Pangeran Walang Sungsang Sang Pendiri Caruban

 Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dengan gelar raja muda. Pangeran Walangsungsang Cakrabuana merintis Caruban Nagari dari jenjang yang paling bawah sampai menjadi raja muda. Perintisannya diantaranya membuat pemukiman di Tegal Alang Alang, hingga akhirnya disebut Caruban yang artinya campuran. Membuat lahan pertanian di daerah Panjunan, membuat industry produk laut diantaranya terasi, petis, ikan kering dan garam. Mendirikan masjid dan Keraton Pakungwati dengan pembiayaan darai warisan kakeknya Ki Ageng Tapa, serta membuat pasukan keamanan lengkap dengan angkatan bersenjatanya.  Pada saat Pangeran Walangsungsangmenjadi pemimpin di Caruban, Ayahnya, Raja Sunda merestui dengan mengirim Tumenggung Jagabaya membawa panji-panji kerajaan serta memberikan wilayah kekuasaan kepada Pangeran Walngsungsang Cakrabuana.

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana, bukan semata-mata untuk membentuk suatu pemerintahan yang berkuasa, namun mempersiapkan perkembangan dakwah Islamiyah yang menjadi cita-cita saat itu, yang kelanjutannya akan diteruskan oleh anak dari adiknya, Nyi Mas Ratu Rarasantang, yaitu Syarief Hidayat. Pengetahuan tentang akan datang seorang pemimpin dan pemuka agama islam, yang tidak lain adlah keponakannya sendiri, telah diketahui berdasarkan nasehat dari guru-guru keduanya diantaranya adalah Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi.
Pangeran Walangsungsang bertemu Syekh Quro, di dalam pertemuan tersebut. Syekh Quro mengatakan kepada Pangeran Walangsungsang bahwa kelak adiknya akan berjodoh dengan raja Mesir dan akan dianugerahi anak yang bernama Maulana Jati, yang kelak ditakdirkan menjadi penguasa Cirebon. Seperti yang tertera dalam Naskah Carub Kanda Carang Seket.
Pada kesempatan yang berbeda, pada saat Pangeran Walangsungsang hendak berguru pada Syekh Maulana Magribi[1], Syekh Maulana Magribi  menolak untuk menjadi guru mereka. Ia menyarankan Pangeran Walangsungsang untuk berguru pada Syekh Datul Kahfi/ Syekh Maulana Idhofi. Pada pertemuan tersebut Syekh Maulana Magribi mengatakan bahwa pada saat Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang menunaikan ibadah haji, maka beliau akan dinikahi oleh Sultan Mesir dan menikah disana, kemudian dari pernikahan tersebut akan lahir pemimpin para wali di Pulau Jawa.   Pertemuan Pangeran Walangsungsang dengan Syekh Maulana Magribi tersebut terekam dalam  Carub Kanda Carang Seket pupuh Asmarandana.
Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Ratu Rarasantang kemudian menuruti saran dari Syekh Maulana Magribi berguru pada Syekh Datul Kahfi pada tahun 1442 M. Nyekh Datul Kahfi beserta istrinya sangat senang akan kedatangan keduanya. Mereka diperkenankan tinggal di Gunung Jati dan melarang keduanya kembali ke Negara Sunda. Syekh Datul Kahfi mengatakan pada Nyi Mas Ratu Rarasantang bahwa ia kelak akan bersuamikan Sultan Bani Israil, dan darinya akan lahir seorang anak yang akan meng-Islamkan tanah Sunda, mengalahkan agama Sunda.  
Nyi Mas Ratu Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana memperoleh banyak nasehat dan ilmu dari Syekh Datul Kahfi.  Setelah tiga tahun berguru, mereka kemudian diperintahkan oleh Syekh Datul Kahfi untuk membuka Tegal Alang-Alang di Lemahwungkuk yang merupakan cikal bakal kota Cirebon. Pada tanggal 14 bagian terang bulan Carita tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April tahun 1445 Masehi, bertepatan dengan masuknya penanggalan 1 Muharam 848 Hijriyah, Pangeran Walangsungsang alias Somadullah dibantu 52 orang penduduk, membuka perkampungan baru di hutan pantai kebon pesisir.[2] Lama kelamaan daerah Tegal Alang-Alang berkembang menjadi pedukuhan yang maju. Tak lama kemudian mereka diperintahkan untuk menunaikan Rukun Islam kelima.  Setelah berhaji Nyi Mas Ratu Rarasantang bernama Hajjah Syarifah Mudaim, sedangkan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana menjadi Haji Abdullah Iman.
Pada saat itulah Nyi Mas Ratu Rarasantang bertemu dengan  Maulana Sultan Mahmud/ Syarif Abdullah/ Sultan Amiril Mukminin/ Sultan Khut, Anak Nurul Alim dari bangsa Hasyim (Bani Ismail), yang memerintah kota Ismailiyah, Palestina.  Maulana Sultan Mahmud, yang baru saja ditinggal mati oleh istrinya bermaksud menikahi Nyi Mas Ratu Rarasantang. Syarif Abdullah pergi ke arah timur dari istananya dengan mengajak Nyi Mas Ratu Rarasantang ke bukit Tursinah dengan diikuti Pangeran Cakrabuana dan patih Jalalluddin. Disana ia melamar Nyi Mas Rarasantang. Perjanjian pra nikah antara keduanya di Bukit Tursina[3] terdapat dalalam Pupuh Kasmaran Naskah Mertasinga, Carang Seket, Serat Kawedar dan Sejarah Lampah ing para Wali Kabeh. Isi dari perjanjian tersebut adalah bahwa Nyi Mas Ratu Rarasantang bersedia dinikahi oleh  Syarif Abdullah dengan syarat bahwa bila ia melahirkan anak laki-laki, anak tersebut diperbolehkan untuk menjadi pemimpin agama di Jawa untuk mengislamkan saudara-saudaranya di Padjajaran.[4] Perjanjian tersebut dihadiri oleh Pangeran Walangsungsang Cakrabuana selaku wali dari Nyi Mas Rarasantang. Syarif Abdullah menyepakati perjanjian tersebut.  
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana pun menyetujui perjanjian tersebut. Karena hal tersebut pun telah diramalkan pada saat pertemuan mereka dengan Syekh Quro,  Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi. Yang secara tidak langsung ramalan tersebut merupakan nasehat dan sekaligus merupakan amanat dari para pemuka agama di sana saat itu.
Akhirnya Nyi Mas Ratu Rarasantang menikah dengan Maulana Sultan Mahmud. Menikahnya Syarifah Mudaim dan Syarif Abdullah bukan merupakan kebetulan belaka.[5] Syarif  Abdullah adalah adik ipar dari Syekh Datul Kahfi.  Antara Syekh Datul Kahfi, Syekh Quro dan Syekh Maulana Magribi merupakan utusan utusan dari Persia[6] yang diperintahkan baik secara langsung maupun tidak langsung[7] untuk menyebarkan  Agama Islam diluar jazirah Arab. Penyebaran agama Islam keluar jazirah Arab sudah dilakukan beberapa abad sebelumnya, tetapi belum sanggunp mengislamisasi masal penduduk di luar jazirah Arab. Bahkan ratusan orang mati sahid dalam perjuan dakwah tersebut. Sampai akhirnya abad ke-13 penyebaran Islam di jazirah Arab mulai mengalami penurunan, sehingga dibuatlah strategi dakwah untuk tetap menyebarkan Islam dengan cara mengirimkan para pemuka agama ke berbagai daerah.  Selain berdakwah, para penyebar agama Islam tersebut menikah pula dengan penduduk lokal. Pernikahan Nyi Mas Ratu Rarasantang merupakan sebuah skenario besar untuk melakukan Islamisasi masal melalui keturunan mereka di kemudian hari. Dengan cara mensugesti Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang, sehingga mereka mau mengikuti petunjuk para guru mereka. Para pendakwah senior tersebut telah mengkaji dan mengambil pelajaran dari pengamalan mereka sebelumnya, dimana perkawinan antar mualaf Nyi Mas Subang Karancang, ibunda Nyi Mas Ratu Rarasantang yang berguru pada Syekh Quro,  dengan Pemanah Rasa, calon Raja Sunda, gagal, tidak berhasil mengislamkan tanah Sunda, sehingga mereka membuat strategi dakwah baru dengan cara kaderisasi potensi calon-calon pendakwah baru. Salah satu caranya adalah mengawinkan anak-anak perempuan keturunan raja-raja Jawa dengan keturunan raja-raja di Timur Tengah, yang keturunan nabi, sehingga keturunannya yang akan menyebarkan agama Islam kelak memiliki legitimasi.
Pada tahun 1448 M,Syarifah Mudaim  yang dalam keadaan hamil tua menunaikan ibadah haji kembali. Di Kota Mekah ia melahirkan Syarif Hidayatullah di Kota Mekah. Dua tahun kemudian lahirlah Syarif Nurullah, adik Syarif Hidayat.
Syarif Hidayat, keponakan Pangeran Cakrabuana dibesarkan di negara ayahnya, Mesir. Syarif Hidayat tumbuh menjadi  pemuda yang cerdas.  Syarif Hidayatullah sangat taat menjalankan syariat Islam. Ia seorang muslim yang takwa. Syarif Hidayat gemar mempelajari ajaran Agama Islam. Ia bercita-cita mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.Suatu hari ia membaca dan mempelajari sebuah kitab. Dari kitab tersebut ia menyatakan keinginannya kkepada ibundanya, Syarifah Mudaim, berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Syariffah Mudaim mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal dunia. Dengan ilmu yang dipelajari oleh Syarif Hidayat secara diam-diam,  melalui silaturruhiyah ia bertemu dengan Nabi Khidir dan Rasulullah, hal tersebut merupakan perjalanan spiritual Syarif Hidayat yang ditulis pada Naskah Mertasinga dan Naskah Kuningan. Dalam naskah tersebut, Syarif Hidayat  hendak berguru kepada Rasulullah. Namun Rasullullah menyuruh Syarif Hidayat mencari guru dzohir.
Sehingga ketika berusia dua puluh tahun, pergi ke Mekah, berguru kepada Syekh Tajuddin al-Kubri/ Najmuddin. Naskah Kuningan menjelaskan tentang Syarif Hidayat yang berguru kepada Syekh Tajuddin. Kepada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat belajar adab para guru, dzikir, silsilah, shugul, Tarekat Isqiyah, dan adab Syatori[8]. Ia juga belajar tentang ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu hakekat dan ilmu makrifat. Pada saat berguru pada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat diberi nama Madkurullah.
Setelah dua tahun lamannya, Syarif Hidayat kemudian menuntut ilmu tawasul rasul pada Syekh Athaullah Sadili, yang bermahzab Syafi’i  di Bagdad. Darinya Syarif Hidayat juga belajar istilah Sirr (Sirrullah), Tarekat Syaziliyah, Tarekat Syatariyah, Isyki Naqisbandiyah, dzikir jiarah, bermeditasi,  riyadhah (latihan tarekat/sufi) di tempat-tempat suci.  Oleh Syekh Athaullah, Syarif idayat diberi nama Arematullah.
Setelah itu ia kembali ke negara ayahnya, dan diminta untuk menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal. Tetapi ia memilih untuk pergi ke Pulau Jawa untuk menyebarkan Islam bersama pamannya, Pangeran Walangsungsang Cakrabuana.  Posisi Raja Mesir diserahkan dari Patih Ongkhajuntra, paman Syarif Hidayat kepada oleh adiknya, Syarif Nurullah.
Syarif Hidayat memiliki banyak nama yaitu Sayyid Kamil dan  Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultanil Mahmud al Kibti[9].  Kemudian Sayid Kamil pergi ke pulau Jawa, di perjalanananya  ia singgah di Gujarat, tingal disitu selama tiga bulan, selanjutnya ia tingal di Paseh (Pasei). Di Paseh, Syarif Hidayat tinggal di pondok saudaranya selama dua tahun, yaitu Sayid Ishaq [10], bapak Raden Paku/ Sunan Giri, yang menjadi guru agama Islam di Paseh di Sumatra.   
Kemudian Syarif Hidayat pergi ke ke pulau Jawa, singgah di negeri Banten. Disini banyak penduduk telah memeluk agama Rasul, karena Sayyid Rahmat (Ngampel Gading) telah menyebarkan Agama Islam di sini, yang di gelari Susuhunan Ampel, juga salah seorang saudaraanya.
Berdasarkan Naskah Kuningan, Syarif Hidayat kemudian berguru pada Syekh Sidiq di Surandil  jati wisik (ajaran sejati), ba’iyat serta muhal maha, talkin dalam dzikir sirr, tarekat Muhammadiyah, Anapsiah, dan Jaujiyah Makomat Pitu[11], serta melakukan kanaat dan uzlah.
Syarif Hidayat kemudian berguru kepada Syekh Mad Kurullah (Syekh Quro) di Gunung Gundul. Syekh Quro adalah penganut mahdzab Hanafi. Pada saat berguru pada Syekh Quro, Syarif Hidayat banyak mempelajari dan mengalami perjalanan spiritual. Kemudian ia diperintahkan berguru pada Syekh Bahrul al Amien, yang tinggal di sebelah utara Kudus. Syarif hidayat berguru mengenai sifat-sifat jati (baca : sempurna), rasa jati (sejatine rasa), khofiyah, dukiyah, sarariyah (rasa yang sejati) ranaban. Belajar mengenai Sirrullah, ya hati ya badan, ya badan, ya roh, ya badan ya nyawa, nyawa adalah wujud tunggalnya Dzatullah (ibarat punglu). Rasa yang sejati, rasa goib, yang tidak ada antara dengan yang agung, ya badan ya rasa, ibarat jambe/ pinang yang menyatu antara kulit dengan buahnya. Kemudian Datul Bahrul kemudian memberi nama Syarif Hidayat dengan Wujudullah dan menyarankan Syarif  Hidayat menambah pengetahuan tentang pada Sunan Ampel Denta. Maka berangkatlah Syarif Hidayat  pergi ke Ngampel dengan naik perahu milik orang Jawa Timur. Perjalanan Syarif Hidatyat berguru pada beberapa orang tertulis dalam Kitab Negara Kertabhumi.
Setibanya Syarif Hidayat/ Wujudullah di Ampel Denta lalu pergi menghadap dan menyampaikan hormatnya kepada yang mulia Sunan Ampel. Maka Wujudullah pun kemudian mengabdi di Ampel Denta dan dia diangkat saudara oleh anak-anaknya. Di sana sudah berguru pula murid yang lain diantaranya , Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan KaliJaga. Wujudullah sangat disayangi oleh Sunan Ampel karena berbagai ilmu yang diajarkan oleh Sunan Ampel dapat dikuasai oleh Wujudullah.
Sementara itu, para Wali semuanya (sedang) ada di situ, mereka masing-masing di beri tugas mengajarkan agama Rasul kepada penduduk di daerah yang menganut agama Siwa- Budha. Kemudian Syarif Hidayat meminta nasehat pada Sunan Ampel. Sunan Ampel memberikan nasihat sebagai berikut :
“he putra, jandika iku mung aja ngebat-tebati, iku laku ingkang ala.lawan putra ya den wani  ngajaga ing perkara agama ingkang sayakti. Lan kang sabar putera iku, tawekal maring yang Widhi. Lan den esak maring sanak, saying ing kawla wargi, lawan putera ya den inget enggal, saniki wis sedeng dadi. Molana ingkang luhung, dadi guru ing Gunung Jati, ya kalawan uwa dika, mapan waris saking umi. Cipamali wates sira dumugi ing ujung kulon. Inggih waris dika ikumugi jandika wengkoni. Mung pacuan ngembat-embatan, sabab lepen cipamali wawtesing balambangan iku dudu dika waris. Poma-poma ya den emut, lawan putera dika yen wangsul ing amparan sampun margi ing darat, marginana sing lautan”.
(Anakku, janganlah kamu bertindak berlebihan karena itu adalah sifat yang tercela, dan beranilah menjaga kebenaran agama, bersabarlah, tawakkal kepada yang Maha esa, dan jangan menyakiti sesame saudara. Dan ingatlah anakku bahwa sekarang sudah cukup waktunya anakku untuk menjadi Maulana yang luhur dan menjadi Guru di Gunungjati bersama uwakmu. Mewarisi pusaka ibumu, dari Cipamali hingga di Ujung Kulon, itulah warisanmu. Hanya saja hati-hati bahwa batas dari sungan Cipamali hingga Blambangan itu bukanlah warisanmu. Ingatlah nasihatku baik-baik, dan anakku bilmana kamu pulang ke Amparan janganlah pulang melalui daratan, pergilah melalui lautan). Demikianlah pesan sang guru.[12]
Sayid kamil menerima tugas di negeri Carbon, yaitu di Gunung Sembung, karena disana tempat tinggal uwanya, yaitu Haji Abdullah Iman yang menjadi Kuwu Carbon kedua.
Syarif Hidayat menuruti nasehat Sunan Ampel.
Dalam perjalanan ke Carbon, Syarif Hidayat bertemu dengan Dipati Keling dan berhasil mengislamkannya berikut rombongan mereka sejumlah sembilan puluh delapan orang. Selanjutnya Dipati Keling dan rombonganpa tahun, nya menjadi pengikut Syarif Hidayat yang setia.
Setibanya di Carbon Syarif Hidayat  kemudian membangun pondok dan menjadi guru agama Islam. Di Babadan Syarif Hidayat mengislamkan Ki Gede Babadan dan menikah dengan putrinya Ki Gede Babadan. Umur pernikahan mereka hanya berlangsung beberapa tahun karena Nyi Mas Babadan meninggal dunia. Kemudian Syarif Hidayat menikah dengan Syaripah Bagdad, putri Syekh Datul Kahfi.

[1]  Syekh Maulana Magribi terkenal karena berhasil memotong rambut Syekh Magelung Sakti, sehingga Syekh Magelung Sakti dengan sukarela bersedia memeluk Agama Islam dan menjadi murid Syekh Maulana Magribi.
[2]  Yoseph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat : (Yuganing Rajakawasa). Cetakan Pertama : Bandung. CV. Geger Sunten. Hal 256
[3]  Bukit Tursina merupakan bukit suci tempat Nabi Musa as menerima Ten of Commandement (sepuluh perintah Tuhan).menjadi pemimpin di tanah Jawa berlatar belakang
[4]  Nyi Mas Ratu Rarasantang meminta salah seorang putranya agar menjadi pemimpin di tanah Jawa berlatar belakang kesedihan terhadap ayahnya, Prabu Siliwangi,  keluarganya dan rakyat Padjajaran yang memeluk agama Hindu pasca ibundanya, Nyi Mas Ratu Subangkarancang meninggal dunia. Keinginan Nyi Mas Ratu Rarasantang tersebut terdapat dalam  Sinom Serat Catur Kanda hal 10-11. Perjanjian tersebut belatar belakang pula dari nasehat-nasehat yang diterima oleh Nyi Mas Ratu Rarasantang pada saat bertemu Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi yang secara tidak langsung mensugestinya.
[5]  Ada kemungkinan pula mereka telah dijodohkan.
[6]  Carita Purwaka Caruban Nagari, Parwa I Sargah 3, hal 166.
[7]  Syekh Quro diperintahkan oleh Kerajaan Campa yang saat itu telah memiliki hubungan dengan Persia (Iran)
[8]  Syatoriyah berkembang di Mandu, India (sebelah timur Gujarat) dengan pesat setelah dipopulerkan oleh Abdullah Syatori, yang wafat di India pada 1236 M (633 H). Ia adalah keturunan Syekh Syihabuddin Suhrawardi yang dikirim oleh gurunya, Syekh Muhammad Arif, ke India. Berdasarkan informasi ini kemungkinan Abdullah Syatori lahir dan menjalani masa pendidikannya di Persia.
[9] Pustaka Negara Kertabhumi hal. 133
[10] Sayyid Ishaq merupakan saudara sepupu Syekh Nurjati yang menikah dengan Ratu Blambangan.  
[11]  Tarekat Jaujiyah didirikan oleh Ibnu Qayim al Jauziyah(691-751 H) atau Muhammad Abi Bakar bin Ayub Sa’ad bin Harist al Zar’I Damsyqi Abu Abdullah Syamsuddin, dilahirkan di kota Damaskus.
[12] Mertasinga hal 28

Diterbitkan oleh

Muhamad Mukhtar Zaedin

Pengurus Pusat Konservasi dan Pemanfaatan Naskah Klasik Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s