu dan memiliki kemampuan yang berbagai macam kemampuan dan yang berputera Syekh Abdul Qadir Jaelani telah lahir di dunia pada tahun hijrah Nabi kurang lebih 470 tahun. Beliau lahir di sebuah desa Jaelani adalah sebuah daerah yang ada di wilayah Tibristan, Desa Jaelani itu dinamakan juga dengan Kaelani. Juga disebut juga dengan desa Qabil dan dinamakan juga dengan Jiyul. Menurut pendapat yang lain,  Syekh Abdul Qadir dinamakan al-Jaelani itu karena dibangsakan dengan para leluhurnya yang dicintai. Maksudnya wali Jaelani itu mendapatkan gelar kebangsaan (kesukuan) dari nenek moyang.

Diceritakan Syekh Abdullah Jaelani meninggal pada bulan Ramadhan hari Senin, sebagian pendapat terjadinya pada bulan Rabi’ul Akhir. Pada tahun 561 H pada umur 90 tahun. Menurut sebagian penulis berpendapat, nama Abu Muhammad Abdullah itu  karena saya berguru Syekh Abdul Qadir Jaelani tentang ajaran Islam karenanya saya membicarakan berbagai macam dan sifat (perbedaan) sesungguhnya Syekh Abdul Qadir Jaelani orang yang memiliki kepribadian yang bijak (sempurna), luas, dan jenggotnya lebat. Jika mendapatkan firasat sampai luhur, memiliki derajat, dan memiliki ilmu yang widi, yang tidak putus-putusnya bertapa (berzuhud). Dan diceritakan bahwa anak Syekh Muhriddin Abdul Qadir Jaelani sebanyak enam orang, ‘Abdur-Razaq puteranya yang tertua, Abdul Ghafir, dan putera yang ketiga  Abdul Jabari, dan keempat wali ‘Isa, yang kelima Ibrahim, yang keenam  Muhammad. Muhriddin Abdul Qadir sangat mencintai putera yang bernama Muhammad, namanya ada pada putera yang satu.

Menurut yang diceritakan, saya belum menemukan puteri wanita, tetapi ditemukan bunyi ini sebagaimana pada saat kehidupan orangtuanya.  Putera ‘Abdur-Rahman dan Syekh Abdul Qadir Jaelani memiliki saudara yang bernama Syekh Abdullah Syekh Abu Ahmad.

Dewi Faṭimah menurunkan Syekh Abdullah  yang berbangsa Syāfi’i yang menjadi pemimpin para Syekh, yang mempunyai sikap yang sangat mulia dan memiliki  karamah yang agung dan indah, dan juga Muhyiddin Abdul Qadir Jaelani memiliki satu bibi. Wali ‘Aisyah  puteranya Syekh Abdullah.

Maka diceritakan lagi, ketika pada suatu masa desa Jaelani mendapatkan bencana kekeringan yang sangat luar biasa. Para penduduk memohon hujan, akan tetapi  Allah belum mengabulkan. Maka kaum berbondong-bondong mendatangi wisma ‘Aisyah untuk meminta hujan. Maka ‘Aisyah segera keluar halaman seraya menyapu halaman. Setelah menyapu halaman, ‘Aisyah berdoa: “Wahai Tuhanku yang Maha Pengasih, sesungguhnya hamba saat ini menyapu halaman ini, maka tuwan siramlah dengan air, agar menjaga, sebagai pertanda hujan yang deras, sebagai perumpaan air yang datang dari curahan langit.” Para kaum itu sangat gembira hatinya, sehingga mereka pulang ke rumah masing-masing.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

2 tanggapan untuk “Syekh Abdul Kadir Jaelani”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s