Prabu Kian Santang

8
Kisah ini diangkat dari Cerita yang dilantunkan dalam kecapi Group Gentra Buana Pusaka Panca Tunggal Pantun Rajah

Seorang raden di Negara Cempa yang bernama Raden Wulanjana menanyakan ayahnya. Awalnya sang ibu tidak memberitahukan prihal keadaan ayahnya. Karena desakan Raden Wulanjana yang semakin kuat, akhirnya sang ibu memberitahukan keberadaan ayahnya bahwa ayahnya berada di tahah Jawa. Dengan tekad yang sangat kuat Raden Wulanjana pergi dari Negara Cempa untuk mencari ayahnya yang berada di tanah Jawa. Negara yang dituju adalah Negara Pajajaran sesuai dengan petunjuk ibunya. Dengan menaiki perahu yang sudah disediakan oleh ibunya, Raden Wulanjana berlayar menuju pulau Jawa.

Sementara itu di Negara Pajajaran sedang melakukan seba agung yang dihadiri berbagai utusan dan kepala daerah. Hadir juga pada acara seba agung berbagai perwakilan dari negara Cina dan Portugis. Saat itu Jendral Kian Santang adalah seorang yang sedang memiliki kewenangan dalam negara Pajajaran. Dalam seba agung itu Prabu Kian Santang membeberkan segala maksud dan tujuannya kepada semua yang hadir tentang maksudnya untuk menguasai Sunda Kelapa yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Banten.

Dengan kesepakatan para peserta seba agung dan dengan dukungan mereka, Prabu Kian Santang menulis surat untuk Sultan Banten Maulana Yusuf bahwa Negara Banten harus menyerahkan tanah kekuasaannya, Sunda Kelapa, kepada Negara Pajajaran. Demi membaca surat itu, Sultan Banten Maulana Yusuf berang dan marah besar. Dengan nada suara tinggi Sultan Maulana Yusuf siap menghadapai pasukan Pajajaran dan dengan cepat Sultan Maulana Yusuf membalas surat Pajajaran yang isinya berisi penolakan dan siap menghadapi serangan Pajajaran.

Surat balasan dari Sultan Banten pun dikirimkan kepada Prabu Kian Santang yang ada di Pajajaran. Prabu Kian Santang pun merasa marah dengan isi surat balasan yang ditulis oleh Sultan Banten Maulana Yusuf. Dengan adanya surat ini keadaan Banten dan Pajajaran dalam keadaan genting. Maisng-masing tentara dari kedua negara disiapkan dalam keadaan siaga perang. Apa yang terjadi selanjutnya dan bagaimana dengan Raden Wulanjana yang sedang mencari ayahnya? Kisah dalam kecapi ini perlu kita dengarkan bersama untuk menggali informasi yang ada di dalamnya.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s