Sedikit Pandangan Tasawuf Ibnu Arabi

Ibnu Arabi dalam Hill al-Rumuz wa Mafātīh al-Kunūz, sebuah matan tasawuf naskah Keraton Kacirebonan yang diedisi oleh Muhamad Mukhta Zaedin dan Dr. Harapandi Dahri, M.Ag., mengutarakan menjabarkan tentang tasawuf tanpa memberikan nama-nama pasal-pasalnya. Namun demikian, kedua penyunting edisi naskah itu memberikan nama-nama pasal tersebut dalam edidi terjemahan yang disajikannya. Mereka berdua beranggapan bahwa pemberian pasal-pasal itu untuk mempermudah para pembaca untuk mempelajari topik-topik dan rubrik-rubrik yang ingin dipelajari. Pasal-pasal yang dibuat oleh kedua penyunting edisi teks naskah tasawuf milik Keraton Kacirebonan itu dapat disajikan sebagai berkiut: Mukadimah (Teks) Naskah, Mukadimah Pembahasaan (Teks) Naskah, Ilmu, Murid, Murad, Suluk, Taubat, Mutalawwin, Mutamakkin, Syariat, Tarekat, Hakikat, Rindu, Pecinta, Kekasih, Nafi, Itsbat, Hati, Kehendak, Cinta, Kesatuan, Kedekatan, Wushul, Ruh Kudus, Ruh Amin, Ruh Firman, Talwīn, Tamkīn, Alam Nasut, Alam Malakut, Alam Lahut, Kesatuan Wujud (Wahdatul Wujud), Kerajaan Hati, Makrifat, Cahaya, Ruh, Jasad, Sima’, Terbang, Tari, Kasyaf, Ahli Kasyaf, Ahwal, dan Keramat (Ibnu Arabi, 2013).

Baik dari Qusyairi maupun dari Ibnu Arabi mempunyai kekurangan dan kelebihannya yang tidak terdapat pada teks tasawuf yang lain. Teks-teks Qusyairi memberikan pembahasan tasawuf hingga pada tokoh-tokoh yang menjadi pelopor pergerakannya. Sementara Ibnu Arabi dalam teks naskah Keraton Kacirebonan tidak sempat menyajikan tokoh-tokoh tasawuf dalam karyanya. Namun demikian, Ibnu Arabi lebih rinci dalam memberikan gagasan dan sebuah pola pikir dan pola pandang dalam melihat sebuah kasus tasawuf. Dalam teks naskah Keraton Kacireboann itu Ibnu Arabi menjelaskan tentang paham wahdatul wujud, jika istilah ini disetuji, secara gamlang dengan menghadirkan salah satu tokohnya yang bernama Manshur al-Hallaj. Penghakiman yang diterima oleh al-Hallaj adalah sama persis dengan penghakiman yang diterima oleh Syekh Siti Jenar. Yang berbeda dari keduanya adalah hanya dalam pelaksanaan hukuman mati yang diberikan oleh pemerintah pada saat itu. Dalam kasus ini, Ibnu Arabi mensinyalir dan membaca sebab musabab yang mengakibatkan penghakiman atas al-Hallaj, yang secara kiyasi bisa dianalogikan untuk kasus Syekh Siti Jenar di Jawa, yang berangkat dari sebuah mukasyafah yang terjadi dalam sir dan jiwa yang tidak dapat dibendung dan disembunyikan oleh al-Hallaj, sehingga bahasa-bahasa dan perasaan yang keluar dari perkataan al-Hallaj tidak pantas diucapkan oleh seorang hamba yang tunduk dan patuh pada syariat Islam (Ibnu Arabi, 2013: 357-370). Dengan bahasa yang indah, dalam matan teks Naskah Kacirebonan, Ibnu Arabi menjelaskan sebab musabab dan penghakiman terhadap al-Hallaj itu sebagai berikut: 

Maka tidak setiap kalbu patut bagi sir, tidak semua rumah kerang patut bagi mutiara, setiap golongan punya pendapat, dan tidak semua yang diketahui dapat diceritakan.

Seseorang bertanya pada Abu Yazid al-Basthami, “Banyak sekali yang tidak kami pahami terhadap yang Tuan katakan.”

Abu Yazid al-Basthami menjawab, “Karena perkataan orang bisu tidak dapat dipahami kecuali oleh ibunya.” Aku jelaskan dalam kidung sair:

Saat kamu mulia dengan pengetahuan

Kemudian kamu melihat seorang cendikia

Maka janganlah kamu mendebatnya

Dan jika kamu tak melihat hilal

Maka sebaiknya kamu mengikuti saja

Orang-orang yang melihatnya dengan mata kepala

 Inilah Juru Penerang al-Qur’an, Abdullah bin Abbas ra, berkata, “Sungguh aku tidak tahu penafsiran firman Allah swt, “Perintah Allah berlaku padanya” (QS at-Thalāq [65] : 12). Jika aku menafsirkannya, maka kamu semua mengkafirkan saya.”

Abu Hurairah ra berkata, “Aku mengambil pelajaran dari Rasulullah saw sebanyak dua kantong ilmu. Satu kantong aku ajarkan pada kamu (tabi’īn) semua. Dan satu kantong yang lain, jika aku perlihatkan kepada kamu semua, maka kamu akan melempariku dengan batu.”

Ali bin Abi Thalib kaw berkata dalam sair:

Sungguh dalam hatiku terdapat ilmu

Yang jika aku katakan

Maka pasti kamu berkata padaku

Kamu sebagian dari para penyembah berhala

Dan mereka para lelaki cendikiawan muslim

Akan menghalalkan darahku

Mereka menganggap baik keburukan yang mereka terima

Adapun para Ahli Tamkīn adalah mereka yang mengerti dan menyembunyikan sesuatu yang mereka ketahui karena hal yang mereka ketahui dari  lemahnya tanggapan akal orang-orang berakal. Karena hal inilah, al-Hallaj, ketika beliau merasa mengetahui sedikit sesuatu dari ilmu dan mengatakannya, maka dihalalkan darahnya. Maka kesalahan al-Hallaj adalah dari segi dia melahirkan sesuatu yang (seharusnya) dia sembunyikan dan memperlihatkan sesuatu yang (seharusnya) dia tutupi, bahwa sesungguhnya tidak ada keselamatan. Maka hukum orang yang menghalalkan darah al-Hallaj adalah boleh.

Telah diceritakan bahwa al-Hallaj sewaktu hendak di salib dan dia melihat kayu dan paku-paku, dia tertawa panjang lebar. Lalu dia melihat sekumpulan orang dan melihat al-Syibli. Berkata al-Hallaj, “Wahai Abu Bakar, apakah kamu punya sajadah?” Al-Syibli menjawab, “Betul, punya.” Al-Hallaj berkata, “Gelarkan sajadah itu untukku.” Kemudian Abu Bakar al-Syibli menggelar sajadah untuknya. Lalu al-Hallaj maju menuju sajadah dan shalat dua raka’at. Pada raka’at pertama, Al-Hallaj membaca surat al- Fatihah dan ayat:

ولنبلونكم بشئ من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين

(Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar) (QS al-Baqarah [2] : 155).

Pada rakaat kedua al-Hallaj membaca surat al-Faihah dan ayat:

كل نفس ذائقة الموت وإنما توفون أجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز

وما الحياة الدنيا إلا متاع الغرور

(Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan) (QS Ali Imran [3] : 185).

Kemudian al-Hallaj menyebutkan sedikit sesuatu. Adapun yang sempat dihapalkan dari kalimat al-Hallaj yaitu: “Ya Allah, dengan hak berdiri-Mu pada hakku, dan dengan hak berdiriku pada hak-Mu, dan berdiriku pada hak-Mu dengan perbedaan berdiri-Mu pada hakku. Sungguh karena berdiriku dengan hakku yang nasūt, berdiri-Mu dengan hakku yang lahūt, serta nasūtku yang rusak binasa dalam lahut-Mu yang tidak bercampur padanya, dan lahut-Mu menguasai nasutku yang tidak bersentuhan denganya, maka aku mohon pada-Mu agar Engkau menolongku untuk mensyukuri nikmat ini yang telah Engkau berikan padaku selama Engkau bukakan padaku berupa pemandangan wajah-Mu dan Engkau haramkan pada selainku, sesuatu yang telah Engkau perbolehkan padaku dari memandang rahasia-rahasia-Mu yang tersamar. Mereka semua telah berkumpul sepakat untuk membunuhku karena menjaga agamaMu dan bertakarub pada-Mu, maka ampunilah mereka. Karena sesungguhnya Engkau, jika Engkau bukakan pada mereka apa yang sudah Engkau bukakan padaku, maka mereka semua tidak akan berbuat demikian. Jika saja Engkau tutupi dariku apa yang sudah Engkau tutupi dari mereka semua, maka Engkau tidak akan memberika cobaan dengan sesuatu yang sudah Engkau cobakan. Bagi-Mu segala puji pada setiap yang Engkau kerjakan dan bagi-Mu segala puji pada setiap yang Engkau kehendaki.”

Kemudian Abu Haris, Sang Algojo, maju dan membacok al-Hallaj dengan pedang dengan sekali bacokan, wajah dan hidung al-Hallaj terbelah. (Darah bercucuran mengaliri jenggot al-Hallaj). (Ibnu al-Sā’ī, 2010: 4). Demi melihat itu, al-Syibli menjerit dan merobek-robek jubahnya, kemudian serentak pingsan Abul Hasan Al-Wasithi dan para jamaah dari para ahli tasawuf yang masyhur.

Berkata Abdul Karim bin Abdul Wahid, “Suatu hari aku masuk dalam masjid dan bertemu dengan Husain Mansur al-Hallaj, dia sedang bersama para jamaah. Salah satu yang dikatakan al-Hallaj pada saat itu ialah: “Jika hal terkecil yang ada dalam hatiku dijatuhkan di atas gunung dunia, maka leburlah gunung-gunung. Dan sungguh diriku, jikapun diriku pada hari kiamat dimasukkan ke dalam neraka, maka hanguslah neraka. Dan jika aku dalam surga, maka robohlah surga” (Ālām al-Hallāj: Syahīd al-Tashawwuf fī al-Islām (Penderitaan al-Hallaj: Syuhada Tasawuf Islam, hlm. 267).

Dan suatu ketika Abdul Karim bin Abdul Wahid memasuki masjid jami’nya Mansur al-Hallaj di Baghdad. Al-Hallaj berkata: “Wahai manusia, berkumpullah dan dengarlah satu hadis dariku.” Lalu sangat banyak orang berkumpul padanya; sebagian dari mereka adalah pecintanya dan sebagian yang lain adalah penentangnya. Kemudian berkata al-Hallaj, “Ketahuilah olehmu semua bahwa Allah telah menghalalkan darahku untukmu semua, maka bunuhlah aku.” Maka pecahlah tangis banyak orang, lalu Abdul Wahid bin Sa’id al-Zahid mendekati al-Hallaj dan berkata, “Ya Syekh, bagaimana kami membunuh seorang lelaki yang puasa, shalat, dan membaca al-Qur’an?” Al-Hallaj menjawab, “Wahai Syekh, makna yang tertahan adalah darah keluar dari shalat, puasa, dan membaca al-Qur’an, maka bunuhlah aku, agar kamu semua dapat beristirahat. Kamu semua adalah pejuang dan akulah saksinya.” Kemudian al-Hallaj pergi dan aku (Abdul Wahid bin Sa’id al-Zahid) mengikutinya sampai rumah, dan aku bertanya padanya, “Ya Syekh, apakah makna ucapan Tuan?” Al-Hallaj menjawab, “Wahai anakku, tidak ada kesibukan yang terpenting bagi para muslimin selain dari membunuhku” (Penderitaan al-Hallaj: Syuhada Tasawuf Islam, hlm. 267). 

Ketahuilah bahwa membunuh al-Hallaj adalah menegakkan peraturan hukum dan menetapkan syariat. Maka barangsiapa yang telah melampaui batas, maka baginya ditegakkan peraturan hukum. Dalam makna itu aku berkata dalam kidung syair:

Darahku telah halal saat hatiku nyatakan cintanya

Halal baginya dalam hukum sebegaimana yang halal

Aku bukanlah orang yang melahirkan rahasia

Tetapi hanyalah pengantin jiwa dalam hatiku telah nyata

Aku menyaksikannya hingga cinta tenggelamkan pikiranku

Aku sirna berama cinta dari segala keseluruhan dan kesemuaanku

Cinta diami seluruh ruang dariku dengan kesegalaannya

Akulah cinta saat cinta telah tampak nyata

Aku tertidur dalam rahasiaku

Cinta sempurna yang ada di antara para manusia

Saat Kau bertanya, ‘siapa kamu?’

Jawabku, ‘Akulah yang abadi saat sirna dalam diri-Mu, Ke-Dia-an

Aku-lah al-Haq, bagai Gustiku dalam kerinduanku

Dia-lah al-Haq dalam kebaikan tanpa kesertaanku

Saat aku dalam kemabukanku maka aku bentangkan segala

Sungguh aku robek hatiku dengan kuat hingga tercabik

Siapa yang merasa aneh bahwa orang-orang yang kucintai

Telah gantungkan tangan birahinya pada pertolonganku

Mereka semua mencaciku dan berkata janganlah kau bernyanyi

Jika mereka mencibir Gunung Hunain maka tidaklah mencaciku

Dan Gunung Hunain berkidung

Seraya memanggilnya dengan bahasa sikapnya

“Wahai Hallaj, bagaimana kamu melihat cinta”

Al-Hallaj menjawab

“Aku melihat cinta sungguh telah tegak

Dalam jerat keindahan Kekasih

Burung-burung pipit jiwa berterbangan padanya

Saat burung-burung pipit berjatuhan untuk mematuk

Seketika biji jerat berbalik atas mereka

Mereka bertindak membabi-buta

Lalu mereka tersadar pada hakikat cinta itu

Seketika ada biji itulah biji cinta

Yang dirupakan oleh tangan wanita muda

Maka cinta berubah jadi bencana”

Hai Hallaj, kau terbakar oleh kelembutan cinta

Dan kau tercekik oleh tali kerinduan-Nya

Kau tak terlepas dari jerat cinta

Hingga kau katakan, “Aku-lah Al-Haq”

Jika kekekalan ada padamu, maka kau tidak akan meneguk gelas kefanaan. Lalu al-Hallaj berkata, “Wahai kaumku, ambilah aku dan lepaskan diriku dari aku. Sirnakan segala sifat baruku, tatkala Dia nyatakan padaku dari kekuasaan purba-Nya. Sirna yang baru dan kekal yang kadim, tak bergeming. Lalu aku sirnakan ke-aku-anku dalam Ke-Aku-an-Nya. Sirna kesirnaanku dalam hakikat diri-Nya. Lebur nasūtku dalam lahūt-Nya. Lalu kumelihat dari-Nya pada-Nya. Maka aku tak melihat selain Dia. Aku mendengar dari-Nya pada-Nya. Maka aku tak mendengar selain Dia. Aku berkata dengan-Nya. Maka aku tak sebut selain Dia. Maka aku sadari bahwa sungguh tidak ada dia selain Dia. Maka aku berkata, “Aku-lah Dia.” Jika aku berkata, “Aku-lah al-Haq”, maka aku tidak berpindah dari al-Haq. Karena Aku-lah al-Haq dalam cinta-Nya. Dia-lah al-Haq dalam kerajaan dan kekuasaan-Nya. Sungguh, jika telah ada kemabukanku, juga rahasiaku, maka aku telah mengenal-Nya dalam rinduku di atas keberadaanku, dan akhirnya rasa rinduku menjadikan lebur luluhnya kecerdasanku. Aku katakan (hal itu) dalam kidung syair:

Bunuhlah aku wahai orang-orang yang kupercaya

Sungguh dalam pembunuhanku terdapat kehidupanku

Kematianku  dalam kehidupanku dan kehidupanku dalam kematianku

Aku bagiku adalah kemusnahan diriku dari sisi kemuliaanku

Pemenuhan sifat-sifatku adalah sebagian keburukanku

Aku jemu kehidupanku dalam penanda kefanaan

Bunuhlah aku dan bakarlah aku karena tulang belulang yang rapuh

Lalu bawalah tulang belulangku  yang luluh dalam pekuburan musnah

Maka kalian akan temukan aku dalam lipatan keabadian

Wahai al-Hallaj, Engkau meneguk cinta dihadapan-Ku dan mereka tak sanggup menghimpun selain jasadmu. Akan Aku buatkan pengakuan yang digairahi oleh jiwa dan dinikmati oleh mata, maka pisahkan dan berhentilah. Di sanalah keluarga berebutan piala tanpa permainan dan tanpa dosa dalam pengakuan. Tuhan mereka  telah memberi tudung dan minuman yang suci. Pendengaran mereka; ‘mereka tidak mendengar didalamnya tentang permainan dan dosa selain ucapan selamat.’(QS Maryam [19] : 62).  Musyāhadah mereka; ‘wajah-wajah mereka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.’ Kemudian mereka membunuh al-Hallaj dan menyalibnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengannya bagi mereka” (QS al-Qiyamah [75] : 22 dan 23).

Sebuah rumah yang mereka serbu, yang di dalamnya terdapat para kekasih al-Hallaj,  yang mereka semua melindunginya. Mereka tidak dapat membunuh al-Hallaj secara penuh dan tidak dapat menyalibkannya. Tetapi mereka kehilangan wujud al-Hallaj. Kekasih mereka diserupakan kepada mereka tatkala mereka menyerbu al-Hallaj dan mereka tidak mendapatkanya. Mereka memberinya minuman yang suci dan jernih dan melemparkan al-Hallaj untuk menutupi sesuatu yang mereka titipkan dan tak sanggup menanggungnya, dan goyah, karena beratnya sesuatu yang mereka tanggung. Kemudian al-Hallaj bingung dalam kemabukan dan berkata-kata: “Tuhanku, bagaimana aku samarkan di dalam cinta sesuatu yang mereka telah melahirkannya” (Ibnu Arabi, 2013: 361-369).

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s