Ratu Kembang Panyarikan

Ratu Kembang Panyarikan atau Jurjana Dalem (Maling Budiman), memiliki seorang adik yang bernama Sumur Bandung Kalagangsa. Pada mulanya Sumur Bandung Kalagangsa sang adik tidak mau seba kepada Prabu Dewata Liman Sonjaya. Akan tetapi karena kecintaan Ratu Kembang Panyarikan kepada adiknya sendiri, Sumur Bandung Kalagangsa, dan kepada gurunya, Guru Dewata Liman Sonjaya akhirnya Ratu Kembang Panyarikan membujuk adiknya agar mau seba, menghadap Guru Dewata. Akhirnya Sumur Bandung Kalagangsa mematuhi permintaan kakaknya dengan syarat dapat membawa 7 Azimat untuk dibawa seba kepada Prabu Dewata Liman Sonjaya.

Adapun Tujuh azimat tersebut berupa ‘Burung Puyuh Buntutan’ yang berada di Negara Pasir Batang milik Pangeran Rangga Kancana dan isterinya yang bernama Putri Candra Wulan. Azimat Simet Kalicangkas Jangjang Emas, Munding Bulu Hiris, Kuda Bulu Landak, Domba Sosongketan, dan Anjung-anjung Wesi Balagbagan berada di Negara Gua Upi milik Adipati Marga Cina dan isterinya yang bernama Puri Kasiwayungan. Azimat Pakakas Tinun Emas berada berada di Petapan Gunung Sirah milik Pangeran Singa Barong. Azimat-azimat itu semua dicuri oleh Ratu Kembang Panyarikan untuk diserahkan kepada adiknya, Sumur Bandung Kalagangasa untuk kemudian diserahkan kepada Liman Sonjaya Guru Dewata Prabu Nagari Kutawaringin.

Dengan diserahkannya ketujuh azimat kepada Guru Dewata Prabu Liman Sonjaya Kutawaringin, maka misi dan tugas dari Guru Dewata Prabu Liman Sonjaya Kutawaringin kepada Ratu Kembang Panyarikan telah selesai dilaksanakan denghan baik. Sebuah pengabdian antara murid dan guru, bawahan dan atasan, telah sempurna dijalankan. Sebauh kisah yang menarik untuk kita dengarkan bersama.

 

Dari Kecapi Sejarah oleh Muhamad Mukhtar Zaedin

Anggara Anggana Anggini

Prabu Brawijaya seorang raja Majapahit sedang melakukan tarak tapa untuk memenuhi segala keinginannya di tepi muara. Dalam tarak tapanya, Prabu Brawijaya melihat seorang putri cantik jelita yang sedang berlayar di muara. Putri yang sangat jelita itu adalah putri yang berasal dari surga manik loka. Dengan perasaan hasyrat yang meluap untuk mendapatkan putri yang elok jelita itu, Prabu Brawijaya memetik buah Lowa yang ada ditepi muara dan melemparkannya ke muara agar di bawa oleh air berharap agar di ambil oleh sang putri.

Di sisi lain, sang putri yang sedang asyik berlayaran di muara tidak merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya dan bahkan orang yang menginginkan dirinya telah melemparkan buah Lowa yang telah di isi dengan sir untuk mendapatkan keinginannya. Buah Lowa itu terapung di atas air diayunkan oleh ombak. Sang putri demi melihat buah Lowa yang merah itu membuat dirinya merasa lapar dan segera mengambil buah Lowa dan memakannya. Ada seribu rasa nimat yang tak bisa digambarkan dengan ungkapan dan bahasa. Sang putri merasa sangat bahagia yang tak terkira memakan buah Lowa yang sangat nikamta luar biasa itu. Akan tetapi alangkah kagetnya, tiba-tiba ada suara yang memperingatkan dirinya bahwa nanti dirinya akan hamil disebabkan memakan buah Lowa yang sudah diberi rasa sir.

Singkat cerita, pada sebuah tempat, sang putri menunaikan tugasnya dengan melahirkan kandungan yang berasal dari buah Lowa tersebut. Putri melahirkan tiga orang bayi yang masing-masing diberi nama Anggara, Anggana, dan Anggani.

 

Disarikan dari Kecapi Sejarah oleh Muhamad Mukhtar Zaedin

Prabu Kian Santang

8
Kisah ini diangkat dari Cerita yang dilantunkan dalam kecapi Group Gentra Buana Pusaka Panca Tunggal Pantun Rajah

Seorang raden di Negara Cempa yang bernama Raden Wulanjana menanyakan ayahnya. Awalnya sang ibu tidak memberitahukan prihal keadaan ayahnya. Karena desakan Raden Wulanjana yang semakin kuat, akhirnya sang ibu memberitahukan keberadaan ayahnya bahwa ayahnya berada di tahah Jawa. Dengan tekad yang sangat kuat Raden Wulanjana pergi dari Negara Cempa untuk mencari ayahnya yang berada di tanah Jawa. Negara yang dituju adalah Negara Pajajaran sesuai dengan petunjuk ibunya. Dengan menaiki perahu yang sudah disediakan oleh ibunya, Raden Wulanjana berlayar menuju pulau Jawa.

Sementara itu di Negara Pajajaran sedang melakukan seba agung yang dihadiri berbagai utusan dan kepala daerah. Hadir juga pada acara seba agung berbagai perwakilan dari negara Cina dan Portugis. Saat itu Jendral Kian Santang adalah seorang yang sedang memiliki kewenangan dalam negara Pajajaran. Dalam seba agung itu Prabu Kian Santang membeberkan segala maksud dan tujuannya kepada semua yang hadir tentang maksudnya untuk menguasai Sunda Kelapa yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Banten.

Dengan kesepakatan para peserta seba agung dan dengan dukungan mereka, Prabu Kian Santang menulis surat untuk Sultan Banten Maulana Yusuf bahwa Negara Banten harus menyerahkan tanah kekuasaannya, Sunda Kelapa, kepada Negara Pajajaran. Demi membaca surat itu, Sultan Banten Maulana Yusuf berang dan marah besar. Dengan nada suara tinggi Sultan Maulana Yusuf siap menghadapai pasukan Pajajaran dan dengan cepat Sultan Maulana Yusuf membalas surat Pajajaran yang isinya berisi penolakan dan siap menghadapi serangan Pajajaran.

Surat balasan dari Sultan Banten pun dikirimkan kepada Prabu Kian Santang yang ada di Pajajaran. Prabu Kian Santang pun merasa marah dengan isi surat balasan yang ditulis oleh Sultan Banten Maulana Yusuf. Dengan adanya surat ini keadaan Banten dan Pajajaran dalam keadaan genting. Maisng-masing tentara dari kedua negara disiapkan dalam keadaan siaga perang. Apa yang terjadi selanjutnya dan bagaimana dengan Raden Wulanjana yang sedang mencari ayahnya? Kisah dalam kecapi ini perlu kita dengarkan bersama untuk menggali informasi yang ada di dalamnya.

Syaimbara Nyi Mas Gandasari

Salah Satu Adegan Lakon Nyimas Gandasari
Salah Satu Adegan Lakon Nyimas Gandasari

Ki Gedeng Selan Pandan melakukan tarak tapa di Patapan Gunung Mendang karena menginginkan seorang putra yang dapat meneruskan peran dirinya. Siang malam Ki Gedeng Sela Pandan melakukan tarak tapa sehingga Hyang Murba Wisesa memberinya seorang putri yang kemudian diberinama Nyi Mas Pamuragan. Setelah Nyi Mas Pamuragan agak besar diserahkan kepada Sunan Jati untuk diberi pengajaran dan pendidikan.

Sunan Jati memberi banyak pelajaran kepada Nyi Mas Pamuragan berbagai ilmu yang dapat diandalkan dalam segala hal terutama ilmu kanuragan. Hal ini karena Nyi Mas Pamuragan seorang wanita yang cerdas yang dapat menangkap secara cepat segala pelajaran yang diberikan oleh Sunan Jati, sehingga kepandaian Nyi Mas Pamuragan terkenal ke berbagai negara. Nyi Mas Pamuragan sebagai wanita yang memiliki kesaktian yang luar biasa dan cantik parasnya membuat para kesatria dari di berbagai negara banyak yang tertarik padanya. Banyak lamaran dan pinangan silih berganti datang ke Ki Gedeng Sela Pandan yang bermaksud menjadikan Nyi Mas Pamuragan sebagai calon isterinya, namun lamaran dan pinangan itu selalu ditolak Nyi Mas Ganda Sari. Sebagai wanita yang memiliki kemampuan lebih di atas kebanyakan orang, maka tentu saja Nyi Mas Pamuragan menginginkan pendamping yang dapat memimpin dirinya, hal ini tentu saja harus melalui sebuh ujian dan seleksi yang dapat dijadikan sebagai media untuk tujuan tersebut. Akhirnya Ki Gedeng Sela Pandan atas permintaan Nyi Mas Ganda Sari membuat sebuah syaimbara bahwa barang siapa yang dapat mengalahkan dirinya dalam pertarungan yang diselenggarakan dalam syaimbara tersebut maka dia layak dan berhak menjadi suaminya.

Dengan adanya syaimbara yang di selenggarakan oleh Nyi Mas Gandasari tersebut, maka berdatanganlah para kesatria, ki gedeng, narpati, dan bupati dari berbagai daerah ke Gunung Mendeng di Patapan Sela Pandan. Pada waktu yang telah ditentunkan pertandingan adu jurit (perang tanding) antara Nyi Mas Gandasari dan para peserta syaimbaram banyak mayarakat dan para prajurit dari berbagai darerah menjadi penonton dan bersorakan untuk memberi semangat kepada para peserta syaimbara. Satu persatu para peserta syaimbara maju ke medan jurit (Palagan Sela Pandan) dan mereka dapat dikalahkan oleh Nyi Mas Gandasari.

Disarikan dari Kecapi Sejarah oleh Muhamad Mukhtar Zaedn

Ciungwanara

Disebuah Negara Cimais ada seorang patih yang bernama Patih Rayana. Patih Rayana sudah lama menjadi patih di Negara Ciamis namun tidak merasakan kebahagiaan sebagaimana layaknya para patih. Pada suatu ketika Sang Raja Ciamis pergi mengungsi untuk bertapa guna mencari petunjuk dari Hyang Widhi untuk kesejahteraan rakyat Ciamis. Tarak Tapa yang lama itu membuat Sang Raja menyerahkan kekuasaannya kepada Patih Rayana.

Dengan jabatan barunya sebagai Raja Sementara (Raja Pengganti), Patih Rayana merasa bahagia, bahkan terlalu bangga, sehingga Sang Patih akhirnya bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan kekuasaannya. Tidakan yang dijalankan oleh Sang Patih sudah jauh melenceng dari garis-garis yang telah ditetapkan oleh Sang Prabu Ciamis yang pergi melakukan tarak tapa. Keseharian Sang Patih hidupnya hanya berfoya-foya dan menghambur-hamburkan harta kerajaan.

Sementara itu isteri Prabu Ratu Galuh Ciamis yang bernama Dewi Naga Ningrum yang masih ada di Keraton Galuh Ciamis sedang mengandung dan akhirnya melahirkan seorang putra yang sangat ganteng dengan nama Raden Arya Banga. Pada saat Dewi Naga Ningrum sedang menggendong Raden Arya Banga, tiba-tiba Prabu Ratu Galuh yang sedang bertapa datang ke dalam Keraton Galuh Ciamis.

Cerita semakin seru ketika Patih Rayana dan Prabu Galuh Ciamis bertemu dan membicarakan tentang keadaan keraton Galuh Ciamis yang selama ini ditinggalkannya untuk melakukan tarak tapa dalam rangka mencari wangsit dari Hyang Widhi untuk kesejahteraan rakyat Negara Galuh Ciamis. Dari situlah Ciungwanara muncul sebagai sosok yang menjadi penyelesaian konflik dan pemulih keadaan di Negara Galuh Cimais.

 

Dari Kecapi Sejarah disarikan oleh Muhamad Mukhtar Zaedin

Lahirnya Sang Dewa Lutung

Awalnya Ratu Bungsu Kalana Jaya ditolak oleh putri Blengi Larang dan putri Blengi Wangi. Karena merasa ditilak, sehingga dia pulang. Di tengah perjalanan pulang, dia bertemu dengan putri Bungsu Bagandan Sari, putri turunan dewa. Pertemuan antara Ratu Bungsu Kelana Jaya dan putri Bungsu Nagandan Sari itu terjadi di tengah hutan yang sedang memelihara ternak berbagai ternak yang banyaknya 100 jenis hewan ternak yang satu jenis masing ada 100 ekor. Hewan ternak peliharaan itu milik Blengi Larang dan Blengi Wangi yang pernah menolak lamaran Ratu Bungsu Kelana Jaya. Ratu Bungsu Kelana Jaya akhirnya ikut dengan Si Bungsu Bagandan Sari untuk mengurus berbagai ternak yang diurusi Bungsu Bagandan Sari. Akan tetapi, Ratu Bungsu Kalana Jaya tidak tahu bahwa berbaga ternak yang mencapai 100 jenis  yang masing-masing jenis mencapa sebanyak 100 ekor.

Akhirnya Ratu Bungsu Kelana Jaya yang sedang berada di hutan ketahuan oleh masyarakat Pakdungduman, Tanah Sindang, Lemah Abang. Masyarakat berebutan ingin tahu bahwa di hutan Si Bungsu Bagandan Sari mempunyai bujang/pembantu seorang lelaki yang ganteng dan kasep yang bernama Ratu Bungsu Kelana Jaya. Akhirnya kejadian itu di ketahui oleh Blengi Larang dan Blenhgi Wangi dan keduanya marah sama Si Bungsu Bagandan Sari. Akhirnya SI Bunghsu Bagadnadan Sari di perangi oleh Ble gi Larang dan Blengi Wangi karena merasa dihina. Blengi Larang dan Blengi Wani alkhirnya mengadu sama kakaknya yang bernama Masriya dan Ratu Haji sehingga terjadilah peperanganm anatara Ratu Bungsu Kelana Jaya dan Masriya dan Ratu Haji. Perang campuh hingga datang ke Tanggul Genggong Cihaul, Kuningan.

Sednag perang campuh di Genggong Cihaur ada di lihat oleh para dewa. Para Dewa merasa kasihan kepada Ratu Bungsu Kelana Jaya biarpun perang luputan taun takeran windu tidak akan ada yang kalah dan menang. Akhirnya para Dewa mupuh bayuh Ratu Bungsu Kelana Jaya dan Ratu Bungsu Kelana Jaya akhirnya kalah dan diserahkan ke Buta Raksasa yang bernama Buta Kalajangga. Ratu Bungsu Kelana Jaya dalam perut Buta Kalajangga menghancurkan seluruh isi perut Buta Kalajangga sehingga Buta Kalajangga mati. Ratu Bungsu Kelana Jaya lalu kelura dari iga wekas Buta Kala Jangga dan berangkat ke Sorga Loka untuk menemui para Dewa untuk memprotes prilaku Dewa mempupuh bayu dirinya. Ratu Bungsu Kelana Jaya disureuh pulang okleh para Dewa ke Buana Panca Tengah, Dunia, Negara Pakdungduman, Sindang Lemah Abang untuk meneruskan perang. Ratu Bungsu Kelana Jaya menjawab merasa malu karena telah dimakan oleh Buta Kalajangga.

Ratu Bungsu Kelana Jaya meminta pulang ke Buana Panca Tengah dengan berubah wujud menjadi sebuha tetek/kinang dan diletakkan di Cupu Manik Astagina akhirnya turun ke Buana Panca Tengah dengan jatuh di Tutugan Tampian Sindang Pancuran, Tanah Sindang Lemah Abang. Seteklah diatas batu panuusan (batu tempat berjemur) ada yang melihat Cupu Manik Astagina dua putri nammanya Dewi Kancana dan Dewi Kasilir, keduanya berebutan ingin m,enguasai Cupu Manik Astagina. Setelah ada yang mengalah dan Cupu di dapatkan oleh Dewi Kancana alkiornya Cupu itu dibuka ternyata hanya tetek/kinang akhirnya dimakan oleh putri Dewi Kencana hingga mengandung dan lahirlah Sang Dewa Lutung.

 

Disarikan dari Kecapi Sejarah oleh Muhamad Mukhtar Zaedin

Prabu Liman Sonjaya

Prabu Liman Sonjaya bertujuan mencari perempuan yang bernama Sri Bedaya Kuta Waringin. Prabu Liman Sonjaya ditugaskan oleh ibnunya, Sri Sunda Larang, untuk mengoreksi azimat di Negara Cirebon.  Sri Ayu Sunda Larang mempunyai azimat yang Perahu Siyang Kencana Emas Perahu Siyang Samelar dari bumi Pakuan Pajajaran, Srang Tanah Saketi Gunung Kumpai Palabuhan. Prabu Liman Sonjaya membawa perahu azimat itu yang bernama Perahu Siyang Samelar Perahu Sigareyotan dari Burung Ujung Batawi. Sampai Kali Pekik Ujung Tangkil tiba-tiba labuh jangkar. Disitulah Prabu Liman Sonjaya menanyakan Negara Cirebon. Setelah dapt keputusan bahwa negara Cirebon Itu satangkerok godong kelor, katutup godong plending, wis ora karungu, wis ora katon. Maka samapai kapan pun tidak ada penampoakan dan tidak ada yangh tahu negara Cirebon.

Karena tidak menemukan negara Cirebon, Prabu Liman Sonjaya akhirnya pulang kembali ke Kali Pekik Ujujg Tangkil dengan menggunakan jalan darat., hanya saja Prabu Liman Sonjaya mendengra pengumuman tentang azimat di Negara Cirebon bahwa azimat itu semua ada di Negara Cirebon tapi azimat ada yang ngaku dari negara-negara lain. 1. CincinAmpal dari Gunung Merapi; 2. Gong Sakati dari Kamarang, Greged; 3. Kendi Partula dan Batu Sagandu dari Talaga; 4. Pendil, Bende Bareng, Piring Panjang, yang ngaku Gunung Cangak, SangHyang Bango; 5. Baju Si Dewa Mulya dari Nyi Endang dari Tangkuban Perahu, dan setrusnya.

Setelah tahu azimat-azimat Cirebon itu Prabu Liman Sonjaya meneruskan perjalanan membawa Siyang Samelar sampai ke Nagara Parakan Wayangan. Perahu itu dipulangkan ke negara asal. Karena Prabu Liman Sonjaya merasa sudah lelah membawa perahu dengan jalur darat, akhirnya Prabu Liman Sonjaya menendang perahu itu, hanya saja perahu itu jatuh di bawahan Malahayu, di bawah Gunung Kendeng. Perahu jatuhnya nagkub, sehingga menjadi Gunung Tangkuban Perahu denga kepastian dan takdir Allah swt (dingin pinasti anayar pinanggih). Hanya saja perahu yang sudah menjadi Gunung itu kelak akan kembali pulang ke Negara asalnya, Pakuan Pajajaran, setelah Lebak Sanghyang Kendit tembus kebawahan Malahayu.

Prabu Liman Sonjaya pergi ke Negara Kutawaringin untuk mencari pendamping hidup. Di negra Kutawaringin Prabu Liman Sonjaya bertemu dengan Ratu Sri Badaya Kutawaringin yang bernama Nyai Kajaksan. Mereka berdua pun akhirnya menikah dan menjadi penguasa di Negara Kutawaringin, Luragung, Kuningan. Kelak Prabu Liman Sonjaya akan punya julukan menjadi Guru Dewata Mantri Anom Prabu Bengker Pakuan. 

 

Dari Kecapi Sejarah, disarikan oleh Muhamad Mukhtar Zaedin