Pangeran Walangsungsang Mencari Guru Agama Islam

Di Negara Pajajaran Sri Maha Prabu Siliwangi merasa curiga dengan sikap dan gerik-gerik anaknya yang bernama Pangeran Walangsungsang yang selalu murung dan gelisah sehingga Sri Maha Prabu Siliwangi memanggilnya untuk meminta penjelasan terkait sikap putra mahkotanya ini. Pada saat Sri Maha Prabu Siliwangi menanyakan kepada Pangeran Walangsungsang tentang sikapnya akhir-akhir ini, maka Pangeran Walangsungsang menjawab bahwa dirinya telah bermimpi dengan Rasulullah SAW dan beliau menyuruh dirinya untuk memeluk agama Islam.

Mendengar penjelasan Pangeran Walangsungsang ini Sri Maha Prabu Siliwangi sontak marah dan memaki-maki putra mahkota, Pangeran Walangsungsang, yang maksud makian itu agar Pangeran Walangsungsang melupakan mimpinya dan agar menjauhi agama Islam. Namun Pangeran Walangsungsang dengan dengan tekad yang kuat dan dengan hati yang mantap menolak anjuran ayahnya, Sri Maha Prabu Siliwangi.

Pada suatu malam, sebelum keberangkatan Pangeran Walangsungsang untuk mencari agama Islam dengan berguru kepada orang yang disebutkan dalam mimpinya yang bernama Syekh Nurjati, Pangeran Walangsungsang kembali bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW untuk segera meluluskan niat tersebut. Dengan perasaan yang bingung bercapur sedih, karena harus meninggalkan adiknya yang perempuan yang bernama Prabu Mas Ayu Rara Santang, Pangeran Walangsungsang meninggalkan keraton Pajajaran dan melupakan gelar putra mahkota yang telah diterima dari ayahnya, Sri Maha Prabu Siliwangi.

Dengan penuh susah payah dan perjuangan yang panjang – dan setelah Prabu Mas Ayu Rara Santang menyusul dirinya – akhirnya Pangren Walangsung dan Prabu Mas Ayu Rara Santang menemukan guru agama Islam, Syekh Nurjati, di Patapan Giri Amparan Jati. Saat Syekh Nurjati telah merasa cukup memberi pelajaran agama Islam kepada kedua muridnya, maka Syekh Nurjati memberikan perintah kepada keduanya untuk membabad hutan di sebelah selatan Patan Giri Amparan Jati. Babad alas alang-alang ini dilakukan agar mereka berdua membuka sebuah pedukuhan baru yang bisa dihuni dan diharapkan dapat menjadi pusat keramaian, sehingga Pangeran Walangsungsang dapat mengajarkan agama Islam kepada mereka. 

Pangeran Walangsungsang dan Prabu Mas Ayu Rara Santang segera keluar dari Patapan Giri Amparan Jati untuk melaksanakan perintah gurunya. Pekerjaan membabad alas alang-alang ini dilakukan setiap hari hingga terbukalah sebuh pedukuhan baru dan secara perlahan-lahan banyak orang berdatangan yang ingin menjadi penduduk di pedukuhan baru yang dibuka oleh Pangeran Walangsungsang. Perkembangan yang pesat ini membuat Pangeran Walangsungsang sibuk dengan berbagai kegiatan.

Disarikan dari Kecapi Sejarah oleh Muhamad Mukhtar Zaedin

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s