Lahirnya Pangeran Walangsungsang

Pada tahun ± 200 SM telah terjadi perpindahan bangsa tiga kali dari Inodcina ke Indonesia, yang terakhir terjadi perpindahan bangsa keling berjumlah sekitar 20.000 keluarga yang dipimpin langsung oleh seorang pendeta dari Bizantium (kerajaan Romawi Timur), ibu kota Constantinopel (Istambul) orang Jawa menyebutnya Roma Turki.[1]

Mereka mendarat di beberapa daerah di Jawa Barat di antaranya Teluk Jakarta, Pulau Gadung, yang sekarang menjadi ibu kota negara Republik Indonesia, di pinggir-pinggir kali Cisadane dan Citarum Bogor, dan di Pesambangan Gunung Jati Cirebon Desa Jatimerta di Muarajati (Alas Konda), di teluk Banten, dan Pelabuhan Ratu daerah Rawalakbok, Banjar dan Ciamis. Proses penyebaran penduduk imigran ini terjadi pada tahun ± 87 M yang diawali tahun 1 (satu) Babad Zaman (Ano Jawa).

Kemudian seiring waktu dengan perjalanan waktu ± 363 tahun lamanya, laju pertumbuhan penduduk kian hari berkembang dengan pesat hingga pada tahun 450 M di Jawa Barat berdirilah sebuah kerajaan Taruma Negara yang terletak di daerah Cisadane Bogor. Raja tersebut bernama Purnawarman yang tertulis pada sebuah prasasti di sungai Cisadane.[2]

Disusul kemudian pada abad ke-7, di Jawa Barat berdiri pula kerajaan Banjarsari yang terletak di daerah Rawalakbok, sebuah daerah yang diapit kota Cimais dan Banjar Tasikmalaya, hingga sekarang masih ada petilasannya yaitu petilasan Pameradan Ciung Wanara, rajanya bernama Prabu Adi Mulya, semasa kecilnya bernama Pangeran Lelean.

Raja Ciung Wanara (Prabu Adi Mulya) wafat lalu digantikan oleh putri sulungnya yang bernama Ratu Purbasari, kemudian ia membangun dan memindahkan kerajaanya ke Pakuan Bogor. Pada waktu itu agama yang dianutnya adalah agama Sang Hiyang (Hindu-Budha). Setelah Ratu Purbasari wafat, kemudian secara berturut-turut digantikan oleh putra-putranya, yaitu:

  1. Prabu Linggahiang
  2. Prabu Linggawesi
  3. Prabu Wastukancana
  4. Prabu Susuk Tunggal
  5. Prabu Banyak Larang
  6. Prabu Banyakwangi
  7. Prabu Anggalarang
  8. Prabu Mundingkawati
  9. Prabu Siliwangi

Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, semasa kecilnya bernama Raden Pamanahrasa yang merupakan raja Pajajaran yang ke-9. Kemudian ia mempersuting Nyimas Subanglarang (Subang Kerancang), yaitu seorang putri Mangkubumi Mertasinga (Singapura). Dari perkawinannya dengan Nyimas Subanglarang tahun 1404 M dikaruniai 3 (tiga) orang anak yaitu:

  1. Pangeran Walangsungsang (1423 M)
  2. Nyimas Ratu Rarasantang (1427 M)
  3. Pangeran Raja Sengara (1429 M)

Tiga putra inilah kelak kemudian hari akan membabad / membangun pedukuhan Cirebon yang berlangsung pada tanggal 1 Syuro tahun 1445.  Pangeran Walangsungsang dilahirkan pada tahun 1423 M di keraton Pajajaran ayahnya bernama Prabu Siliwangi, raja ke-9. Sedangkan ibunya Ratu Subang Larang yang memeluk agama Islam di Pengguron Syekh Quro Kerawang, Jawa Barat.

Pangeran Walangsungsang dalam usia remaja pada tahun 1441 M keluar dari kerton Pajajaran, pada saat itu usianya baru 17 tahun. Kala itu, pada suatu malam ia mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya beliau diperintahkan agar mencari agama Islam yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Hal yang sama juga dialami oleh adiknya yaitu Nyimas Rarasantang, kemudian satu persatu mereka keluar dari keraton Pajajaran untuk berguru agama Islam, mengembara menelusuri hutan belantara, naik gunung turun gunung selama sembilan bulan. Pertama kali yang dituju adalah Gunung Merapi yang terletak di Padepokan Priyangan Timur, tepatnya di desa Raja Desa Ciamis Timur.

   Alkisah, Ratu Mas Rarasantang yang berada di Pajajaran rindu kepada kakanda Raden Walangsungsang yang telah mendahului keluar dari istana. Setelah ditinggalkan oleh kakandanya, Ratu Mas Rarasantang selalu murung. Ia menangis tersedu-sedu siang malam berturut-turut selama empat hari. Dikala malam telah sunyi Ratu Mas Rarasantang sedang tidur nyenyak bermimpi bertemy dengan seorang laki-laki yang tampan lagi berbau harum memberi wejangan-wejangan ajaran Islam dan menyuruh berguru agama Islam syaiat Nabi Muhammad saw, dan kelak dikemudian hari akan mempunyai suami raja islam dan akan mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi wali kutub. Ratu Mas Rarasantang tersentak dan bangun dari tidurnya dan ia sadar dari mimpinya, lalu ia keluar dari istana untuk menyusul kakaknda Raden Walangsungsang yang sedang terus berjalan tak mengenal lelah menuju ke arah timur.

Dikisahkan setelah keluarnya dua putra mahkotanya, sang ibunda tercinta, Ratu Subang Larang, merasa sangat sedih dan prihatin. Ia menangisi dan menyungkemi sang prabu karena kedua putranya telah hilang pergi. Setelah mendengar penuturan Ratu Subang Larang, sang prabu tersentak dan terkejut. Sang prabu segera memanggil seluruh satria, sentana, patih, bupati, dan menteri. Setelah semua para wadiabala dikumpulkan dan  juga para pembesar kerajaan sudah hadir, maka Sang Prabu Siliwangi bersabda: “Wahai Patih Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putriku Dewi Ratu Mas Rarasantang , disuruh pulang, carilah jangangan sampai tidak berhasil.” Patih Argatala menjawab: “Sendika Gusti.”

Patih Argatala segera keluar dari keraton untuk mengumumkan kepada seluruh wadiabala di Pajajaran. Seketika semua orang ggeger dan panik, lalu semuanya menyebar ke segala penjuru Patih Argatala mencarinya dengan bertapa menuruti perjalanan para pendeta. Adipati Siput mencarinya dengan cara memasuki hutan keluar hutan menuruti perjalanan hewan. Para wadiabala bubar ketujuannya masing-masing, mereka takut pulang sebelum berhasil membawa pulang dua putra mahkota Pajajaran.


[1] P.S. Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, 1975: 7.

[2] Wifra Ilyas dan Made Widya Kumbara, Sejarah Nasional, 1994: 95.

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

2 tanggapan untuk “Lahirnya Pangeran Walangsungsang”

    1. @ Di Cirebon, banyak sekali manuskrip/naskah kuno yang berisi silsilah para raja, jadi itu adalah hal yang wajar. Anda bisa baca karya-karya Pangeran Wangsakerta, misalnya yang berjudul Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Jawadwipa, Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Jawa Kulwan, Pustaka Negara Kertabhumi, Pustaka Dwipantara Parwa, dan masih banyak lagi naskah lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s