Pertemuan Pangeran Walangsungsang dengan Sanghyang Danuwarsih di Gunung Merapi

Dikisahkan, setelah Pangeran Walangsungsang sampai di kaki gunung Merapi (di Raja Desa, Ciamis Timur), ia sedang tafakkur menyendiri. Tak lama kemudian datanglah Sanghyang Danuwarsih dan berkata pada Pangeran Walangsungsang: “Hai anak muda, siapakah engkau dari mana, dan apa tujuan yang kau kehendaki?”

Pangeran Walangsungsang menjawab: “Walangsungsang namaku, putra raja Pajajaran. Ibundaku bernama Ratu Subang Larang. Aku kesini bertujuan untuk berguru agama Islam.”

Berkata Sanghyang Danuwarsih: “Baik, sekarang ikuti aku ke puncak gunung Merapi.”

Pangeran Walangsungsang patuh dan Sanghyang Danuwarid dan turut bersama Sanghyang Danuwarsih menuju puncak gunung Merapi. Setibanya di puncak Merapi, Sanghyang Danuwarsih menyuruh putrinya, Nyi Endang Ayu, untuk menyiapkan jamuan yang lezat. Sanghyang Danuwarsih kemudian menikahkan Nyi Endang Ayu dengan Pangeran Walangsungsang, lalu berlangsunglah perkawinan antara kedua mempelai itu dengan cara-cara perkawinan yang berlaku saat itu.

Alkisah, Nyi Mas Rarasantang setelah menempuh perjalanan yang melelahkan ia beristirahat di bawah pohon beringin menggosok-gosok kakinya yang bengkak. Pakaiannya telah kumal dan compang-camping. Ia duduk sambil memanggil-manggil nama kakak yang dicintainya. Belum berapa lama Nyi Mas Rarasantang beristirahat di bawah pohon beringin, tiba-tiba datanglah seorang nenek tua yang bernama Nyi Endang Sukati dan langsung menegurnya: “Wahai bayi, siapa namamu dan mengapa engkau sendirian tanpa kawan?”

Nyi Mas Rarasantang menjawab: “Eyang, saya putri raja Pajajaran dari ibu Ratu Subang Larang, hamba sampai kemari untuk mencari kakanda Walangsungsang. Sudilah kiranya eyang mempertemukan hamba dengannya.”

Endang Sukati menjawab: “Bayi, eyang tidak tahu di mana adanya kakandamu, tapi cobalah ke gunung Liwung temuilah Ki Ajar Sakti, mudah-mudahan bayi menemukan petunjuk darinya, dan terimalah ini pusaka bernama Baju Hawa Mulia, baju ini dapat berguna apabila engkau berjalan di atas air maka tidak tenggelam, apabila engkau terkena api niscaya engkau tidak terbakar.”

Lalu dipakailah seraya berucap teimakasih dan tidak begitu lama dalam perjalanan sampailah Nyi Mas Rarasantang di gunung Liwung di hadapan Ki Ajar Saki. Ia menyungkemi kakinya seraya memohon petunjuk tentang keberadaan kakaknya, Pangeran Walangsungsang.

Ki Ajar Sakti yang waspada itu segera tahu maksud sang puri, ia menjawab: “Bayi, kakamu Walangsung sudah menikah dengan Endang Geulis, untuk menemui kakakmu datanglah ke gunung Merapi dan mulai hari ini namamu Ratna Eling, dan kelak di kemudian hari kamu mempunyai anak laki-laki punjul sebuana.”

Kemudian Nyi Mas Rarasantang berpamitan kepada Ki Ajar Sakti untuk melanjutkan perjalanannya mencari sang kakak. Hari itu Pangeran Walangsungsang sedang keluar rumah dan turun gunung, demi melihat adiknya yang sedang berjalan di bawah, maka Pangeran Walangsungsang segera menubruknya dengan penuh rasa kangen dan kasihan, ia berkata: “Duhai adikku, sungguh bahagia engkau masih bisa bertemu dengan si kakak, apa gerangan yang menyebabkan adik menyusul, tidakkah engkau senang tinggal di kerton, dan engkau dapat petunjuk dari siapa?”

Nyi Mas Rarasantang menjawab pertanyaan kakaknya sambil menangis tersedu-sedu dan dijelaskannya segala sesuatu yang dialaminya mulai dari ia keluar dari keraton hingga ia berjumpa. Sedang enaknya bercakap-cakap sambil melepas rindu kesayangannya, tiba-tiba datanglah Sanghyang Danuwarsih bersama Nyi Endang Geulis, dan Sanghyang Danuwarsih berkata: “Hai putraku, itu perempuan siapa berangkulan bertangisan denganmu itu?” Pangeran Walangsungsang menjawab: “Sungguh ini adikku, ia putri kandung hamba seayah seibu, Rarasantang namanya.” Mendengar penjelasan dari Pangeran Walangsungsang, segera Endang Geulis memeluk adik iparnya dengan penuh rasa haru.

Dikisahkan, pada suatu hari Pangeran Walangsungsang sedang tafakkur dan di hadapannya Sanghyang Danuwarsih memperhatikannya, beliau tahu bahwa maksud Pangeran Walangsungsang hendak mencari agama Islam dan belum berhasil, sedangkan ia sendiri tidak bisa memberi keterangan tentang itu, maka ia hanya bisa memberikan kepada Pangeran Walangsungsang agar tercapai cita-citanya yaitu empat buah azimat yang berupa:

  1. Azimat Cincin Ampal (penerawangan);
  2. Azimat Kamamayan (melumpuhkan);
  3. Aimat Pangabaran (panglulut);
  4. Azimat Pengasihan.

Ke empat azimat pusaka itu diterimanya dan empat azimat ini kelak dikemudian hari akan diterangkan oleh gurumu. Pangeran Walangsungsang menyampaikan terimakasih, lalu Sanghyang Danuwarsih memberikan petunjuk kepadanya agar ketiganya berguru kepada Sanghyang Nanggo yang berada di gunung Ciangkup. Pangeran Walangsungsang mematuhi perintah sang rama dan segera memasukan adik dan isterinya ke dalam Cincin Ampal, ia pamit untuk bergegas menuju gunung Ciangkup.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s