Syarah dan Hasyiyah

Ditinjau dari temanya, beberapa teks syarah tasawuf memberikan penjelasan yang sama, atau hampir sama, dengan teks matan yang sudah dijelaskan di atas. Secara umum, syarah atau hāsyiyah ditulis karena pengarang (baca: pengarang syarah atau hāsiyah, dan bukan perasaan pengarang matan, kecuali pengarang syarah atau hāsyiyah dan matan itu satu orang yang sama) merasa bahwa cakupan diskusi yang terdapat dalam matan dirasa tidak memadai, terutama bagi kelompok pembaca tertentu yang membutuhkan penjelasan lebih terperinci dan mendalam (Oman Fathurrahman, 2010: 7) yang dapat mengurai teks matan dari segi tata bahasa, tata makna, dan maksudnya yang dikehendaki oleh penulis matan.

Syarah tidak selalu berupa teks yang terdiri dari ratusan halaman, tapi syarah hanayalah sebuah metode penulisan yang dilakukan oleh para inteletual Islam dalam karya-karya yang mereka anggap perlu diberi komentar. Karena, dari segi formasi, teks matan pun sebenarnya bukanlah sebuah teks pendek yang terdiri dari puluhan atau ratusan halaman. Bisa juga teks matan terdiri dari ribuan halaman seperti teks matan Ihya Ulumuddin yang ditulis oleh al-Ghazali.

Teks syarah tidak selalu memposisikan diri seperti kamus Arab yang disusun mengiringi kalimat teks matan yang dipenggal-penggal menurut kebutuhan penulisnya, yang antara teks matan dengan teks sayarah menjadi satu kesatuan yang utuh dalam alur logis pemaparan materi. Tapi teks syarah sering juga berbentuk seperti teks pidato yang di bagian atas berupa kalimat pendek Arab yang diberi komentar panjang lebar dan mendalam sesuai keinginan para penulisnya, yang antara teks matan dengan teks syarah terpisah sama sekali dan masing-masing teks berdiri sendiri. Jika matan sudah berupa teks panjang yang secara keseluruhan sudah mencapai maksud penulis, maka syarah dalam posisi teks matan seperti ini sering kali kalimatnya lebih pendek dari matan yang dikomentarinya. Syarah terhadap Risalah Ruslan mempunyai kedua-duanya; Abu Zakaria al-Anshari dalam mengomentari Risalah Ruslan ini menggunakan metode pecampuran antara teks dan syarah dengan memenggal kalimat teks, sedangkan Ruknuddin Abdul Quddus al-Husain menggunakan metode kedua yaitu pemisahan antara teks matan dengan teks syarah.    

Muhammad al-Zabidi dalam mengomentari Ihya Ulumuddin menjadi salah seorang orang yang menjadi contoh dalam penggunaan syarah dengan metode pecampuran atau metode awal. Dari Ittihaf syarah Ihya Ulumuddin  dapat diketahui bahwa Muhammad al-Zabidi menggunakan metode awal dengan pemberian syarah yang maksimal. Sebagai contoh dapat dihadirkan sebagai berikut: al-Ghazali berkata dalam teks Ihya Ulumuddin, Amma ba’du kitāb al-shabr wa al-syukr bismillah al-rahmān al-rahīm (al-Ghazali, IV, 1991: 63). Di antara kalimat ‘ba’du’ dan ‘kitāb’, Muhammad al-Zabidi memberikan syarah dengan kalimat ‘fa hādzā syarh. Sementara Muhammad al-Zabidi memberikan syarah di antara kalimat al-syukr dan bismillah dengan sebuah kalimat yang panjang yang isinya menjelaskan tentang kedudukan kitab Sabar dan Syukur sebagai bagian kedua dari perempatan yang keempat dan bagian ketiga puluh dua dari kitab Ihya Ulumuddin yang ditulis oleh al-Ghazali. Lebih jauh lagi Muhammad al-Zabidi, dalam memberikan komentar antara dua kalimat tersebut, dengan menjelaskan kedalaman al-Gazali dalam memahami masalah dan sebagai orang yang memilik banyak kemampuan yang berlebih dalam memberikan penjelasan yang panjang dengan kalimat yang tidak membosankan (al-Zabidi IX, 1994: 2).

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s